
Andre menatap foto itu dengan berang. "Kau, kenapa kau bisa bersama Alex?" desisnya sembari menatap nyalang wajah wanita yang sangat ia kenal, yang saat ini sedang bersama Alex di sebuah hotel, di Jakarta.
Ia seketika menghubungi anak buahnya lagi. "Kalian, kenapa tidak bilang kalau wanita itu yang bersamanya?" protesnya kesal.
"Maaf, Bos, kami kira Bos sudah melihat fotonya."
"Sial!" umpat Andre. "Selidiki, apa hubungan wanita itu dengan Alex!" titahnya.
"Siap!"
Andre melempar ponselnya begitu saja. Ia begitu jengkel dan marah ketika tahu Alex sedang bersama mantan kekasihnya. Ia kini justru berpikir, jangan-jangan mantan kekasihnya itu memutuskannya karena hubungannya bersama Alex.
Andre melajukan mobilnya dengan kencang. Ia sungguh marah dan tidak terima. Jika memang benar hubungannya dulu bersama mantannya itu kacau karena Alex, ia akan membuat perhitungan dengan Alex, tidak peduli jika pria itu adalah suami Lidya.
"Aku akan membongkar semua kedokmu, Alex. Dasar playboy!" desisnya.
***
Lidya baru saja selesai mandi ketika ponselnya berbunyi. Cepat ia melangkah ke nakas untuk menjawab panggilan yang ternyata dari Andre.
"Bagaimana istirahatmu, nyaman?" tanya Andre.
"Aku nggak bisa tidur, tapi lumayan setidaknya sakit di tubuhku sudah mulai berkurang," jawab Lidya.
"Syukurlah, yang penting kamu bisa istirahat."
"Ada apa hubungi aku?"
"Aku di lobi, menunggumu," jawab Andre.
"Ngapain di sana?"
"Sepuluh menit lagi kita berangkat, waktu di mulai dari sekarang!" tegas Andre.
"Tunggu, kita berangkat kemana?"
"Berburu semua keperluanmu," jawab Andre santai.
"Ah iya, aku lupa. Tunggu, dua puluh menit lagi aku turun, aku baru selesai mandi."
"Delapan menit, waktu yang tersisa," ucap Andre tanpa menghiraukan ucapan Lidya.
Sontak Lidya melempar ponselnya ke atas ranjang, lalu merias wajah secukupnya, setelah ia selesai merapikan pakaian yang ia kenakan.
Setelah merasa yakin dengan penampilannya, Lidya menyambar tas dan ponselnya lalu segera berlari keluar.
"Tidak perlu berlari," tegur Andre, saat melihat kehadiran Lidya yang berlari mendekatinya dengan napas terengah.
"Kau memberiku waktu yang sangat terbatas, Alex. Kalau aku tidak berlari, aku tidak akan cepat sampai di sini," jawab Lidya sedikit memprotes.
__ADS_1
Andre terkekeh pelan. "Cepat masuk, kita harus segera berangkat!"
Tanpa banyak bicara lagi, Lidya masuk ke dalam mobil, tepat di sebelah Andre.
Baru saja Lidya menutup pintu mobil , Andre langsung melajukan mobil dengan kencang, meninggalkan halaman hotel. Lidya mengelus dadanya perlahan sembari melirik Andre yang saat ini terlihat sedikit cemberut dan lebih banyak diam.
Di tengah perjalanan, Lidya terlihat bingung, karena mereka telah melewati beberapa mall dan butik begitu saja. Andre terus saja melajukan mobilnya tanpa memberitahu kemana sebenarnya tujuan mereka.
"Ndre, kita kemana?" tanya Lidya memecah kesunyian.
"Ke hotel," jawab Andre yang sontak membuat Lidya mengerutkan keningnya.
"Hotel?"
Andre menganggukkan kepala membenarkan. "Kamu lupa, bukankah kamu tinggal di hotel untuk sementara saat ini?"
Lidya tertawa pelan. "Kalau ujung-ujungnya balik lagi ke hotel, buat apa kamu jemput aku, Ndre?"
"Maksudnya bagaimana? Bukannya aku mengantarmu pulang?" Andre justru balas bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Lidya.
"Ndre, sadar!" tegur Lidya sembari mengguncang bahu pria itu pelan. "Kita mau kemana sebenarnya?" tanya Lidya dengan wajah serius. "Bukannya kamu akan mengajakku berbelanja kebutuhan?"
