Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Wanita Yang Bersama Alex


__ADS_3

"Darimana saja?" tanya Andre, mengabaikan ucapan gadis yang baru datang itu.


"Dari kantin, abisnya cari kamu dari tadi nggak ketemu, untung saja mereka tahu kamu di sini,? " jawab gadis itu sedikit merajuk. "Eh, sorry, siapa dia?" tanyanya sembari menatap Lidya penuh tanya.


"Aku ...."


"Dia Lidya, sahabatku dari kecil dulu," sahut Andre, memotong ucapan Lidya. "Kenalin," imbuhnya sembari memberi kode pada gadis itu untuk berkenalan dengan Lidya.


"Sarah," ucap gadis itu yang lalu tersenyum ramah. Ia melihat penampilan Lidya sekilas dari atas hingga ke bawah.


"Lidya," jawab Lidya tak kalah ramah. Ia pun sama, memerhatikan sekilas, penampilan gadis itu yang terlihat cukup menarik.


"Wah, ikut tes tahap awal juga ya?" tanya Sarah.


Lidya mengangguk membenarkan. "Coba-coba saja kok, awalnya aku nggak tahu kalau di sini sedang mencari model baru," jawab Lidya.


Gadis itu tertawa. "Pasti Andre sengaja ngerjain kamu," tuduhnya. "Gimana, lolos?"


Lidya tersenyum sumringah. "Iya, lolos. Kamu gimana?"


Sarah justru tertawa mendengarnya. Lidya menatap tak mengerti.


"Dia nggak perlu ikut tes sudah otomatis jadi model, Lid," celetuk Andre. "Model cewek nggak punya kerjaan," imbuhnya yang sontak membuat Sarah melotot dan memukul bahunya dengan gemas.


"Sembarangan!"


Lidya hanya tertawa menatap interaksi mereka. Ia lalu berdehem kecil dan mulai beranjak dari duduknya. "Aku balik ke hotel dulu, ya. Cape banget," pamitnya jengah.


"Biar aku antar," ucap Andre menawarkan. "Tunggu di sini, aku ambil kunci mobil dulu."


"Pake mobilku aja, nih kuncinya," celetuk Sarah sembari memberikan kunci mobilnya ke tangan Andre.


"Beneran boleh nih, pake mobilmu?" tanya Andre memastikan.


"Beneran, pake aja!" Sarah tersenyum menatap Andre dan Lidya bergantian. "Omong-omong, kalau aku lihat, kalian berdua serasi banget deh, pacaran ya?"


Andre tertawa. "Kelihatannya begitu ya?"


Sarah mengangguk. "Serius, kalian emang pacaran?" tanyanya sekali lagi.


Lidya menggeleng dan tersenyum. "Nggak kok, kami cuma sahabatan. Andre sudah seperti kakakku selama ini," jawabnya.


Andre mengangguk membenarkan. Anehnya, raut wajah Sarah seketika berubah. "Yaah, kenapa nggak pacaran saja sih?"

__ADS_1


Andre tertawa sembari mengacak rambut Sarah. "Sudah sana gih, kerja, jangan ngobrol mulu di sini!" titahnya.


"Dih, Pak Bos mengalihkan pembicaraan nih!" protes Sarah sedikit kesal.


"Ya memang nggak ada hubungan apa-apa, Lidya sudah jelasin semuanya sama kamu, 'kan?" tegas Andre.


Sarah hanya tertawa menanggapi ucapan Andre. "Dia cocok jadi model, apa sedang kau rekomendasikan?" tanyanya tiba-tiba.


"Tanpa rekomendasi dia sudah lolos dengan mudah di tahap awal," jawab Andre. Sementara Lidya hanya diam mendengarkan.


"Hebat! Ntar aku mau lihat aksinya di tahap kedua," pujinya tulus.


"Kamu salah satu tim penguji?" tanya Lidya takjub.


Andre dan Sarah tertawa renyah. "Ntar juga kamu tahu sendiri," jawab Sarah kemudian. "Ya sudah, aku ke dalam dulu. Hati-hati di jalan. By the way, Lidya, senang berkenalan denganmu, good luck ya buat besok," ucap Sarah menyemangati.


Tak urung Lidya pun tersenyum lebar dan berterima kasih. Dalam hatinya saat itu sedang menilai sosok Sarah, yang menurutnya adalah salah satu orang berpengaruh di perusahaan itu, atau mungkin juga Sarah adalah kekasih Andre.


"Mau bengong sampai kapan? Buruan balik ke hotel, kamu harus segera istirahat, isi tenaga bust besok," celetuk Andre yang lalu melangkah mendahului Lidya, menuju ke basement.


Lidya pun mengalihkan tatapannya pada Sarah lalu ke punggung Andre yang kian menjauh. Ia bergegas menyusul langkah lebar lelaki itu dengan sedikit berlari. Beruntung hari ini ia memakai sepatu kets, bukan high hill, yang memudahkannya untuk berjalan cepat.


"Sarah cantik banget, apa dia model?" tanya Lidya saat mereka sedang dalam perjalanan menuju hotel.


