Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 56. Hate Me


__ADS_3

Menghela napas kasar, menatap ke arah sang pemuda yang mengambil beberapa berkas. Minuman dengan kadar alkohol rendah itu diminumnya sedikit. Sembari menunggu kedatangan Micky.


Hingga pemuda itu duduk di hadapannya, meminum minuman miliknya. Sedangkan Claudia kembali meminum sedikit lagi, hingga tinggal setengah yang berada di gelas Claudia. Sedangkan gelas Micky telah tandas.


"Apa ini?" tanya Claudia pada pemuda di hadapannya.


"Rencana akuisisi perusahaan milik keluargamu. Juga tawaran keuntungan dari beberapa travel yang menghentikan kerjasama dengan resort dan restauran milikmu." Jawaban dari Micky masih tersenyum.


Claudia menatap sinis, entah kenapa pemuda itu menunjukkan ini padanya. Satu persatu halaman dibacakan dengan seksama. Benar-benar perencanaan yang matang, pantas saja pemuda ini dapat membuat presentasi dengan waktu singkat.


Namun, entah kenapa tulisan di hadapannya perlahan bergoyang, terlihat samar. Ada apa sebenarnya? Kepalanya terasa berat.


"Bagaimana? Meskipun kamu tau apa rencanaku, apa kamu akan dapat menghadapinya?" Pertanyaan dari pemuda di hadapannya. Pemuda yang tersenyum lebar, semakin samar dalam penglihatannya.


"A...apa rencanamu?" tanya Claudia mengira dirinya tengah tidak enak badan. Berusaha mempertahankan kesadarannya.


"Rencanaku? Membawamu ke ranjangku. Meskipun kamu tidak bersedia. Mengurungmu selamanya di kamarmu. Agar kamu tidak dapat bertemu dengan Evan lagi..." Kalimat demi kalimat yang tidak dapat dicerna olehnya. Wajah dan kata-kata pemuda itu semakin samar saja.


"Gelang di kakimu, memiliki beberapa lonceng kecil, agar kemanapun kamu pergi aku dapat menemukanmu. Itu artinya mengikatmu seumur hidup denganku..." Kalimat terakhir yang tidak jelas didengar oleh Claudia. Kesadarannya menghilang total. Seluruh dunia ini terasa gelap.


*


Perlahan dirinya terbangun, menatap ke arah sekitar. Anehnya tubuhnya terasa lebih segar, apa dirinya tidak sempat pingsan? Entahlah.


Namun ketika membuka mata, dirinya berada di tempat tidak dikenal. Matanya menelisik, ruangan yang luas, lebih luas daripada kamarnya di rumah milik almarhum orang tuanya.


Arsitektur dan perabotan berkelas berada dimana-mana."Ini dimana?" gumam Claudia menelan ludahnya.

__ADS_1


Wanita yang menyadari sesuatu, tubuhnya tidak berbalut sehelai benangpun, hanya tertutup sebuah selimut. Ketakutan? Itulah yang ada di benaknya saat ini.


Namun, bagian pangkal pahanya tidak lembab dan terasa sakit. Tidak juga ada bekas apapun di tubuhnya.


Ketakutan, hanya memakai selimut, dirinya membuka lemari. Tapi nihil, dalam lemari hanya terdapat perhiasan wanita tanpa satupun pakaian di dalamnya.


Dirinya ingin keluar, tapi tidak dalam keadaan seperti ini. Bagaimana caranya menutupi tubuh dengan perhiasan?


Hal yang paling mendasar, entah ini berada dimana. Apa kamar hotel? Apa ini perbuatan si playboy sialan? Jika dirinya berteriak, keributan akan terjadi. Ingat! Claudia tidak memakai sehelai benangpun di balik selimutnya.


Hingga pintu tiba-tiba terbuka, pemuda itu terlihat disana. Mendorong troli berisikan berbagai makanan.


"Dimana pakaianku!" Bentak Claudia padanya.


"Kamu akan tinggal di kamar ini selamanya. Untuk apa perlu pakaian?" Kalimat tidak masuk akal dari Micky.


"Aku akan menghubungi polisi." Ancaman dari Claudia.


"A...aku ingin pulang..." pinta Claudia ingin menangis rasanya.


