
Lidya terlihat gugup mendengar pertanyaan Sarah yang begitu ceplas ceplos itu. Beruntung Sarah tidak bertanya lebih lanjut, hingga membuatnya sedikit bernapas lega saat ini.
"Kau harus bersiap untuk besok," ucap Sarah sembari merapikan tempat tidur Lidya lalu duduk di tepinya. "Ku harap kau sudah bangun pagi, kita ke salon dulu untuk merawat tubuh dan rambutmu," imbuhnya.
"Oke, siap!" jawab Lidya.
"Ndre, kau bertukar denganku, malam ini kau tidur sama Roni, dan aku di sini bersama Lidya," tegas Sarah, tanpa mempedulikan perubahan raut wajah kedua lelaki yang berdiri di dekatnya, Andre dan Roni.
Lidya tersenyum dan mengangguk setuju. "Ide yang bagus!" pujinya.
Sontak Andre dan Roni segera beranjak keluar dan duduk-duduk di teras pondok sembari melihat pemandangan malam hari yang begitu indah di tempat itu. Kerlap kerlip lampu di setiap pondok menambah kesan romantis, sementara di beberapa tempat, terlihat api unggun yang di kelilingi oleh beberapa pasangan anak muda yang sedang bernyanyi lagu cinta.
Kembali ke dalam pondok, Sarah menepuk pelan bahu Lidya lalu menunjukkan sesuatu di tangan kirinya. "Apa ini?" bisiknya. "Kau sudah melakukannya bersama Andre?"
Lidya terkejut melihat benda di tangan kiri Sarah. "Tolong buang dan rahasiakan ini dari mereka. Aku malu kalau sampai banyak yang tahu," ucapnya memohon.
Sarah tersenyum tipis. "Kau tidak percaya padaku? Kalau mau dari tadi aku sudah heboh tanya soal ini," jawabnya. Lidya meminta benda yang dipegang Sarah lalu membungkusnya dengan plastik dan membuangnya ke tempat sampah.
"Andre lupa membuangnya," gumam Lidya dengan nada penuh penyesalan.
"Kau mencintainya?" tanya Sarah menyelidik.
"Siapa?"
"Andre, masa Roni?" jawab Sarah.
"Aku tidak yakin," ucap Lidya.
"Tidak yakin tapi kau sudah melakukan itu sama dia."
Lidya tersenyum sedih. "Aku sudah bertindak bodoh. Pada akhirnya sekarang pun aku menyesalinya."
Sarah menghela napas panjang. "Bukannya mendukung tindakanmu, tapi menurutku kau juga berhak bahagia, Lidya."
"Tapi tetap saja aku bersalah. Kalau begini apa bedanya aku dengan Alex?"
"Apa semuanya karena balas dendam pada Alex? Kau melakukannya tanpa cinta?" tanya Sarah lebih dalam.
"Jujur saja, saat melakukannya aku justru membayangkan sedang bersama Alex, bukan Andre," jawab Lidya lagi-lagi penuh penyesalan.
"Kasihan Andre, aku yakin saat ini hatinya sedang berbunga-bunga karena sudah mendapatkan mu, meskipun saat melakukannya dia memakai pengaman," ujar Sarah.
__ADS_1
"Itulah yang ku sesali. Aku seolah sudah memberi harapan dan peluang untuknya."
"Lalu apa rencanamu setelah ini? Aku yakin Andre akan lebih posesif padamu."
Lidya mengedikkan bahunya. "Aku masih belum memikirkannya. Ku harap Andre bisa memahami ku."
"Bagaimana dia bisa paham kalau kau tidak bicara terus terang padanya? Jujurlah Lidya. Katakan saja semuanya pada Andre agar dia tidak terlanjur berharap padamu," ucap Sarah. "Bukan karena dia sepupuku, tetapi aku lebih ke supaya kau juga tidak terjerumus dalam hubungan yang rumit antara Andre dan Alex, yang akhirnya berpengaruh besar pada karirmu," jelas Sarah.
"Kau benar. Aku akan memikirkannya nanti, setelah bertemu Alex, besok."
Sarah tersenyum jahil. "Kelihatannya kau begitu merindukan Alex," tebaknya dengan tepat.
"Sangat! Kau tahu bagaimana aku, Sarah. Aku wanita dan istri yang sangat bodoh, yang masih mau saja menerima lelaki seperti Alex," jawab Lidya.
"Kau bukannya bodoh, kau hanya mencintai seseorang dengan ketulusan hatimu. Harusnya Alex bersyukur sudah memiliki dirimu sebagai istrinya. Kalau aku jadi Alex, tiap hari kau akan ku manjakan dan ku ajak bersenang-senang."
Lidya tertawa kecil. "Tapi nyatanya kau bukan Alex."
"Itulah. Dan satu-satunya manusia bodoh saat ini adalah Alex," sahut Sarah. "Sudahlah, kita tidur saja. Aku sudah menghubungi pihak salon yang akan merawat mu, dia bilang kita harus datang sekitar jam enam pagi."
"Buset, pagi bener," celetuk Lidya yang lalu segera membaringkan tubuhnya di samping Sarah.
"Kamu ada janji bertemu Alex jam sembilan, butuh banyak waktu untuk membuatmu terlihat sempurna," jawab Sarah yang lalu turun dari ranjang dan menutup pintu rumah pohon itu setelah mengusir Andre dan Roni.
"Selama kau tetap tenang dan bersikap dingin, ketakutanmu tidak akan terjadi. Percayalah. Gaya rambut dan riasan itu akan menipu Alex."
"Semoga saja begitu."
"Sudah, tidurlah. Jangan sampai kesiangan."
