Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
"Perkakas" Suami?


__ADS_3

"Jadi maksudmu, Alex akan berselingkuh dengan aku sendiri? Gimana sih, aku kok nggak paham maksud kalian," tanya Lidya semakin bingung.


"Begini Lidya, sebagai Lidya palsu alias Sephia, tugasmu adalah menggoda Alex sampai dia benar-benar jatuh cinta padamu," jelas Sarah.


Seketika Lidya teringat pesan dari ayah mertuanya, bahwa ia harus memenangkan hati Alex, dan semua ini masih berkaitan dengan rencananya bersama Sarah serta Andre. Mungkin tidak ada salahnya jika ia mencobanya terlebih dahulu, siapa tahu ini akan berhasil, dengan bantuan ketiga orang baik yang saat ini bersamanya.


"Oke, aku paham," jawab Lidya. Sontak semua menghela napas lega.


"Tapi ada satu hal yang saat ini jadi beban pikiranku," ucap Lidya pelan.


"Apa itu?"


"Bagaimana nanti jadinya, kalau ternyata Alex sudah benar-benar jatuh cinta pada Sephia, bukannya Lidya? Haruskah aku membuka penyamaran?" tanya Lidya.


Semuanya diam untuk beberapa saat lamanya. Tidak ada yang mampu berpikir sejauh itu dan mereka memang masih belum memikirkannya. Yang saat ini mereka utamakan hanyalah, Lidya mampu berubah, demi untuk mempertahankan pernikahannya.


"Bisakah kita pikirkan itu nanti saja, Lidya? Saat ini yang terpenting adalah aksi, pelaksanaan rencana kita, untuk mencegah agar kebiasaan buruk Alex ini tidak semakin parah," celetuk Andre. "Jika kita terlalu memikirkan resiko buruknya, maka langkah kita akan terhambat dan menjadi ragu, jangan sampai kita kalah sebelum berperang."


"Kamu benar," sahut Lidya. "Aku akan fokus pada usaha dan tujuan utama saja, soal lain-lain, bisa kita pikirkan nanti kalau memang sudah menunjukkan hasil seperti yang kita harapkan."


Sarah dan Anna mengangguk setuju. Mereka lalu membereskan segala macam peralatan, make up dan juga pakaian baru untuk Lidya nantinya saat menjadi Sephia. Ada banyak harapan yang tersimpan dalam hati mereka, bahwa nantinya Lidya akan memenangkan hati Alex, mengingat status mereka saat ini sebagai suami istri, selain itu karena memang Alex dianggap terlalu meresahkan karena kebiasaan buruknya itu.


Setelah selesai di tempat Anna, ketiganya kini pulang ke apartemen khusus milik Lidya, tetapi Andre langsung pulang ke rumahnya, tidak ikut menginap di unit apartemen yang lain bersama para crew.


"Kamu yakin rencana ini akan berhasil?" tanya Lidya pada Sarah, sembari menyisir rambutnya di depan cermin, setelah selesai mandi.


"Yakin banget!" jawab Sarah yang sudah merebahkan diri terlebih dahulu di ranjang sembari memainkan ponselnya.


"Tapi aku ragu, takut kalau Alex bakal mengenaliku," sahut Lidya.

__ADS_1


"Jangan khawatir, selama kau bisa bersandiwara di depannya secara natural, aku yakin Alex bakal kepincut padamu."


"Bicara memang gampang ya, tapi kalau masalah pelaksanaannya tidak semudah itu," ucap Lidya pelan.


"Begitulah."


"Apa nantinya aku juga harus melayani Alex?" tanya Lidya tiba-tiba dengan raut wajah panik, menatap dirinya sendiri di depan cermin.


Sarah terkikik pelan. "Ya tentunya dong, emang biasanya apa yang dilakukan seorang wanita di depan lelaki yang mencintainya?"


"Maksudku, apa aku bakal layani hasrat Alex seperti lara teman wanitanya itu?"


Sarah menatap tajam Lidya. "Memangnya kenapa kalau memang harus melayaninya? Nggak ada ruginya buatmu, toh kamu ini istri Alex sebenarnya?"


Lidya tertegun. Memang benar ia istrinya Alex, tetapi harusnya ia bersedia begitu saja melayani Alex yang notabene "perkakasnya" juga bekas dipakai oleh wanita lain? Wanita mana yang mau berbagi dengan banyak wanita lain? Kalau saja ia tidak terikat janji dan juga karena ingin menyelamatkan bisnis orang tuanya, sudah sejak lama ia pergi dari Alex.


