Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 42. Ant


__ADS_3

"Tidak boleh, Michael itu akan adik yang baik. Tidak boleh---" Kalimat Claudia disela.


"Kamu menyukainya kan? Kalau menyukai kenapa harus bercerai?" Tara menghela napas kasar.


"I...itu...aku tidak mungkin mencintainya!" Bentak Claudia lagi.


"Kenapa? Jika hanya wajah operasi plastik bisa memperbaikinya." Tanya wanita itu semakin mendesak. Benar-benar kesal rasanya terlibat lebih jauh dalam kehidupan sahabatnya yang benar-benar lamban.


Claudia mengepalkan tangannya. Ada apa sebenarnya dengan dirinya? Tidak! Tidak boleh seperti ini. Tetap pada tujuan awal.


"Dia tidak memiliki pendidikan yang tinggi, juga bukan dari keluarga berada. Pria yang aku sukai tidak boleh berada di bawahku. Aku tidak mencintainya..." Jawaban dari Claudia dengan bibir bergetar. Ini sebuah kenyataan bukan? Kenapa hatinya terasa sakit setiap kali berucap.


Tidak menyadari segalanya. Seseorang berdiri di depan pintu hendak menikmati makan siangnya. Tangannya yang terangkat untuk memegang handel pintu terhenti.


"Kamu tidak jadi membersihkan ruangan Bu Claudia?" tanya Fransiska (sekretaris Claudia).


Michael menggeleng."Aku kurang enak badan. Jika aku tiba-tiba pingsan di ruangannya bagaimana?" gurauannya.


Sebuah pertengkaran dengan nada tinggi, segalanya dapat didengar olehnya. Wajahnya tertahan tetap tersenyum, tidak begitu banyak orang yang mengetahui tentang dirinya.


Claudia menutupi segalanya tentang pernikahannya. Pernikahan yang lebih banyak mengundang orang desa, daripada kenalan Claudia di kota. Acara pernikahan yang begitu meriah dimata orang desa sepertinya. Tapi mungkin itu hanya bagaikan pernikahan sederhana yang tertutup. Terlalu memalukan memiliki suami dengan wajah yang rusak, bahkan jika tidak rusak, Michael hanya seorang pemuda dengan status pendidikan yang rendah.


"Nanti aku akan mengirim office boy lainnya untuk membersihkan ruangan Bu Claudia." Senyuman ramah dari Michael.


Namun, kala melewati koridor senyuman itu menghilang. Mengapa jatuh cinta dapat semenyakitkan ini? Tidak seharusnya dirinya jatuh cinta, seperti apa yang dikatakan neneknya.


Menyesal? Tidak ada jalan kembali kala hatinya telah berlabuh. Mungkin akan ada jalan kembali kala kapal tua itu telah karam.


*


Seperti biasanya bibirnya tersenyum. Membersihkan beberapa area lainnya. Ada beberapa pesan dari Claudia mengapa dirinya tidak datang untuk makan siang.


Hanya memberikan jawaban, dirinya memilih untuk makan di area cafetaria. Mendengarkan celotehan dari para karyawan. Sebuah kebohongan bukan?


Mungkin untuk pertama kali lidahnya menyentuh makanan yang terbilang biasa. Tapi cukup enak baginya, hari ini dirinya memakan makanan yang begitu enak.


Mengapa? Makanan siang ini terus terfikirkan baginya. Terkadang sebuah kepura-puraan begitu menyakitkan. Bahkan rasa suka tidak akan bertambah setelah sekian lama bersama.


Tidak menitikkan air matanya, tapi ini terasa menyakitkan.

__ADS_1


"Kenapa sekarang?" Suara Claudia terdengar berjalan melewati lorong. Senyuman menyungging di wajah Michael. Dapat melihat wajah itu, merindukannya. Bukankah seharusnya dirinya makan siang bersama saja, walaupun itu berlandaskan kepura-puraan.


"Mereka protes karena kita melakukan pembatalan kontrak sepihak." Suara seorang pria, suara yang dapat dikenalinya dengan mudah. Itulah adalah suara Evan. Berjalan bersama diikuti beberapa orang dari tim bagian desain.


Terlihat begitu keren, seorang wanita karier berpendidikan tinggi, mengenakan setelan hitam putih, serta high heels, berjalan bersama dengan seorang pria yang dapat dikatakan rupawan, mengenakan setelan jas.


Inilah yang dinamakan serasi bukan? Dirinya hanya tersenyum dalam hati menertawakan dirinya sendiri. Menunduk di hadapan atasan, sedikit menyingkir memberikan jalan untuk mereka yang lebih sibuk lewat.


Tidak ada perselingkuhan, Claudia berjalan di samping Evan, dengan diikuti beberapa staf. Tapi dirinya kini menyadari seberapa tingginya langit. Dan betapa kecilnya dirinya yang hanya seekor semut.


Seekor semut merangkak di tanah, berfikir ingin menggapai langit. Dengan menaiki ilalang yang paling tinggi baginya. Namun, semut kecil hanya tertegun setelah berusaha sejauh ini. Menatap ke arah langit, mencoba untuk menggapainya.


