
Tidak ada yang dapat diucapkan olehnya. Tertunduk sejenak bingung harus menjawab bagaimana. Bibirnya bergetar berusaha tersenyum."Michael salah paham, tapi kami akan memperbaiki semuanya..." Jawaban darinya menyakinkan dirinya sendiri, segalanya akan kembali seperti semula.
Kembali seperti semula? Apa akan semudah itu? Kala dirinya kembali ke apartemen tidak akan ada yang menyambutnya sama sekali. Pria berwajah buruk yang selalu mengagungkan dan memujinya.
Rumah bagaikan gubuk itu kini berada di hadapan mereka. Mengetuk pintu berkali-kali, seperti yang sudah diduga, tidak ada jawaban sama sekali. Rumah itu telah lama kosong, semenjak dirinya menikah dengan Michael.
"Tidak ada orang..." Kalimat yang diucapkan wanita paruh baya yang mengantar mereka. Matanya menelisik menyadari Claudia menitikkan air matanya tiada henti. Pertanda sebuah masalah tengah terjadi dalam rumah tangga mereka.
Wanita itu menghela napas kasar."Susah memang kalau ibu mertua sudah terlibat, apa lagi Michael lebih tertutup pada orang lain kecuali keluarganya. Tapi suami akan pulang, asalkan sudah kangen dengan urusan ranjang..." ucapnya berusaha untuk menghibur.
Tapi bukannya terhibur Claudia malah menangis semakin kencang. Sedangkan Tara memeluknya berusaha menenangkannya. Bagaimana tidak menangis semakin kencang, Michael tidak akan rindu dengan urusan ranjang, suaminya masih perjaka hingga kini. Begitu juga dengan dirinya yang masih tersegel rapi.
Tidak ada yang diucapkan Tara untuk menenangkan sahabat laknatnya. Membawa Claudia dalam pelukannya, hanya orang bodoh yang menepis rasa kasih tulus padanya, itulah Claudia.
Jika dirinya adalah Michael, mungkin akan memutuskan hal serupa. Mungkin ini akan menjadi pelajaran hidup yang berharga bagi Claudia.
*
Kembali ke apartemen, dirinya memutuskan untuk mengambil absen hari ini. Kesehatan yang buruk menjadi alasannya. Tubuhnya lemas tidak dapat makan dan tidur dengan baik. Rumah tangganya kini berada di ujung tanduk. Siapa yang akan dapat hidup normal seperti tidak terjadi apa-apa.
Membuka matanya tepat pada pukul 12 siang, kepalanya masih terasa sedikit berat. Tidak seperti biasanya, sarapan dan makan siang bersama. Kini hanya duduk seorang diri di meja makan yang cukup luas. Belum makan sesuap pun, dirinya benar-benar ingin makan.
__ADS_1
Matanya menatap ke arah jendela, menampakan pemandangan langit biru yang luas. Michael selalu mencemaskannya, apa Michael akan kembali jika dirinya tidak makan? Itulah yang ada di benaknya saat ini.
Air mata itu kembali mengalir dalam wajahnya yang tanpa ekspresi. Perlahan jemari tangannya terangkat, memakan bubur instan di hadapannya.
"Tidak enak..." gumamnya, merindukan makanan percobaan yang selalu dibuat Michael. Kemarin adalah hari minggu yang menyenangkan, setidaknya itulah yang ada dalam rencananya.
Mengakui perasaannya pada pemuda yang dicintainya. Mengapa kala melihat Evan tidur dengan Erlina tidak sesakit ini? Karena Evan tidak pernah mencintainya seperti Michael mencintainya.
Suami yang menyayangi dan tersenyum padanya, lenyap hanya karena kesalahan pahaman."Bodoh! Dulu aku memang tidak mencintaimu! Tapi sekarang aku mencintaimu, hanya kamu yang membuatku tertawa dan menyayangiku ..." Wanita yang merindukan sebuah pelukan hangat, pemuda yang selalu tulus menjadi tempat untuknya pulang.
Hanya dua suap makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Dalam harapan Michael akan kembali, segalanya akan kembali seperti semula. Suaminya yang manja, tapi selalu terlihat dewasa, untuk mencintainya dengan cara yang baik.
Hingga tepat pada pukul 3 sore pintu apartemen terbuka. Tara datang membawa beberapa jenis cake. Matanya menatap ke sofa dimana Claudia berada saat ini.
