Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Dosa Terindah


__ADS_3

Andre sedikit ragu saat ingin menyarangkan senjatanya ke bagian inti Lidya, biarpun kesempatan sudah begitu terbuka. Namun demikian ujung senjata yang sudah mengeras itu sudah menusuk bagian depan milik Lidya hingga wanita itu mengerang.


"Sorry ...," bisik Andre.


Lidya tersenyum lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher Andre dan mulai menyerang pria itu dengan kecupan-kecupan kecil pada pipi dan rahang yang ditumbuhi bulu tipis itu.


"Apa kamu tidak menyesal jika aku melakukannya?" tanya Andre. Lidya hanya menatapnya dalam diam. Jauh di sudut hatinya sebenarnya menolak, tetapi rasa cinta Andre yang begitu besar telah begitu menyentuh hatinya, rasa cinta yang tidak pernah ia dapatkan dari seorang Alex yang statusnya adalah seorang suami sah miliknya. Dan apakah dirinya yang justru akan menyesal jika ia tidak mengijinkan Andre untuk melakukannya? Karena sebenarnya ia ingin merasakan sentuhan dari pria yang benar-benar mencintainya dan membandingkannya dengan Alex. Karena ia merasakan kekosongan hati suaminya itu, meskipun mereka telah bercinta dengan begitu menggebu.


"Lidya," panggil Andre.


"hm?"


"Kenapa diam? Kalau kamu tidak ingin melakukannya, aku akan pergi," ucap Andre.


Lidya menangkap sorot penuh harap dari kedua mata Andre yang sudah mulai layu dan begitu berkabut. Ia pun lantas tersenyum dan mengangguk. "Lakukanlah, aku juga menginginkannya," ucapnya lirih.


"Maafkan aku, Lidya," bisik Andre yang kini mulai gencar menciumi wajah dan leher Lidya, lalu berhenti di bagian dadanya yang begitu menantang. Andre tidak berani meninggalkan jejak di sana, selain karena tuntutan pekerjaan Lidya yang sering mengharuskannya memakai pakaian yang sedikit terbuka, ia juga tidak ingin jika Alex mengetahuinya.


Lidya mengerang nikmat saat Andre memainkan lidahnya di kedua puncak bukit secara bergantian. Ia terlihat tidak sabar lagi merasakan hujaman dari Andre, karena sahabatnya itu kini justru memainkan pusakanya di sana, memancing gairahnya yang sudah kian memuncak.


"Ndre ...."


"Sabar, Sayang ...," bisik Andre sembari menyeringai senang saat melihat wajah Lidya yang mulai dipenuhi gairah.


Hingga akhirnya wanita kesayangannya itu menjerit tertahan, ketika Andre mulai melesakkan miliknya ke inti Lidya secara perlahan, seolah ia ingin menikmati sensasi rasanya.

__ADS_1


"Akh ...! Ternyata begini rasanya ...," desah Andre sembari memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang ia rasakan secara penuh, di dalam sana. Sementara Lidya semakin mencengkeram punggung Andre dengan jemarinya, ketika pria itu mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan, hendak mengobrak abrik pertahanan Lidya.


Suara-suara ajaib mulai terdengar, memenuhi rumah pohon yang sunyi itu, di iringi suara-suara alam dan binatang liar di luar sana. Andre sudah menutup pintu dan jendela rapat-rapat, agar tidak ada binatang apapun yang masuk ke rumah itu secara sembarangan.


Sore tadi mereka melihat di beberapa rumah pohon sekitar ternyata sudah berpenghuni, semuanya pasangan muda mudi yang sepertinya sedang berbulan madu. Satu hal yang membuat perasaan mereka menjadi tenang karena merasa banyak temannya. Jika suara-suara ajaib mereka sampai bocor keluar, sudah pasti mereka semua paham dan mengira mereka sedang berbulan madu.


Lidya semakin kuat mencengkeram dan mencakar bahu Andre yang begitu bersemangat memacu hasratnya. Suara ajaib yang keluar dari bibir Lidya membuat semangatnya menggelora. Hujaman dan hentakan tak henti ia berikan, di iringi remasan tangan di area bukit kembar, membuat Lidya menggeliat dan menggelinjang diantara deru napasnya yang menderu, mengimbangi gerak tubuh Andre.


