
Alex termenung menatap langit malam dari balkon kamarnya. Sudah lebih dari satu minggu dia ada di kota ini, dan masih belum juga mendapatkan hati Lidya, sementara kini perhatiannya justru berpindah pada Sephia.
Jika boleh ia membandingkan, diantara Lidya dan Sephia sama sekali tidak ada perbedaan, hanya saja Sephia terlihat lebih menantang dengan sikap acuh dan tegasnya, sementara Lidya lebih ke malu tapi mau, terbukti dirinya sudah beberapa kali mencicipi tubuh wanita itu, meskipun awalnya ada penolakan. Tetapi Alex juga berpikir, sikap Lidya seperti itu karena terikat hubungan pernikahan dengannya.
Alex menghela napas panjang. Ia membolak balikkan ponselnya tanpa tujuan. Ia sudah bosan bermain ponsel ataupun hal yang lain. Tidak ada lagi yang bisa menarik perhatiannya kali ini selain Sephia, karena ia masih penasaran dengannya.
Alex melirik jam tangannya. Sudah larut malam, jarum jam sudah menunjuk angka sebelas, satu jam lagi tengah malam, tetapi ia masih belum mengantuk. Tiba-tiba angannya melayang pada Sephia. Sudut bibirnya terangkat, saat membayangkan kerja sama yang akan mereka lakukan mulai minggu depan.
Minggu depan? Tidak, Alex tidak sanggup menunggunya, terlebih saat ini masih hari Kamis. Ia masih harus menunggu beberapa hari legi sebelumnya.
Alex menyambar ponselnya saat terbersit satu ide yang melintas, tentang Sephia. Ia pun lalu memberanikan diri untuk mengirim pesan pada wanita itu dengan hati berdebar.
|"Malam, Sephia ... Sudah tidur?"|
Pesan pertama terkirim. Alex menatap dan menunggunya dengan hati berdebar. Namun setelah lebih dari sepuluh menit berlalu, tidak kunjung ada balasan juga atas pesannya.
Alex mengembuskan napasnya dengan kesal. Dalam hatinya saat ini berpikir mungkin wanita itu sudah tidur. Ia pun lantas mengabaikan dan kembali menyimpan ponselnya di atas nakas, tetapi ia lalu menyambarnya lagi dan menghubungi Kim.
"Ada apa, Tuan?"
"Aku tidak bisa tidur," jawab Alex.
"Apa Anda membutuhkan teman?"
"Kali ini kau cukup peka, Kim. Datanglah ke kamarku," ucap Alex.
__ADS_1
"Tidak, Tuan. Jangan bilang kalau Anda sudah bosan dengan wanita. Aku kaku dan alot, Tuan, tidak gemulai dan kenyal. Aku tidak bisa, karena aku juga punya pedang, sama seperti Anda," jawab Kim dengan nada cemas.
"Apa maksudmu? Dasar! Aku masih waras dan tidak belok!" gerutu Alex sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya sudah, kalau begitu kau tidak usah ke sini, tapi tolong kirimkan padaku seseorang yang menurutmu pasti bisa memuaskan aku!" titahnya kemudian.
"Lelaki atau perempuan?"
"Banci! Ya wanita, gobl*k! Cepatlah, jangan bikin mood ku menjadi hancur," bentak Alex kesal. "Sekalian kau juga pesanlah, sepertinya otakmu perlu dibersihkan dengan sentuhan wanita. Terlalu lama menjomblo membuat otakmu berkarat, rupanya," imbuhnya menggerutu.
"Baik Tuan, tunggulah sebentar," jawab Kim sembari terkekeh pelan mendengar omelan Alex. Hal yang sudah biasa dia dengar dari Alex, sejak awal ia mengabdi padanya.
Alex menggumam tidak jelas setelah menutup pembicaraan. Karena kecewa pesannya tidak kunjung terbalas, ia pun lalu mencari sesuatu yang bisa memuaskan hatinya. Semula ia ingin bicara dan meminta pendapat Kim, tetapi ternyata asistennya itu sedang berada dalam node menjengkelkan.
Seperti biasa, di saat kecewa seperti ini, Alex harus mengalihkan perhatiannya pada wanita. Dan tak lama datanglah wanita yang sudah ia pesan dari Kim, ke kamarnya.
"Selamat malam, layanan room service di luar fasilitas hotel sudah datang untuk Anda," ucap Kim saat Alex membukakan pintu untuknya.
Kim mengangguk hormat lalu memberi kode pada seorang wanita cantik yang kini sedang menatap Alex tak berkedip. Wanita ini segera masuk menyusul langkah Alex, setelah ia menutup pintu dan menguncinya.
"Ada hal yang Anda inginkan, sebelum saya bekerja untuk memuaskan Anda,, Tuan?" tanya wanita itu dengan suara merdunya.
"Ada. Menari lah di hadapanku sampai aku berhasrat untuk menikmati tubuhmu," ucap Alex yang lalu menarik single sofa dan duduk diatasnya dengan tenang, menghadap pada wanita itu yang kini sedang berdiri kebingungan.
