Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Resleting


__ADS_3

"Ah, maafkan aku," ucap Sarah sekali lagi saat menyadari situasi. Ia lalu berlari masuk ke kamarnya, agar tidak mengganggu Lidya dan Andre, meskipun sebenarnya ia sangat ingin tahu apa yang terjadi diantara mereka, dengan posisi seperti itu.


Andre berdehem pelan saat masih merasakan bibir Lidya menempel pada bibirnya. Ia tak kuasa mendorong tubuh wanita itu karena takut terkena aset berharganya. Di sisi lain ia justru sangat menikmati posisi itu.


"Ehm sorry," ucap Lidya jengah. Ia masih terpesona dengan ciuman sekilas dari Andre.


"It's oke, aku juga minta maaf," balas Andre.


Lidya lalu mencari kain pel dan segala macam yang ia butuhkan untuk membersihkan lantai dapur sebelum mereka terpeleset dan jatuh lagi untuk kedua kalinya. Andre segera bangkit dengan susah payah lalu membantu Lidya sampai akhirnya lantai itu tidak lagi tergenang air.


Mendengar suara ribut di luar kamar, Sarah segera membuka pintu dan melihat apa yang terjadi. Ia tertegun ketika ternyata Lidya dan Andre sedang bersusah payah membersihkan dapurnya, sementara keran masih terlihat mengucurkan air.


"Apa yang terjadi? Ada yang sudah ku lewatkan?" tanya Sarah yang lalu melangkah ke tempat cuci piring lalu mematikan kerannya.


Andre menceritakan semuanya pada Sarah yang langsung tertawa menanggapinya. "Kalian ini ada-ada saja. Sudah bukan anak kecil masih saja mainan air," celetuknya menyindir.


Andre mendengus kesal, sementara Lidya terus melakukan tugasnya sampai selesai. Ciuman sekilas dari Andre masih terasa sampai sekarang dan membuat wajahnya terasa panas.


"Baju kalian basah, cepat mandi dan gantilah dengan yang ada di butik mini, depan sana," ucap Sarah. "Aku kira kalian tadi sedang anu-anu, bikin salting saja," imbuhnya. "Anu-anu kok di lantai, kayak nggak ada tempat yang nyaman saja."


"Diamlah Sarah, jangan bikin kami tambah malu," tegur Andre dengan wajah memerah. Sarah pun terdiam lalu mengajak Lidya ke kamarnya.


"Mana butiknya, kamu bilang kami bisa ambil ganti di sana?" tanya Lidya heran.


"Pakaian cadangan mu ada di sini," jawab Sarah sembari mengambil kostum dan beberapa aksesoris lainnya.


Lidya mengambil pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi. Sarah melangkah keluar untuk menemui Andre.


"Benarkah apa yang sudah aku lihat tadi?" tanya Sarah ingin tahu.


Andre menatap canggung. "Kau lihat apa memangnya?"

__ADS_1


"Aku melihatmu mencium istri orang," jawab Sarah dingin. "Kau menggunakan kesempatan dalam kesempitan."


Andre tercekat, tidak menyangka jika Sarah melihat kenekatannya menarik kepala dan mencium bibir Lidya. "Ah, mungkin kau salah lihat," kilah Andre.


"Salah lihat? Mataku masih waras, Ndre. Aku juga mendengar suara kecupan bibirmu," tegas Sarah sembari tertawa sinis.


"Kami terpeleset dan jatuh dalam kondisi seperti yang kau lihat tadi," ucap Andre mencoba menjelaskan. Sarah mendecih pelan lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Ingat, Ndre, yang bersamamu dan baru saja kau cium itu sebenarnya milik orang lain," tegur Lidya.


"Iya, aku masih mengingatnya dengan baik," sahut Andre "Ini murni kecelakaan, Sarah, dan kami tidak sengaja."


"Tentu saja, itu karena kau__"


"Tidak ada yang terjadi diantara kami," tegas Lidya yang baru saja keluar dari kamarnya. "Tadi pun terjadi karena posisi kami yang salah."


Sarah tertawa pelan. "Aku cuma tanya biasa lho, kenapa kalian setegang itu?" sindirnya sembari tertawa lalu menatap Andre dan Lidya bergantian. Wajah kedua orang itu pun seketika merah padam menahan malu. "Betewe, makasih sudah bersihin dapur, dari kemarin aku nggak sempat," ucap Sarah.


