To The Night Street

To The Night Street
ada cerita


__ADS_3

sesampainya di markas satria kenanga, mereka berkumpul di ruang tengah.


"vin, lo aneh, lo bantuin orang lain bisa, tapi buat diri sendiri gak bisa" ucap norik.


"gak tau kenapa, lagi lemot otak gua rik" jawab norik.


"atau gagal fokus?" sahut andika bertanya.


"mungkin, udah malam kan" jawab calvin.


"malam ini tidur dimana lo vin?" tanya andika lagi.


"yok dah rumah lo, pasti mau nawarin kan ahaha" jawab calvin.


"biasa ya pake motor lo, besok kuliah berangkat bareng" tambah calvin.


"gua mulai jam 8, selesai jam 12" andika memberitahu jadwal kuliahnya besok.


"gua jam 7, balik jam 11, yaudah gapapa, lo nungguin jam masuk, nah gua nungguin lo keluar kelas ahaha" jawab calvin.


"yaudah ayok" ucap andika lalu berdiri. calvin juga ikut berdiri.


"dika, gua ikut nginep rumah lo boleh gak?" sahut vino bertanya.


"boleh, ayok" jawab andika, alvino berdiri.


"duluan ya guys", sahut calvin lalu keluar bersama andika dan vino.


calvin dibonceng andika, alvino sendiri dengan motornya.


sesampainya di rumah andika, mereka duduk di sofa dalam kamar andika seperti biasa di depan tv.


"dika, maksud lo gagal fokus apa tadi?" tanya calvin, melihat andika.


"iya, karena disana ada wildan, gabriel, kenzie dan anggota silent night lainnya, kalian kan udah saling kenal" andika menjelaskan.


"iya juga sih, mana gabriel tempeleng pala gua lagi, kesel sih ada" calvin memberi tahu.


"untung aja helm gua gak kebuka dan mereka belum tau gua siapa, bisa mati ditempat gua kalo ketauan" tambah calvin.


"lo tau gak? wildan baik banget, walau beda kelas, gua sering berhubungan sama dia, terus sering kumpul-kumpul juga sama anak sejurusan" andika bercerita.


"ya kan masalah kita emang bukan ke silent night, tapi awalnya hanya black flower, kenapa jadi nyebar" jawab calvin.


"aturan kita bisa tuh ya berteman baik sama silent night, tapi keadaan lagi begini, silent night udah berpihak duluan ke black flower" balas andika.


"ya emang keadaan udah begini" jawab calvin.


"terus lo tau yang kemarin nyalain sirene siapa? ya saron, dari black spider sama temen gua jeremy, gua minta bantuan sama mereka dan mereka bantuin gua" tambah calvin bercerita.


"oiya terus yang kita keroyok waktu itu saron bukan tony, gua udah cerita kan kayanya tentang ini, terus katanya dia gak mau berurusan sama geng kita lagi, jadi dia gak ikutan sama sekali jika itu tentang penyerangan ke kita, dia ngomong sendiri ke ketuanya alfandra, gua gak sengaja denger" lanjut calvin bercerita.


"musuh dalam selimut lo ya" sahut vino.

__ADS_1


"gua gak pernah anggap mereka musuh gua" jawab calvin.


"iya sampe Gabriel aja yang udah nempeleng dia malah didiemin, biasanya juga langsung ngamuk kalo disentuh dikit ahaha" sahut andika.


"iya juga ya ahahaa" sahut alvino lagi.


"btw lo ikut kita mau pasti mau dengerin omongan kita kan" ucap calvin menatap vino.


"iya eheh, gua penasaran aja, kan lo kenal silent night vin, terus lo malah kena sama jebakan mereka" jawab vino.


"kepo banget sih lo bocah, biasanya juga kaya kembar dempet sama jordan" sahut andika.


"ya dibilang gua penasaran" jawab alvino.


"tapi vin, semakin lo merahasiakan tentang identitas lo sebagai anggota geng motor apalagi satria kenanga, terus pasti makin lama, makin kenal sama mereka, semakin besar juga pasti kecewa mereka saat mereka tau, karena cepat atau lambat pasti semuanya terbuka" ucap vino.


"iya gua tau no, gua juga pengen kasih tau gabriel, tapi masalahnya sekarang, mereka aja lagi ngejar-ngejar kita, saron yang gua pernah serang, setelah dia tau, gua gak tau dia bakal nerima gua lagi atau gak, atau malah kecewa, lalu malah ngasih tau ke temen-temennya, terus gabriel ikut tau, gua harus gimana lagi?" jawab calvin.


"gua tau, sepandai-pandai tupai melompat, pasti jatuh juga" tambah calvin.


"gua ngerti posisi lo vin sekarang, serba salah" sahut andika menepuk pundak calvin.