"Aku tidak mau tertular penyakit yang berbahaya, akibat dari tingkah konyolnya selama ini," ucap Lidya.


Sarah menghela napas panjang lalu menegakkan tubuhnya dan bergeser duduk di dekat Lidya. "Kalau memang itu terjadi, kamu bisa memberinya syarat terlebih dahulu untuk memeriksakan kebersihan dan kondisi miliknya, biar kalian sama-sama aman," jawabnya. "Kalau memang terbukti mengandung penyakit, ya sudah, tinggalkan saja."


"Mauku memang begitu, meninggalkan dia, tetapi tidak semudah itu, aku terlanjur berjanji pada ayahnya," ujar Lidya yang lalu menceritakan tentang perjanjiannya bersama Arman, ayah Alex. Sarah diam mendengarkan sampai Lidya menyelesaikan ceritanya.


"Kau bilang mulai mencintainya?" tanya Sarah tidak mengerti.


"Aku memang mencintainya, tetapi aku tidak tahu apa dia juga mencintaiku. Lagipula dia lebih suka bermain dengan wanita lain ketimbang bersamaku, istri sahnya ini," jawab Lidya sedih.


"Itulah tujuan dari rencana ini, Lidya. Dari sini nantinya kita bisa paham, seberapa besar perasaan Alex padamu dan juga sekalian membuktikan apakah pikiran kita selama ini benar tentang Alex," jelas Sarah. "Aku tahu, mungkin aku terlalu sok tahu, terlebih karena aku masih belum menikah. Tetapi aku cukup tahu, bagaimana perasaan seorang istri jika pasangannya suka berselingkuh."


Lidya mengangguk paham. "Kamu benar," ucapnya. "Sekalian aku akan menyelidiki, seberapa jauh tingkat kenakalan Alex selama ini, karena setiap aku bertemu seseorang, terlebih wanita, mereka selalu mengenal Alex, padahal dia bukan artis."

__ADS_1


"Oke, sip! Aku dukung usahamu. Pastinya Andre juga akan tetap mendukungmu."


"Kita sudahi pembicaraan tentang rencana ini. Aku lelah, ngantuk banget, saatnya kita istirahat. Sudah cukup malam juga ini," ucap Lidya yang lalu menghempaskan tubuhnya pelan ke atas ranjang.


"Istirahatlah, aku pergi dulu."


"Kemana?" tanya Lidya yang lalu menatap curiga Sarah.


"Ke kamar sebelah," jawab Sarah. "Memangnya aku mau kemana lagi?"


"Astaga aku lupa kalau masih ada kamar lagi di sebelah," pekik Lidya yang sontak membuat Sarah memutar bola matanya malas.


"Kau terlalu banyak berpikir tentang perkakas Alex, sampai lupa yang lainnya," celetuk Sarah sembari tersenyum lebar. "Ya Tuhan, percepat lah proses hubunganku dengan kekasihku, agar aku segera menikah dan aku juga bisa merasakan seberapa hebat khasiat perkakas suami!" imbuhnya sembari berteriak pelan. Sontak Lidya tertawa sembari melempar bantal ke tubuh Sarah. Gadis itu sering kali membuatnya tertawa, melupakan semua beban dan kesedihan, dengan segala tingkah konyol dan lucunya.


"Tidurlah di sini, Sarah, temani aku," pinta Lidya.


"Tapi aku tidak punya perkakas, Sephia, kau pasti tidak akan merasa puas," celetuk Sarah sembari mengerucutkan bibirnya.


"Sialan! Kau pikir aku ini apa?" teriak Lidya gusar. "Aku masih waras dan lurus, tidak akan berbelok padamu," ujarnya.


Sarah tertawa lebar. "Kali aja kamu berubah, gegara tingkah Alex yang sudah keterlaluan begitu," ucapnya.


"Nggak lah, aku bukan yang begitu, orangnya," sahut Lidya cepat. "Mungkin malah lebih dari itu," imbuhnya sembari tertawa menyeringai.


"Auch, jadi kepo, lebih yang bagaimana nih?" celetuk Sarah.


"Ada deh, kamu masih kecil, ini rahasia perusahaan perkakas!" sahut Lidya.


"Yaaah, sayang sekali," keluh Sarah.

__ADS_1


__ADS_2