
Menghela napas berkali-kali, terlalu aneh jika dekat dengan pemuda buluk berlumuran nanah dan luka yang tidak pernah mengering itu. Ada yang aneh dengan dirinya.
Kini terdiam seorang diri di salah satu meja perjamuan. Mereka memang hanya membuat panggung untuk musisi yang hadir. Tidak membuat panggung pengantin, ingin membuat suasana lebih menyenangkan dimana pengantin berbaur dengan tamu undangan.
Meminum segelas wine, matanya menelisik, terdapat banyak warga desa yang diundang di tempat ini. Ada juga beberapa teman dekatnya.
Semuanya membicarakan hal yang sama. Bagaimana bisa dirinya yang merupakan bunga di pergaulan kelas atas menikah dengan pria berwajah rusak, lebih dari itu, bukan hanya wajahnya saja yang rusak. Tapi juga tidak kaya atau memiliki kekuasaan.
Menghela napas kasar, warga desa bahkan mulai membicarakan tentang jin peliharaan, guna-guna, pertapaan, hal-hal yang berhubungan dengan takhayul. Tidak menggubris sama sekali, dirinya hanya menatap ke arah Michael dari jauh yang tengah berbincang dengan Santos. Lebih dari itu Santos yang dingin dan kompeten terlihat menghormatinya.
"Apa otak pengacara sialan itu rusak!?" batinnya, menghela napas berkali-kali. Tapi setidaknya rencana pertama sudah berhasil. Itu artinya setelah setahun warisan akan secara resmi menjadi miliknya.
Hingga dua orang datang menghampirinya. Dua orang yang bagaikan lalat pengganggu baginya. Ditambah dengan pamannya yang melihat dari jauh, hanya melirik, berusaha berbaur dan berbincang dengan beberapa tamu yang dikenalnya.
"Claudia..." Suara Evan terdengar.
"Em?" Hanya itulah kata yang keluar dari mulutnya. Terlalu enggan bicara pada orang ini. Sejujurnya hatinya masih sakit, untuk apa kedua orang ini datang? Apa hanya untuk menunjukkan betapa bahagianya mereka.
"Maaf! Ini salahku! Ta...tapi kamu tidak seharusnya menikah dengan pria yang memiliki wajah rusak sepertinya." Ucap Erlina tertunduk tiba-tiba, air matanya mengalir. Mengepalkan tangannya."Andai saja aku dapat menahan perasaanku pada Evan---."
Ini sengaja, mereka hanya ingin menambah lukanya. Membuatnya menangis di acara pernikahannya. Tujuannya? Tentu saja agar sang pengacara mencurigai hubungannya dengan Michael hanya berlandaskan pada warisan.
Evan yang tidak menyadari segalanya, semakin menusukkan belati pada dada sang mempelai wanita."Ini bukan salahmu. Ini salahku! Aku seharusnya tidak plin-plan dan mempermainkan perasaan Claudia."
"Aku minta maaf!" Teriak Erlina sengaja, mengundang perhatian semua orang padanya. Berlutut di hadapan Claudia, dengan begini jika Claudia menangis sedikit saja, maka Santos akan menyadari segalanya. Mau pernikahan ini hanya kontrak atau asli, tetap saja perasaan Claudia masih tertuju pada Evan.
__ADS_1
"Erlina! Jangan berlutut! Ini bukan salahmu! Ini salahku!" Evan berusaha membantunya bangkit.
"Tidak! Ini salahku! Saat mengetahui Claudia menyukaimu, tidak seharusnya aku mundur. Membuat Claudia terjebak dalam pernikahan palsu ini bersama pria yang begitu menjijikkan! Aku yang plin-plan, mencintaimu tapi menyerahkanmu demi kebahagiaan Claudia. Namun, tidak dapat melepaskanmu hingga merusak rencana pernikahan kalian..." Kalimat penuh penekanan dengan drama dan air mata dari wanita itu.
"Bu... bukan salahmu. Ini---" Kalimat Evan disela.
Pandangan mata Evan dan Erlina beralih pada Claudia yang menitikan air matanya. Kenapa dirinya yang selalu ada di pihak jahat? Padahal pernikahannya yang sudah dihancurkan oleh kedua orang ini dan sekarang luka yang baru saja sedikit kering kembali diungkit.
Ini menyakitkan, selalu berada di pihak yang salah. Padahal dirinya yang disakiti.
"Pada akhirnya kamu kalah." Batin Erlina sedikit tersenyum, menyadari cibiran dan pendapat orang-orang tentang pesta ini. Serta raut wajah sang pengacara yang terlihat tidak senang.
