Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Perselingkuhan


__ADS_3

Sebelum wanita itu beraksi, Alex menyambar dasi miliknya lalu menutup mata wanita itu dan mengikatnya ke arah belakang. "Kau tidak boleh melihat meskipun sudah merasakan milikku," desisnya.


"Siap, Tuan."


"Tanganmu juga harus kau jaga!"


"Seperti yang Anda minta."


"Oke, lakukan sekarang. Jika kau bisa membuatku puas, bonusmu akan ku tambah."


Wanita itu menyeringai mendengar ucapan Alex. Kini ia memutar tubuhnya membelakangi Alex, sembari memposisikan diri dengan tepat, menyatukan inti tubuh mereka.


Karena milik Alex sedikit lemas, wanita itu mulai melakukan gerakan menekan dan menggetarkan tubuh bagian bawahnya di atas perkakas Alex.


"Kau cukup nakal," desis Alex saat merasakan miliknya mulai menegang. Ia langsung saja menyambar alat pengaman yang baru, lalu segera membungkus perkakasnya sebelum kemudian mendorong wanita itu hingga membentur dinding. "Sepertinya aku yang lebih pantas untuk memimpin," imbuhnya yang lalu mulai menancapkan perkakasnya melalui "pintu belakang" hingga membuat wanita itu sedikit memekik lalu mendesis, saat merasakan benda tumpul dan panjang itu memenuhi intinya.


"Anda luar biasa," bisik wanita itu saat Alex mulai melakukan gerakan menghujam sembari menggigit lembut bahu wanita itu dengan kedua tangan yang mulai bergerak lincah, meremas bukit kenyal.


"Awh! Lebih keras, Tuan ...."


"Kau suka yang kasar?" tanya Alex.


"Ya, karena lebih terasa," jawab wanita itu jujur. sontak Alex menarik tubuh wanita itu dan merebahkannya tengkurap di atas meja. Ia lalu mulai menggerakkan pinggulnya dengan keras, hingga wanita itu berteriak merasakan nikmat yang luar biasa.


"Aku menganggap ini kulakukan denganmu, Lidya," gumam Alex pelan.


***


"Ndre, kamu jangan minum terlalu banyak, nanti kamu bisa mabuk," ucap Lidya sembari tertawa saat melihat Andre meminum satu botol penuh air fermentasi anggur, yang mereka dapatkan sebagai bonus reservasi.


"Nggak lah, ini malah bikin sehat."


"Ck, kamu ini!"

__ADS_1


Andre tergelak saat melihat Lidya sedikit marah. "Kalau tidak percaya, cobalah sendiri. Cukup hangat untuk udara dingin malam ini," ujarnya.


"Nggak deh, takut mabuk."


"Ya sudah, biar aku habiskan sendiri kalau begitu. Terlalu sayang kalau sampai sisa, besok kita sudah tidak di sini lagi, bukan?" ucap Andre.


"Eh, jangan dihabiskan! Tunggu Sarah sama pacarnya datang, siapa tahu mereka juga mau," cegah Lidya.


"Yakin mereka mau datang? Ini sudah menjelang malam."


"Entahlah, pesanku belum terbaca juga yang barusan." Lidya melihat ke ponselnya lalu menggelengkan kepala. "Mungkin mereka ada acara sendiri di tempat lain. Yang ada malah pesan dari Alex, untuk Sephia, di nomor satunya," ucapnya malas. Ia memang tidak berniat untuk membuka pesan dari Alex karena tidak ingin terganggu.


"Bisa jadi. Ya sudah, biarkan saja. Mungkin mereka butuh privasi."


"Kamu benar."


Andre lalu kembali menuang anggur ke dalam gelas lalu meneguknya dengan nikmat. "Ini sangat enak, kau harus mencobanya."


Andre menuang air anggur itu ke dalam gelas Lidya. "Minumlah perlahan jika kamu tidak pernah mencoba sebelumnya."


Lidya tersenyum lalu meneguk pelan sembari menikmati rasa minuman itu. "Ada sedikit asam, tapi hangat," ujarnya.


"Tentu saja, karena ini berasal dari anggur murni," jelas Andre. Lidya tersenyum dan akhirnya ikut terbawa bersama Andre, menghabiskan satu botol penuh anggur itu lalu tertawa bersama saat melihat isi gelasnya yang ternyata sudah kosong.


"Ndre, habis. Masih ada lagi 'kah?" tanya Lidya.


"Sepertinya masih ada, coba aku lihat dulu," ucap Andre.


