Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Satu Kamar Berdua?


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam lamanya, kini Lidya dan Andre telah sampai di kota Bandung.


Mereka tidak langsung menuju perusahaan milik Andre, melainkan ke sebuah hotel. Andre sudah memesan satu kamar untuk Lidya, selama sahabatnya itu berada di Bandung.


"Kenapa ke hotel?" tanya Lidya heran.


"Agar kamu bisa istirahat," jawab Andre singkat. Ia lalu mengajak Lidya keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam hotel. Meskipun bertanya-tanya, Lidya tetap mengikuti langkah Andre yang saat ini sudah memegang kunci kamarnya.


"Andre," panggil Lidya.


"Ya?"


"Bukankah kita hanya sebentar di kota ini?" tanya Lidya bingung.


Andre tersenyum penuh arti. "Kamu butuh pekerjaan, bukan?"


Lidya mengangguk membenarkan.


"Maka tenanglah, ikuti saja alurnya."


"Aku tidak mengerti," sahut Lidya.


"Nanti kau pasti akan mengerti dengan sendirinya."


Lidya terdiam. Andre selalu saja membuatnya penasaran dengan kebiasaannya yang seperti ini. Tetapi Lidya percaya, Andre tidak pernah berniat jahat padanya, sekalipun saat ini pria itu membawanya ke hotel.


"Ini kamarnya," ucap Andre yang lalu membuka pintu kamar menggunakan cardlock. "Masuklah," titahnya pada Lidya.


Lidya melangkah masuk sembari memerhatikan kondisi kamar hotel yang cukup mewah itu. "Apa kita akan menginap di sini?" tanya Lidya lugu.


"Tentu saja, tapi ...." Andre melangkah perlahan mendekati Lidya. Kedua matanya menatap dalam, membuat jantung Lidya seketika berdegup kencang.


Andre menghentikan langkahnya tepat di hadapan Lidya. Pria itu lalu menatap kedua mata indah sahabatnya itu lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Lidya yang kini merona.


"Andre, apa yang kau lakukan?" Lidya hendak melangkah mundur, tetapi satu tangan Andre berhasil menahan tubuhnya.


"Kalung mu bagus," bisik Andre tepat di telinga Lidya. Ia lalu tertawa sembari menjauhkan tubuhnya dari Lidya.


"Kalung?" Lidya menunduk dan menyadari dirinya masih memakai bantal leher. Sontak ia tertawa sembari menepuk pelan dahinya. "Astaga, aku lupa melepasnya tadi," pekiknya malu.


Tawa Andre semakin keras. Pria itu lalu menggelengkan kepalanya dengan geli. "Baru nikah sudah pikun," oloknya.


"Namanya juga lupa, Ndre," timpal Lidya tak mau kalah.

__ADS_1


"Istirahatlah dulu, nanti aku jemput setelah dua jam ke depan," ucap Andre sembari melihat jam tangannya.


"Aku hanya membawa berkas seadanya, Ndre, apa tidak masalah?" tanya Lidya sedikit panik, mengingat dirinya hanya bermodalkan ijazah seadanya untuk melamar pekerjaan.


"Jangan pikirkan itu, yang penting sekarang kamu istirahat dulu, biar nanti terlihat segar saat tes berlangsung," jawab Andre.


"Oke, baiklah. Kau pesan dua kamar?"


Andre menggelengkan kepalanya, membuat Lidya tertegun menatapnya.


"J-jadi kau hanya menyewa satu kamar?"


Andre tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah Lidya. "Satu kamar saja cukup, buat apa banyak-banyak?"


"Oh, oke." Lidya mengangguk pasrah. Ia lalu melangkah ke tempat tidur tetapi urung, karena ia tidak ingin mendahului Andre, yang sudah membayar kamar itu.


"Kenapa bengong? Tidurlah," tegur Andre.


"Aku di sofa saja, Ndre," putus Lidya sembari melangkah ke sofa panjang, di dekat Andre.


"Di tempat tidur saja, jangan di sofa, nanti kamu tidak nyaman."


"Tapi ...." Lidya menatap Andre ragu.


"Ayolah, jangan jadi canggung begitu, santai saja."


"Awas jatuh nanti," tegur Andre memperingatkan.


"Ck! Kamu bawel banget sih, kalau mau tidur sudah sana, tidur, jangan banyak bicara. Dasar cerewet," gerutu Lidya menutupi debaran hatinya yang semakin kacau.


