Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Masih Tetap Tinggal


__ADS_3

"Bik Marni tetap dengan tugasnya, dan kau tetap dengan tugasmu sebagai istriku!" tegas Alex yang lalu duduk di kursi, menghadap meja makan.


"Istri? Tapi aku tidur di kamar tamu, Tuan Alex Pradana, apa Anda lupa?" protes Lidya.


Alex tertawa mendengarnya. "Oh, jadi kau ingin tidur satu kamar denganku?" desis Alex. Kini dirinya telah berdiri tepat di samping Lidya, sembari menyeringai.


Tentu saja Lidya gelagapan dibuatnya. "Bukan begitu, aku hanya mau bilang, kau menempatkan aku di kamar tamu, maka sejatinya aku bukanlah istrimu," jawabnya.


"Tapi bagaimanapun juga kita sudah menikah secara resmi dan sudah ku bilang dari awal, kalau sebenarnya kau adalah istri abal-abal. Kau akan tetap tidur di sana sampai aku menceraikanmu!"


Sontak Lidya melebarkan kedua matanya. "Cerai?"


"Ya, kenapa, tidak suka?"


Lidya tertegun menatap Alex. Baru saja tadi Arman, sang mertua, meminta padanya untuk mendekat dan meluluhkan hati Alex tetapi nyatanya, pria itu kini malah bicara tentang perceraian. Segampang itukah sebuah pernikahan yang sakral dipermainkan? Sementara Bik Marni menutup mulutnya dengan kedua tangan saat mendengar ucapan Alex.


"Kalau tidak suka pergilah, jangan tinggal di sini!" lanjut Alex yang membuat Bik Marni semakin terkejut. Belum lagi diceraikan, Lidya sudah mulai di usir dari rumah ini.


Lidya mencebikkan bibirnya. "Enak saja. Setelah apa yang kau perbuat saat itu, kau mau mengusirku?" tegurnya yang sontak membuat wajah Alex merona. Untuk sesaat ia mencoba mengingat tentang kejadian, dimana ia terbangun dengan tubuh yang polos dan meninggalkan banyak tanda kepemilikan di leher dan tubuh Lidya. Ia mengetahuinya saat itu, tetapi tetap bungkam, karena menjaga gengsinya di hadapan Lidya.


Dan sekali lagi Bik Marni ternganga. Pikirannya sudah traveling kemana-mana saat mendengar ucapan Lidya. Jangan-jangan Tuan Mudanya itu sudah melakukan itu pada Lidya? Setidaknya itulah yang kini berkecamuk dalam benaknya.


"Apa kau perlu di ingatkan lagi, Tuan Alex yang terhormat?" tanya Lidya, menyadarkan Alex dari lamunannya.


"Memangnya kau ada bukti?"


Lidya tertawa. "Tentu saja. Apa kau ingin melihatnya?"


Alex tertegun di tempatnya, sementara Bik Marni semakin mendekat pada Lidya, karena begitu penasaran dengan bukti itu. Apakah pikirannya saat ini benar atau tidak, tentang Alex dan Lidya.


"Mana, tunjukkan padaku," pinta Alex.


Dengan santai dan penuh percaya diri, Lidya mengambil ponselnya, mencari berkas video yang saat itu tidak sengaja terekam dan tersimpan di dalamnya.


Ya, saat itu Lidya sengaja menyempatkan merekam kejadian, saat Alex menyerang dan memanggilnya dengan nama Lily. Alex dalam keadaan mabuk saat itu, hingga tidak menyadari gerak cepat Lidya, yang meskipun kesulitan, tapi ia berhasil menyandarkan ponselnya pada sandaran tempat tidur, tak lupa menekan ikon bulat berwarna merah terlebih dahulu.


Sudut bibir Lidya terangkat ketika menemukan rekaman itu yang lalu ia tunjukkan pada Alex dari jarak yang agak jauh, untuk berjaga-jaga agar ponsel itu tidak direbut olehnya.

__ADS_1


"Bik Marni, tolong pergilah dulu, ini tidak ada hubungannya denganmu," titah Alex yang baru menyadari keberadaan Bik Marni di tempat itu.


"Baik, Mas A--"


"Tetap di sini, Bik, aku perlu saksi," cegah Lidya yang lalu menarik pergelangan tangan Bik Marni untuk lebih mendekat padanya. Tentu saja Bik Marni malah menyambut dengan gembira dan tidak mengindahkan perintah Alex.


"Bik, tolong ...."


Bik Marni menggelengkan kepalanya lugu. "Bibik jadi saksinya, Mas," sahutnya cepat sembari menoleh pada Lidya, meminta dukungan dari gadis itu.


Lidya mengangguk tegas. "Ya, Alex, biarkan Bik Marni tetap di sini atau aku akan menyebarkan video ini ke media sosial," ancam Lidya, hanya untuk menggertak. Mana mungkin ia melakukannya, karena tentunya justru akan merusak nama baiknya sendiri.


Tetapi Alex justru patuh kali ini. Ia lalu duduk dengan lemas sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lidya tersenyum lalu memutar rekaman itu.


