
"Pak Fandi dan Alana ternyata berselingkuh. Mereka baru saja mendapatkan pemecatan secara tidak hormat. Aku dengar-dengar Bu Claudia sendiri yang menghubungi bagian HRD." Ucap seorang karyawati berkacamata.
"Iya! Pak Robert juga, katanya ada pihak kepolisian yang memanggilnya. Kasus penyuapan dan money laundry. Bu Claudia juga yang melaporkannya. Aku juga dengar-dengar ada tuntunan untuk kerugian perusahaan..." Karyawan berdasi hitam menghela napas kasar.
"Hanya ada satu kesimpulan. Ada mata-mata diantara anak baru. Berarti gosip itu benar! Suami Bu Claudia bekerja di perusahaan ini. Rasanya benar-benar sesak, tidak tau dimana harus menjaga prilaku." Karyawati berambut panjang memijit pelipisnya sendiri.
"Ini kopinya..." Seorang office boy tiba-tiba datang membawa beberapa cangkir kopi dan teh.
"Kamu anak baru?" Tanya karyawan berdasi hitam.
Michael mengangguk."Saya dari desa, nama saya Michael. Omong-ngomong kenapa semuanya ribut-ribut?" tanyanya ikut bergosip.
"Ada suami bos yang menjadi karyawan baru di perusahaan. Tapi kami tidak tahu siapa. Anak bagian keuangan yang baru masuk cukup tampan, ada juga manager baru bagian pemasaran, ketua tim baru bagian perencanaan, karyawan baru bagian pemasaran. Setiap ada kata anak baru kami jadi parno..." Jawaban dari sang karyawan berdasi hitam, menyeruput kopi yang baru tersaji.
"Wah...aku juga harus menjaga prilaku ku kalau begitu." Michael terlihat cemas.
"Memangnya kenapa?" Tanya karyawati berambut panjang.
"Aku masuk melalui jalur koneksi. Tidak melalui wawancara, bagaimana jika aku dipecat." Pria berwajah rusak tertunduk, membuat semua orang iba padanya.
"Apa karena ada keluargamu yang bekerja di sini?" tanya karyawati berkacamata.
Michael mengangguk."Ada keluargaku yang bekerja di perusahaan ini. Tapi saran dariku, asalkan bekerja dengan benar tidak perlu cemas."
"Iya! Tapi tetap saja---" Karyawan berdasi hitam menghela napas kasar."Jika itu atasan setingkat Bu Claudia atau pak direktur yang lewat, kami dapat menjaga sikap beberapa menit. Tapi sekarang? Musuh yang tidak kami ketahui. Ini seperti ada mata-mata ratu yang turun tangan untuk menangkap kami satu persatu."
"Eh...anak baru divisi marketing lewat!" Ucap karyawati berkacamata. Seketika semua orang menjaga posisi mereka masing-masing, berpura-pura sibuk bekerja. Padahal jam kerja dimulai 5 menit lagi.
Tapi tidak dengan Michael, pemuda itu mengamati sang karyawan baru dari atas hingga bawah. Mengambil buku kecil, mencatat satu hal.
"Kamu harus kembali sebelum ada anak baru yang lewat lagi! Omong-ngomong apa ya kamu tulis?" Tanya karyawan berdasi hitam.
"Aku mencatat, ada karyawan baru. Sehingga nanti aku bisa tahu apa aja selera mereka." Jawaban masuk akal dari Michael.
Mereka terdiam sejenak, ini seperti permainan game, dimana mereka harus menembak siapa inposter sesungguhnya. Musuh dalam selimut, tapi tidak mungkin orang ini.
Michael pengecualian, mengingat selera Claudia yang tinggi. Satu-satunya anak baru yang tidak dicurigai. Tapi memang wajar, suami dari pemilik saham terbesar di perusahaan minimal akan menduduki posisi karyawan atau manager. Tidak mungkin menjadi seorang office boy. Kecuali pria itu memang terlalu bucin.
__ADS_1
"Michael, kamu sering berkeliling. Bisa kamu mencari informasi ke bagian HRD, siapa anak baru yang masuk atas rekomendasi Bu Claudia?" Pinta wanita berambut panjang.
"Aku masuk atas koneksi Bu Claudia. Aku suaminya tercinta..." Kalimat penuh senyuman dari Michael.
Bug!
Pak!
Suara tawa terdengar, beberapa karyawan memukul kepalanya menggunakan gulungan kertas. Ada pula yang mencubit dan menggelitik dirinya. Siapa yang akan percaya bualan Michael?
"Tidak ada yang percaya! Dewi Sinta dengan senang hati menikah dengan Rahwana!"
"Dasar! Kami serius meminta bantuan! Kamu malah bercanda!"
*
"Sayang...ada kejadian apa hari ini?" tanya Claudia memakan sushi dalam pangkuan suaminya.
