Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Umpan Berhasil


__ADS_3

"Alex pasti sedang mencari mu," celetuk Sarah.


"Biarkan saja. Aku lelah melihat sikapnya," jawab Lidya yang lalu bergabung dengan yang lain, duduk di ruang makan.


"Memangnya apa yang sudah dia lakukan padamu?" tanya Sarah ingin tahu.


"Dia anggap aku wanita murahan," gerutu Lidya. "Dia bilang aku ini bekerja sebagai model yang sering pamer body layaknya pelacur," imbuhnya kesal.


"Tidak bisa begitu, enak saja dia bicara! Dengan kata lain Alex juga sudah menghinaku, karena aku manager mu," geram Sarah tidak terima. "Biar aku hubungi dia."


"Jangan! Tahan dulu," cegah Andre. "Kalian lupa kalau kita sedang ada rencana untuk Alex?"


Sontak tubuh Lidya dan Sarah melemah. Sarah melempar ponselnya ke atas meja sedangkan Lidya mengusap kasar wajahnya. Ia begitu kesal kali ini.


"Biarkan Alex dengan apapun yang ingin dia lakukan. Kita menahan diri dulu sampai Sephia mampu menjalankan tugasnya dengan baik," ujar Andre.


"Aku jadi ragu, setelah hal ini apa aku bisa melakukannya dengan baik," sahut Lidya sangsi.


"Yakinlah. Buat Alex jatuh cinta, sejatuh-jatuh nya pada Sephia, lalu setelah itu terserah pada Sephia. Mau buang Alex atau justru menerimanya," tegas Andre.


"Bicara memang mudah, Ndre. Aku yakin kau sebenarnya juga ragu." Lidya menatap Andre tajam.


"Maaf, aku memang cuma bisa mendorongmu dengan kata-kata dan mungkin juga segala sesuatu yang nantinya akan kau butuhkan," ucap Andre sembari menatap dalam Lidya. "Bukannya kamu ingin mempertahankan pernikahan kalian?" imbuhnya.


Lidya mengangguk. "Aku menginginkan itu terjadi. Tetapi, bagaimana bisa kalau nantinya Alex justru lebih memilih Sephia daripada aku?"


"Tidak masalah. Karena sebenarnya Sephia itu adalah dirimu," sahut Sarah.


Lidya termenung memikirkan semuanya, termasuk resiko dan segala kemungkinan yang pasti akan dia hadapi saat menjadi Sephia nantinya.


"Bagaimana kalau Alex meminta berhubungan denganku?" tanya Lidya tiba-tiba.


"Maksudnya?" tanya Sarah dan Andre kompak.


"Ehm, kalian tahu, menjadi Sephia, itu berarti aku harus mau melayani dan memuaskan hasratnya, bukan?"


Sarah dan Andre menggelengkan kepala, kompak. "Tidak harus dan tidak selalu berakhir di ranjang, Lidya. Gunakan akal dan kecerdikan mu untuk bisa memikat hati Alex tanpa melakukan hal itu," jawab Sarah.


"Itu akan sangat sulit," keluh Lidya. "Menjadi istrinya saja aku sulit menghindar jika dia sedang menginginkanku," jujurnya.


"Itu karena kamu istrinya," tegas Andre. "Akan bisa berbeda jika kamu Sephia."


Lidya tak urung mengangguk membenarkan juga ucapan dari Andre. Setidaknya ia masih belum mencoba dan tidak ada salahnya juga jika ia jalankan dulu rencana mereka.


"Oke deh. Jadi mulai kapan nih aku harus berakting di depan Alex?" tanya Lidya setelah terdiam beberapa saat, memikirkan semuanya dengan baik.

__ADS_1


"Setelah postinganku mendapat reaksi dari Alex. Mungkin hari ini dia masih sibuk denganmu, nanti kalau dia sudah senggang pasti lihat," jawab Sarah sembari tersenyum.


"Ya sudah, kalau gitu aku tinggal menunggu perintah saja, ya," ucap Lidya.


"Ya, begitu saja."


"Oke kalau begitu."


Mereka lalu makan malam dalam diam. Tidak ada satu pun yang menghiraukan bunyi dering ponsel Lidya yang sedari tadi berteriak memanggil, minta untuk dijawab. Mereka sudah tahu jika yang menghubungi Lidya pastinya Alex, bukan yang lain.


"Alex sudah lihat postinganku," pekik Sarah tertahan, sesaat setelah mereka selesai makan malam dan duduk bersama di depan televisi.


"Ada komentar darinya?" tanya Andre penasaran.


"Nggak ada. Alex cuma lihat story dan ninggalin like di postinganku," keluh Sarah. "Biasanya dia yang paling aktif bersuara kalau ada barang baru yang bagus."


"Barang baru?"


"Ehm, maksudku kalau ada gadis cantik yang sudah mulai bermunculan dalam postingan kami," ralat Sarah yang takut Lidya tersinggung karena ucapannya.


"Bukan begitu, maksudku, apa di tempat kalian sering posting gadis-gadis cantik?"


Sarah dan Andre mengangguk. "Kenapa?"


"Apa Alex sering mendapat teman wanita dari sana?"


"Maklum Lid, tempat kami 'kan sering memunculkan bibit-bibit unggul dalam hal mode dan entertainmen," timpal Andre menambahi. "Jadi bakal banyak mata yang melihat untuk mencari bakat yang sesuai dengan kebutuhan pasar, dari segi bisnis."