"Tidak bisa, kita sudah terikat. Kamu hanya perlu makan, tidur, dan memilih perhiasan mana yang kamu sukai. Memakai perhiasan aku ijinkan, tapi untuk pakaian? Tentu saja tidak boleh." Jawaban penuh ketenangan dari sang pemuda, menata makanan memastikan segalanya terlihat sempurna.


"To ... tolong aku, aku tidak bisa disini! Kembalikan pakaianku! Aku harus pulang!" Bentak Claudia putus asa, memukul-mukul dada sang pemuda. Tapi pukulan yang bagaikan tidak terasa, wajahnya tersenyum puas. Memegang dagu Claudia dengan jemarinya agar menghadap menatap wajahnya.


"Ini rumah kita mulai sekarang, sayang. Akan aku pertimbangkan tentang pakaianmu setelah kita memiliki satu anak." Kalimat yang benar-benar tidak normal.


Senyuman manis dengan wajah rupawan, tapi kalimat mengikat bagaikan lilitan rantai iblis. Obsesi, benar-benar sebuah obsesi yang gila.

__ADS_1


Claudia hanya dapat menangis terisak, seakan gemetar kehabisan tenaga. Namun, pemuda itu memeluknya erat, lebih tepatnya dipeluk secara paksa."Jangan menangis, aku tidak suka melihatmu menangis. Lebih senang jika kamu tersenyum menggodaku, jangan menangis ya?" Pinta sang pemuda yang berusaha tersenyum menitikkan air matanya.


Merindukan Claudia? Dirinya terlalu merindukannya hingga berbuat sejauh ini."Jangan menangis..." bisiknya lagi.


Apa yang terjadi selanjutnya? Claudia masih menahan malunya, hanya memakai selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Dirinya terisak memakan makanan di hadapannya. Segalanya terasa menyeramkan baginya, lebih tepatnya terasa asing.


Makanan dengan harga tinggi, caviar, lobster, bahkan daging berkwalitas tinggi terhidang. Pemuda di hadapannya ini tersenyum, tapi tidak berniat melepaskannya sedikitpun.


Memberikan berbagai makanan padanya. Bahkan berusaha menyuapinya, namun dirinya harus waras dan berfikiran logis untuk kabur dari pria ini. Terlalu brutal dan menyeramkan baginya, berusaha mengunyah makanannya.


Harus memiliki rencana dan tenaga untuk kabur. Menghela napas berkali-kali.


"Sayang, cintai aku ya?" Kalimat penuh senyuman, bagaikan psikopat. Pria ini tidak normal, itulah yang ada dalam fikirannya. Tidak mungkin mencintainya tiba-tiba hanya dalam dua kali pertemuan.


Dirinya mulai berfikir, jika menolak maka cepat atau lambat dirinya akan mati. Claudia mengangguk pada akhirnya."A...aku akan mencintaimu..." gumamnya gemetar, air matanya masih mengalir ketakutan.


"Kamu jangan menangis. Setiap detik aku selalu merindukanmu. Karena itu aku berbuat sejauh ini. Kamu ingin apa? Memiliki hewan peliharaan? Aku bisa mencarikan kucing atau hamster untukmu. Asalkan jangan keluar dari tempat ini."Kalimat demi kalimat yang terasa mengerikan, tangannya gemetar. Bagikan terkurung dalam sangkar emas.


"Ka... kamu gila!" Tidak tahan lagi pada akhirnya ucapan itu dilontarkan Claudia.


"Aku gila karena mencintaimu, aku hanya memiliki cinta untukmu..." Pemuda yang sering dipanggil Micky itu tersenyum.


Tidak seperti pertama bertemu Michael, Claudia tertawa kencang mendengarnya. Kali ini Claudia ketakutan, menangis dengan setiap kalimat yang diucapkan pemuda rupawan ini.


Pemuda yang kembali mendekat memeluknya erat."Sayang, jangan menangis lagi. Asalkan kamu tidak mencintainya (Evan) lagi, hanya boleh mencintaiku. Maka kita dapat bersama, aku akan mencarikanmu pakaian yang indah, dari desainer ternama. Tolong katakan, kamu bersumpah hanya akan mencintaiku."


Claudia hanya terdiam dalam tangisannya. Dirinya tidak dapat mengatakan mencintai pria mengerikan ini. Hatinya sudah ada pada Michael.

__ADS_1


"A...aku membencimu." Gumam Claudia.


"Bencilah aku, tapi setelah itu tolong cintai aku."


__ADS_2