
"Alex!" teriak Lily, lebih kencang dari yang sebelumnya.
Alex menghela napas berat lalu menghentikan langkah dan memutar tubuh menghadap ke Lily, wanita yang selama ini ia cintai. "Ada apa? Jangan khawatir, aku tidak akan cemburu," ucapnya.
Lily berdiri tepat di hadapan Alex dengan napas yang memburu. Kedua kakinya yang terasa ngilu setelah dua kali pergulatannya dengan sang kekasih, kini masih ditambah lagi sakitnya ketika ia harus berlari mengejar Alex.
"Bukan masalah cemburu atau tidak," jawab Lily sembari mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
"Lalu, apa masalahmu sampai kau mengejar ku?"
Lily menyeringai lalu mendekati tubuh Alex seraya menangkup aset berharga milik Alex dengan tangan kirinya. "Apa kau ingin menikmati tubuhku terlebih dahulu, sebelum kau harus merahasiakan apapun yang kau lihat tentangku dan partner kerjaku itu," bisik Lily tepat di telinga Alex.
Andai saja Alex tidak melihat pergulatan itu, mungkin saja saat ini ia akan langsung menerkam Lily dan menikmati tubuhnya, tetapi saat ini ceritanya lain. Keadaannya pun jauh berbeda. Kali ini Alex justru muak melihat keberadaan wanita yang menurutnya sangat cantik dan sexy itu.
"Aku sedang tidak ingin," jawab Alex dingin. Sudut bibirnya terangkat sinis. "Rupanya kau ingin menyogok ku agar merahasiakan semua yang ku lihat," imbuhnya.
"Kau paham benar tentang aku, Alex."
"Sepaham hatiku yang saat ini membencimu, Lily," desis Alex. "Kau sudah membuatku muak!"
"Lex, maafkan aku. A-aku hanya bersenang-senang, sama seperti dirimu dengan para wanita mainanmu itu," ucap Lily terbata.
Alex menyeringai. "Aku tidak ada urusan apapun lagi denganmu, dan tentang apa yang baru saja kau lakukan, tenanglah ..., aku tidak akan membocorkannya pada siapapun, termasuk pada manager mu," janji Alex yang lalu melangkah pergi menuju mobilnya. Meninggalkan wanita yang selama ini selalu ia puja dan cintai dengan sepenuh jiwa. Wanita yang pernah bersamanya, menikmati malam-malam panas, yang ia kira Lily lakukan hanya dengannya, tetapi nyatanya, Lily tidak jauh berbeda dengan para wanita yang seringkali ia pesan melalui Kim. Alex mendesah kesal.
Lily menatap punggung Alex dengan hati yang kosong. Entah kenapa sikap dingin Alex padanya justru membuatnya terluka. Bukankah seharusnya Alex yang terluka karena telah melihatnya sedang bercinta dengan lelaki lain?
Alex hanya menatapnya sekilas saat ia masuk ke dalam mobil. Ia lalu melajukan mobilnya perlahan meninggalkan basement dan sempat melihat kedatangan pria yang bersama Lily, yang kini memeluk dan mengajak wanita itu pergi. Tanpa terasa sudut mata Alex basah. Ia tidak menyangka, Lily bisa seperti itu. Apakah ia egois jika hanya menginginkan Lily hanya miliknya? Sementara ia sendiri seringkali menghabiskan malam-malam dinginnya bersama para wanita yang tidak jelas asal usulnya.
Dering ponsel Alex membuyarkan lamunan pria itu. Ia lalu tersadar ketika masih ada Kim di apartemen yang baru saja ia tinggalkan.
"Sebegitu bencinya 'kah, Tuan padaku? Hingga aku harus di tinggal sendirian di sini," ucap Kim memelas.
"Sorry, aku lupa kalau kau ada di sana. Tunggulah, aku akan menjemputmu."
"Bukankah Tuan yang menyuruhku untuk mencari Nona Lidya?"
"Apa dia ada di unitnya?" tanya Alex cepat, memotong ucapan Kim.
__ADS_1
"Tidak ada," jawab Kim singkat. "Itu berarti Nyonya Lidya sedang di tempat lain. Mungkin beliau menginap di rumah temannya itu," imbuhnya.
"Di tempat Sarah, maksudmu?" tanya Alex.
"Bisa jadi seperti itu, Tuan. Hanya feeling, sih."
"Apa kau tahu rumah Sarah?"
"Maaf, saya sedang mencari tahu saat ini."
"Cepatlah! Aku tidak mau menunggu lama, kita harus segera temukan keberadaan Lidya!" gertak Alex. Ia lalu melajukan mobilnya kembali menuju apartemen Lidya dan menjemput Kim yang sudah menunggu di luar.
Setelahnya mereka lalu berangkat menuju kantor manajemen tempat Sarah bekerja, yang masih satu perusahaan dengan Andre. Tetapi saat di sana ternyata kantor sudah tutup. Satu hal yang kebetulan, karena biasanya perusahaan mereka tetap buka hingga malam hari.
