Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Panas


__ADS_3

"Itu semua benar, aku sudah kehilangan Lidya, Dad," jawab Andre semakin sedih.


"Oh no, putra daddy tidak boleh sedih dan putus asa," ucap Sasongko yang paham benar kondisi hati Andre. "Daripada kau terus meratapi nasib, lebih baik jika kau cari, sebab Lidya menikah dengan putra pengusaha besar itu," sarannya.


"Itulah saat ini yang sedang Andre usahakan. Setelah tahu informasi tentang Om Pram, Andre jadi penasaran, apakah pernikahan ini ada kaitan dengan kondisi bisnis Om Pram yang sedang bermasalah," jawab Andre.


"Daddy jadi berpikiran kalau sebenarnya Lidya dijual pada mereka," ucap Sasongko mengatakan dugaannya.


"Sama seperti apa yang saat ini sedang ku pikirkan."


"Hm, menarik. Daddy jadi ikut penasaran. Selama ini Pram yang ku kenal bukanlah seseorang yang mudah melakukan hal di luar keinginannya. Sepertinya dia sedang dalam kesulitan besar, jika memang Lidya terpaksa dinikahkan dengan putra pengusaha itu, demi kelangsungan bisnisnya."


"Daddy benar. Om Pram tidak mungkin melakukannya kalau tidak karena terdesak atau terpaksa," timpal Andre.


"Kalau memang benar seperti itu kondisinya, maka tidak salah kalau kamu ingin memperjuangkan Lidya, Nak."


Kedua mata Andre terbelalak lebar. "Daddy mengijinkan?"


"Bukan hanya mengijinkan, daddy justru akan membantumu dan mendukungmu nantinya," tegas Sasongko.


Andre tersenyum lega. "Thank's Dad. Saat ini satu-satunya yang bisa ku harapkan hanyalah Daddy saja, karena semenjak Mommy meninggal, Andre sudah tidak punya pegangan lagi," ujarnya.


"Tentu saja, Nak. Daddy akan segera selesaikan urusan daddy di Singapura dulu, setelah itu daddy akan ikut denganmu, menetap di Bandung."


"Tapi Dad, Andre ingin tinggal di Jakarta," sahut Andre cepat.


Terdengar tawa Sasongko di ujung panggilan. "Kau ingin lebih dekat dengan Lidya, hm?"


"Begitulah."


"Maka terjadilah, tinggallah di rumah kita, Andre. Jangan biarkan rumah yang penuh dengan kenangan itu kosong, tanpa ada pemiliknya yang tinggal. Masa hanya para maid dan sekuriti saja yang di sana."


"Sorry, Dad. Andre sudah beli rumah sendiri, sekarang sudah ku tempati. Kapan-kapan Daddy bisa lihat dan berkunjung kalau sudah sampai," ucapnya dengan menahan sedih.


"Kenapa kau tidak mau tinggal di rumah, Nak?" tanya Sasongko heran.

__ADS_1


"Andre masih belum bisa melupakan Mommy. Kalau Andre tinggal di sana, Andre pasti akan kacau, tidak bisa konsentrasi bekerja," jawab Andre.


Terdengar helaan napas berat dari Sasongko. Pria itu tahu bagaimana rasanya menjadi Andre, yang tiba-tiba kehilangan ibunya di saat hubungan mereka sedang begitu dekat, setelah sekian lama mereka berjauhan karena salah paham dan ketidak setujuan sang ibu jika Andre harus tinggal di Amerika, meskipun hanya karena study nya.


"Ya sudah, tidak masalah. Tapi kapanpun kalau kau mau pulang ke sana, pulanglah."


"Iya, Dad."


"Oke, daddy lanjut kerja dulu. Kau lanjutkan saja penyelidikanmu, kalau ada masalah atau butuh bantuan, jangan sungkan hubungi daddy."


"Oke, Dad. Thank's."


Andre tersenyum menatap foto dirinya bersama Sasongko dan Elisa, ibunya. Foto yang diambil sekitar lima tahun yang lalu itu masih menampakkan kebahagiaan mereka sebagai keluarga harmonis. Andre sempat berharap bahwa kebahagiaan mereka akan terus ada selamanya. Tetapi takdir berkata lain. Elisa harus meregang nyawa di rumah sakit karena penyakit livernya yang begitu parah, dan Andre harus kehilangan ibunya, di saat ia tidak bisa pulang karena sedang ujian kelulusan.


"Mommy, Andre minta restu untuk mendapatkan Lidya dari tangan pria arogan itu," desisnya sembari menatap wajah tersenyum ibunya dalam foto. "Meskipun berat, tapi Andre akan terus berusaha, demi kebaikan Lidya nantinya. Andre tidak mau Lidya terkurung di rumah besar milik pengusaha itu dan menjadi terbelenggu dalam pernikahannya. Mommy tahu pasti bagaimana perasaan Andre pada Lidya, bukan?"