"Bik, tolong di bagian tertentu, Bibik tutup mata ya, aku malu," bisik Lidya dengan wajah merona. Bik Marni sontak menganggukkan kepalanya sembari tersenyum memaklumi. Itu berarti yang mereka lakoni saat itu adalah tindakan dewasa sebagaimana layaknya suami istri. Bik Marni bersorak dalam hati saat membayangkannya. Maka tujuan Tuan Besarnya akan segera tercapai.


"Lihat baik-baik, kau tidak akan bisa mungkir lagi, Alex," ucap Lidya.


Alex terdiam saat rekaman video itu diputar, menampilkan wajahnya yang terlihat merah dan memaksa Lidya untuk melayaninya. Ia begitu malu karena ternyata apa yang ia takutkan selama ini benar, ia telah merusak kesucian Lidya, dan menjadi lelaki pertama yang menjamah tubuhnya.


Lidya yang juga menutup matanya sepanjang video itu diputar, kini tertunduk malu, saat baru menyadari suaranya yang bergema di sana. Suara aneh yang cukup membuat bulu tubuhnya meremang dan cukup membangkitkan sesuatu dalam dirinya, hingga akhirnya ia menghentikan seketika rekaman itu.


Alex tampak kecewa. Ia yang walaupun dengan wajahnya yang begitu merah, tetapi tetap saja menikmati tayangan yang ada di depan matanya. Ia tidak bisa memungkiri, bahwa Lidya terlihat begitu cantik saat sedang di mabuk gairah, karenanya. Wanita itu terlihat masih lugu dan polos, justru Alex yang telah membimbingnya hingga hal itu pun terjadilah. Bukan salah Lidya, karena dari awal sampai akhir, Alex lah yang telah memaksanya. Hanya satu hal yang sangat Alex sayangkan saat ini, kenapa ia harus melakukannya di saat sedang mabuk? Padahal terlihat jelas di depan matanya kalau Lidya begitu cantik dan menggairahkan.


"Sudah cukup!" tegur Lidya yang mengambil kembali ponselnya, saat Alex berusaha mengambil darinya.


"Aku masih belum selesai melihatnya, Lidya!" gusar Alex.


Lidya tertawa. "Bagiku itu sudah cukup menjadi bukti, bahwa kau yang sudah merenggut kesucianku," tegas Lidya. "Tidak perlu dilanjutkan lagi sampai selesai, nanti kau terbawa," sindirnya dengan telak. Padahal dirinya sendiri sudah terbawa.


Bik Marni membeku di tempatnya. Ia tidak menyangka akan menjadi seorang saksi dari lakon rumah tangga yang diperankan oleh sepasang suami istri itu. Napasnya menjadi sesak seketika. Dan kini ia bingung, ketika Lidya dan Alex sama-sama menatapnya dengan penuh tanya.


"A-ada apa?" tanya Bik Marni sembari melihat ke arah Alex dan Lidya bergantian.


"Bibik melihat semuanya?" tanya Alex. Lidya mengangguk, memberi tanda bahwa ia ingin bertanya hal yang sama.


Bik Marni mengangguk ragu.

__ADS_1


"Kalau Bibik lihat semuanya, tolong jaga rahasia kami, jangan sampai bocor, biarpun ke Mama sama Papa," titah Alex yang kembali di angguki oleh Lidya. Bagaimanapun juga ia sangat malu dalam hal ini, terlebih di depan Bik Marni.


"Bibik cuma dengar saja, Mas Alex, nggak sampai melihatnya," jujur Bik Marni.


"Sama saja, Bik. Tetap rahasiakan."


"Siap Mas! Bibik tidak akan bicara pada siapapun," sanggup Bik Marni.


Setelah itu Alex beranjak pergi dengan wajahnya yang masih merah. Lidya menatapnya tidak terima.


"Tunggu dulu, apa kau masih mau mengusirku?" tanya Lidya.


Alex menghentikan langkahnya lalu menatap tajam Lidya. "Jika aku mengatakan iya, kau pasti akan menyebarkan video itu, bukan?"


"Lalu?"


"Lalu pikirkanlah sendiri, aku akan tetap mengusirmu atau tidak," jawab Alex jual mahal.


Lidya tersenyum menang. Karena jika ia tetap di usir, ia bingung akan pergi kemana. Jika ia pulang maka apa yang akan ia jawab kalau kedua orang tuanya bertanya. Lagipula ia ada permintaan khusus dari ayah mertuanya untuk bisa menaklukkan hati Alex.


"Nggak usah senyum-senyum nggak jelas gitu, cepat buatkan kopi dan roti bakar untukku!" titah Alex yang lalu berlari menuju lantai 2, ke kamarnya.


"Roti bakar?" tanya Lidya sembari menatap Bik Marni.


"Ada alatnya di sana, Mbak. Nanti bibik bantu."


"Ah, terima kasih, Bik."


Keduanya kini berkutat di dapur, menyiapkan semua yang diminta oleh Alex.


"Mbak, bibik boleh tanya nggak?"


"Apa bik? Tanya aja."


Bik Marni menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menatap Lidya dengan canggung. "Anu, Mbak Lidya, waktu kejadian itu apa Mbak Lidya menikmati?" tanyanya dengan takut-takut.


Lidya seketika terdiam mematung di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2