Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Seperti Kacung


__ADS_3

"Kenapa kau tidak suka kado ini?" tanya Arman dengan perasaan heran. Raut wajah putranya itu terlihat begitu kaku, tanpa bisa terbaca olehnya, sementara ia melihat Lidya seketika menunduk.


Seketika semua mata tertuju pada Alex, saat mendengar ucapannya, kecuali Lidya. Semua menunggu alasan yang akan Alex utarakan, setelah mendengar pertanyaan dari Arman.


Menyadari tatapan tajam sang ayah dan tatapan penuh harap dadi ibunya, Alex menelan saliva dengan susah payah. Ia lalu tertawa pelan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Alex hanya bercanda, kenapa kalian menatapku seperti itu?" celetuknya sembari melirik ke arah Pramana dan Maria yang saat itu terlihat jengah.


Lidya tersenyum sinis sementara Arman dan Rosa mengembuskan napas lega.


"Bercandamu tidak lucu, kau hampir saja menjatuhkan jantung papa," ucap Arman menyembunyikan rasa kesalnya. Ia tahu bahwa memang sebenarnya Alex tidak menyukai perjodohan ataupun kado pernikahan ini, tetapi ia merasa harus melakukannya, karena ingin agar putranya itu berubah. Sebab belakangan ini dirinya sering mendapatkan laporan yang negatif tentang anaknya di luaran sana.


"Apa kita sudah selesai, Pa, Ma?" tanya Alex. Ia sudah mulai merasa tidak nyaman.


"Sudah. Dan setelah ini kalian bisa berkemas lalu pergi dari hotel untuk tinggal di rumah baru kalian," ujar Arman sedikit memerintah.


Nyaris Alex berteriak untuk membantah Arman, tetapi ia sadar sedang berada di dalam restoran dengan jumlah pengunjung yang cukup banyak, dan ia masih ingin menjaga nama baiknya, maka dengan sangat terpaksa ia pun hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi begitu saja dari hadapan semuanya.


Maria menoleh, menatap kepergian Alex. Sejujurnya ia merasa tersinggung karena tidak dianggap ada oleh menantunya itu, tetapi sangat jauh berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Pramana, suaminya. Pria itu kini berjalan menghampiri Arman lalu menjabat tangannya dengan erat. "Terima kasih untuk semuanya, Man. Kau sudah mengembalikan kehormatan kami," ucapnya.


Arman terkekeh. "Bukan hal yang besar, aku hanya ingin menyenangkan hati menantuku," jawabnya yang mendapat anggukan kepala dari Rosa, istrinya.


Lidya menatap ayahnya dengan perasaan malu. Bagaimana mungkin seorang Pramana yang terkenal angkuh itu mau membungkuk dan mengucap terima kasih dengan begitu mudahnya. Dan ayahnya itu telah menjadikannya sebagai modal, untuk melanjutkan bisnis besarnya yang sedang di ujung tanduk. Pramana telah memaksanya menjadi istri Alex yang sejatinya tidak pernah menginginkannya, meskipun pria itu telah merenggut kesuciannya di hari pertama pernikahan mereka.


Lidya mengangguk dan tersenyum pada Rosa lalu pergi, mengikuti langkah Maria yang baru saja beranjak dari tempat itu. Lidya tahu, hati ibunya sedang kacau saat ini.


"Ma, tunggu Lidya."


Maria mengusap sudut matanya yang basah lalu berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Lidya. "Kamu pergi juga?" tanyanya.


"Mau apa lagi di sana? Sedangkan suami Lidya aja sudah pergi duluan," jawab Lidya.


Maria melangkah dengan diam di samping Lidya. Sesekali ia melirik putrinya itu yang terlihat biasa-biasa saja.


"Boleh Lidya mampir ke kamar Mama?" tanya Lidya tiba-tiba.


"Kamu nggak menyusul Alex? Bukannya kalian harus segera berkemas?"

__ADS_1


"Nggak, Lidya pengen sama Mama. Hanya sebentar, Ma, setelahnya Lidya akan berkemas. Lagipula tidak banyak bawaan Lidya."


Maria tersenyum lalu mengangguk.


Tak lama mereka sampai di depan kamar Maria dan Pramana. Namun, baru saja mereka melangkah masuk, terdengar suara Alex di depan kamar itu.


"Kita berkemas dan segera pergi dari sini," ucap Alex dingin. Tak sedetikpun ia melihat ke arah Maria, bahkan untuk sekedar tersenyum menyapa tidak ia lakukan. Tatapan matanya hanya tertuju pada Lidya.