Sangat menyedihkan, mengenaskan, wanita dengan lingkaran hitam di sekitar matanya bagaikan panda, matanya juga bengkak akibat air mata yang tidak berhenti mengalir bagaikan air terjun Niagara. Hatinya terluka terlalu dalam sedalam palung Mariana. Tidak heran ini karena cintanya kandas akibat badai Katerina yang menerjang keutuhan rumah tangganya.
"Untung belum mati!" Celoteh Tara, mengambil minuman bagaikan ini rumahnya sendiri. Tidak ada jawaban Claudia hanya melirik sedikit saja.
Tara menghela napas kasar, mencoba menghibur sahabatnya."Bagaimana jika nanti malam kita pergi ke club'malam?"
"Pesan dari Michael, dia akan mengawasiku dan akan segera kembali." Jawaban dari Claudia menatap ke arah langit-langit ruangan.
__ADS_1
"Itu artinya walaupun kecewa tapi dia masih peduli bukan? Mungkin cuma ibunya saja yang terlanjur sakit hati padamu." Tara membuka salah satu kotak berisikan potongan strawberry cake. Kemudian menyuapi Claudia.
"Jika Michael tidak pulang..." Gumam Claudia dengan mulut dipenuhi kue.
"Michael akan pulang, setidaknya jika dia mengajukan perceraian kamu akan dipanggil ke persidangan. Kalian akan bertemu, saat itulah kamu dapat menjelaskan, bahkan menggodanya. Bawa dia ke hotel sebagai perangkap, lalu ikat dan lecehkan dia!" Ucap Tara menggebu-gebu membayangkan, Michael yang tampan berwajah manis, diikat di tempat tidur oleh Claudia yang agresif.
Wajahnya memerah, ketakutan tapi ingin Claudia melajukan segalanya. Menatap Claudia yang berada di atas tubuhnya, membuka kancing kemeja Michael."Kakak..." ucap Michael memohon, merintih dalam imajinasi Tara. Astaga! Adegan 21 tahun ke atas yang tidak biasa.
"Begitu?" Claudia mengenyitkan keningnya, mulai duduk. Tara benar, dunia ini tidak akan runtuh dengan mudah. Mereka belum bercerai, Michael tidak dapat menikah lagi, jikapun Michael ingin bercerai, mau tidak mau mereka akan bertemu di pengadilan. Saat itulah dirinya akan menyatakan cintanya dengan benar. Akan ada adegan romantis dengan dekorasi dan beberapa pemusik disertai bunga. Jika tidak berhasil juga, Tara benar! Culik, bawa ke kamar hotel, ikat, mau tidak mau jika hamil Michael tidak akan bisa kabur.
"Benar kan? Masih ada jalan, dunia ini belum runtuh. Kecuali Michael sudah menikah lagi atau dia mati, kamu masih dapat mengejarnya. Semangat! Itulah kuncinya!" Tara memberikan motivasi pada sahabatnya yang kini mulai berselera makan.
"Tentang ibu mertua apa yang harus aku lakukan?" Tanya Claudia benar-benar gugup.
"Tunggu! Biar aku fikirkan! Ini sedikit sulit, mertuamu orang kampung yang menjadi TKI di Hongkong. Ibu mertua yang biasanya berasal dari desa sedikit lebih sulit, seperti istri harus telaten mengurus suami, tidak boleh bekerja, usiamu juga sudah 30 tahun lebih, jadi beberapa tahun lagi akan kesulitan melahirkan anak. Pantas saja ibu mertuamu sewot, ingin anaknya bercerai." Bagaikan pedang yang menancap, Claudia membayangkan bagaimana ibu mertuanya. Sudah pasti ibu-ibu berdaster yang akan menarik rambutnya, karena sudah mempermainkan hati anak laki-lakinya.
"Ba... bagaimana jika aku membawanya berbelanja bersama. Sebagian bentuk suap..." Ucap Claudia penuh rencana.
"TKI yang bekerja bertahun-tahun di Hongkong! Kamu fikir ibu mertuamu tidak punya uang tabungan. Mungkin karena itu dia membawa Michael, walaupun tau seberapa kaya dirimu!" Tara memijit pelipisnya sendiri, tipikal ibu mertua yang sulit dihadapi? Itulah yang ada dalam imajinasinya.
"Satu-satunya jalan! Jika bertemu dengan Michael, lecehkan dia! Kamu harus mengandung! Jangan tidur sambil berpegangan tangan lagi, itu hanya mitos!" Tegas Tara, menantikan bagaimana sungai kering, menjadi deras mengaliri lahan yang bertahun-tahun tidak terkena hujan. Aktivitas menanam jagung yang ditunggu-tunggu.
__ADS_1