Tipuan Sephia

Tipuan Sephia
Merindukan Alex


__ADS_3

"Iya, mungkin sebelumnya aku sudah mencintaimu," ucap Lidya mengulang.


"Maksudmu, kamu mencintaiku?" tanya Andre penasaran.


Lidya mengangguk membenarkan. Kedua mata Andre sontak berbinar, tetapi sekejap kemudian meredup, ketika Lidya melanjutkan perkataannya.


"Tapi itu dulu, Ndre. Sebelum kamu pergi ke Amerika," ucap Lidya. "Jujur saja, aku sebenarnya mulai menyukaimu sejak kita masih SMA."


"Sekarang sudah tidak?"


Lidya menggeleng ragu. "aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri," jawabnya. "Yang jelas, aku sangat menikmati apa yang kita lakukan tadi."


Andre menatap Lidya tidak mengerti. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak mempunyai perasaan apapun bisa menikmati penyatuan yang begitu dalam? Apakah Lidya hanya menjadikannya sebagai alat untuk melampiaskan kekesalannya pada Alex, suaminya?


Andre menghela napas berat. Ia lalu beranjak dari tempat tidur sembari menyambar pakaian miliknya yang ia lempar begitu saja saat menyerang Lidya.


"Mau kemana?" tanya Lidya.


"Ke kamar mandi, gerah dan lengket nih rasanya," jawab Andre. "Apa semua orang yang sering melakukannya, menjadi seperti ini?" tanyanya lugu. Maklum saja ia baru pertama kali ini melakukannya, dan itu dengan Lidya. Satu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, bahwa pada akhirnya ia bisa menikmati tubuh Lidya sepenuhnya. Tetapi kini ia menginginkan lebih, setelah tahu bagaimana aksi Lidya, sepanjang pergulatan mereka tadi.


Wanita yang adalah sahabatnya itu mampu membuatnya seolah tersengat aliran listrik, di setiap kali ia mencumbu dan memainkan milik Andre dengan begitu lihai. Pasti Lidya sudah banyak belajar dari Alex selama ini.


"Kenapa malah melamun?" tegur Lidya saat melihat Andre hanya duduk termenung di pinggiran ranjang.


"Oh, eh, aku hanya teringat kalau malam ini juga aku harus bekerja, menyelesaikan tanggungan pekerjaan selama ini," jawab Andre gugup. Ia lalu berlari menuju kamar mandi dengan hanya memakai lilitan handuk, menutupi bagian bawah tubuhnya yang masih polos, tidak jauh berbeda dengan penampilan Lidya, yang kini ia tutup rapat dengan selimut.


"Kamu mau berangkat ke kantor?" teriak Lidya penasaran. Saat ini sudah tengah malam, apakah dirinya akan ditinggal sendirian di rumah pohon ini oleh Andre? Namun setelah menunggu, ternyata tidak ada jawaban dari Andre, sepertinya pria itu tidak mendengar teriakannya.


Lidya bergegas memasang kembali pakaiannya setelah membersihkan tubuh dengan tisu basah yang ia bawa. Ada rasa menyesal yang kini memenuhi pikirannya dan seketika bayangan Alex melintas, seolah memperingatkan bahwa dirinya adalah milik Alex. Lidya mengusap sudut matanya yang basah. Apakah dirinya saat ini sudah sama-sama jahat seperti Alex? Mengkhianati pasangan dengan penuh kesadaran.


Lidya terkejut saat mendengar dering ponselnya. Ia lalu menyambar ponsel itu san melihat nama Alex di sana. Saat ia hendak menggeser ikon itu ke warna hijau, panggilan dari Alex terhenti. Ia semakin tercekat ketika melihat ada lima kali panggilan yang tidak terjawab sebelumnya dalam rentang waktu panggilan yang pertama adalah satu jam sebelumnya dan terus berbunyi selang 15 menit kemudian. Lidya mengusap kasar wajahnya. Alex seolah merasa bahwa istrinya sedang bersama pria lain.


Setelah menghela napas panjang, Lidya kini mulai memutuskan untuk membalas panggilan dari Alex, tetapi belum sempat ia melakukannya, ponsel itu kembali berdering.


"Ya, Alex?" jawab Lidya setelah menggeser ikon warna hijau.

__ADS_1


"Apakah tidurmu terganggu olehku?" tanya Alex dengan suara parau nya. Napas pria itu terdengar sedikit memburu.


"Tidak, aku masih belum tidur," jawab Lidya. "Ada keperluan apa tengah malam begini menghubungiku?"


"Sekedar memastikan, kau baik-baik saja."


"Hm, aku baik, seperti biasanya."


"Oke, lanjutkan kesenanganmu, aku tutup dulu. Jangan lupa mengingatku saat kau bersama orang lain, seperti yang sering ku lakukan selama ini," ucap Alex berpesan.


"Alex, kau mabuk?" tanya Lidya. Ia mengernyitkan dahinya saat mendengar suara dessah dan jeritan tertahan seorang wanita di sana. Ia pun lantas menghela napas panjang. "Oke Alex, lanjutkan kegilaanmu."


"Jangan ditutup dulu, aku yang menghubungimu, seharusnya aku yang ...."


