Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Cemburu?


__ADS_3

"Belum selesai?" tanya Lidya mastikan.


"Ya, masih ada satu hal yang harus kamu terima saat ini," ucap Alex yang lalu membuka tas kerjanya dan mengeluarkan amplop coklat yang cukup tebal. "Untukmu," ucapnya sembari memberikan amplop itu pada Lidya.


Lidya mengerutkan keningnya. "Apa itu, Tuan?"


"Bonus pertama buatmu," jawab Alex.


"Bonus? Saya masih belum mengerjakan apapun."


Alex tertawa. "Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih dariku karena kau sudah menanda tangani perjanjian kerja sama kita," ujarnya yang lalu melangkah mendekati Lidya. "Termasuk juga ciuman tadi," bisiknya.


Lidya menyeringai seraya menatap tajam Alex. "Simpan saja buat Anda, Tuan. Saya tidak menerima upah atas apapun yang tidak atau masih belum saya kerjakan," tegas Lidya.


"Please, terimalah."


Lidya menggelengkan kepalanya lalu segera beranjak dari tempat itu, di iringi tatapan mata kecewa dari Alex. Sikap Sephia alias Lidya saat itu semakin membuatnya penasaran dan ingin meluluhkan hati wanita itu.


Jangan pernah berpikir bahwa kau bisa dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk membayar sebuah ciuman dariku. Kau selalu begitu, menganggap sebuah ciuman atau ungkapan perasaan cinta adalah sesuatu yang di nilai dengan uang. Aku bukan pelacur!


Lidya begitu kecewa dengan Alex. Ia lalu menghubungi Andre dan mengatakan jika urusannya dengan Alex sudah selesai. Andre segera melaju menuju lobi dan menunggu Lidya di sana.


"Langsung pulang?" tanya Andre saat Lidya sudah masuk ke dalam mobil.


"Bisakah kamu membawaku ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum pulang?" tanya Lidya.


"Kemana?"


"Terserah padamu, kamu yang lebih paham kota ini. Yang jelas, aku hanya ingin menenangkan diri sejenak," jawab Lidya.


"Oke." Andre melajukan mobil dengan pelan sembari memikirkan tempat yang bisa membuat Lidya nyaman untuk menenangkan diri. Sudut bibirnya terangkat ketika ia mengingat satu tempat, yang sering ia kunjungi di saat sedih dan sedang bermasalah. Ia pun segera menambah kecepatan agar segera sampai di tempat itu.


***


"Sejak kapan kamu menemukan tempat seperti ini?" tanya Lidya sembari tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya, menatap pemandangan alam yang begitu indah, terhampar di hadapannya dan Andre. Saat ini mereka sedang berada pi sisi lain puncak bukit, tempat wisata yang biasa digunakan untuk paralayang, wilayah lereng pegunungan yang cukup dingin.

__ADS_1


"Sejak aku menyukai traveling, dan terjun payung," jawab Andre. "Kamu suka?" Tanpa bertanya pun seharusnya Andre bisa mengetahuinya, karena kini Lidya terlihat begitu menikmati pemandangan alam sembari menatap takjub pemandangan perkotaan nun jauh di bawahnya.


"Suka banget, thank's ya! Perasaanku jadi lebih tenang sekarang."


"Syukurlah kalau kamu suka."


Setelah agak lama berdiri, Lidya lalu duduk beralaskan rerumputan. Banyak pasangan di sana yang juga melakukannya, karena tempat itu cukup rindang, karena sinar matahari terhalang beberapa gasebo di dekat mereka.


"Tempat apa itu? Kelihatannya bagus," tanya Lidya sembari menunjuk ke pepohonan pinus.


"Rumah pohon. Banyak yang menginap di sini sembari berkemah," jawab Andre.


"Benarkah? Apa mereka tidak takut?"


"Takut apa? Di sini cukup aman. Banyak petugas yang juga ikut bermalam kalau ada yang menginap di beberapa rumah pohon itu," jelas Andre. "Ada penerangannya juga, jadi tidak perlu takut gelap," imbuhnya.


"Jadi kepo deh, gimana bentuk dalamnya?" tanya Lidya.


"Mending kita kesana saja sekarang," jawab Andre yang lalu menarik tangan Lidya, mengajaknya ke rumah pohon, di sisi lain yang agak jauh dari tempat mereka saat ini.


"Buka 'lah, tapi harus beli tiket dulu sama pilih lokasi buat masuk ke salah satu rumah pohon itu," jawab Andre. Mereka lalu melangkah beriringan menuju area wisata rumah pohon yang cukup tinggi.


"Gimana cara milihnya kalau kita masih belum masuk ke sana?" tanya Lidya lugu.


