Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Lolos Dari Pengamatan


__ADS_3

Lidya mengajak Sarah membaur dengan para kru, menuju ke tenda utama. Sesekali mereka melihat ke arah Alex dan tersenyum lega saat mereka tidak melihat pergerakan mereka.


"Buruan! Mumpung Kim mengajak Alex bicara," ucap Lidya.


"Kadang-kadang kalau kupikir, keberadaan Kim ada gunanya juga," celetuk Sarah sembari terkekeh. "Tadi dia kirim pesan padaku, katanya kalau kamu sudah selesai diminta datang menemui Alex, aku bilang saja agar Kim mengajaknya melihat ke pintu masuk, karena kamu akan aku ajak lewat sana," ujar Sarah menjelaskan.


"Ah, kamu bohong banget, padahal kita keluar dari belakang," sahut Lidya sembari tertawa geli.


"Ya mau gimana lagi, dari tadi aku lihat Alex terus saja lihatin kamu, mana bisa menghilang diam-diam kalau begitu caranya?" Sarah mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah, ayo buruan."


Keduanya lalu meminta bantuan driver perlengkapan untuk mengantar mereka ke jalan raya. Meskipun heran, driver itu patuh saja dan mengikuti apa yang mereka minta, tentu saja dengan salam tempel yang diberikan oleh Sarah padanya.


Andre sampai tepat saat Alex uring-uringan karena tidak melihat keberadaan Lidya, baik di tempat pemotretan ataupun di pintu masuk. Yang ia lihat hanyalah sekumpulan anak muda yang menonton pemotretan itu yang keluar melalui pintu masuk. Tidak tampak sekalipun sosok Lidya di sana.


"Dasar bodoh! Kau mau saja dibohongi gadis itu," gerutu Alex, geram. Kim hanya menunduk setelah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Lidya di semua tempat.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Alex?" tanya Andre basa basi. Ia sudah tahu kalau Alex sedang marah karena tidak melihat keberadaan Lidya.


Alex terkejut melihat kedatangan Andre. Ia mengira Lidya pasti ada di dekat pria itu saat ini, karena biasanya Andre bergabung dengan kedua wanita itu.


"Dimana Lidya?" tanya Alex tanpa basa basi.


Andre sontak melihat ke arah lokasi pemotretan. "Dia pasti ada di sana, biar aku panggilkan," jawabnya yang seketika membuat Alex dan Kim bertanya-tanya, kenapa Andre terkesan tidak tahu juga?


Andre berpura-pura mencari Lidya dan bertanya ke semua orang yang ia jumpai di sana dan mendapatkan jawaban yang sama. Tidak ada satupun yang mengetahui kepergian Lidya. Ia lalu mengatakannya pada Alex sembari pura-pura panik.


"Bagaimana bisa kau tidak tahu dimana Lidya?" protes Alex sembari menatap tajam Andre.

__ADS_1


"Saya baru saja datang dari luar lokasi, Tuan. Jadi wajar kalau saya tidak tahu," jawab Andre masih dengan sikap sopan, sembari menahan emosinya. Ia sudah jengkel dengan Lidya dan Sarah, kini masih ditambah lagi dengan Alex.


"Cari dia sampai ketemu!" perintah Alex sembari membelalakkan matanya pada Andre. "Kalau bukan karena mu, Lidya tidak akan sesibuk ini," imbuh Alex. Kim yang merasa tidak enak pada Andre seketika menahan lengan Alex yang hendak mendorong tubuh Andre karena kesal.


Andre sontak menatap marah pada Alex dan tertawa sinis. "Apa tidak salah? Justru Anda yang sudah membuatnya seperti itu," balas Andre. "Dan saya yakin kalau sebenarnya Anda tidak pernah memberinya nafkah sebagaimana mestinya," imbuhnya.


"Kurang ajar! Tahu apa kau tentang rumah tanggaku?"


Andre berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan ucapan dan tuduhan Alex padanya. Ia lalu masuk ke dalam mobilnya dan melajukan nya dengan kencang sembari melambaikan tangan ke arah Alex dan Kim.


"Woy, aku bicara padamu! Jangan pergi! Kau ...!" Alex berteriak marah sembari mengambil batu kecil dan melemparkannya ke mobil Andre yang sudah menjauh.