***
Sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan, Alex sudah duduk manis di lobi hotel XX, menunggu kedatangan Sephia dengan hati berdebar. Ia sudah menghubungi Sarah untuk memastikan semua, dan ia pun sudah memesan VIP room di XX Resto, milik hotel itu yang berada di rooftop. Rencananya pagi ini ia akan mengikat Sephia agar bisa selalu bersamanya setiap hari, dengan alasan kerja.
Kim yang berdiri di dekatnya serta merta menunduk dan mendekati Alex, saat melihat kehadiran Sarah yang melangkah mendekati Alex, sendirian. "Nona Sarah sudah datang, Tuan."
"Bukan Sarah yang ku tunggu, tetapi Sephia," ucap Alex kesal.
"Kita tunggu, sepertinya ada sesuatu yang ingin beliau sampaikan." Kim mencoba meredakan emosi Alex.
"Kau benar." Alex menyandarkan tubuhnya lalu menatap tajam pada Sarah yang melangkah dengan begitu percaya diri di hadapan kedua lelaki berkuasa itu.
__ADS_1
"Mana Nona Sephia?" tanya Kim, mewakili Alex.
"Maaf, Nona Sephia saat ini sudah menunggu Anda di rooftop, lebih tepatnya di XX Resto," jawab Sarah sembari melempar senyum termanisnya, khususnya pada Kim, karena sejauh ini ia masih kesal pada Alex terkait perbuatan pria itu pada sepupunya. Kim seketika terpana menatapnya. Baru kali ini ia melihat wanita secantik dan seramah Sarah, terlebih gadis itu terlihat begitu energik dan smart.
"Apa kau tidak bilang aku menunggunya di sini?" tegur Alex.
"Sudah, Nona Sephia secara khusus meminta maaf untuk hal ini, karena beliau sedang menunggu tamu penting lainnya di sana, jadi sekalian saja menemui kalian," jelas Sarah dengan cukup tenang. Ia sudah menduga Alex pasti akan keberatan, pasalnya pria itu selalu ingin semua orang mematuhinya, tetapi kali ini tidak akan berlaku untuk Sephia.
"Jika tidak berkenan untuk menemui Nona Sephia, perjanjian bisa dibatalkan, dan kami siap menanggung semua ganti ruginya," ucap Sarah.
Alex merengut kesal. "Siapa yang bilang menolak? Aku hanya heran saja kenapa dia tidak datang ke tempat ini padahal sudah tahu kalau aku menunggunya," bantah Alex. "Kim, kita ke rooftop sekarang! Batalkan VIP room nya."
"Siap, Tuan."
Sarah tersenyum menang. Ia lalu mengirim pesan pada Lidya untuk bersiap di tempatnya, sementara ia menyusul naik, melalui pintu lift yang lain. Ia juga sudah menghubungi Andre, agar siap juga di posisinya. Bagaimana pun juga Lidya masih harus tetap dikawal, untuk berjaga-jaga jika penyamarannya terbongkar oleh Alex.
Setibanya di rooftop, Alex langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat dan mendapati Lidya yang sedang duduk tenang sembari membaca majalah di tangannya. Wanita itu terlihat begitu anggun dan menggemaskan dimata Alex. Ia pun lalu tersenyum dan segera menghampirinya.
"Apa kabar?" sapa Alex sembari mengulurkan tangannya.
"Baik, kita langsung saja bicara ke intinya, Tuan. Maaf, saya ada pertemuan lagi dengan seseorang setelah ini," jawab Lidya tanpa menyambut uluran tangan Alex.
Alex mengumpat dalam hati. Ia lalu tersenyum kaku. "Dengan siapa pertemuan itu? Bisakah kau batalkan saja, Nona Sephia? Karena hari ini kau harus menemaniku ke salah satu lokasi pemotretan, di luar kota."
Lidya terlihat sedang berpikir. Ia tidak langsung menjawab Alex, melainkan melihat ke ponselnya, berpura-pura mengatur jadwal, padahal sejatinya ia sedang mengirim pesan pada Sarah.
"Bagaimana? Satu jam lagi kita harus berangkat, dan itu satu keharusan, Nona. Sesuai kesepakatan yang sudah kita tanda tangani waktu itu." Alex sedikit mendesak dan mengingatkan Lidya.
"Tunggu sebentar," ucap Lidya sedikit jual mahal. "Berapa lama kira-kira kita ke lokasi itu?" tanyanya kemudian.
"Mungkin dua atau tiga hari," jawab Alex sembari mencebikkan bibirnya.
"Saya hanya punya waktu dua hari, lebih dari itu, maaf, saya terpaksa harus pulang sendiri," tegas Sephia sembari menatap dalam kedua mata legam milik Alex yang saat ini juga sedang menatapnya. Ada debaran aneh dalam hati Lidya, namun ia menepisnya karena takut terbawa perasaannya pada Alex. Ia harus tetap tegas dan dingin di depan Alex untuk bisa memenangkan hatinya.
"Oke, deal! Dua hari." Alex tersenyum puas. Cukup lah baginya waktu dua hari yang bisa ia gunakan untuk mendekati Sephia.
"Baik, kalau begitu saya batalkan dulu pertemuan yang selanjutnya."
Alex mengangguk lalu menatap Kim yang masih berdiri di dekatnya, sementara Sarah duduk tidak jauh dari tempatnya. "Pergilah, temani gadis itu," titah Alex sembari mengedipkan satu matanya.
"Gadis yang mana, Tuan?" tanya Kim lugu.
__ADS_1
"Matamu itu arahkan ke sana!" tegur Alex sembari menunjuk keberadaan Sarah dengan matanya. "Pantas kau masih jomblo setua ini, dasar tidak peka!" gerutunya. Kim meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.