Lidya mengangguk paham. "Apa banyak yang menyukai Alex?" tanyanya penasaran.


"Tentu saja. Termasuk sepupuku," tegas Sarah. "Dan sekarang dirimu."


Wajah Lidya merona. "Aku tidak tahu kenapa sampai bisa menyukainya," gumamnya.


"Mungkin karena kau sudah tidak perawan lagi karena Alex," jawab Sarah blak-blakan. Andre melotot padanya.


"Memang itu salah satu alasanku. Karena dia sudah mengambil yang paling berharga dalam hidupku, maka sudah seharusnya jika dia ku miliki sepenuhnya, terlepas bagaimana masa lalunya."


Sarah dan Andre menatap Lidya prihatin. "Tapi dia sudah berhubungan dengan banyak wanita di luar sana, Lidya, apa kamu tidak merasa jijik karenanya?"


Lidya mengedikkan bahunya. "Entahlah. Kata hatiku meragukan jika Alex sudah berbuat sangat jauh bersama para teman wanitanya," jawabnya.


"Ah, kau sudah dibutakan dengan cinta," ucap Sarah. Andre menatap nanar wajah sendu Lidya. Jika mau, dia bisa saja menggantikan posisi Alex untuk Lidya, meskipun Alex sudah menodainya.


"Aku sudah terikat janji, dan lagipula masa depan orang tuaku sepenuhnya tergantung padaku," ucap Lidya sedih.

__ADS_1


Sarah mengangguk paham. Lidya sudah menceritakan semua padanya. Pada awalnya ia justru menganggap Lidya bodoh dan tidak tegas, tetapi setelah tahu alasannya, ia pun mulai mengerti bagaimana sulitnya posisi Lidya saat ini.


"Bersabarlah. Aku yakin semua bakal baik-baik saja, dan Alex bakal jadi milikmu sepenuhnya," ucap Sarah pada akhirnya, sembari menghela napas panjang.


Tiba-tiba ponsel Sarah berdering. Kedua mata gadis itu terbelalak lebar saat tahu siapa yang sedang menghubunginya saat ini. "Alex!" pekiknya.


Sontak Lidya dan Andre mendekat padanya. Membuat Sarah meringis jengah. "Kalian tetaplah pada tempat masing-masing. Biar aku aktifkan loudspeaker agar kalian bisa mendengar," titahnya yang langsung dipatuhi oleh kedua orang itu. "Alex sudah memakan umpan kita," imbuhnya setengah berteriak kegirangan.


"Ya, Lex?"


"Barang baru lagi?" tanya Alex tanpa basa basi.


"Begitulah. Kau tertarik untuk bisnismu?" pancing Sarah.


"Sepertinya begitu. Sebenarnya aku menginginkan Lidya yang jadi model iklan produk baruku, tetapi rasanya yang ini lebih pas dan sesuai kriteriaku," jawab Alex dengan nada datarnya.


"Oke, biar ku hubungi agency nya," ucap Sarah. "Tapi kau harus rela antre, bukan kau saja yang menginginkannya," imbuh Sarah sembari menjulurkan lidah setelah mengatakannya. Andre terkekeh sementara Lidya terus mendengarkan dengan seksama. Ia penasaran apa jawaban Alex setelahnya.


"Singkirkan semuanya! Kau tahu aku punya uang dan kuasa, bayar mereka sesuai yang diminta."


"Tidak bisa begitu. Kau pikir aku ini bank berjalan? Darimana uang yang ku dapatkan untuk membayar mereka semua? Dasar!" protes Sarah.


"Aku yang akan memberimu uangnya! Sekarang yang terpenting, batalkan dan sampaikan pada mereka semua kalau dia sudah menjadi milikku!" tegas Alex.


Sarah pura-pura menghela napas berat. "Bagaimana ya, rasanya kok sulit sekali harus menolak permintaan mereka satu persatu," ucapnya jual mahal.


"Berapa yang kau minta untuk mengganti rugi mereka semua?" tantang Alex.


Sarah menatap Lidya dan Andre bergantian. Lidya menggelengkan kepalanya ragu, sedangkan Andre mengangkat telunjuknya, membentuk angka satu.


"Aku masih harus konsultasi dulu dengan agensinya, Tuan Alex," jawab Sarah. "Jadi aku masih belum bisa memberikan keputusan sekarang."


"Aku transfer satu milyar, kirim nomor rekeningmu!" ucap Alex memutuskan. "Kalau ternyata kurang, hubungi aku, nanti aku tambah. Kalau sisa, buatmu saja, karena kau sudah menemani Lidya."


"Baiklah. Ku kirim nomor rekeningku sebentar lagi," sanggup Sarah. "Buatku atau untuk Lidya?"


Alex terdiam sejenak. "Kalau sisanya banyak, ambil 25 persennya untukmu, sisanya milik Lidya." jawabnya kemudian.


"Kenapa Lidya lebih banyak jumlahnya?" protes Sarah sembari berpura-pura jengkel.


"Karena dia istriku, titik! Cepat lakukan perintahku, sebelum mereka mendapatkannya terlebih dahulu dari agensi."


"Oke, siap!"


Setelah itu Alex memutus panggilan. Sarah menyeringai lalu menatap Lidya dan Andre yang kali ini ikut tersenyum dengannya.

__ADS_1


"Pertunjukan segera dimulai, siapkan dirimu, Lidya."


__ADS_2