
"Wajah Anda mengingatkan saya pada seseorang," jawab Lidya cepat. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada gelas air minumnya.
"Seseorang? Siapa yang sudah lancang mengcopy wajahku?" Alex memicingkan kedua matanya, menunggu jawaban dari Lidya.
Lidya terkekeh pelan. Ternya seperti inilah Alex jika di luar sana, saat sedang bersama wanita lain. Atau memang Alex yang sesungguhnya seperti ini? Lidya bertanya-tanya dalam hatinya.
"Ada," jawab Lidya singkat. "Bagaimana kalau sekarang kita langsung pada intinya saja?"
Alex mengangguk setuju, lalu menyesap kopinya perlahan. "Oke, jadi begini," ia mulai mengawali pembicaraan. "Kami sedang membutuhkan seorang model untuk iklan perumahan yang akan launching, satu bulan ke depan," jelasnya.
"Model? Tapi maaf, saya bukan seorang model," jawab Lidya.
"Serius? Setahuku kau ikut agensi melalui Sarah?" tanya Alex. " Karena aku kebetulan melihat wajahmu saat mereka merekomendasikan para bakat istimewanya."
"Ah, maksud saya, saya masih newbie dan baru saja belajar di dunia modeling. Mungkin pihak agensi terlalu berlebihan dalam hal ini."
Alex tersenyum melihat kerendah hatian Sephia alias Lidya. Ia semakin tertarik dengan gadis cantik yang ada di hadapannya itu. Meskipun sebenarnya di awal ia seperti pernah mengenalnya, tetap setelah di ingat lagi, ternyata baru kali ini mereka bertemu.
"Dari mana asalmu?" tanya Alex mulai mengulik lebih jauh.
Lidya hanya tersenyum tipis. "Sudah menjadi hak saya untuk tidak menjawabnya," jawabnya diplomatis.
Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasa keingin tahuannya gagal terjawab. "Oke, kapan kau bisa datang ke perusahaan kami?" tanyanya kemudian. Ia berharap bisa semakin dekat dengan sosok gadis yang bernama samaran Sephia ini.
"Apa sudah ada persetujuan juga dari pihak agensi?"
"Tentu saja, aku mendapatkannya secara ekslusif melalui Sarah," tegas Alex.
"Baiklah, kalau begitu saya akan datang jika Tuan sudah menentukan waktunya," jawab Lidya. Sontak wajah Alex berbinar cerah.
"Tolong di ingat, panggil aku Alex saja tanpa embel-embel Tuan. Kita sudah saling memperkenalkan diri, dan ku harap kau buang mode formal mu agar kita tidak lagi canggung ke depannya," pinta Alex.
__ADS_1
"Maaf, saya terbiasa seperti ini kalau bertemu dengan orang baru," tegas Lidya yang semakin membuat Alex gemas.
"Baiklah, kalau begitu mengenai jadwalnya, nanti akan ku sampaikan melalui Sarah."
Lidya mengangguk setuju. "Bagaimana yang terbaik, menurut Anda," jawab Lidya.
"Acara inti sudah selesai, bolehkah sekarang aku mengajakmu ke suatu tempat?"
"Maaf, kemana Tuan?"
"Ke tempat yang mungkin kau sukai. Bisa dibilang kita kencan untuk pertama kalinya," jawab Alex.
Jadi seperti ini gaya Alex yang mulai menjalankan aksinya menjerat seorang wanita? Batin Lidya berkecamuk. "Ehm, sepertinya ini tidak ada dalam kesepakatan dengan agensi," jawab Lidya jual mahal.
Alex kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Memang benar, ini tidak ada dalam kesepakatan," jawabnya jujur. "Tetapi aku ingin lebih dekat dan lebih mengenal karaktermu, agar aku bisa menentukan bagaimana cara kerjamu nanti," kilah Alex beralasan.
"Apa tidak ada cara lain, selain kencan, Tuan?"
Alex menggeleng pelan. "Aku berharap bisa mengenal setiap model iklan ku melalui cara ini."
"Bisa dibilang begitu, tetapi dengan yang lain aku selalu mengajak orang lain untuk mendampingi," jawab Alex. "Tetapi tidak denganmu," tegasnya.
Lidya tersenyum samar. "Terima kasih, tetapi mungkin dalam kesempatan lain saja. Untuk kali ini saya masih belum bisa, karena harus menemui klien yang lain, beberapa diantaranya harus saya tolak karena Anda yang sudah meminta saya secara ekslusif."