Andre seketika menginjak rem mobil dan menepikan mobilnya di pinggiran jalan raya yang sepi.
"Astaga, aku lupa!" pekik Andre tertahan. "Sorry, aku melamun," sesalnya.
Lidya hanya tertawa menanggapi ulah Andre.
"Dimana butiknya?" pancing Lidya, menguji kesadaran Andre.
"kalau tidak salah masih agak jauh di depan," jawab Andre sembari mengerutkan keningnya, berpikir dan mengingat-ingat.
"Cantik Bugar sudah kita lewati sejak hampir setengah jam yang lalu," celetuk Lidya sembari melihat jam tangannya.
"Apa? Sudah kita lewati? Memang kamu tahu dan pernah kesana sebelumnya, Lidya?" tanya Andre tak percaya.
"Belum pernah, tapi aku tadi sempat melihat dan membaca bannernya," jawab Lidya.
Sontak Andre memutar arah, membawa kembali mobilnya menuju ke tempat yang ingin mereka datangi.
"Dari tadi kamu melamun saja, ada apa? Aku jadi nggak enak, kalau memang nggak ada waktu buat temani aku seharusnya tidak perlu memaksakan diri seperti ini," ucap Lidya.
Andre mengusap kasar wajahnya dengan satu tangannya. Entah kenapa konsentrasinya bisa terganggu hanya dengan melihat foto mantannya yang sedang bersama Alex.
"Tidak ada masalah denganmu, Lidya. Aku hanya kalut karena sedang ada masalah di perusahaan ku," jawab Andre.
"Oh, kirain karena aku."
"Nggak kok, sebenarnya aku ada masalah pribadi juga." Andre melirik Lidya.
__ADS_1
"Oh gitu, semoga masalahmu lekas selesai, ya. Maaf aku tidak bisa banyak membantu, karena kamu tahu sendiri bagaimana waktuku," ucap Lidya.
Andre terlihat berpikir sejenak sebelum kemudian ia mengambil ponselnya lalu memberikannya ke tangan Lidya.
"Apa nih?"
"Buka kuncinya dengan kode 123456" jawab Andre.
Setelah melakukan apa yang Andre minta, Lidya kembali menatap Andre penuh tanya.. "Lalu bagaimana?"
"Buka aplikasi, baca kiriman pesan dari Rudi," titah Alex sembari tetap fokus pada jalan raya. Sore ini kondisi kota lumayan padat, meskipun di beberapa tempat terlihat sepi.
Lidya melakukan apa yang diperintahkan oleh Andre dan kini kedua matanya membelalak lebar saat melihat Alex sedang bersama seorang perempuan di sebuah hotel, di Jakarta.
"Alex?" tanya Lidya lugu.
"Ya, itu Alex," tegas Andre. "Wajahnya terlihat jelas bukan?"
Lidya mengangguk membenarkan. "Lalu ini siapa?" Tanyanya sembari menunjuk wanita yang berdiri di dekat Andre.
"Itu mantan pacarku," jawab Andre.
"Mantan pa--, apa? Mantan pacarmu? Serius?"
Andre menganggukkan kepalanya.
"Cantik," puji Lidya sembari tersenyum.
"Lebih cantik dirimu," sahut Andre cepat.
Lidya tersenyum lebar. "Terima kasih."
"Kau tidak marah?"
"Marah kenapa?" tanya Lidya tak mengerti.
"Marah karena sudah melihat foto tentang Alex yang sedang bersama mantanku," jawab Andre.
Lidya tertegun. Jauh di sudut hatinya tidak merasakan apapun selain ingin tahu tentang wanita yang bersama suaminya itu, yang ternyata adalah mantan kekasih Andre.
"Kamu tidak marah?" tanya Andre mengulang.
"Nggak, kenapa emangnya?"
"Kalau aku marah, karena mereka berdua ada di hotel, seseorang yang berpredikat seorang suami sedang bersama wanita lain, di dalam hotel," ucap Andre.
Lidya tertawa lalu mengembalikan ponsel itu ke dekat Andre. "Percuma marah kalau kita tidak tahu mereka sedang apa sebenarnya," jawabnya. "Lagipula aku tidak mencintainya, jadi biarlah dia bersama siapapun yang dia mau."
"Tapi yang sedang bersamanya saat ini adalah mantan kekasihku yang sudah memutuskan aku secara sepihak, sekitar dua tahun yang lalu," sahut Andre cepat.
__ADS_1
"Lalu aku harus bagaimana, bilang wow gitu?"
Andre memutar bola matanya malas.