Namun.
Brak!
"Kalian membuat istriku menangis, bahkan merusak acara pernikahanku? Jangan harap." Michael tersenyum menjambak rambut Erlina memaksanya untuk berdiri dari posisinya yang berlutut di hadapan Claudia.
"Kamu hanya dinikahi Claudia karena tidak ada opsi lain. Dia bahkan menangis di acara pernikahan kalian! Tidak mungkin mencintai pria dengan wajah buruk sepertimu! Dasar monster!" Teriak Erlina berusaha melepaskan jambakan rambutnya.
"Menangis? Sangat alami Claudia akan menangis jika ada yang merusak acara pernikahannya. Apa lagi dari ucapan kalimat yang seolah-olah korban dari segalanya adalah kalian. Aku yang menghiburnya, dia berkata aku polos dan lucu jadi dia jatuh cinta pada pandangan pertama padaku. Dan... ternyata hanya pria seperti ini yang membuat Claudia trauma pada pria tampan?" Michael tertawa kecil mengejek.
Sejenak kemudian menghela napas kasar."Apa tujuan kalian ke tempat ini? Merusak hubungan kami yang baru saja saling mencintai? Jika begitu maka kalian adalah antagonisnya bukan Claudia yang memilih menyingkir. Memilih untuk jatuh cinta pada pria yang dapat menghiburnya!" Kalimat terakhir dari Michael, mendorong Erlina jatuh ke kolam renang yang tidak begitu dalam.
Pandangan semua orang berubah 180 derajat, kala Michael, menghapus air mata Claudia. Mengecup keningnya, tersenyum mengatakan."Tidak akan ada yang melukaimu selama aku bersama denganmu." Pemuda yang melepaskan bagian luar tuxedo-nya. Memakaikan pada Claudia.
__ADS_1
Seorang pemuda berwajah rusak yang menunduk di hadapan para tamu. Tersenyum dengan wajah polos."Aku memang tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Tapi aku tulus, seperti istriku yang tersenyum tulus padaku. Ketika tertawa mengatakan aku lucu. Aku mencintainya, begitu juga dia yang perlahan akan memiliki perasaan sebesar aku mencintainya."
Kalimat yang membuat semua orang berteriak haru. Ini bukan drama wanita licik yang memanfaatkan pria buruk rupa untuk harta. Tapi drama move on dari masa lalu.
Sementara Claudia tertegun."Aku tidak salah pilih! Dia dapat mengendalikan hati orang lain! Aku akan menyayangi dan manjakanmu seperti kucing anggora kesayanganku. Suami satu tahunku!" Batinnya.
"Sayang aku mencintaimu..." Ucap Claudia pada akhirnya.
"Aku juga..." Michael tersenyum tulus.
"Maaf, aku permisi sebentar harus menenangkan istriku. Jika mereka merasa bersalah, seharusnya mereka malu untuk hadir. Kecuali, mereka memang berniat menghancurkan pernikahan kami. Sungguh duri dalam daging..." Michael tersenyum, merangkul bahu Claudia, pergi meninggalkan pesta bertema garden party tersebut.
Orang-orang mulai berbisik membicarakan. Terutama rekan-rekan Claudia, ditambah dengan warga kampung.
"Saudara jahat begitu ya? Acara pernikahan sekali seumur hidup lho! Mereka rusak!"
"Kalau menjadi mempelai wanita, aku juga tidak mungkin tidak menangis. Ada orang yang berteriak-teriak kencang sok merasa bersalah. Mengungkit luka lama."
"Acara pernikahan Claudia sebelumnya. Claudia menunggu 4 jam di depan altar. Sampai-sampai ditinggalkan para tamu undangan sendirian. Walaupun tampan, lebih baik menikah dengan pria buruk yang tulus, langsung hadir dan serius menikah. Tidak playing fictim seolah-olah mereka korban!"
"Lebay..."
Pendapat orang-orang yang menertawakan mereka. Kesal? Tentu saja itulah perasaan Erlina yang mulai naik dari kolam renang.
Namun, matanya beralih menatap ke arah Evan yang tertegun melihat kepergian Michael dan Claudia. Jemari tangan pria itu gemetar, mengepal bagaikan kesal.
__ADS_1
"Claudia..." panggilnya sebelum Claudia benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Kita bukan sahabat atau kekasih lagi. Jangan sembarangan memanggilku. Suamiku bisa cemburu..." Kalimat dari Claudia tanpa menoleh padanya.