
Bagaimana jika aku terlanjur sangat mencintaimu,
Sedangkan kau sedikitpun tidak memperhatikanku
Kau datang hanya untuk melampiaskan egomu dan mencaci serta menghinaku ...
Apakah aku serendah itu di matamu?
Padahal kau sendiri yang memaksaku untuk menikah denganmu, sebagai pengganti wanitamu, yang ternyata telah mempunyai kekasih lain ...
Miris ...
Itulah kehidupan, drama cinta yang saat ini kita lakon kan.
Kau mencintainya, tetapi kau tidak bisa memilikinya.
Sama seperti aku yang kini mencintaimu,
Tetapi kau justru tidak mencintaiku.
Apakah hubungan kita ini hanya sekedar status?
Hitam di atas putih, yang mungkin suatu saat akan pudar, terkena percikan air, menjadi abu-abu ...
Tidak pasti.
Lidya membaca tulisannya berkali-kali dengan kedua mata sembab dan basah. Ia tidak pernah membayangkan akan berbagi suami dengan banyak wanita di luar sana. Alex seorang pemain yang ulung, yang mampu membuat hatinya terjatuh begitu dalam, padanya.
Semula ia berpikir bahwa dirinya tidak akan pernah bisa diperdaya oleh Alex dan jatuh cinta padanya. Tetapi nyatanya, ia kini justru mencintainya. Lidya tertawa sinis. Menertawai kebodohannya sendiri.
Suara ketukan pintu membuat Lidya beranjak dari tempat tidurnya lalu pergi ke wastafel untuk membersihkan wajahnya dari sisa air matanya. Apa sebenarnya yang ia tangisi saat ini?
"Lid!" panggil Sarah dari luar, yang lalu membuka pintu secara perlahan dan melongok ke dalam, mencari Lidya. "Sedang apa? Kamu nggak makan dulu?"
Lidya hanya menggeleng lalu kembali merebahkan tubuhnya dengan malas. "Aku ngantuk banget," jawabnya.
Melihat wajah Lidya yang sembab, Sarah pun melangkah masuk lalu duduk di tepian pembaringan. "Ada yang ingin kau ceritakan padaku?"
Lidya sedikit bingung tetapi kemudian ia menceritakan semuanya. Sarah hanya mampu menutup bibirnya yang ternganga dengan tangannya. "Benar-benar gila!" desisnya.
__ADS_1
Lidya yang tadinya sudah menghapus air mata, kini kembali menangis. Terlihat sekali betapa nelangsa nya wanita itu. Sarah menatapnya penuh iba dan prihatin.
Setelah Lidya terlihat mulai tenang, Sarah pun memberanikan diri untuk bertanya. "Apa kau masih ingin mempertahankan pernikahanmu ini?"
Lidya bungkam. Ia membeku ditempatnya. Rasa cintanya terhadap Alex begitu besar, bahkan lebih besar dari rasa sakit hatinya. Ia juga mengingat tantangan dari Arman, ayah mertuanya. Jika saja ibunya tahu hal ini, mungkin ia akan dipaksa untuk bercerai dengan Alex. Tetapi apakah mungkin? Mungkin nanti Lidya bisa datang berkunjung ke rumah orang tuanya, untuk menanyakan hal ini. Yang jelas, bisnis ayahnya sangat membutuhkan bantuan dari Arman, pasti sulit baginya untuk meminta cerai dari Alex.
"Aku butuh waktu untuk berpikir," jawab Lidya lirih. Sarah mengangguk paham. Ia lalu mengusap punggung tangan Lidya dengan lembut.
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Kau butuh banyak waktu untuk itu," ucap Sarah. "Tidurlah, sudahi dulu tangisnya, besok ada pemotretan," imbuhnya sembari menyambar tisu dan memberikannya pada Lidya.
"Kapan aku bisa pulang ke Jakarta?" tanya Lidya.
"Pastinya setelah pemotretan ini selesai, dan Andre mengatakan sudah cukup," jawab Sarah. "Kau ingin pulang?"
"Aku ingin bertemu Mama, aku merindukannya."
"Sabarlah, aku dengar masih ada sekitar empat kali pemotretan lagi, baru setelah itu mungkin kita bisa mengantarmu ke Jakarta."
Lidya mengangguk paham. "Baiklah."
Sarah melangkah keluar dengan perasaan tak menentu. Cerita Lidya tentang Alex membuatnya berpikir, apakah mungkin pernikahan mereka akan terselamatkan? Dengan sikap dan kebiasaan Alex yang seperti itu rasanya seperti mustahil.
Alex menyeringai senang. Ia bisa mendengar jeritan Lidya saat terakhir menutup panggilannya. Hanya mendengar suaranya saja, hasrat Alex sudah membumbung tinggi, dan membuat perkakasnya menegang. Lidya memang benar-benar luar biasa.
Ia menatap wanita dengan tubuh polos yang kini tertidur pulas di sampingnya. Bayangan tentang pergulatan tadi membuatnya sedikit muak, meskipun ia cukup menikmatinya. Kegagalannya merayu dan mengajak kencan Sephia, serta kerinduannya pada Lidya, membuatnya mencari seseorang untuk melampiaskan hasratnya.
