Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Iklan Yang Menarik


__ADS_3

Lidya tertawa kecil. "Sudah, jangan bicarakan hal yang sudah tidak mungkin lagi," ucapnya. "Mending sekarang kita foto-foto lagi, mumpung kita lagi ada di sini," imbuhnya, yang lalu mulai berpose dan mengambil gambar dirinya sendiri. Ia sengaja menghindari percakapan dengan Andre jika itu mengenai perasaan dan hubungan mereka berdua, meskipun sejujurnya ia pun menyukai Andre, sejak mereka masih remaja dulu. Tetapi kini semuanya sudah berubah, ia terikat pernikahan dengan Alex, dan hatinya pun kini menjadi milik Alex, meskipun nyatanya Alex selalu menyakiti hatinya.


"Lidya, maukah kamu berfoto denganku?" tanya Andre.


"Asal tidak kau posting saja di media sosial milikmu," sahut Lidya yang tak urung kini dirinya memposisikan diri, menempel pada tubuh Andre dan mengacungkan jemarinya membentuk hati. Andre menghela napas panjang seraya cepat mengambil foto mereka, sebelum Lidya berubah pikiran.


Keduanya begitu asik menikmati tempat itu. Siapapun pasti akan betah tinggal berlama-lama, karena lokasi dan pemandangan yang terlihat begitu indah dari atas rumah pohon itu, selain karena udaranya yang cukup sejuk, rumah pohon itu terasa nyaman saat ditinggali.


"Aku mau baring dulu di dalam, boleh?" celetuk Lidya.


"boleh," sahut Andre cepat. "Apa kau sudah bosan di sini?"


"Nggak dong, aku justru begitu menikmatinya," jawab, Lidya. "Apa kau tidak lelah, hampir seharian kita di sini . Bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Tenang saja, aku bisa bekerja secara online, sekarang jamannya sudah canggih," jawab Andre yang lalu melangkah masuk kedalam rumah pohon, di ikuti oleh Liliana di belakangnya.


"Sorry, kali ini kita serumah," celetuk Andre. "Kau tidak takut padaku, 'kan?"


Lidya tertawa. "Kalau takut sudah dari kemarin-kemarin dong larinya," ujarnya. "Tapi ya jangan macam-macam, nanti aku loncat ke bawah kalau kamu aneh-aneh," imbuhnya. Andre tertawa mendengarnya. Ia lalu menyesap kopinya yang sudah mulai hangat, karena ditinggal ke luar.


***


Alex menyandarkan tubuhnya dengan gusar. Sejak pertemuannya dengan Sephia pagi tadi, hatinya selalu gelisah. Bayangan wajah cantik dan bentuk tubuh yang indah, selalu melekat dalam benaknya. Andai saja dirinya masih belum menikah dengan Lidya, sudah pasti ia akan mengejarnya sampai dirinya bisa memiliki Sephia sepenuhnya.


Iseng ia pun membuka ponselnya dan melihat sosok Sephia yang berhasil ia curi gambarnya secara diam-diam. Sudut bibirnya terangkat saat tidak menemukan satu pun kekurangan dalam diri wanita itu, membuatnya semakin ingin untuk memilikinya.


Terbersit satu keinginan untuk bisa mengenal lebih jauh. Sembari menghela napas panjang ia pun segera menghubungi Kim dan memanggilnya untuk datang.


"Kim, masuklah, aku ingin bicara," ucap Alex saat melihat Kim datang dan melongok ke dalam dari pintu ruang kerjanya, di kantor.


"Ada apa?" tanya Kim yang lalu duduk di seberang Alex.

__ADS_1


"Selidiki tentang Sephia dan keluarganya," titah Alex. "Jangan ada sedikitpun yang tidak kau ketahui."


Kim tersenyum tipis. "Tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha Tuan, karena kita baru saja mengetahui perihal Nona Sephia dari Nona Sarah."


"Nah itu dia, kau bisa memulai penyelidikan ini darinya."


Kim mengerutkan keningnya. "Dari Nona Sarah? Apa Anda tidak khawatir Nyonya Lidya mengetahui hal ini? Jangan lupakan, mereka ada dalam satu agensi yang sama."


Alex terdiam memikirkan ucapan Kim. Ia lalu mengusap kasar wajahnya. Dalam hatinya pun sebenarnya merasa khawatir jika Lidya mengetahui dirinya menyukai wanita lain, selain Lily. Meskipun ia merasa tidak begitu mencintai Lidya, tetapi tetap saja ia tidak ingin istrinya itu marah padanya.