Andre tertawa lalu menghubungi Sarah melalui perintah suara pada ponselnya. "Kalian dimana? Tugasku sudah selesai."


"Kami di taman kota. Cepat jemput kami, di sini ada anak buah Alex," jawab Sarah.


Setibanya di taman kota, Andre melihat Lidya dan Sarah sedang berdiri di depan kios kecil, sepertinya mereka baru saja membeli sesuatu di sana. Andre bergegas menghampiri dan membunyikan klakson untuk memanggil mereka.


"Cepat sekali kau datang, apa tidak di ikuti Alex?" tanya Lidya heran. Ia lalu melihat ke belakang Andre, mencari jika ada yang mengikutinya.


"Tidak ada, tenang saja. Alex sedang pusing di sana," jawab Andre.


Mereka lalu masuk ke dalam mobil dan segera berlalu dari tempat itu sembari terus membicarakan Alex. Lidya sedikit sedih, ketika ia harus menjauh dari suaminya itu, tetapi demi perubahan Alex dan kelangsungan nasib pernikahan mereka, Lidya rela menepis perasaan rindunya dan mencoba untuk menguatkan hati untuk tetap menjalankan rencana.


"Jangan sedih, besok kamu akan bertemu Alex," ucap Sarah saat tanpa sengaja melihat raut wajah sedih di wajah Lidya.


Lidya tersenyum tipis. "Masih pantaskah Alex ku rindukan? Sedangkan dirinya selalu saja memikirkan wanita lain."


"Sebenarnya tidak pantas," jawab Andre jujur. "Di luar sana masih banyak kok yang mau denganmu," imbuhnya.

__ADS_1


Lidya tersenyum masam. "Andai aku bisa lepas dari Alex dan tidak lagi mencintai atau melupakannya," lirihnya.


Andre menghela napas panjang lalu kembali memusatkan perhatiannya pada jalan raya yang cukup ramai saat itu.


"Kamu butuh seseorang untuk bisa melupakan Alex," celetuk Sarah sembari melirik Andre. Yang dilirik tidak merasa.


"Bagaimana caranya?" tanya Lidya lugu.


Sarah terkekeh pelan. "Aku cuma bercanda saja, Lid, nggak usah terlalu dipikirkan," ujarnya.


"Meskipun serius aku mau-mau saja, asal bisa membuatku lupa dan lepas dari Alex," ucap Lidya dengan wajah serius.


"Kamu yakin?" tanya Sarah memastikan.


"Tentu saja. Aku begitu lelah melihat kelakuan Alex dengan para wanita itu," jawab Lidya.


Sarah tersenyum penuh arti lalu menatap Andre yang sedang melihat Lidya dari kaca spion. Ia yakin cepat atau lambat, Andre pasti bisa merebut hati Lidya dari Alex, terbukti saat ia melihat mereka berciuman di lantai. Ia juga yakin jika Andre melakukannya dengan sepenuh hati, bukan karena kecelakaan.


Hingga akhirnya mereka sampai di apartemen milik Sarah dan langsung menuju ke ruang tengah, "Tidurlah, kau pasti lelah," ucap Sarah pada Lidya.


"Lelah banget. Tapi aku harus ke kamar mandi dulu, gerah banget rasanya setelah seharian berkutat di bawah terik matahari," jawab Lidya yang lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa, di sebelah Andre.


Sarah tersenyum melihat gaya Andre dan Lidya yang sama, saat merebahkan tubuh mereka pada sandaran sofa. Dalam hati Sarah saat itu berharap, semoga apa yang diharapkan oleh Lidya segera terwujud, begitu juga Andre yang terlihat begitu menggilai Lidya.


"Aku ke kamar dulu, ganti baju," pamit Sarah yang ditanggapi anggukan kepala oleh Lidya.


Kini tinggallah dua orang sahabat di masa kecil yang saat ini sedang bercerita tentang masa lalu mereka. Sesekali mereka tertawa lalu terus saja melanjutkan cerita, sampai melupakan bahwa Lidya hendak membersihkan tubuhnya, hingga akhirnya gadis itu pun tersadar dan segera berlari ke kamarnya.


"Aku bisa membuatmu melupakan Alex, Lidya," desis Andre.

__ADS_1


__ADS_2