
Pagi ini Lidya mulai menjalankan pekerjaan pertamanya sebagai seorang model iklan produk kecantikan dari Beauty & Mode Company, milik rekanan Andre, yang sudah memulai kerja sama sejak beberapa bulan terakhir.
Sarah berkali-kali tersenyum lebar saat Lidya melakukan semua sesi pemotretan dengan lancar tanpa kesalahan sedikitpun. Hanya sedikit gerakan kaku karena tidak terbiasa berpose.
Andre menghampiri Sarah dengan wajah sumringah. "Kalau begini caranya, kamu bakal cepat kaya, Sarah," ucapnya.
"Kok bisa?"
"Lidya bisa melakukan semuanya dengan lancar tanpa harus didampingi lagi," jawab Andre.
"Kau benar, Lidya seolah sudah pernah jadi model saja sebelumnya."
"Wajah dan bentuk tubuhnya proporsional, melebihi kriteria yang mereka tentukan. Aku dengar Ronald sangat menyukainya," ucap Andre.
"Aku agak khawatir, Pak Ronald terlalu sembrono dan selalu genit pada setiap model baru yang terlalu cantik," jawab Lidya. "Untungnya aku yang jadi manager Lidya, kalau tidak, mungkin Pak Ronald akan terus mendekati Lidya tanpa memikirkan Alex, suaminya."
Andre terdiam. Ia sudah sangat paham bagaimana sejatinya seorang Ronald dengan kebiasaannya menggoda wanita. Tetapi Ronald berbeda dengan Alex yang selalu berakhir di ranjang. Ronald justru lebih berhati-hati dan jika ia tertarik pada seorang wanita, pasti hanya sebatas kencan dan berakhir di cafe. Hanya saja saat ini, yang disukai Ronald adalah Lidya, dan Andre tahu dengan mata kepalanya sendiri bagaimana cara Ronald menatap Lidya, bahkan pria itu sampai berani menciumnya di depan umum. Hal itu menjadi perhatian khusus Andre, dan ia kini menjaga Lidya jauh lebih ketat dari sebelumnya, karena janjinya pada Arman yang akan selalu menjaga Lidya.
Andre dan Sarah terus memerhatikan semua yang dilakukan oleh Lidya dengan arahan para kru, hingga akhirnya sesi pertama pemotretan berakhir saat jam makan siang. Lebih cepat dua jam dari waktu yang diperkirakan.
Sarah menarik Lidya dari kepungan para awak media yang hendak meliput kegiatan awal sang bintang iklan terbaru. Sementara Andre memesan ruang VIP di salah satu restoran ternama, untuk mereka bertiga.
***
"Setelah ini masih ada sesi dua yang berbeda lokasi, apa kau tahu, Sarah?" ucap Lidya memberitahu.
Sarah melihat agenda kerja Lidya dari aplikasi pada ponselnya. Ia lalu mengangguk dan membacakan semua tahapan yang akan dilalui oleh Lidya sepanjang siang hingga malam hari nanti.
"Setelah makan siang masih ada waktu satu jam untuk istirahat. Pergunakan waktu sebaik-baiknya, daripada kau nanti kelelahan dan sakit, karena masih belum terbiasa," ucap Sarah.
"Oke, apa cukup waktunya untuk pulang ke apartemen?" tanya Lidya.
"Tidak perlu ke apartemen, kau bisa istirahat di kamar, di sebelah studio 2," sahut Andre. "Itu memang disediakan khusus buatmu," imbuhnya.
"Ah iya, aku lupa," pekik Sarah. "Ya sudah, nanti setelah makan siang kita langsung istirahat di sana."
"Aku yang akan mengantar kalian ke studio 2" sahut Andre.
Ketiganya lalu menghabiskan makanan mereka dengan cepat karena masih harus membagi waktu dengan baik untuk pekerjaan yang selanjutnya.
***
"Kau sudah menemukan lokasi mereka?" tanya Alex pada Kim yang saat itu sedang menghubungi seseorang.