"Lho, kenapa? Bukannya bagus jadi model?"


Andre mengedikkan bahunya. "Entahlah, katanya nggak nge feel aja gitu."


"Oh." Lidya mengangguk paham.


"Tracking dan traveling adalah dunianya. Bisa dibayangkan bukan, kalau misal dia jadi seorang model bagaimana?" lanjut Andre.


"Em, nggak ada salahnya sih. Ada juga kok seorang model yang sering naik gunung atau traveling," jawab Lidya.


"Sarah bukan hanya sekedar naik gunung saja, Lid. Dia suka petualangan dan cari rute-rute tersembunyi yang susah buat dilalui. Dan itu selalu memakan waktu sampai berhari-hari lamanya," jelas Andre. "Sarah pernah bilang, mana ada seorang model dengan kaki loreng, bekas luka jatuh dari tebing," lanjutnya sembari tertawa lepas.


Tak urung Lidya ikut tertawa. "Ada-ada saja," ucapnya. "Aku nggak nyangka hobi Sarah cukup bar-bar gitu ya."


"Itulah dunianya, kalau nggak keras katanya kurang menantang. Hidupnya nggak berwarna."


"Wah, kalah jauh dong aku," celetuk Lidya.


"Tiap orang 'kan beda-beda, Lidya."

__ADS_1


"Iya sih. Tapi kedengarannya seru juga, tracking, hm ...."


Andre tersenyum geli sembari melirik Lidya. "Aku nggak menjamin kamu bakal betah kalau diajak naik gunung dengan gaya seperti Sarah," ucapnya.


"Kenapa memangnya?"


"Kamu jatuh dan luka dikit aja sudah nangis kayak yang luka parah, bakal repot ntar para pendakinya," sindir Andre yang membuat Lidya sontak tertawa.


"Kamu benar. Aku nggak bisa nahan sakit."


"Itulah, kenapa sampai dunia kalian berbeda." Andre mengacak surai di puncak kepala Lidya dengan gemas, seperti saat mereka remaja dulu, namun sesaat kemudian raut wajahnya berubah. "Sorry, kelepasan. Sudah biasa sih, dulu," ucap Andre menyesal. Ia lupa kalau Lidya sudah menjadi istri Alex saat ini.


"Nggak masalah, santai aja," jawab Lidya sembari tertawa. Sejujurnya ia juga sangat merindukan saat-saat kebersamaannya dengan Andre, seperti saat mereka masih sekolah dulu, yang beberapa kali membolos hanya untuk menonton film kesukaan mereka. Tapi kemungkinan untuk itu sekarang sudah tidak ada. Titel seorang istri sudah melekat erat di dirinya.


Keduanya terdiam hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di depan hotel tempat Lidya menginap. Andre menghela napas panjang diam-diam. Ia tidak menampik jika saat ini dirinya begitu sedih karena tidak bisa lagi melihat Lidya menginap di rumahnya seperti dulu. Ia harus menjaga nama baik Lidya dan keluarga Pradana, mertua Lidya.


"Aku turun dulu ya, makasih banyak sudah diantar," ucap Lidya sembari menyunggingkan senyum termanisnya untuk Andre. Satu hal yang biasa ia lakukan saat berterima kasih pada sahabatnya itu. "Sampaikan juga terima kasihku pada Sarah."


Andre mengacungkan ibu jarinya. "Oke, siap! Istirahatlah. Nanti malam aku jemput, kita belanja keperluanmu."


"Oke."


Setelah memastikan Lidya sudah melangkah masuk ke dalam hotel, Andre pun berlalu pergi menuju perusahaannya. Sepanjang perjalanan ia terus tersenyum saat mengetahui kedatangan Lidya di kota itu tidak sia-sia. Terlebih Lidya sudah mendapatkan ijin secara langsung dari ayah mertuanya.


Mengingat tentang ijin, Andre seketika menghubungi orang kepercayaannya.


"Ya, Bos?"


"Bagaimana penyelidikanmu tentang Alex Pradana?"


"Saat ini kami sedang mengikutinya, beliau sedang ada pertemuan dengan kliennya, di hotel XX."


"Oke, masih aman, tidak ada yang aneh?"


"Klien Tuan Alex seorang wanita, dan sekarang mereka berdua masuk ke salah satu kamar VIP, di lantai 3."


"Apa yang mereka lakukan? Mana ada meeting di dalam kamar?" gusar Alex. Ia merasa tidak terima jika ternyata Alex berselingkuh di belakang Lidya.


"Entahlah, kami masih mengamatinya, Bos."


"Oke, pantau terus, jika perlu kalian ambil foto mereka berdua!"


"Sudah kami kirim beberapa menit yang lalu."

__ADS_1


Sontak Andre menutup panggilan secara sepihak lalu melihat kiriman foto dari mereka melalui aplikasi chatting. Kedua matanya membelalak lebar saat tahu siapa yang sedang bersama Alex saat ini. "K-kau ...."


__ADS_2