Memikirkan Lidya membuat miliknya semakin menegang. Ia menyambar satu alat pengaman yang tersisa lalu memakainya dan langsung saja menyerang wanita itu.
"Tuan, tadi kita sudah melakukannya dua kali, apa masih kurang?" tanya wanita itu dengan suara parau nya karena kelelahan setelah mengimbangi permainan Alex yang menggila.
"Aku akan membayar mu lebih jika kau masih sanggup."
Gadis itu menyeringai. "Lakukanlah, Tuan."
Alex meminta wanita itu untuk membalikkan tubuhnya menghadap ke tempat tidur, sementara ia bersiap untuk menyerang dari belakang. Ia menarik pinggang wanita itu agar sedikit naik ke atas lalu mulai menjamah intinya dan memainkan jari di sana, membuat wanita itu menceracau tidak jelas.
Tanpa menunggu lama, Alex langsung saja menancapkan miliknya yang terbungkus pengaman itu dan mulai memompanya sembari membayangkan wajah dan tubuh Lidya. Tidak cukup hanya itu, ia lalu membuka galeri ponselnya, mencari berkas video dan menemukan satu rekaman rahasia miliknya. Cepat ia memutar rekaman itu lalu meletakkan di atas bantal, di samping wanita itu.
"Lidya ...," desisnya sembari terus menatap video yang ternyata berisi rekaman tentang pergulatannya bersama Lidya di atas ranjang. Video itu pula yang ia perdengarkan saat menghubungi Lidya, bermaksud untuk memancing reaksinya.
__ADS_1
Alex terus menghujam dengan keras dan berirama. Dalam benaknya saat itu ia sedang bermain dengan Lidya. Ia lalu berhenti sejenak lalu membungkukkan badannya, menelusuri dua puncak bukit dengan kedua tangannya. Ia mendesis dan mengerang tertahan lalu menekan tubuh wanita itu dan kembali memompa miliknya dari belakang. Wanita itu mendesis, menikmati permainan luar biasa dari Alex, hingga mereka mencapai pelepasan.
Alex mencabut miliknya lalu berlari ke kamar mandi dan membersihkan diri, sementara wanita itu terkulai lemah dengan napas yang memburu. Sudut bibirnya terangkat saat merasakan kepuasan tiada tara dari lelaki yang sanggup membayarnya mahal itu.
"Ini upahmu," ucap Alex sembari melempar satu ikat uang kertas ke dekat wanita itu lalu bergegas pergi sembari menghubungi Kim yang menunggu di luar.
"Kita kemana, Tuan?" tanya Kim setelah Alex masuk ke dalam mobil.
"Klub malam, seperti biasanya."
Kim mengangguk patuh lalu mulai melajukan mobilnya. Dari kaca spion ia bisa melihat wajah gusar atasannya itu, padahal ia baru saja menikmati surga dunia bersama salah satu wanita panggilan di sebuah villa.
"Ada yang sedang menyusahkan Anda, Tuan Alex? Apakah wanita itu tidak bisa memuaskan Anda?" tanya Kim hati-hati, setelah beberapa waktu berjalan Alex hanya diam, tidak seperti biasanya.
"Tidak ada. Wanita itu cukup memuaskan," jawabnya singkat. Ia lalu menyandarkan tubuhnya dengan malas sembari menjambak rambutnya sendiri. "Besarkan AC nya," titahnya kemudian. Kim mematuhinya.
"Bisakah kau antar aku untuk menemui Sarah?" tanya Alex tiba-tiba.
"Bisa, tetapi aku harus membuat janji dulu. Apakah Tuan mau membatalkan kerjasama itu?"
Alex menggelengkan kepalanya. "Aku ingin bertemu lagi dengan Sephia, secepatnya."
Kim terdiam sembari menatap wajah Alex yang terlihat merah dan berkeringat. "Untuk apa, Tuan, bukankah Anda sudah menjadwalkan pertemuan untuk lusa?"
"Jangan lusa, besok saja. Lebih cepat lebih baik. Aku ingin lebih dekat lagi dengan Sephia."
Kim menghela napas. "Apa Anda tidak lelah? Bukankah sudah ada Nyonya Lidya, Tuan?"
"Maksudmu apa dengan bertanya seperti itu?"
"Maaf, pakah Anda tidak lelah bermain wanita, sedangkan Anda sudah mempunyai seorang istri sah?" ucap Kim, mengulang pertanyaannya.
"Justru karena aku sudah lelah, aku ingin mendekati Sephia dan memilikinya. Aku yakin dia tidak mau terikat pernikahan, sama seperti Lily saat bersamaku."
"Jadi, Anda hanya ingin bersenang-senang dengan Sephia?" tanya Kim.
"Lihat bagaimana nanti kemampuannya saat melayaniku," jawab Alex.
"Bagaimana kalau ternyata Sephia menolak?"
__ADS_1
"Lihat saja besok. Aku bertaruh, dia pasti mau ku ajak keluar."