Lidya mendengus kesal sembari melempar ponselnya begitu saja ke sembarang arah. Ia lalu merebahkan diri dan memeluk guling dengan kedua matanya yang basah. Lidya menangis, merasakan sakit yang teramat sangat, mendapati kenyataan tentang perilaku Alex yang begitu melukai harga dirinya selama ini. Kecenderungan Alex yang sering bermain wanita nyaris membuatnya menyerah dan melepaskan diri dari ikatan pernikahan yang tidak jelas ini. Andai saja ayah mertuanya tidak memberikan tantangan itu.


Ponsel Lidya kembali berdering. Semula ia enggan menjawabnya, karena takut Alex yang menghubunginya. Tetapi ternyata nama Sarah lah yang kini tertera di sana.


"Ya, Sarah. Kau kemana saja? Kami menunggumu di sini," jawab Lidya, langsung saja tanpa basa basi.


"Apa sih? Ngaco! Kau dimana?" Lidya salah tingkah sendiri mendengar sindiran Sarah. Beruntung mereka sedang tidak berhadapan, hingga Sarah tidak mampu melihat wajahnya yang begitu merona.


"Kami di rumah pohon persis di sebelah tempatmu, aku tadi sempat melihat kalian berfoto berdua, di depan, saat melihat-lihat lokasi karena tertarik untuk mengadakan pengambilan gambar di lokasi ini."


"Hm, memang keren view nya di sini." Lidya menoleh sebentar ketika Andre membisikkan sesuatu, bertanya tentang siapa yang menghubunginya. "Sarah, apa ada hal yang ingin kau bicarakan dengan Andre?" tanya Lidya tanpa menjawab pertanyaan Andre, tetapi ia memberi kode, bahwa itu adalah Sarah.


"Ah iya, aku sampai lupa, kau aktifkan saja loud speakernya, biar kalian berdua bisa mendengarkan."


"Oke, sudah. Katakan ada apa, sepertinya kau sedang serius."


"Alex meminta untuk bertemu Sephia, besok pagi jam sembilan, di hotel XX," jelas Sarah. "Kau tidak bisa menolaknya karena ini berkaitan dengan perjanjian kerja kalian."


"Oke, aku bisa," jawab Lidya tanpa pikir panjang. Entah kenapa ia begitu merindukan Alex saat ini dan bertekad untuk melakukan sesuatu yang dapat menarik Alex ke dalam pelukannya.


"Hey, cepat sekali kau menjawabnya, apa kau sudah begitu merindukannya? Oke, kalau begitu aku kirim pesan padanya sekarang."

__ADS_1


"Sarah, kau dimana?" tanya Andre ingin tahu.


"Kalian keluar lah, jangan di dalam terus, ntar Lidya bisa hamil!" tegur Sarah. "Lihat aku di rumah pohon sisi kiri kalian."


Sontak Andre dan Lidya melangkah keluar lalu tertegun saat melihat Sarah sedang berdiri di sana dalam pelukan erat seorang pria di belakangnya.


"Apa itu Roni?" tanya Andre penasaran.


Sarah melambaikan tangannya lalu sedikit berteriak. "Hai, bukan cuma kalian saja yang berpesta, aku pun bisa!"


"Kau gila, Sarah, apa yang kau lakukan dengan Roni di sana?" tegur Andre sedikit tidak suka.


"Biasa lah, apa sih yang biasanya dilakukan oleh dua orang yang lagi kasmaran?" jawab Sarah sembari menoleh ke samping kanannya, mencium rahang Roni, kekasihnya.


"Tapi kalian masih belum menikah," protes Andre. Ia merasa ikut bertanggung jawab untuk menjaga Sarah yang sebenarnya adalah sepupunya.


"Lalu, apa kalian jiga sudah menikah?" balas Sarah telak. Gadis itu lalu tertawa dan mengajak Roni untuk turun lalu berpindah ke rumah pohon yang ditempati oleh Lidya dan Andre.


"Sudah, Ndre, jangan ribu di sini, nggak enak sama yang lain, tuh."


"Tapi, Lid, mereka masih belum menikah."


"Lalu apa bedanya dengan kita? Kamu malah meniduri istri orang lain," sahut Lidya cepat.


"Tapi apa yang kita lakukan atas dasar suka sama suka, bukan?"


"Apa berbeda dengan Sarah dan Doni?"


"Tapi aku takut Sarah tidak bisa jaga diri, dia masih perawan, Lidya," jawab Andre putus asa.


"Oh, jadi semua itu boleh dilakukan untuk wanita yang sudah bukan perawan, sepertiku ini?"


Andre sedikit tercekat. "Bukan begitu, maksudku ...."


"Sudahlah, Ndre. Percaya sama Sarah. Aku yakin dia bisa jaga diri kok, biarpun sedang berdua dengan pacarnya."

__ADS_1


"Kalian ngobrolin apa sih, seru banget?" celetuk Sarah yang kini sudah sampai di pintu rumah pohon Lidya. Gadis itu langsung masuk begitu saja lalu mendelik saat melihat kondisi tempat tidur yang acak-acakan. "Apa ini, kalian baru saja khilaf atau apa?"


__ADS_2