"terus sekarang gua harus gimana? atau gua harus jujur sekarang juga? biar kecewa mereka gak terlalu dalam? tapi yang gua takutin nanti kesebar, black flower atau black spider dengan mudah ngenalin gua, terus gua diincar, gua diserang" ucap calvin.


"apalagi black flower dendam banget sama kita gegara peristiwa kematian alvian, mereka yakin banget kalo kita pelakunya" tambah calvin.


"kenapa mereka bisa yakin banget ya?" sahut alvino bertanya.


"tapi sering berinteraksi malah bagus dong, malah membuktikan kalo mereka dekat" sahut andika.


"duh gua mau cerita, tapi gua udah janji sama radit gak ceritain ini ke siapa-siapa" ucap calvin dalam hati.


"kalian jangan omongin ini di depan radit, kalo gua bilang radit dan alvian sering berinteraksi" ucap calvin.


"iya gua janji, tapi permasalahannya dimana?" tanya alvino.


"maaf gua gak bisa cerita, gua udah janji sama radit" jawab calvin.


"radit cerita ke lo vin apa yang terjadi?" tanya andika.


"iya, tapi gua gak boleh ceritain lagi ke siapapun itu, termasuk kalian atau keluarganya dan kalian jangan pernah bicarakan tentang ini lagi kepada siapapun" sahut calvin.


"iya" jawab vino.


"gua tau lo masih penasaran no, tapi lebih baik lo diam, jangan berusaha cari tau, atau semua ini akan terbongkar" ucap lagi calvin menatap vino.


"iya vin" jawab vino lagi.


"gua percayakan sama lo dan juga lo dik" jawab calvin.


"iya vin, tapi ternyata jaga rahasia gak gampang juga ya, terkadang gua pengen kasih tau, tapi ada janji yang harus di genggam" jawab andika.


"iya, memang berat dik, gak semua orang bisa melakukan ini" jawab calvin.

__ADS_1


"btw dik, gua minta es batu dong, dimasukin ke dalam kain gitu, buat kompres" tambah calvin membuat dika memegang kening calvin.


"gak panas badan lo vin" sahut andika.


"iya, ambilin aja, tolong, nanti lo juga tau" jawab calvin.


andika mengambil hp nya lalu menelpon seseorang.


"bi, tolong ambilin kompresan ya, pake es batu" ucap dika di telpon lalu menutup telponnya.


"tunggu, nanti bibi anterin kesini" ucap andika lagi setelah meletakkan telponnya, calvin mengangguk, ia memegangi perutnya yang baru terasa sakit sekarang bekas pukulan cakra tadi.


"vin" panggil vino.


"ya?" jawab calvin.


"kalo lo gak percaya sama gabriel, dan akan membocorkan identitas lo, kenapa mikel dan gua gak mereka incar, padahal kita juga pernah ketemu sama gabriel?" tanya vino.


"karena gabriel kurang mengenal kalian, dia gak tau tentang kalian, sedangkan gua berada di lingkungan mereka, kita 1 kampus, bahkan 1 kelas, gabriel juga tau gua kalo ke rumah andika lewat mana aja" jelas calvin.


lalu bibi masuk membawakan es batu dan sehelai kain dalam sebuah nampan dan meletakkannya di meja.


"makasih bi" ucap andika, bibi mengangguk lalu keluar kamar dan menutup pintu.


calvin membuka kain, memasukkan beberapa es batu, dan mengikat kain tersebut. alvino dan andika hanya memerhatikan calvin.


calvin mengangkat sedikit kaus nya, hingga terlihat bagian perutnya, ada sedikit berkas biru di bagian kecil perutnya.


"kok perut lo biru vin?" tanya andika yang melihat itu, calvin meletakkan kain berisi es batu tadi diatasnya.


"cakra" jawab calvin singkat.


"ketua black flower?" tanya vino, calvin hanya mengangguk.


"dendam?" tanya dika.


"kita tunggu respon radit" jawab calvin sambil memindah-pindahkan kompresan di perutnya.


"radit aja gak tau lo begini" sahut vino.


"siapa bilang? tau kok dia" jawab calvin


"hah? kayanya tadi lo di markas baru duduk langsung balik" ucap vino lagi.


"gua ke kamar dulu tadi naro pakaian gua, baru gua gabung sama kalian, dan gak sengaja radit juga ke kamar dulu, mana pas banget gua lagi liatin perut gua, terus dia nanya kenapa, yaudah gua kasih tau aja" calvin bercerita kejadian sebelumnya.


"owalah" jawab vino.


"udah no, lo pasti bingung sama kelakuan radit dan nih orang satu" sahut andika.


"iyaya, mereka gak ketebak" jawab alvino.


"udah ah, gua mau rebahan" ucap calvin lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur, dengan kompresan diletakkan di atas perutnya, tak lama calvin ketiduran.

__ADS_1


__ADS_2