
"vin, gua berangkat dulu, lo hati-hati disini" ucap gabriel.
"iya, bilang aja gua sakit, jangan ceritain apa yang terjadi" jawab calvin.
"oke" gabriel keluar kamar dan berangkat ke kampus.
di waktu malam hari, beberapa anggota dari satria kenanga dan silent night masih ada yang mengumpul di rumah radit setelah dari kesibukannya masing-masing seperti sekolah ataupun kuliah.
"dit itu siapa?" tanya dony yang melihat dari jendela ada sebuah mobil memasuki gerbang, radit juga ikut melihat ke arah jendela, mereka sedang berkumpul di ruang depan/ruang tamu.
radit keluar rumah dan mendekati mobil itu.
"ayahnya radit" calvin memberi tahu yang melihat dari jendela ada seseorang keluar dari dalam mobil.
radit dan ayahnya masuk.
"yah, lagi rame, teman-teman radit lagi main" ucap radit yang semakin dekat.
"iya gapapa" jawab ayahnya.
"hai om, apa kabar?" sapa calvin lalu bersalaman dengan ayah radit.
"baik calvin, ini tangan kamu kenapa?" tanya ayah radit sambil memegang tangan calvin.
"gapapa om, luka dikit aja" jawab calvin.
"luka dikit juga harus diobati, biar gak makin parah" balas lagi ayah radit.
"iya om tenang aja, aman" balas calvin, ayah radit melepas tangan calvin, dan tersenyum sambil mengangguk-angguk.
"calvin juga calon doker yah, seharusnya dia udah lebih tau" sahut radit.
"masih calon ya om" calvin tersenyum lebar "sini om duduk".
radit, calvin dan ayahnya radit duduk lagi bergabung.
"ganteng-ganteng ya temen kamu itu" ucap ayah radit.
"bisa aja om" sahut niko.
"yaudah kalo gitu kalian terusin aja, om mau istirahat" ucap ayah radit lagi.
"iya om, silahkan" jawab calvin, ayah radit menaiki tangga dan masuk ke sebuah kamar.
"kok muka ayah lo gak asing ya dit" ucap wildan dengan raut muka mengingat sesuatu.
"iya gua juga mikir dari tadi, tapi siapa dan dimana ya" kenzie menyetujui.
"perasaan kalian aja kali" sahut radit.
"gua kamar mandi dulu ya" ucap calvin sambil menyenggol tangan radit diam-diam, memberi kode untuk mengikutinya, lalu berjalan ke arah dapur karena kamar mandi berada di samping dapur.
"bentar gua mau ke dapur dulu" ucap radit setelah calvin cukup jauh di depan, dia menyusul.
"dit ada yang belum gua ceritain ke lo, silent night, mereka yang nemuin mayat alvian setelah kita pergi, dan mereka ikut melayat ke rumah alvian, hari sebelum alvian di makamkan" calvin memberi tahu.
"berarti yang tadi mereka udah pernah liat ayah gua bener dong" jawab radit.
"ya" jawab calvin.
"lah terus gimana?" tanya radit.
"gini aja, kalo mereka inget dimana dan kapan pernah ngeliat ayah lo, yaudah lo jujur tentang hubungan lo sama alvian, gak lebih, soalnya mereka juga tau mengenai investigasi polisi yang terhenti" calvin memberi tahu.
"oke, yaudah" radit lalu mengambil kue dari dalam kulkas dan membawanya keluar, dan calvin masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
tak lama, calvin kembali duduk.
wildan dan Gabriel saling bertatapan seperti mereka mengira bahwa calvin dan radit berbicara sebentar di belakang.
"kenapa?" tanya calvin yang melihat mereka.
"kuenya gak enak?" sahut radit.
"enak kok enak" sahut wildan dan memakannya lagi.
"oiya dit gua inget, kita pernah liat ayah lo di rumah alvian di hari sebelum almarhum alvian di makamkan" gabriel memberi tahu.
"ohh alvian" sahut radit.
"lo kenal?" tanya kenzie.
"lah kalian kan yang pernah nuduh kita satria kenanga sebagai pelakunya, masa lupa, dan karena tuduhan itu juga kalian nyerang kita" jawab radit.
"eheh maaf dit" sahut wildan.
"woi lo belum jawab pertanyaan gua" kenzie mengingat.
"bukan kenal lagi, tapi emang alvian adek gua, gua sama dia cuma beda setahun" radit memberi tahu.
"owalah, maaf dit malah kita yang jadi nyerang lo, kita gak tau" sahut wildan.
"makanya kalo ada apa-apa cari tau dulu" radit memberi tahu.
"tapi dit, kok lo gak ada saat itu? adik lo meninggal lo gak dateng?" tanya kenzie.
"ada kok gua, tapi di dalem kamar" jawab radit.
"ohh gitu, pantes cakra juga pernah cerita lo pernah masuk rumah alvian, berarti rumah alvian rumah lo juga kan?" tanya wildan.
"tapi kok lo tinggal disini?" tanya niko.
"yah gua suka aja disini, setelah seharian diluar, gua butuh ketenangan disini biasanya sepi kan, paling kalo lagi butuh temen gua minta calvin temenin gua siapa gitu anggota gua, kadang gua juga ke rumah sana" jelas radit.
"pembahasannya terlalu jauh dit, banyak tanya juga lagi mereka" ucap calvin dalam hati.
ayah radit keluar dari kamarnya dan turun.