"Masih belum, Tuan. Tapi dari informasi yang ku dapat dari orang dalam, mereka sudah selesai sesi pertama pemotretan," jawab Kim.
"Itu berarti mereka sekarang sedang makan siang."
"Begitulah kira-kira."
Alex melihat jam tangannya. "Sepertinya kita harus berkunjung ke sana," gumam Alex.
"Tidak bisa, Tuan. Lokasi pemotretan dikhususkan untuk Nyonya Lidya dan para kru, termasuk managernya," jelas Kim.
"Siapa manager Lidya?"
"Nona Sarah Latanza, kepala divisi periklanan di perusahaan Tuan Andre," jawab Kim cepat. Kebetulan ia baru saja mendapatkan informasi terkait siapapun yang saat ini sedang dekat dengan Lidya.
"Sarah? Sepupu Lena?" tanya Alex memastikan.
Kim mengangguk membenarkan.
"Ck! Bencana. Selama Lidya terus bersama Sarah, aku tidak akan bisa menyentuhnya barang sedikitpun!" gerutu Alex.
Kim tersenyum dalam hati. Ia justru merasa senang karena Alex tidak mendapatkan apa yang ia inginkan kali ini. Sakit hatinya cukup terbayarkan dengan kekecewaan yang dirasakan oleh Alex kali ini, tanpa ia harus bersusah payah mencari cara untuk membalas perbuatan Alex padanya. Ia sungguh masih geram karena Alex memaksanya melakukan hal yang tidak senonoh itu hanya demi alasan agar dirinya terlihat lebih jantan.
"Kenapa kau diam saja, Kim?" gertak Alex.
"Lalu apa yang harus ku lakukan, Tuan?" tanya Kim lugu. "Maaf, otakku masih lumpuh gara-gara para wanita liar tadi," ucapnya.
Alex tertawa keras. Ia masih mengingat ketika Kim berjalan terseok karena kelelahan meladeni para wanita liar itu. "Salah sendiri kau bawa dua," ucap Alex.
__ADS_1
"Bukannya Tuan yang menyuruhku memesan dua orang?" protes Kim tidak terima.
"Nggak, jangan ngaco, aku tidak pernah bermain dengan dua orang sekaligus, kau tahu itu," bantahnya.
"Ck! Oke, Anda selalu menang, Tuan Alex," seru Kim dengan jengkel. Mau bagaimana pun juga ia akan selalu kalah dalam hal ini, karena posisinya.
Alex tertawa lalu mengajak Kim menuju hotel lagi. "Kita ke hotel sekarang."
"Mau apa ke hotel?" tanya Kim spontan dengan wajah pias.
"Tidur lah, istirahat," jawab Alex. "Memangnya mau apa kalau ke hotel?"
Kim menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak lagi seperti tadi, bukan?"
"Sudah cukup, aku tahu kamu lelah, istirahatlah, besok lagi kita berburu," jawab Alex.
"Tidak! Aku masih trauma, jangan lagi, Tuan."
Alex tertawa semakin keras. "Tidak akan. Aku sudah cukup satu kali melihat perkakasmu yang lucu itu," sahutnya cepat.
Sontak Kim mengumpat berkali-kali sembari melajukan mobilnya dengan kencang. Ia bersumpah jika nanti Alex mengerjainya lagi maka ia akan secepatnya melarikan diri dari sana dan tidak akan menemui Alex untuk sementara waktu sampai Alex mencari dan menemukannya.
"Kim, berhenti!" Alex memegangi lengan Kim lalu menunjuk ke salah satu pertokoan yang sedang sepi pengunjung. "Kau lihat, itu Lily, bukan?"
Kim menepikan mobil lalu melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Alex. "Benar, itu Nona Lily," jawabnya.
"Sedang apa Lily di sana?" gumam Alex yang lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar perlahan sembari terus menatap Lily dengan penuh kerinduan.
"Tuan, jangan kesana," cegah Kim yang lalu ikut keluar dan menahan tangan Alex.
"Tunggulah di sini, Kim. Aku akan menemuinya sebentar," ucap Alex.