Alex menghela napas panjang. "Lepas pakaianmu dan bergeraklah sesuai nalurimu, untuk menggodaku, kau paham?"
"Ah, saya mengerti, Tuan," jawab wanita itu yang lalu mulai melepas jaketnya. Ia tersenyum penuh arti pada Alex yang kini sedang menatap dadanya tak berkedip. Ya, tonjolan itu sengaja ia pertontonkan dengan jelas ketika ia membuka jaket. Wanita itu tidak mengenakan pakaian apapun selain kaca mata dada yang berbentuk unik dan hanya menutupi puncak bukit kembarnya yang kini mulai mengeras saat melihat ketampanan dan kegagahan tubuh Alex.
__ADS_1
Alex menelan ludahnya kasar. Penampilan wanita itu cukup menarik perhatiannya. Ia lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanda agar wanita itu mulai bergerak sesuai naluri, sementara durinya kini mukai memutar kembali video rekaman pergulatan panasnya dengan Lidya.
"Apa ada batasan tertentu untuk saya, Tuan? Maksud saya, apa saya boleh bergerak sembari menyentuh tubuh Anda?" tanya wanita itu memastikan, sebelum ia melangkah lebih jauh. Alex adalah orang pertama yang sedikit aneh karena memintanya mulai bekerja dengan menari erotis.
"Tidak ada batasan, kau boleh menyentuhku, kecuali melucuti bagian vital ku, paham? Aku akan melakukannya sendiri saat menginginkannya," tegas Alex.
Wanita itu mengangguk dan tersenyum. Kini ia mulai melepas bawahan dan juga sepatunya. Kedua mata Alex melebar, saat melihat dua bukit kenyal milik wanita itu berayun indah ketika ia membungkuk dan melepas pakaian. Seketika ia menelan saliva dengan susah payah. Bentuknya sudah sesuai seperti yang ia inginkan.
Alex tertegun saat wanita itu mengeluarkan ponsel lalu memutar musik erotis untuk mengiringi gerakannya. Dengan gaya gemulai dan menantang, wanita itu perlahan melucuti penutup dada dan bagian inti tubuhnya lalu melangkah dan duduk perlahan di atas pangkuan Alex dan melakukan gerakan di sana yang membuat wajah Alex seketika merona.
Tanpa sadar Alex menjatuhkan ponselnya. Kedua tangannya kini bergerak memegangi pinggang wanita itu yang menggoyangkan tubuhnya untuk memancing reaksi perkakas Alex yang memang sudah mulai mengeras sejak melihat tubuh polos yang terpampang di hadapannya.
Wanita itu mulai melepas pakaian Alex dan menelusuri bibir hingga dada bidang Alex dengan lidahnya. Alex menggeliat, merasakan sensasi baru dari wanita itu. Kedua tangannya kini mulai bergerak untuk membuka sabuk dan resleting celananya, memberikan sedikit kelonggaran untuk perkakasnya yang sudah mulai berontak.
Wanita itu mendesis, saat lidah Alex bermain di salah satu bukit kenyal miliknya. Lelaki itu dengan lihainya membangkitkan gairah dengan gerakan jemarinya yang kini sudah bergerak liar menembus inti tubuhnya.
Ia lalu meremas kepala Alex dengan gemas, membawanya lebih tenggelam diantara dua bukit miliknya, hingga terdengar suara geraman Alex ketika satu tangan wanita itu tanpa sengaja menyentuh miliknya.
Menyadari kesalahannya, wanita itu kini menarik tangan Alex, dan menempatkan di pinggangnya sementara ia menggeser duduknya lebih maju, dan menempatkan miliknya tepat di atas perkakas Alex lalu bergerak perlahan, menekan dan menggesernya hingga membuat Alex memejamkan matanya, menikmati sensasi itu. Tanpa pikir panjang, ia lalu menyambar satu alat pengaman, membukanya dan meminta wanita itu untuk duduk membelakanginya.
Setelah Alex memasang pengaman, ia lalu menghujamkan begitu saja miliknya ke inti tubuh wanita itu lalu memompanya sembari kedua tangannya meremas bukit kenyal yang sedari tadi sudah menggodanya.
Tak puas dengan posisi itu, Alex meminta wanita itu untuk kembali memutar tubuh menghadapnya, tanpa mencabut miliknya yang sudah tertanam di sana.
"Lakukan sesuatu, buktikan jika kau memang mahal sesuai hargamu," ucap Alex.
__ADS_1
Wanita itu menyeringai. Ia lalu memeluk erat kepala Alex dan menggerakkan pinggulnya dengan lihai, naik dan turun, perlahan lalu cepat, membuat Alex mengerang dalam pelukan sang wanita hingga akhirnya mereka mencapai pelepasan bersama.
"Lakukan lagi, dengan gaya yang berbeda," pibta Alex.