"Yakinkan hati dulu, Tuan. Karena di samping Anda saat ini ada Nyonya Lidya," ucap Kim mengingatkan.


"Aku penasaran dengan Sephia. Dan kau tahu aku tidak begitu mencintai Lidya."


"Tapi kenapa Anda bisa sampai di kota ini? Bukankah karena Nyonya?"


Wajah Alex seketika merona. Apa yang dikatakan oleh Kim sepenuhnya benar. Lantas kenapa kini ia menjadi bingung dan penasaran karena adanya Sephia? Apa dirinya masih belum puas dengan Lidya? Ataukah karena kecewa dengan Lily? Apa sebenarnya yang ia cari selama ini dengan memuaskan diri bersama banyak wanita?


"Anda menyukainya?" tanya Kim.


"Bohong kalau aku bilang tidak. Kau tahu benar siapa aku," jawab Alex.


Kim menghela napas. "Maaf, tapi apa Anda tidak bisa sedikitpun menghilangkan kebiasaan Anda ini, Tuan? Anda begitu mudah tertarik dengan wanita baru yang sekiranya sesuai dengan selera Anda," ucapnya hati-hati.


"Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa begini," keluh Alex.


"Itu karena Anda tidak pernah merasa puas dengan hanya satu wanita saja. Ada baiknya jika Anda mencari tahu, apa penyebabnya, apakah karena pernah dikecewakan atau memang obsesi Anda."


Alex menatap Kim sembari tersenyum. "Tumben kau ini bijak, baru makan apa? Atau jangan-jangan semalam kau sudah tidur bersama dua wanita itu," celetuknya.


"Saya tidak sama dengan Anda, Tuan," jawab Kim sedikit menggerutu. Alex tertawa menanggapinya.

__ADS_1


"Kalau boleh jujur, sebenarnya sejak bersama Lidya, kebiasaan buruk ku sudah banyak berkurang," ujar Alex sembari tersenyum senang. "Kau lihat sendiri, bukan?"


Kim mengangguk membenarkan. "Iya, Anda sudah jauh lebih baik."


"Tapi entah kenapa, daya tarik Sephia begitu besar. Dia sudah membuatku begitu penasaran sampai sejauh ini, padahal kami masih baru dua kali bertemu secara langsung."


"Itulah kelemahan Anda."


Alex terkekeh. "Ada banyak wanita yang begitu menarik di dunia ini, dan aku beruntung sudah dipertemukan dengan salah satunya," ucapnya.


"Nyonya Lidya?" tebak Kim.


Alex mengangguk. "Hanya Lidya yang bisa membuatku berpikir ulang untuk menggauli wanita lain. Dia memberiku batasan yang tidak terlihat, hanya dengan sikap dan tatapan matanya," jujur Alex.


"Lalu kenapa Anda masih memikirkan tentang Sephia?"


"Entahlah. Aku seolah bisa menemukan hal yang sama dalam dirinya. Sesuatu yang menurutku hanya dimiliki oleh Lidya, tetapi ternyata ada juga dalam diri Sephia," jawab Alex. Kedua matanya terlihat menerawang, membayangkan sosok Lidya dan Sephia.


"Lalu?"


"Ya lalu bagaimana sebaiknya yang harus ku lakukan? Kau malah balik bertanya padaku. Gimana sih!?" gerutu Alex.


"Kalau menurutku, ada baiknya Anda tetap fokus dengan Nyonya Lidya. Anggaplah Sephia hanyalah iklan yang sesekali melintas di hadapan Anda, yang memang terlihat menarik," jawab Kim cepat.


"Begitu 'kah?"


Kim mencebik dan menganggukkan kepalanya. "Kalau menurutku begitu. Tetapi semuanya kembali lagi pada Tuan, pikirkanlah baik-baik, apa yang seharusnya Anda putuskan."


"Tapi Kim, bukankah iklan itu dibuat untuk menarik perhatian dan harus di tindak lanjuti jika kita tertarik?"


"Begitulah. Lalu kenapa Tuan?"

__ADS_1


"Berarti aku tidak salah dong kalau mengejar Sephia? Karena aku sangat tertarik dengan iklannya dan ingin membelinya," jawab Alex sembari menyeringai. Kim memutar bola matanya malas.


__ADS_2