"Anda masih belum beruntung, Tuan," ucap Kim. "Dan kita pun masih belum bisa mendapatkan alamat Nona Sarah."
"Aku terlambat berpikir kalau sebenarnya kita bisa hubungi Sarah dan bertanya padanya tentang Lidya," jawab Alex penuh penyesalan.
"Sekarang kita kemana, Tuan?" tanya Kim, saat mereka sudah kembali melaju di jalanan.
"Baiklah."
"Pastikan tentang pertemuan dengan Sephia, besok. Aku mau sejak pagi."
"Oke, Tuan."
"Hubungi Sarah sekarang juga. Katakan padanya aku menunggu Sephia di restoran XX, jam sembilan tepat!" tegas Alex. Kim mengangguk paham lalu menghubungi Sarah dan menyampaikan semua pesan dari Alex. Sarah berjanji untuk menghubunginya kembali setelah mendapat jawaban dari Sephia. Alex terdiam mendengarnya. Menurutnya, bertemu dengan Lidya dan Sephia sama-sama sulitnya, tetapi ia sangat menyukai hal ini yang adalah satu tantangan tersendiri buatnya.
***
Pagi harinya, Alex berangkat ke restoran XX dengan begitu bersemangat. Tepat seperti keinginannya, Sephia menyanggupi untuk menemuinya di jam sembilan tepat.
Berbekal alat pengaman yang sudah dipersiapkan oleh Kim sebelumnya, Alex sampai di restoran satu jam sebelum waktu yang dijanjikan dan mempersiapkan diri dengan baik untuk menyambut Sephia.
"Apa perlu bunga, Tuan? Biar saya pesankan secara online," ucap Kim menawarkan.
Alex menganggukkan kepalanya. "Boleh, pesankan bunga yang menurutmu bisa memikat hati Sephia."
__ADS_1
"Baiklah."
"Apa menurutmu dia akan datang, Kim?"
Kim tersenyum penuh arti. "Bisa dipastikan begitu. Sepertinya Nona Sephia adalah orang yang sangat profesional, terbukti beliau tidak mau bertemu Anda sebelum hari ini," jawabnya.
"Kau benar. Ya sudah, keluarlah. Beri tanda padaku jika kau melihatnya datang," titah Alex sembari melihat jam tangannya. "Sepuluh menit lagi," imbuhnya dengan jantung berdegup kencang. Ia melihat penampilannya sendiri lalu mengangguk sembari tersenyum. Kim pergi sembari tersenyum simpul melihat tingkah atasannya itu. Jika menyangkut masalah wanita bosnya ini selalu bersemangat dan siap tempur.
Kedua mata Alex terpaku, saat melihat Sephia melangkah dengan anggun menuju ke mejanya, sementara Kim hanya diam terpana melihat wanita yang menurutnya kelewat cantik itu. Ia sampai lupa memberi tanda pada Alex.
Lidya yang kali ini merias diri dan berpenampilan sebagai Sephia, benar-benar mempersiapkan diri secara matang dibantu oleh Lidya dan Andre. Kali ini tidak ada Sarah yang mendampinginya. Ia datang sendiri, sementara Andre hanya mampu melihat dari kejauhan.
"Sudah lama menunggu?" tanya Lidya dengan suara sedikit bergetar, karena jantungnya sedang kacau saat ini, melihat penampilan Alex yang begitu menawan. Baru kali ini ia melihat Alex setampan itu.
"Tidak, kau datang tepat waktu, Nona, terima kasih," jawab Alex seraya berdiri dan menarik kursi untuk Sephia. Kedua matanya tak lepas menatap wajah ayu di hadapannya itu, sementara Lidya lebih sering menunduk, takut jika penyamarannya ketahuan.
"Oke, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Tuan," ucap Sephia setelah ia duduk dan menenangkan diri.
"Tentang kontrak kerja. Mulai saat ini, kau sudah menjadi bagian dari kami, Nona, Kim akan memberikan semua yang harus Anda tanda tangani," jawab Alex.
"Bukankah semuanya sudah Anda sampaikan melalui agensi? Saya hanya tinggal menjalankan saja nantinya, tidak memerlukan tanda tangan," jawab Sephia.
"Untu beberapa hal, aku ingin kau menanda tanganinya, secara pribadi," tegas Alex.
"Secara pribadi?"
"Ya," tegas Alex sembari tersenyum penuh arti. "Kita akan melakukannya, di satu tempat. Setelah ini kau harus ikut denganku."
Sephia mengerutkan keningnya. "Kenapa tidak di sini saja, Tuan?"
"Karena tempatnya tidak sesuai keinginanku," jawab Alex.
"Apa yang Anda inginkan sebenarnya?"
"Dirimu."
"Apa?"
__ADS_1