"radit, ayah ada keperluan diluar sebentar, ayah keluar dulu ya, nanti ayah balik lagi" ucap ayah radit setelah dekat.
"iya yah hati-hati" jawab radit, ayah nya langsung keluar.
"dit, kalo alvian tinggal disana dan lo disini, lo gak tinggal 1 rumah sama alvian? kan kalian saudara kok gak tinggal 1 rumah?" tanya wildan.
"aduh, semakin jauh" calvin dalam hati.
"sejak alvian meninggal aja sih gua tinggal disini, btw udah ya, jangan diomongin lagi, kasian adik gua" jawab radit.
"bohongnya mulai" calvin dalam hati "bisa aja lo dit"
"iya, maaf kalo gua ngingetin lagi ke dia" ucap lagi wildan, radit mengangguk.
"btw ibu lo mana dit? kok cuma ada ayah lo doang?" tanya gabriel.
"udah meninggal juga, 3 bulan sebelum almarhum alvian" jawab radit, tak disangka setetes air mata keluar dari matanya.
"dit lo gapapa?" tanya calvin sambil mengelus belakang radit, radit berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.
"eh kalian bener-bener ya masih pada baru keluarganya meninggal, malah diingetin" ucap calvin.
"maaf vin, kita gak tau" gabriel dengan nada merasa bersalah.
__ADS_1
"vin lo gak temenin radit gitu" ucap kenzie.
"radit kalo lagi kaya gitu lebih milih sendiri" jawab calvin "kalo dia butuh ditemenin, dia akan bilang"
"duh gua jadi gak enak sama radit, kalian sih" ucap wildan.
"lah kok lo jadi nyalahin kita dan, kan lo juga nanya mulu" sahut kenzie.
"eheheh, maaf vin" ucap wildan.
"yang penting jangan omongin ini lagi depan radit" jawab calvin, wildan mengangguk.
"loh radit nya kemana?" ayah radit kembali.
"lagi dikamar nya om" calvin yang menjawabnya, ayahnya menuju kamar radit yang juga di lantai atas.
calvin memerhatikan ayah radit yang masuk ke kamar radit, cukup lama ayah radit tidak keluar, hingga akhirnya mereka berdua keluar dari kamar radit, ayahnya menuju ke kamarnya, dan radit menuruni tangga.
"dit maaf banget ya gua bener-bener gak tau" ucap wildan ketika radit kembali duduk.
"iya gapapa" jawab radit.
"eh iya dit kalo kita tanya tentang geng motor lo gapapa kan?" tanya kenzie.
"tanya apa emang? kalo masih bertanya dimana markas kita, maaf kita belum bisa kasih tau" jawab radit.
"enggak kok bukan, jadi cakra pernah cerita, kalo lo deket banget sama seseorang, nah kata cakra kemungkinan dia adalah ketua penyerangan lo, nah lo kan deket banget nih calvin" kenzie berkata.
"jadi maksud lo gua ketua penyerangan satria kenangan gitu?" tanya calvin ke wildan, lalu melihat ke radit, radit juga melihat ke arahnya, tak lama mereka malah tertawa geli.
"ahaha kalian mikir gak sih, calvin begini bisa mikirin strategi? ahaha" bicara radit sambil tertawa, lalu berhenti.
"ya percaya sih, kan dia pernah ngasih strategi ke black spider" jawab kenzie, radit langsung melihat calvin.
"bener vin?" tanya radit melihat calvin, calvin tersenyum lebar dan berkata "maaf".
"vin, lo tau gak? yang black spider serang itu geng motor teman gua, 6 orang luka dan 2 hampir kena tapi berhasil lolos" radit memberi tahu agak kasar.
"eh serius? duh maaf dit gua bener-bener gak tau kalo itu temen lo, kalo gua tau mereka temen lo, gua gak akan kasih tau mereka" calvin berusaha menjelaskan.
"untung masih temen gua lo vin" ucap radit agak kesal.
"maaf dit, duh kok malah jadi begini sih" ucap calvin.
"eh maaf, duh gegara gua jadi kalian yang berantem" ucap kenzie.
"udah-udah mending kalian gak usah nanya apa-apa lagi, oke?" sahut calvin melihat ke arah kenzie.
"bisa-bisanya lo vin ngasih tau rencana satria kenanga ke mereka" ucap radit lagi melihat calvin, calvin juga melihatnya.
"gua bener-bener minta maaf dit, lagian sekarang nasi udah jadi bubur, lain kali gua gak akan ngelakuin itu lagi, janji" ucap calvin.
"gua pegang janji lo" jawab radit.
"mending kemarin gua biarin aja lo dibunuh sama cakra" tambah radit setelah beberapa detik.
"ehh…, jahat lo dit" balas calvin.
"bodo amat" jawab radit melihat ke arah lain.
"udah-udah radit, calvin nasi udah jadi bubur, selanjutnya kita pikirkan lagi untuk lebih baik" sahut keiza.
"iya bener kata keiza, udah santai semua, ngobrol lagi aja kaya biasa" leo mencoba mengembalikan susana.
vino yang pintar mencairkan suasana memulai topik pembicaraan baru yang mengasikkan, membuat suasana kembali menyenangkan malam itu, calvin dan radit memang mudah untuk saling memaafkan dan kembali tertawa bersama lagi, seperti kejadian waktu itu radit dan calvin bahkan sampai bermain fisik, tapi tetap dekat.
__ADS_1