"Tapi aku ...."


"Atau kau mau di sini saja? Baiklah, aku akan berkemas dan pergi sendirian," sahut Alex yang lalu melangkah lebar, meninggalkan Lidya dan Maria yang kini saling menatap dengan sedih.


"Pergilah, jangan sampai Alex memarahimu," ucap Maria.


"Maafkan Lidya, Ma."


Maria menggelengkan kepalanya lalu memeluk erat Lidya. "Mama yang harusnya meminta maaf padamu, mewakili Papa," balasnya penuh penyesalan. "Yang sabar, jangan pernah menyerah, mama yakin suatu saat Alex akan mencintaimu," lanjutnya.


"Iya, Ma," jawab Lidya. "Mama tenang saja, ini terjadi karena kami masih belum saling mengenal."


Lidya mencium takzim punggung tangan ibunya lalu berpamitan pergi menyusul Alex, di iringi tatapan sedih Maria. "Suatu saat Alex akan tunduk dan tidak ingin kehilangan kamu, putriku, camkan itu!" desisnya.


***


"Bawa semua yang ada di lemari, karena aku tidak akan memberimu apapun di rumah itu," titah Alex.


Lidya hanya diam sembari mengeluarkan beberapa pakaian dari dalam lemari. Semua pakaian itu masih baru dan masih dalam bungkus yang rapi dan bersih. Lidya hanya memindahkannya ke dalam koper.


Sementara Alex hanya duduk dan memainkan ponselnya. Lidya tidak protes, karena ia menyadari posisinya saat ini, setelah ayahnya berbuat seperti seorang pengemis pada keluarga Alex.


"Lama sekali, cepatlah!" teriak Alex, saat melihat Lidya menata pakaian itu satu persatu ke dalam koper.


Lidya tetap diam. Tetapi kini ia begitu saja memasukkan pakaian ke dalam koper dan segera menutupnya. "Sudah selesai."


"Apa-apaan kau ini? Semua pakaian mahal itu akan rusak jika kau masukkan secara sembarangan!" protes Alex.

__ADS_1


"Nanti aku setrika setelah sampai di rumah. Kalau ku rapikan sekarang bakal terlalu lama," jawab Lidya menahan jengkel.


"Awas kalau sampai tidak kau lakukan," ancam Alex.


Lidya hanya mengangguk patuh.


Tiba-tiba suara ketukan mengagetkan mereka. Alex memberi kode pada Lidya untuk segera membuka pintu itu.


"Papa?" seru Lidya.


Alex mendengkus lalu berdiri di belakang istrinya itu, menatap Pramana dengan penuh tanya. "Ada apa, Om?"


"Kado kalian tertinggal di meja makan," jawab Pramana sembari tersenyum lebar.


Alex diam melirik Lidya yang segera menerima dua kunci dari tangan ayahnya.


"Oke, papa ke kamar dulu," pamit Pramana. "Dan satu lagi, panggil aku papa, jangan om," ucapnya sembari menatap Alex dengan senyum lebarnya.


Alih-alih menjawab, Alex justru membalikkan tubuhnya lalu duduk di sofa. "Lidya, kita harus cepat!"


Pramana tergugu melihat Lidya mengangguk patuh pada suaminya lalu kembali masuk ke dalam kamar. Ia masih sempat melihat, putrinya itu kini menyeret koper besar sendirian, sementara Alex hanya melihatnya. "Maafkan papa, Nak. Papa terpaksa membuatmu seperti ini," desisnya sedih.


Pramana menutup pintu kamar itu perlahan lalu melangkah pergi dengan gontai.


"Puas?"


Pramana terkejut mendengar suara sinis di dekatnya. "M-maria, kau di sini?"


"Sudah puas kau menjadikan putri kita layaknya kacung di depan suaminya?" tanya Maria dengan tatapan terluka pada suaminya itu. Rupanya ia mengikuti Pramana yang tadinya batal masuk ke kamar mereka dan ia pun sempat melihat semua yang terjadi sebelumnya.


"Maria, jangan begitu. Semua akan berubah setelah beberapa hari ke depan," ucap Pramana.


Maria tersenyum sinis. "Aku tidak yakin. Menantu pilihanmu itu terlihat sangat membenci Lidya."


"Karena Alex belum mengenalnya," sahut Pramana cepat.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti. Dan ingat, kau yang harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Lidya," tegas Maria yang lalu berlalu pergi, meninggalkan Pramana termenung sendirian.


__ADS_2