"Tidak banyak, anak baru bagian marketing dan manager baru, aku sering mendengarnya berkata bagaikan mereka adalah suamimu. Tapi hanya kalimat tersirat saja, agar mendapatkan lebih banyak wibawa." Jawaban dari Michael dengan mulut penuh.
"Ada proyek baru, mungkin beberapa hari ini aku pulang terlambat tidak apa-apa kan?" tanya Claudia memasang senyuman termanis tingkat tinggi.
"Aku temani...ya?" Pinta Michael.
Claudia menggeleng."Aku bertemu dengan beberapa klien penting. Beberapa orang yang akan berinvestasi."
"Bukannya itu---" Kalimat Michael disela.
"Aku tidak sendirian, ada beberapa orang yang diutus paman untuk menemaniku. Mereka staf di perusahaan ini juga. Tidak akan ada yang berani macam-macam denganku." Claudia menghela napas kasar, menyakinkan suaminya.
"Aku suamimu, jika bertemu rekan bisnis. Aku mungkin dapat memberi saran dan---" Michael mengehentikan kata-katanya, melihat Claudia tertunduk. Pemuda yang tersenyum getir menyadari segalanya, pendidikan, kekayaan dan wajah. Penghinaan, itulah yang akan Claudia dapatkan jika membawanya ke acara penting karena itu."Baik...tapi jaga dirimu..."
"Terimakasih sayang..." Claudia mengecup bibir Michael cepat.
Sesenang itukah Claudia pergi tanpa dirinya? Berusaha untuk tersenyum, itulah yang dilakukan olehnya. Menjalani malam tanpa Claudia. Apa yang akan dilakukan olehnya nanti?
*
__ADS_1
Banyak pertanyaan yang terkadang terlintas di benaknya. Claudia tidak mencintainya dari awal, perasaan yang terkadang terasa bertambah dalam diri Claudia. Tapi kini terasa berkurang, apa karena dari awal ini hanya sandiwara saja bagi istrinya?
Menatap senja dalam bis yang melaju menuju halte dekat apartemen tempat mereka tinggal. Terdiam tidak ada kata yang terucap dari bibirnya, hanya menyandar karena terlalu lelah. Andai saja dirinya memiliki segalanya seperti Evan. Hanya wajahlah yang dimiliki olehnya, tidak memiliki apapun lagi. Itupun harus ditutupi, untuk keselamatannya.
*
Brup!
Brup!
Dirinya memasukkan wajahnya kedalam bathub, bagaikan menenggelamkan dirinya. Wajah tanpa lapisan gelatin dan makeup efek khusus kini terlihat.
Dirinya masih mengingat segalanya, bagaimana perjuangannya keluar dari dalam mobil yang hampir tenggelam. Keluar dari jendela yang terbuka, berusaha menghirup napas. Hingga seseorang menariknya, tangan seorang pria.
Ayahnya sendiri.
"Hah....hah...hah..." Menghirup napas dalam-dalam, kehabisan napas setelah keluar dari bathtub. Detik-detik itu kembali terbayang, seorang anak perempuan yang seumuran atau mungkin sedikit lebih muda darinya memeluknya. Memakai pakaian layaknya seorang putri. Berkata syukurlah kamu selamat, sembari menangis. Apa yang terjadi setelahnya? Segalanya gelap.
Ingatan yang terpotong bagaikan puzzle. Tapi pakaian ayahnya bukan pakaian murah, begitu juga dengan pakaian dirinya, anak perempuan itu dan ibunya. Apa Berta membohonginya dengan ingatan palsu, mengatakan dirinya lahir di pinggiran kota, kemudian pindah ke desa?
Tapi hanya Berta di dunia ini yang dapat dipercayainya. Pada akhirnya pemuda itu membilas tubuhnya di tengah guyuran air shower.
Wajah ayahnya kembali terbayang."Michael, tidak perlu menangis lagi..." Sebuah kalimat yang terbayang tiba-tiba.
Apa yang sebenarnya terjadi? Dirinya tidak mengerti sama sekali.
Hingga pada akhirnya mengeringkan dirinya. Claudia tidak akan pulang malam ini. Mungkin menginap di tempat pertemuan. Dirinya tidak memakai lapisan gelatin lagi. Mengeringkan rambutnya perlahan.
Hingga dering suara phonecell terdengar. Nomor Claudia menghubunginya?
Pemuda yang mengangkatnya."Claudia aku---"
"Ini suami Bu Claudia kan? Tadi Bu Claudia mabuk, dan---" Kalimat sang karyawati terhenti.
"Dan apa!?" Bentak Michael.
"Karyawan lain, berkata akan mengantar Bu Claudia ke kamarnya. Tapi saya curiga jika..."
__ADS_1