Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Serangan Kedua


__ADS_3

"Kau merindukanku?" tanya Alex ge-er saat tahu Lidya mengajaknya ke hotel.


Lidya hanya tersenyum tipis lalu segera masuk ke dalam mobil di ikuti oleh dua orang pengawal wanita, sementara Alex berteriak memanggil Kim yang mengemudikan mobilnya untuk segera membawanya menuju ke hotel, mengikuti Lidya.


Kedua mobil melaju beriringan menuju hotel tempat Lidya tinggal sementara. Beberapa orang terlihat heran saat melihat pengawalan ketat atas diri Lidya sementara di belakangnya terlihat Alex berjalan mengikutinya.


Lidya langsung menuju kamarnya, sementara salah satu pengawalnya memesan dua kamar di samping kanan dan kiri kamar Lidya untuk memudahkan penjagaan dan pengawasan Lidya secara bergantian.


Alex melangkah penuh percaya diri. Semua mata wanita selalu memandangnya dengan penuh hasrat dan kekaguman. Sejujurnya ia bangga karena istrinya saat ini telah resmi menjadi seorang model, meskipun masih merintis dari bawah, tetapi Lidya justru mendapatkan kontrak ekslusif dari perusahaan produk kecantikan ternama. Satu nilai tinggi yang Alex berikan untuk Lidya kali ini, meskipun di awal ia sempat melarangnya.


"Duduklah dulu, aku ke kamar mandi sebentar," ucap Lidya saat Alex baru saja masuk ke kamarnya, sementara para pengawal berdiri siaga di luar.


Alex merebahkan tubuhnya begitu saja ke atas ranjang. Kamar Lidya terasa begitu nyaman baginya, terlebih aroma harum khas Lidya menguar, memenuhi seluruh ruang kamar itu.


Alex menatap foto Lidya yang sempat ia curi dari kejauhan. Ia mengamatinya dengan intens lalu tersenyum. Balutan busana modern yang dikenakan oleh Lidya telah membangkitkan gairah kelelakiannya, terlebih kini saat ia melihat lukisan garus indah, yang terlihat membusung itu.


Lidya terperanjat, saat keluar dari kamar mandi dan mendapati Alex sedang menatapnya.


"Ada apa melihatku seperti itu?" tanya Lidya jengah. Pasalnya ia merasa sedikit merinding saat melihat tatapan sendu Alex yang mengamati sekujur tubuhnya.


"Siapa yang menyuruhmu mengganti baju dan menghapus riasan itu?" tanya, Alex dengan perasaan kecewa. Jika boleh memilih ia akan lebih senang melihat Lidya yang ber make up, dibanding polos tanpa riasan.


"Nggak ada yang menyuruh, aku sendiri yang menginginkannya. Gerah," jawab Lidya yang kini duduk di depan meja rias, menghadap ke Alex.


"Ck! Ternyata kau buruk rupa, kenapa bisa terpilih jadi model?" gerutu Alex.


"Lex, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Lidya tanpa menghiraukan ucapan Alex.


Alex beranjak dari tidurnya lalu duduk di tepian ranjang, menghadap Lidya. "Katakan saja."


"Mulai hari ini aku akan lebih sering lagi ke Bandung," ucap Lidya, mulai memberitahu. "Dan setiap kali aku di kota ini, itu membutuhkan waktu yang lama."


"Apa yang akan kau lakukan di sini?" selidik Alex. "Menemui pria itu, yang sudah mencium pipimu?" sindirnya tajam.


Sontak wajah Lidya merona. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Bukan. Aku bekerja di sini, kau tahu, aku seorang model," jelas Lidya.


"Hm, begitu?"

__ADS_1


Lidya mengangguk.


Alex diam menatap wajah Lidya yang menunduk. Hasratnya yang sedari tadi sudah tumbuh, kini terasa semakin meronta saat tanpa sengaja Alex melihat bagian atas tubuh Lidya yang membusung dan bergerak naik turun perlahan saat gadis itu bernapas.


"Bagaimana Lex, apa kau mengijinkan aku?" tanya Lidya harap-harap cemas.


Alex menyeringai. Ia mempunyai satu ide yang melintas di kepalanya. "Aku akan mengijinkan mu, tetapi dengan satu syarat," ucapnya.


"Apa itu? Jangan terlalu berat."


"Kemarilah, aku akan mengatakannya padamu satu kali dan tidak akan ku ulangi."