"Tidak akan bisa..." Gumam Michael, pada akhirnya tangisan yang tidak keluar sama sekali terdengar. Terduduk di lantai koridor, menyandarkan punggungnya pada dinding.


Jatuh cinta bagaikan wangi rerumputan yang tertiup angin. Namun kala cinta itu tidak mungkin berbalas, satu persatu pedang akan menancap di hatimu.


Menjalani hari seperti biasanya. Hingga tubuhnya terkoyak, tidak dapat lagi bertahan. Itulah cinta pertama bagi Michael.


*


Tidak banyak bicara, pemuda itu hanya tersenyum. Masih sama seperti biasanya.


Makan malam bersama, dalam unit apartemen. Beberapa jenis hidangan dibuat oleh Michael.


"Tidak apa-apa, membahagiakan melihatmu makan dengan lahap." Michael menghela napas kasar.


Kala itulah handphone yang dilengkapi dengan kode sandi itu diletakkan Claudia. Mulai menikmati makanan yang dibuat oleh Michael."Kamu yang terbaik! Dapat melakukan apa saja!" pujian darinya.


"Tidak bisakah kamu mencintaiku?" Pertanyaan dari Michael, tetap tersenyum menyembunyikan kegugupannya.


"Aku mencintaimu. Sudah aku bilang kan, aku mencintaimu pada pandangan pertama." Claudia tertawa kecil, menyuapinya dengan makanan.


Siapa yang dapat menolak? Dirinya tidak dapat marah, hanya mengunyah penuh rasa syukur.


"Claudia bagaimana jika kita ke dokter. Ada dokter yang bagus untuk program memiliki anak." Kalimat demi kalimat yang lebih berhati-hati. Dirinya mengetahui, berpegangan tangan sembari tidur tidak akan pernah ada keturunan yang tercipta. Membohonginya? Sebuah kebohongan yang diikuti Claudia. Hanya satu tahun, sampai itulah batas waktu perceraian mereka.


Tidak akan ada pembelaan, dirinya tidak memiliki uang untuk menyewa pengacara, menghentikan Claudia. Apa yang tersisa? Dirinya akan kembali sendiri, di tempat yang dinamakan kota.


Michael, mungkin berfikir saat ini. Neneknya benar, tidak menikah dan hidup di desa lebih menyenangkan. Membaca buku sambil membawa sapi dan kerbau kesayangannya ke ladang.

__ADS_1


Awan yang mulai ramah padanya, mungkin akan menjadi teman yang baik. Kota? Tempat yang begitu menyesakkan melihat kenyataan yang ada.


Dirinya hanya seekor semut yang berdiri di atas ilalang. Melihat bagaimana tingginya langit yang dicintainya.


"Ti... tidak perlu! Cukup seperti ini, kita akan memiliki anak! Kamu mencintaiku kan? Tidak ingin menyakitiku." Pertanyaan itu lagi diucapkan olehnya.


Bibir Michael bergetar, senyuman tetap tersungging disana."Benar! Seperti ini saja."


Tidak menyadari segalanya. Pemuda yang masih memiliki hati yang tersisa. Jika, jika saja dirinya lebih cerdas dan memiliki status tinggi, apa Claudia akan mencintainya?


Dua orang yang menikmati makan malamnya. Penuh dengan tawa dan cerita. Tidak menyadari salah satu hati terluka. Cinta sepihak yang menyakitkan. Teruslah seperti ini, hingga perlahan semut itu menghilang.


Kala itulah langit yang mencarinya tidak akan pernah menemukannya.


...Sebuah cerita tentang semut kecil yang memiliki banyak mimpi....


...Terbangun di bawah rerumputan pendek, naik perlahan. Menemukan cerah cahaya yang indah....


...Langit menyapa makhluk kecil itu. Makhluk kecil yang ingin meraih sang langit....


...Mencintai dalam kebohongan dan kepalsuan, seakan langit adalah miliknya....


...Aku mencintai langit, kata yang terucap dalam perjuangan sang semut....


...Namun, segalanya berubah setelah dirinya memanjat ilalang yang tinggi. Langit tidak jua dapat berada dalam dekapannya....


...Menatap ke arah sekitar, ada banyak pohon yang lebih tinggi mengangumi langit....


...Ini menyesakkan baginya, bulan, bintang, bahkan matahari berada di sekitarnya....


...Kala itulah semut menghilang. Tidak ada lagi celotehan pujian dari sang semut, pada langit....


...Langit menatap ke arah rimbunnya tanaman ilalang. Merindukan semut yang tidak dicintainya....


...Tidak dicintainya? Lalu ini apa......


...Hujan turun perlahan, bagaikan air mata yang mengalir. Kala menyadari terlalu banyak ilalang, dirinya tidak akan pernah dapat menjumpai sang semut lagi....


...Kecuali...jika semut kembali mencintai dan memanggil namanya....

__ADS_1


Author...



__ADS_2