"Tapi Tuan Alex, Tuan Arman tidak memperbolehkan Anda untuk menemui ...." Kim seketika bungkam ketika ternyata Alex berlari menjauh darinya dan kini berdiri tepat di sebelah Lily.
"Haduh, alamat! Semoga Tuan Besar tidak tahu," gumam Kim cemas. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan memainkan ponselnya. Alex pasti akan sangat lama jika sudah berdua dengan kekasihnya itu.
Sementara itu, diam-diam Alex berdiri di samping Lily, ia memerhatikan sekitarnya sebelum akhirnya lebih mendekat lagi dan berbisik tepat di telinga kekasihnya itu.
Lily terlonjak kaget lalu menatap pria yang berdiri di sampingnya dengan tatapan siaga. "Alex?"
Alex tersenyum lebar. Ia lalu menggenggam tangan Lily dengan mesra dan menciumnya lembut. "Sendirian?"
Lily mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu lalu beralih ke Alex. "Pertanyaan yang sama untukmu," ucapnya.
Alex mencebik lalu kembali tersenyum. "Aku seperti biasanya, bersama Kim," jawabnya.
Lily menatapnya tidak percaya. Ia lalu mencari letak mobil Alex yang terparkir dan benar saja, ia melihat sosok Kim yang duduk tenang dengan kepala menunduk. Sudut bibirnya terangkat saat tahu Alex tidak berbohong.
"Ku kira kau bersama istri atau ayahmu," sindir Lily yang lalu melangkah menuju salah satu rumah makan di samping toko perhiasan, meninggalkan Alex sendirian.
"Tunggu, Lily!" Alex mengejar langkah Lily dan segera menggandengnya, mengajaknya pergi ke restoran cepat saji, di seberang jalan. "Kita kesana saja," ajak Alex.
Lily hanya mengangguk patuh sembari melirik ke salah satu sudut, di samping toko perhiasan, tempat dimana ia ditemukan oleh Alex. Satu senyum misterius ia berikan pada sosok pria yang kini menatapnya sendu sembari mengembuskan asap rokok dari bibir hitamnya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku," ucap Alex saat mereka sudah duduk di salah satu private room restoran cepat saji itu.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Lily pura-pura tidak tahu.
"Kamu sendirian atau sedang bersama seseorang?" tanya Alex mengulang.
"Oh, aku sendirian, seperti yang kau lihat tadi," jawab Lily sembari sesekali menatap ke arah luar, seolah sedang mencari seseorang.
Alex mengikuti arah pandang Lily, tetapi ia tidak menemukan seorang pun yang terlihat mencurigakan di luar. Ia lalu kembali menatap Lily yang kini tertunduk sembari memainkan ponselnya.
"Kamu ada janji dengan seseorang?"
Lily menggelengkan kepalanya.
"Kelihatannya kau sibuk, apa aku sudah mengganggumu?" tanya Alex setengah menyelidiki.
"Ah, tidak. Aku hanya mengirim pesan ke asistenku untuk tidak mencari ku karena aku sedang bersama kamu," jawab Lily beralasan. Padahal saat itu ia sedang menghubungi seorang pria yang kini duduk diam di bangku pengunjung, tidak jauh dari tempat Lily dan Alex berada.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu," ucap Alex lega.
Tak lama pesanan makanan mereka datang. Alex segera mempersilahkan Lily untuk makan terlebih dahulu sementara ia memesan lagi untuk Kim yang sedang menunggunya di dalam mobil yang kini terparkir tepat di halaman restoran.
"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Alex saat mereka hampir selesai makan.
"Aku? Pulang saja, aku sudah lelah bekerja seharian ini," jawab Lily.
"Ikut aku saja kalau kamu tidak ada acara lagi," celetuk Alex.
"Kemana memangnya?"
"Ke hotel tempat aku menginap."
Lily terlihat ragu. Ia terdiam beberapa saat untuk berpikir. "Ke hotel?"
Alex mengangguk membenarkan.
"Kau ada rencana berapa hari tinggal di kota ini?"
"Hanya sampai aku bosan sendirian di hotel," jawab Alex.