Andre terkekeh. "Ada foto dan videonya. Kita bisa pilih dari sana," jawabnya. Sontak Lidya membulatkan bibirnya membetuk huruf O.


"Bisa nggak sih kita ke toilet dulu?" celetuk Lidya tiba-tiba. "Dimana toiletnya?"


"Mau ngapain?"


"Tidur! Ya buang air lah, sembari aku ganti pakaian dulu, masa pakai beginian kalau mau naik-naik pepohonan? Kamu sih nggak bilang kalau mau ke sini, jadi salah kostum 'kan, mana pakai high heels begini," gerutu Lidya. Andre sontak tertawa lebar mendengarnya.


"Aku nggak tahu lho kalau kamu minta diajakin keluar dulu," jawab Andre berkilah. "Nih, ganti aja di sana," ucap Andre yang lalu mengeluarkan satu setel pakaian casual milik Lidya lengkap dengan sepatu kets warna putih dan jaket jeans, kesukaan Lidya. Mereka terbiasa membawa pakaian santai milik Lidya dan menyimpannya di bagasi mobil.


"Lidya tersenyum senang. Kamu memang yang paling paham tentangku, Ndre. Top banget! Kamu nggak ada duanya di dunia ini," puji Lidya berlebihan, membuat Andre gemas dan mengusik puncak kepala gadis itu.

__ADS_1


Tak lama Lidya pun keluar dari kamar mandi dengan penampilan berbeda. Kali ini ia terlihat lebih santai dan kalem, dengan riasan tipis dan naturalnya. Rupanya ia sempat menghapus make up tebal milik Sephia pada wajahnya.


"Yuk, buruan!" ajak Lidya bersemangat. Andre hanya menggelengkan kepalanya saja lalu berlari mendahului untuk membeli tiket masuknya.


"Lid, buruan pilih tempatnya!" teriak Andre. Lidya pun dengan antusias memilih salah satu tempat diantara dua puluh rumah pohon yang terlihat begitu asri dan sejuk itu.


"Yang ini aja, Ndre, ada tempat duduknya tuh, udah mirip kamar hotel aja," ucap Lidya.


"Oke, satu tempat saja?"


"Iya, apa kamu mau ke rumah pohon lain?" Lidya balik bertanya. Andre menggelengkan kepalanya.


"Satu aja, buat apa banyak-banyak," jawab Andre yang lalu membayar tiket masuk dan rumah pohon pilihan Lidya.


"Di sana sudah include beberapa bahan makanan dan minuman yang bisa di masak sendiri, Mas, Mbak, cukup untuk satu atau dua hari," jelas petugas loket.


"Wah, keren banget! Itu rumah pohon atau hotel mas? Listriknya dari mana?" celetuk Lidya takjub.


Petugas loket itu tertawa. "Tanpa listrik, Mbak, kalau bahan makanan ya cuma mie instan, telur sama kerupuk mentah yang bisa digoreng. Minyak dan peralatan lain juga sudah tersedia," jelasnya ramah.


"Oh begitu." Lidya tertawa renyah menyadari kebodohannya.


Andre segera mengajak Lidya ke rumah pohon pilihannya setelah mendapatkan kunci. Sepanjang jalan setapak menuju rumah pohon itu, Lidya terlihat ceria. Gadis itu seolah tak sabar untuk segera sampai.


"Awas licin!" teriak Andre saat ia menangkap tubuh Lidya yang terhuyung, karena terpeleset. Lidya hanya cengengesan, membuat Andre menggeram gemas, karena mengingat masa-masa kecil mereka dulu.


"Woah, keren!" pekik Lidya takjub, saat mereka baru membuka pintu rumah pohon pilihannya. Ia lalu melangkah masuk dan memperhatikan satu ruang yang cukup besar itu, dengan satu tempat tidur di bagian sudut, bersebelahan dengan dapur mini dan di sudut sebelahnya lagi kamar mandi kecil, yang hanya cukup untuk satu orang masuk. Sementara di dekat pintu hanya ada satu sofa panjang dengan meja di depannya.


"Dari luar kelihatannya biasa saja, ternyata bagus 'kan?" tanya Andre.


"Iya benar. Kamu sudah sering ke tempat ini, Ndre?"


Andre mengangguk membenarkan. "Kalau tidak salah tiga kali, sama temenku," jawabnya.


"Cewek ya? Hm, ngapain hayo di tempat beginian?" goda Lidya sembari mengerling pada Andre. "Aku cemburu lho!" imbuhnya yang lalu mengambil panci dan mengisinya dengan air, lalu memasaknya di atas kompor satu tungku yang tersedia.

__ADS_1


"Apa kamu bilang, cemburu?"


__ADS_2