Andre tertawa lalu melangkah mendekati Lidya. Ia berhenti tepat di depan Lidya lalu sedikit berjongkok dan mengatakan sesuatu sambil berbisik. "Apa kamu mau tidur bersamaku?" tanyanya pelan.


"Jangan macam-macam, harus kamu ingat, aku ini istri orang."


Tawa Andre semakin kencang. "Aku masih belum pikun sepertimu," celetuknya. " Ya sudah, aku pamit dulu, nanti aku balik, dua jam ke depan buat jemput kamu, ya."


Lidya tertegun. "Pamit? Jadi kamu tidak tidur di sini?"


Andre mengangguk tegas. Bibirnya terlihat bergetar karena menahan tawa.


"Jadi kamu ...?"


"Iya. Aku sewa kamar ini cuma buatmu saja. Gila kali kalau aku ikut tidur di sini sama kamu," jawab Andre.

__ADS_1


Sontak Lidya mengembuskan napas lega. Ia sudah negatif thingking saja tadi, berpikir bahwa Andre akan tidur bersamanya dalam kamar ini.


"Kamu pikir aku apa? Nggak ya, aku masih waras dan nggak mau merusak hubunganmu dengan pengusaha itu," lanjut Andre, saat melihat Lidya masing bengong di tempatnya.


"Syukurlah, aku sudah berpikir macam-macam tadi," ucap Lidya.


Andre menggelengkan kepalanya. "Aku bukan orang seperti itu, Lidya," jawabnya. "Ya sudah, aku pergi dulu ya."


"Oke, terima kasih. Maaf ya, sudah merepotkan mu," ucap Lidya.


Andre hanya tersenyum lalu melangkah pergi dengan cepat, keluar dari kamar itu. Masih banyak hal yang harus ia lakukan sebelum mempersiapkan tes untuk Lidya.


Lidya tersenyum. Ia merasa tenang dan bebas saat ini karena tidak sedang berada di rumah Alex. Ia pun lantas bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu segera membaringkan tubuhnya dengan nyaman untuk sekedar beristirahat, setelah perjalanan yang cukup melelahkan.


***


Lidya masih setengah sadar dari tidurnya, ketika terdengar suara ketukan di pintu. Ia lalu duduk perlahan sembari meregangkan ototnya.


"Dimana ini, kok nyaman?" gumam Lidya. "Ah, di hotel. Aku saat ini sedang di Bandung dan akan melamar pekerjaan di kantor Andre." Lidya tertegun. "Andre? Astaga, jam berapa ini?"


Lidya menatap jam dinding lalu berlari ke kamar mandi. Tak lama ia keluar setelah merapikan pakaiannya.


Suara ketukan itu sudah tidak ada lagi. Lidya yang selalu penasaran kini melangkah menuju pintu dan mengintip keluar dari lubang kecil di pintu, untuk mencari tahu.


"Sedang mencari ku?"


Lidya meloncat kaget, saat ternyata Andre berdiri di belakangnya dengan bersidekap.


"Maaf, Andre, aku terlalu lelah sampai lupa kalau ada janji untuk tes pekerjaan itu," ucap Lidya sedikit panik.


Andre masih tetap tersenyum sembari menatap Lidya.


"Eh, omong-omong, bagaimana caranya kau bisa masuk ke kamar ini?" tanya Lidya heran.


Andre hanya diam. Ia lalu menunjukkan cardlock pada Lidya. "Aku pakai ini, tadi saat aku hubungi dan mengetuk pintu, sama sekali tidak ada jawaban darimu, maka aku turun untuk meminta cadangannya," jelas Andre.


"Ah, aku lupa kalau kalian orang kaya," seloroh Lidya. "Apapun selalu tersedia kalau mereka mau."


"Tapi aku jauh berbeda," tegas Andre.


"Iya deh, iyaaa ..., kamu yang paling benar," gerutu Lidya mengalah. Andre tertawa mendengarnya.


"Kamu sudah siap?" tanya Andre.

__ADS_1


Lidya menganggukkan kepalanya.


"Kita berangkat, sekarang," ajak Andre. "Mereka sudah siap sejak tiga puluh menit yang lalu. Kau harus di hukum untuk ini, karena kau terlambat, yang berdampak pada kinerja lainnya," tegur Andre.


__ADS_2