Diantara kenikmatan tak terkira itu, benak Lidya masih mengingat pergulatannya bersama Alex. Jika boleh membandingkan, tentu saja Alex lebih perkasa dan berpengalaman, yang tentu saja mampu memuaskan hasrat dan cintanya yang sudah begitu dalam pada suaminya itu.


Tetapi jika memikirkan tentang ketulusan dan cinta yang mendalam, Andre lah pemenangnya. Setiap gerakan yang ia lakukan selalu di dahului permohonan ijin dan permintaan maaf pada Lidya. Jelas terlihat bahwa Andre begitu menghargai dan tidak ingin membuatnya kesakitan. Antara nafsu dan ketulusan, ternyata rasa dan kenikmatannya jauh lebih memuaskan jika ia bersama Andre.


Lidya menggelengkan kepalanya, tidak seharusnya ia membandingkan kedua lelaki terdekatnya itu. Baik Alex ataupun Andre, masing-masing pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, yang tidak seharusnya ia jadikan alasan untuk alibi dan alasan, ketika ia ingin dipuaskan.


Sudut mata Lidya mulai basah. Ia menyadari perbuatannya ini adalah dosa besar. Ia juga tidak seharusnya membuka peluang untuk Andre, yang nantinya pasti akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri di kemudian hari kelak. Ia sudah menikah, sementara Andre masih punya banyak kesempatan untuk bisa mendapatkan wanita lain di kuar sana yang jauh lebih baik darinya, dan dengan status masih perawan. Lidya menyadari bahwa ia terlalu serakah, karena ingin menikmati kedua lelaki ini, Alex dan Andre, yang sama-sama perkasa dan mampu membuatnya tak kuasa membendung hasrat dan menjaga kehormatannya.


"Kamu luar biasa, Lidya," ucap Andre sembari merebahkan diri di samping Lidya, dengan satu tangannya yang masih memeluk tubuh Lidya, setelah mereka baru saja melalui pelepasan yang begitu nikmat, berdua.


"Kamu juga luar biasa. Kamu hebat, Ndre," ucap Lidya membalas pujian Andre.


Andre tersenyum. "Menikahlah denganku," ucap Andre tiba-tiba. "Aku tidak ingin wanita seindah dan sehebat dirimu jatuh ke dalam pelukan seorang pemain wanita," imbuhnya.


"Kamu bicara seolah hendak mengajakku kencan saja," gerutu Lidya. "Tidak segampang dan sesederhana itu, Ndre."


Andre menghela napas berat. "Kamu tahu?"

__ADS_1


"apa?"


"Aku baru kali ini melepas keperjakaanku, dan itu denganmu," jujur Andre. "Aku sudah lama memimpikannya, Lidya. Dan Tuhan ternyata begitu baik, sudah memberiku kesempatan seindah ini, bersamamu."


Lidya tersenyum masam. "Jangan bawa-bawa nama Tuhan untuk hubungan kita ini, Ndre. Apa yang kita lakukan malam ini adalah dosa terbesar dalam hidupku."


"kamu menyesal, Lidya?"


Lidya menggeleng pelan. "Anehnya aku justru menikmati semuanya. Aku tidak menyangka sebelumnya, bahwa kita akan menyatu dalam satu ranjang," ujarnya sembari terkekeh.


"Kalau kamu bilang ini dosa terbesar, tetapi kalau menurutku ini justru dosa terindah yang pernah kulakukan dan kurasakan bersamamu. Aku mencintaimu, Lidya," ucap Andre sembari menatap dalam kedua mata indah milik Lidya yang saat itu mengerjap pelan saat Lidya membalas tatapan Andre.


"Jangan katakan kalau kamu tidak mencintaiku, aku tahu, cintamu hanya untuk Alex, meskipun kamu melakukan ini bersamaku," potong Andre cepat saat Lidya membuka mulutnya hendak membalas ucapan Andre.


"Sok tahu!" olok Lidya yang lalu tertawa renyah.


"Aku sudah paham benar bagaimana kamu, Lid."


"Oya? Apa kamu juga paham tentang perasaanku padamu, Ndre?"


"Apa, kamu mencintaiku juga? Itu tidak mungkin," jawab Andre sembari tersenyum sinis.


"Mungkin, sebelumnya aku sudah mencintaimu," ucap Lidya tiba-tiba.


"Apa? Tolong katakan sekali lagi."

__ADS_1


__ADS_2