Andre mengusap sudut matanya yang basah. Ia lalu melanjutkan niatnya, mencari tambahan informasi tentang Pramana, ayah Lidya.


***


"Sekali lagi ku katakan padamu, jangan pernah bersikap tidak sopan padaku di depan orang lain!" tegur Alex dengan geram.


"Andre bukan orang lain bagiku," sangkal Lidya.


"Benar dia bukan orang lain bagimu, tetapi asing bagiku!"


Lidya menghela napas berat. Ia lantas mencoba duduk dengan tenang di tepian tempat tidurnya. "Memangnya kenapa, apa kau cemburu padanya?"


Alex tertawa keras. "Cemburu? Dalam mimpimu!"


Lidya tertawa sinis. "Kalau bukan cemburu, buat apa kau datang sambil marah-marah begitu?"


"Aku tidak suka, apa yang sudah jadi milikku di incar oleh orang lain," jawab Alex.


"Milikmu?" tanya Lidya, masih dengan nada sinis.

__ADS_1


"Apa kau lupa kalau kau sudah jadi milikku sejak kita menikah dan berhubungan sore itu?" bentak Alex. Entah kenapa hatinya cukup panas melihat Lidya sedang bersama pria lain.


Sontak Lidya menatap tajam Alex. "Berhubungan sore itu? Jadi kau melakukannya dengan sadar?" desak Lidya yang membuat Alex sontak membeku di tempatnya berdiri. Ia sudah kelepasan bicara yang justru malah menyudutkan dirinya. Satu hal yang sebenarnya sangat ia hindari, kini terpaksa harus ia hadapi.


"Memangnya kenapa kalau aku melakukannya dengan sadar? Masalah buatmu?"


Lidya mengangguk tegas. "Tentu saja, karena kau melakukannya dengan kasar dan penuh paksaan. Kau menyakitiku, Alex. Dan lagi, saat kau melakukannya denganku, kau justru menyebut nama wanita lain. Apa kau bisa paham bagaimana perasaanku?"


Alex tertegun. Ini pertama kalinya Lidya bicara jujur, sepanjang itu padanya. Biasanya gadis itu selalu sinis dan bicara seperlunya saja. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah saat melakukannya bersama Lidya, ia justru menyebut nama Lily?


"Apa kau cemburu?" balas, Alex, menyindir Lidya.


"Tentu saja tidak. Bukan cemburu, tetapi nelangsa. Apa kau bisa mengerti itu? Kau memaksaku melakukannya tetapi kau mengagungkan dan memuji nama orang lain, dimana hati dan perasaanmu, Lex?"


"Sudah ku gadaikan bersama wanita yang ku sebut namanya itu," jawab Alex dengan santainya.


"Maka jangan sebut aku istrimu dan jangan melarangku menerima tamu laki-laki selain dirimu!" sahut Lidya.


Alex terkesiap. Ternyata Lidya cukup pintar memancing dirinya, terutama memancing emosinya. Apa salah jika ia membatasi pergaulan Lidya yang adalah istrinya?


"Oh, jadi begitu maumu?"


"Aku hanya mengikuti permainanmu, Alex. Jika kau bisa bebas berhubungan dengan wanita manapun di luar sana, kenapa aku tidak?" jawab Lidya dengan begitu berani.


Alex bisa melihat sorot luka dan kesungguhan dari kedua mata Lidya. Sejujurnya hatinya tersentuh dan tidak ingin bertengkar dengan Lidya, tetapi apa daya, gengsi dan egonya justru mendesaknya untuk melakukan hal itu, seolah sudah menjadi hobi baru Alex, ribut bersama Lidya.


"Oke, kalau itu maumu," jawab Alex yang kini duduk di samping Lidya. "Aku akan membebaskanmu, lakukan saja apapun yang ingin kau lakukan, bahkan jika kau pacaran dengan orang lain sekalipun, lakukanlah!"


"Oke, siapa takut?"


"Satu yang harus kau tahu, jangan salahkan aku jika nantinya namamu tercemar dan membuat Papa marah besar padamu, camkan itu! Karena beliau tidak akan segan berbuat sesuatu pada orang tuamu yang tidak berguna itu!"


"Jangan bawa-bawa orang tuaku, mereka tidak ada hubungannya dengan hal ini," protes Lidya .


Alex hanya mencebikkan bibirnya cuek. Ia lalu pergi setelah melempar tatapan tajam untuk Lidya.

__ADS_1


"Kuatkan hatiku ya Tuhan, supaya bisa sabar menghadapi manusia kutub ini," gumamnya kesal.


__ADS_2