Alex menghela napas panjang. Ia begitu gusar dengan penolakan dari Sephia. Tetapi ia berusaha untuk bersabar, mungkin karena ini masih pertemuan pertama mereka, jadi terlalu dini dan terburu-buru jika ia mengajaknya kencan.
"Baiklah. Kita bertemu di jadwal berikutnya," ucap Alex dengan perasaan kecewa. Ia menatap nanar wajah dan bentuk tubuh Lidya yang sangat memancing hasratnya. Hilang sudah harapan untuk menyentuhnya hari ini.
"Saya pergi dulu, Tuan," pamit Lidya sembari menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah kecewa Alex.
***
__ADS_1
"Kenapa kau tolak kencan pertamamu, Sephia?" tanya Sarah sembari tertawa. "Aku yakin kau sudah membuatnya kecewa."
Lidya tersenyum masam. "Masa iya masih pertemuan pertama aku mau-mau saja di ajak kencan. Sephia masih punya harga diri dong, jual mahal dikit lah, jangan sampai gampangan, apalagi sama Alex," jawabnya.
"Kau benar. Tepat sekali keputusanmu itu," puji Sarah. Ia masih tertawa membayangkan wajah Alex. Mungkin Lidya adalah salah satu dari wanita yang pernah menolak Alex.
"Boleh aku tidur, Sarah? Aku lelah sekali hari ini."
"Tidurlah. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku," ucap Sarah. "Ingat, besok ada pemotretan jam 10 di tempat biasanya. Kau harus mengisi daya dengan baik, jangan terlalu memikirkan tentang Alex," imbuhnya mengingatkan. Lidya hanya mengangguk paham.
Lidya merebahkan tubuhnya dengan malas lalu menyambar ponselnya, melihat salah satu media sosial miliknya yang kini sudah mulai mempunyai banyak follower baru, sejak ia tampil sebagai model iklan kecantikan.
Kedua matanya melebar, saat melihat Alex menjadi salah satu follower dan ikut memberikan komentar pada postingannya beberapa waktu yang lalu saat ia lolos audisi terakhir. Di sana Alex justru seolah sedang mendukungnya, padahal kenyataannya ia justru direndahkan oleh suaminya itu.
Ia lalu teringat saat pertemuannya tadi bersama Alex. Meskipun ia sangat merindukan lelaki itu, tetapi ia berusaha kuat untuk menahannya. Nyaris ia menyetujui ajakan kencan Alex, karena ingin tahu seberapa jauh hubungan suaminya itu ketika bersama wanita lain.
Memikirkan tentang gaya flamboyan Alex yang begitu mudah mengajak wanita lain untuk kencan, membuat Lidya tak kuasa membendung air matanya. Alex melakukannya dengan begitu mudah, seolah ia masih lajang, tanpa mengingat statusnya sebagai seorang suami.
Apakah hubungan seperti ini akan terus ia pertahankan? Saingannya begitu banyak, meskipun dari segi status ia jauh lebih menang dan berhak atas diri Alex.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Lidya. Untuk kesekian kalinya Alex mencoba untuk menghubunginya. Untuk sesaat ia berpikir, namun sesaat kemudian ia menjawab panggilan itu.
"Ya, ada apa?"
"Dimana kau? Aku menginginkanmu," jawab Alex dengan suara yang berat dan desah napas yang tertahan. Lidya mengerutkan keningnya.
"Aku di tempat yang aman," jawab Lidya singkat.
"Bolehkah aku mengunjungimu? Ehm, argh ...!" Alex tiba-tiba mengerang dengan suara bergetar. Sontak Lidya merasa khawatir karenanya.
"Alex, kau kenapa?"
__ADS_1
"Aku membayangkan sedang bermain denganmu, uh ..., ah! Lebih keras lagi, Beb, itu enak rasanya," jawab Alex yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang di sana.
"Alex!" tegur Lidya saat ia membayangkan sesuatu yang saat ini mungkin sedang dilakukan oleh suaminya itu. Dan jantungnya terasa berdentum hebat ketika mendengar suara rintihan nikmat seorang wanita dan juga erangan dari Alex, disertai suara kecipak dan benturan anggota tubuh yang berirama. Saat itu juga Lidya memutus panggilan secara sepihak lalu melempar ponselnya begitu saja. Ia meremas rambutnya dengan kuat sembari mengumpat sejadi-jadinya. "Kau gila, Alex!" desisnya.