Meskipun sedikit heran, tak urung Lidya beranjak dari duduknya lalu menghampiri Alex.


Tanpa menunggu Lidya mendekat, Alex langsung saja menyambar tubuh langsing itu, menarik dan mendudukkannya di atas pangkuannya. Kedua tangannya memeluk Lidya dengan erat seolah tidak mau melepaskannya.


Lidya memekik kecil namun Alex membekapnya. Ia khawatir para pengawal Lidya di depan akan memaksa masuk dan mengusirnya.


"Diamlah, aku tidak akan melakukan hal yang lebih dari ini," bisik Alex.


"Aku akan mengijinkan mu asal kau mau melayaniku saat ini," bisik Alex sembari menciumi leher jenjang milik Lidya, sementara satu tangannya mulai bergerak liar menuju bukit kembar dan meremasnya perlahan.


Alih-alih menolak dan marah, Lidya justru memejamkan matanya, menikmati sentuhan Alex.


"Bagaimana, kau mau?" tanya Alex dengan napas memburu. Lidya merinding saat merasakan hembusan napas panas dari hidung Alex yang mengenai telinganya.


"Kalau pun aku menolak, aku yakin kau akan tetap memaksaku untuk melakukannya, bukan? Keinginan seorang Alex tidak ada yang bisa menentang," jawab Lidya sedikit sinis. Ia tidak tahu akan menolak atau menerima. Lagipula ia adalah istri Alex, dan pria itu berhak melakukan apa saja terhadap dirinya. Lidya pun teringat perjanjiannya dengan Arman, yang menginginkan Lidya bisa meluluhkan hati Alex. Mungkin ini adalah salah satu cara untuk bisa mendapatkan hati suaminya ini, meskipun jauh di lubuk hatinya menolak. Dan ia sedikit heran ketika justru tubuhnya menginginkan lain.


"Istri cerdas! Kau sudah mulai mengenalku dengan baik," ucap Alex yang kini mulai melancarkan serangannya. "Jangan khawatir, aku membawa alat pengaman, kalau kau takut hamil dan menghalangi karirmu," imbuhnya yang lalu mengangkat dagu Lidya dan mulai menyerangnya dengan ciuman ganas. Berdekatan dengan Lidya membuatnya sesak napas dan ingin memakan habis seluruh tubuh Lidya.


Lidya mendesah pelan ketika Alex berhasil meloloskan seluruh kain penghalang tubuh bagian atasnya. Pria itu dengan lihainya memainkan dua bukit kenyal miliknya dan membuatnya menggelinjang merasakan geli yang nikmat, terlebih ketika Alex menyesap puncaknya secara bergantian, setelah memutar tubuhnya menghadap pria itu. Lidya merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya. Kali ini Alex tidak sedang dalam kondisi mabuk. Ia melakukannya dengan sadar dan tanpa menyebut nama Lily. Entah kenapa hati Lidya menjadi senang karenanya.


Alex mengerang ketika merasakan intinya begitu penuh sesak dalam tekanan tubuh Lidya di atas pangkuannya. Dengan tidak sabar Alex mulai melepas semua penghalang inti tubuh Lidya lalu mengangkat tubuh langsing itu dan merebahkannya perlahan ke atas ranjang.


Lidya semakin berdebar ketika melihat Alex melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya. Ia menelan ludahnya kasar ketika melihat bagian inti Alex yang begitu kencang dan mulai terbungkus pengaman. Alex melakukannya dengan cepat, kini pria itu mengungkung tubuh Lidya di bawahnya sembari kembali menyerang bibir ranum dan kedua bukit yang membusung itu.


Lidya menggeliat ketika merasakan sentuhan kelelakian Alex di atas intinya. Ada perasaan tidak sabar yang kini mengganggunya. Ia ingin Alex melakukan lebih, tanpa mempermainkan miliknya itu yang terasa menyiksanya.

__ADS_1


Alex menyeringai ketika merasakan tangan Lidya menyentuh miliknya dan mulai mengarahkan ke intinya. Ia tahu, Lidya sudah tidak sabar lagi untuk merasakan serangan kedua darinya, setelah saat itu. Ya, ini adalah kali kedua mereka melakukan hubungan setelah resmi menjadi suami istri.