Lidya dan Andre hanya mengangguk menanggapi ucapan Sarah. Mereka lalu mencuci tangan mereka yang basah dan kotor setelah menyelesaikan semua.


Sarah dan Lidya pun segera menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan pemotretan, sementara Andre segera menghubungi para kru, agar mereka segera bersiap.


***


Alex kembali uring-uringan. Pasalnya semua keinginannya terhadap Sephia untuk mempercepat atau memajukan waktu pertemuan dan selalu ditolak mentah-mentah oleh Lidya, juga agensinya.


"Kim, tanyalah, kira-kira jam berapa mereka selesai dengan urusan mereka!" titah Alex gusar. Entah kenapa ia begitu gugup saat ingin bertemu dengan Sephia.


"Aku sudah menanyakan nya, Tuan. Mereka bilang tidak tentu dan tidak bisa memastikan. Jadi, Anda bersabarlah dulu, Tuan Alex," ucapnya memberanikan diri.


Alex mendecak kesal. "Ya sudah. Kalau begitu antar aku ke lokasi pemotretan Lidya," putusnya.

__ADS_1


"Dimana itu, Tuan?" tanya Kim bingung.


"Gunakan akal dan ponselmu, jangan cuma bertanya saja padaku. Harusnya kau sudah hapal dengan tugasmu."


Kim seketika terdiam. Dengan menggunakan earphone bluetooth, ia mencoba menghubungi Sarah. Lalu tak lama kemudian ia pun bergegas keluar untuk menyiapkan mobil, di ikuti oleh Alex.


Sementara itu, Lidya bersama Andre dan Sarah baru saja datang ke lokasi pemotretan. Semua orang segera bersiap di tempatnya masing-masing, dan Lidya sudah harus menjalankan take yang pertama.


Satu jam berlalu, pemotretan itu berjalan dengan lancar. Lidya berkali-kali meminta kipas tangan, merasa gerah dan panas karena lokasi pemotretan saat ini adalah di tepi pantai.


Lidya memalingkan wajahnya saat mendapati tatapan aneh dari Andre yang tertuju padanya. Seketika ia mengingat ciuman dari teman masa kecilnya itu. Jantungnya pun seketika berdebar kencang. Aku yakin tadi itu Andre sengaja mencium ku. Tapi kenapa? Apakah dia mencintaiku? Batinnya sedih.


Lidya menoleh pada salah satu kru dari bagian perlengkapan, di rumah tenda mereka dan terperanjat saat melihat Alex sudah berdiri tegak di sana, didampingi oleh Sam. Ia pun menghela napas berat. Jangan lagi, aku masih marah padamu, Lex, jangan ganggu aku dengan wajahmu yang menarik itu. Gumam Lidya dalam hatinya.


"Masih lama?" tanya Alex pada kru itu yang masih dapat di dengar oleh Lidya.


"Mungkin masih sekitar satu jam lagi, Tuan."


"Kenapa sangat lamban kerja kalian? Masa begitu saja bisa menghabiskan waktu berjam-jam?" gerutu Alex yang tidak ditanggapi oleh kru itu.


"Sudahlah Tuan, bersabarlah, kita tunggu sembari duduk di sana, mereka sudah mempersiapkannya untuk kita," ucap Kim sembari menunjuk dua bangku kayu yang di letakkan tepat di depan tenda ruang ganti untuk Lidya. Mereka berdua pun segera ke sana.


Tak berapa Lidya masuk ke tenda ruang ganti yang harus melewati Alex dan Kim. Ia mendesak kesal, tetapi mau tidak mau ia harus melewati mereka.


Lidya menghembuskan napas lega saat Alex mendiamkannya. Ia pun lantas menutup tenda lalu memilih kostum yang harus ia pakai untuk take yang selanjutnya.


Perlahan ia membuka resleting bajunya, dan bersiap untuk menggantinya dengan yang baru.


"Biar ku bantu," ucap Alex yang tiba-tiba berada di belakang Lidya.


"Alex?" seru Lidya terkejut.

__ADS_1


"Aku lihat kau sedang kesulitan, maka aku datang ke sini. Marilah, biar aku bukakan untukmu," ucap Alex. Bayangan tentang nyaman dan hangatnya bukit kenyal milik Lidya saat diremas pun memenuhi benaknya, membuatnya bersemangat untuk membantu istrinya itu.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri."


__ADS_2