"Aku saja. Katakan dimana mereka menyimpannya?" Lidya beranjak dari duduknya, lalu mulai melangkah menuju dapur mini dan mencari botol minuman itu.


"Di bagian paling atas, apa kau bisa meraihnya?"


"Sepertinya terlalu tinggi, Ndre."

__ADS_1


"Biar aku bantu," ucap Andre yang lalu melangkah mendekati Lidya, lalu ikut meraih botol itu dari belakang, tanpa membiarkan Lidya pergi dari sana. "Kemarikan tanganmu, aku mau mengukur panjang tangan dan kakimu."


Lidya tertawa. "Ya jelas lebih panjang kaki dong, daripada tangan," celetuknya yang di sambut tawa oleh Andre.


"Ayo taruhan, siapa pun yang lebih dulu mengambilnya, maka apapun yang dia minta harus dipenuhi oleh yang kalah.


"Boleh! Siapa takut?" tanpa aba-aba, Lidya melompat tinggi untuk bisa meraih botol itu sementara Andre yang terlambat bergerak, kini justru membentur tubuh Lidya saat wanita itu terhuyung ke belakang. Sigap, Andre pun menangkap tubuh Lidya dan memeluknya erat, karena ia sendiri pun merasa sedikit pusing karena terlalu banyak minum anggur.


"Tenang, kamu aman bersamaku," ucap Andre sembari tersenyum menatap dalam kedua mata Lidya. Keduanya kini saling menatap lalu semakin lama wajah mereka mendekat, hingga bibir mereka tak berjarak. Jantung Lidya berdegup kencang, sementara kini Andre mulai berani mengecup lembut bibir ranum itu sembari kian mempererat pelukannya.


Merasakan tidak ada perlawanan dari Lidya, Andre semakin berani mencium lebih dalam. Lidya yang semula hanya diam, kini mulai membuka bibirnya dan membalas ciuman Andre dengan perasaan ragu. Seketika dalam benaknya melintas wajah Alex dan momen pernikahan mereka. Bayangan tentang perselingkuhan Alex pun kini memenuhi pikirannya, hingga akhirnya dirinya pun pasrah, menerima semua perlakuan Andre padanya, yang kini ternyata telah merebahkan tubuhnya di atas ranjang, di sudut rumah pohon itu.


Salahkah jika Lidya berpikir untuk melampiaskan kekesalan dan perasaan cemburunya dengan melakukan hal yang sama seperti Alex? Salahkah jika ia melakukannya bersama Andre yang selama ini terlihat begitu mencintainya?


Lidya mendessah ketika merasakan tubuh Andre mulai menimpa tubuhnya, sementara ciuman pria itu kini bersarang di lehernya yang jenjang lalu semakin turun ke arah dada. Jantung Lidya kian berdegup kencang, ketika bibir itu berhenti di salah satu puncak bukit yang tertutup rapat dengan pakaiannya. Andre mengusak wajahnya di sana, hingga membuat Lidya sedikit menggelinjang geli.


"Ndre, kamu mabuk?" tanya Lidya ingin tahu.


"Nggak. Aku sadar sepenuhnya."


"Tapi yang kamu lakukan ini ...."


"Kamu keberatan? Aku mencintaimu, Lidya, jauh sebelum kamu menikah dengan Alex," ungkapnya jujur. Lidya menatap nanar kedua mata Andre yang telah dipenuhi kabut. Ia hanya menemukan ketulusan dan kesungguhan di sana, yang begitu menyentuh hatinya.


"Tapi aku ...."


Andre tidak memberi kesempatan pada Lidya untuk melanjutkan perkataannya. Pria itu kini kembali membungkam bibir Lidya dengan ciuman yang lebih rakus, sementara satu tangannya berhasil menelusup masuk, menembus pembatas hingga mencapai salah satu puncak bukit lalu meremasnya perlahan, membuat Lidya kembali mengeluarkan suara ajaibnya disela ciuman.


Andre semakin bersemangat, terlebih gerak tubuh Lidya seolah memberinya kesempatan untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi. Ia pun terus menyerang Lidya dengan bibir dan lidahnya, sembari membuka penutup tubuh keduanya, secara perlahan tapi pasti, hingga kini tubuh keduanya sama-sana polos, dengan posisi misionaris.


Lidya memejamkan matanya, menikmati sensasi rasa dari seseorang yang mencintainya. Ia memberikan kesempatan pada Andre untuk melakukannya, sembari membuka diri agar Andre bisa melakukan penyatuan dengan mudah. Persetan dengan Alex! Itulah saat ini yang terlintas dalam benaknya.


"Argh! Andre ...." pekik Lidya.

__ADS_1


__ADS_2