"Argh!" Alex menggeram ketika Lidya memainkan tangannya dengan nakal pada miliknya. Istri yang ia anggap lugu itu ternyata mampu membuatnya tidak sabar untuk segera melesakkan miliknya ke inti tubuh Lidya.


"Alex!" Lidya memekik pelan ketika milik Alex menghujam dengan keras, memenuhi tempat itu. Kedua tangan Lidya mencengkeram pinggang Alex sementara kedua matanya memejam erat, merasakan kenikmatan tiada duanya saat Alex mulai menggerakkan tubuhnya secara berirama.


Napas keduanya sama-sama memburu. Lidya sesekali menggigit bahu Alex ketika merasakan hujaman kuat berkali-kali dari Alex. Satu hal yang baru ia rasakan dari suaminya itu, yang sangat jauh berbeda dari yang pertama, ketika Alex melakukannya dengan kasar.


Alex menahan diri untuk tidak meninggalkan tanda kepemilikan di daerah leher dan bahu Lidya meskipun ia sangat ingin melakukannya. Ia paham benar jika Lidya seorang model dan mungkin akan memakai pakaian sedikit terbuka. Sebagai pelampiasannya, Alex kini menyesap kuat puncak bukit kembar, dan meninggalkan tanda kemerahan di sana sembari tersenyum geli, saat mengingat kebodohannya tentang tanda itu yang dibilang oleh Kim adalah tato permanen.


"Alex ...." panggilan pelan dari bibir Lidya membuat Alex semakin menggila. Ia mempercepat gerakannya, naik dan turun sembari memejamkan matanya, menikmati bagian inti Lidya yang terasa begitu sempit dan mencengkeram miliknya yang memenuhi lubang kenikmatan itu hingga akhirnya ia mengerang dan semakin mempercepat gerakannya. Lidya menjerit tertahan menikmati puncak kenikmatan yang kini menderanya.


"Ah, Lidya ...." bisik Alex yang lalu menghujam kuat-kuat miliknya ke inti Lidya. Menahannya lama di sana hingga akhirnya tubuh keduanya mengejang, menikmati pelepasan bersama-sama. Lidya memeluk tubuh suaminya itu dengan erat, sembari tersenyum saat mendengar Alex menyebutkan namanya.


Keduanya terengah dengan tubuh yang basah karena peluh dan saling menempel erat. Entah kenapa Alex seolah tidak ingin melepas diri dari penyatuan itu. Ia ingin melakukannya lagi dan lagi, dengan Lidya. Tubuh wanita itu telah membuatnya ketagihan. Sungguh, ia tidak habis pikir karenanya.


"Alex," panggil Lidya dengan suaranya yang sedikit parau karena kelelahan.


"Hm?"


"Sebentar lagi aku harus segera kembali ke sana, dan berpindah ke apartemen," ucap Lidya memberi tahu. "Kau sudah mengijinkanku, bukan? Aku sudah memenuhi syarat darimu."


Dengan malas Alex menatap jam digital di atas nakas. "Masih setengah jam lagi," gerutunya.


"Iya, tapi aku harus membersihkan diri dulu," ucap Lidya sembari mendorong dada Alex dari atas tubuhnya.


"Aku masih belum puas," bisik Alex sembari menatap bukit yang membusung itu.


Lidya terkekeh. "Waktumu sudah habis, Alex," ucapnya. Namun sesaat kemudian ia tercekat ketika merasakan milik Alex kembali menegang di dalam intinya. "Alex, tidak!"


Alex menyeringai. Ia lalu bangkit dan duduk diatas tubuh Lidya sembari melepas pengaman yang sudah penuh dengan cairan miliknya lalu menggantinya dengan yang baru, setelah ia membersihkannya dengan tissu dan membuang bekas yang lama begitu saja ke lantai. Lidya memperhatikannya dengan jantung berdegup kencang. Haruskah ia melakukannya dua kali bersama Alex kali ini? Sanggupkah? Ia sudah merasa lelah dengan serangan pertama tadi.


"Jorok!" desis Lidya namun kedua matanya menatap nanar milik Alex yang menegang sempurna. Ia kembali menelan saliva dengan susah payah.


Alex kembali menyeringai lalu mengangkat tubuhnya dari tubuh Lidya. Dengan gerakan cepat ia membalikkan tubuh Lidya dan mulai menyerangnya dari belakang.


"Kali ini aku akan melakukannya dengan cepat," bisik Alex dengan napas yang memburu.

__ADS_1


__ADS_2