"Dasar orang kaya," gerutu Lily.
Tawa Alex berderai. "Aku sangat merindukanmu," ungkap Alex jujur.
Lily tersenyum sinis. "Jangan katakan rindu, jika cintamu saja masih belum pasti kejelasannya," ujarnya.
"Apa yang harus ku lakukan agar kau mau percaya padaku, Lily? Aku sungguh mencintaimu, sampai hatiku dipenuhi oleh bayanganmu saja," dusta Alex. Padahal akhir-akhir ini justru bayangan Lidya yang mulai memenuhi hati dan pikirannya.
Lily tersenyum senang. Ia lalu menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Alex. "Ayahmu sedang tidak mengawasimu, Lex?"
Alex menggelengkan kepalanya. "Sepertinya tidak, karena sedari tadi aku tidak melihat sosoknya ataupun pergerakan dari anak buah beliau di sekitarku," jawabnya.
"Kau yakin?"
"Tentu saja," jawab Alex. "Memangnya kenapa?"
"Aku sedang bosan di rumah, boleh aku ikut bersamamu ke hotel?"
Alex menatap Lily penuh arti. "Sedari tadi aku sudah menawarimu, tapi rupanya kamu tidak paham," ucapnya pelan sembari mencolek hidung Lily dengan gemas. "Apa kamu juga sedang merindukanku?" Alex balik bertanya.
"Oya? Mungkin aku tidak mendengarnya." Lily menyandarkan tubuhnya ke bahu Alex. Ia mulai bersikap manja pada kekasihnya itu.
"Kamu cantik sekali hari ini, membuatku semakin lapar jadinya," celetuk Alex sembari meremas jemari Lily yang ada dalam genggamannya.
"Baru makan kok sudah lapar," olok Lily sembari mencubit gemas pipi Alex.
"Ini bukan lapar yang seperti biasanya."
"Ah, begitu. Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan," ucap Lily menawarkan.
Sontak Alex menarik tubuh Lily ke atas pangkuannya lalu memeluknya erat dari belakang. "Aku ingin melahapmu, dear Lily," bisiknya sembari menggigit gemas cuping telinga Lili lalu merambat turun ke lehernya.
"Alex, jangan di sini, nanti ada yang tahu," ucap Lily sembari menahan napasnya, karena gejolak di dalam dirinya yang mulai terpancing oleh gerakan tangan dan bibir Alex.
"Oke, kita ke hotel sekarang," bisik Alex yang lalu menarik dagu Lily dengan lembut dan mengecup bibirnya sepenuh perasaan. Berada bersama Lily membuatnya begitu nyaman.
Alex dan Lily keluar dari private room secara bergantian. Kim terkejut saat keduanya kini sudah masuk ke mobil dan duduk dibelakangnya.
"Kita ke hotel, sekarang!" titah Alex. Kim seketika melajukan mobilnya dengan kencang lalu menutup tirai di belakang tubuhnya yang sering ia gunakan sebagai pembatas, agar ia tidak melihat ulah majikannya yang sedang memadu kasih dengan para teman wanitanya, terutama Lily.
Tiba di hotel, Lily keluar dari mobil Alex dengan menggunakan penyamaran, agar tidak ada yang mengenalinya, sementara Alex berpura-pura tidak datang bersama Lily. Mereka masuk secara bergantian lalu bertemu di depan pintu kamar Alex.
"Masuklah," bisik Alex sembari memeluk tubuh Lily dari belakang, mendorongnya, lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Alex, aku ke kamar mandi dulu, tunggulah sebentar," ucap Lidya.
"Tidak perlu ke kamar mandi, aku sudah tidak sabar," ucap Alex yang lalu kembali memeluk tubuh Lily dengan lebih erat sembari ******* bibir ranum itu dengan rakus. Sudah terlalu lama ia menahan hasratnya terhadap Lily, dan kini ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Ah, Alex ...!" pekik Lily saat Alex mendorong tubuhnya ke dinding lalu mulai menyerangnya dari belakang.
__ADS_1
"Maaf, Lily, aku sudah tidak tahan lagi."