
🍀 Warning! Tidak fulgar! Tapi bagi bocil, harap skip chapter ini!🍀
Claudia terdiam sejenak, mencari kesungguhan disana. Michael? Apa ini benar-benar Michael? Namun, wajah yang berbeda, sifat, mungkin hanya postur tubuh dan suara yang sama.
Sesuatu yang baru disadarinya, hanya karena nada bicara dan prilaku. Air matanya mengalir, benar-benar terisak di hadapan pemuda ini.
"Jangan menangis, sudah aku bilang, jangan menangis." Pintanya menghentikan tindakannya. Pemuda yang menghela napas kasar."Lain kali saja," pada akhirnya kalimat itulah yang terucap, tidak tega sama sekali pada wanita ini.
Hendak melangkah meninggalkan kamar mereka. Namun, pelukan seorang wanita pada punggungnya membuat langkahnya terhenti. Wanita yang terisak dalam tangisannya."Jangan pergi..." pintanya.
Michael hanya terdiam mencerna segalanya. Merasakan wanita itu tetap menangis bersandar di punggungnya.
"Aku sudah mengatakan akan menunggumu untuk melupakan Evan. Jadi---" Kalimat Michael dipotong.
"Aku tidak menyukai Evan! Dasar bodoh! A...aku sudah melupakannya! A...aku sudah melupakannya! Michael, maaf! Jangan pergi lagi!" Pinta Claudia lirih, tubuhnya bergetar dalam tangisan. Bagaikan tidak memiliki tempat berpijak.
"Satu tahun, pernikahan kita akan berakhir dalam satu tahun bukan? Aku mengetahui segalanya. Jika ini hanya untuk menipu atau menghiburku maka---" Kalimatnya lagi-lagi disela.
"Aku tidak berbohong! Aku mencintaimu! Wa... walaupun pada awalnya tidak. Tapi aku mencintai perhatian, mencintai kamu yang membuatku nyaman. A ...aku tidak berbohong. Orang dari masa lalu yang aku cintai hanya kamu." Kalimat demi kalimat yang diucapkan Claudia, membuat Michael tertegun, menutup mulutnya sendiri menggunakan tangan kanannya. Perlahan senyuman menyungging di bibirnya.
"Apa ini kebohongan?" tanyanya lagi, berbalik menghadap ke arah Claudia.
Wanita itu menggeleng."Aku tidak berbohong. A....aku tidak berbohong!"
Dengan cepat Claudia berjinjit, mengalungkan tangannya pada leher pemuda yang lebih tinggi darinya. Hanya hening sesaat, bibir pemuda itu menyatu dengan bibirnya.
Sepasang lidah yang bertubrukan, seakan merindu. Bahkan sesekali terlihat saling melilit di luar lidah.
"Miliki aku..." pinta Claudia dalam derai air matanya yang masih mengalir. Tidak ingin penjelasan atau apapun. Dirinya takut kehilangan, ini benar-benar Michaelnya.
Mengapa dirinya tidak menyadarinya? Setiap napas dan aroma yang sama. Mungkin hanya sifat yang berbeda. Benar-benar berbeda.
Pemuda yang menatap ke arahnya."Aku mencintaimu," hanya itulah kalimat yang terucap, kala menurunkan bagian bahu pada kimono satin Claudia yang basah. Mengecup pelan setiap celah bahu itu, mengantarkan sensasi aneh pada tubuh sang wanita.
"Aku juga, miliki aku! Jangan pergi lagi..." pinta Claudia lirih.
Sedikit tubuh yang terekspos, tali kimono satin itu ditarik jemari tangan sang pemuda. Sedangkan Claudia melepaskan dasi yang dipakai Michael. Bibir mereka bertaut, saling mengecup bagaikan tidak sadarkan diri. Tidak memiliki kesadaran, seakan terbuai dalam obsesi mereka. Ingin memiliki, tidak ingin kehilangannya.
__ADS_1
Kancing kemeja yang terlepas sempurna, perlahan kemeja putih itu terjatuh ke lantai. Bertumpuk dengan kimono satin yang basah.
Sepasang tubuh berpelukan, perlahan menghangat. Kala sedikit demi sedikit tubuh mereka semakin tanpa memiliki pembatas.
Ini hangat, mungkin itulah yang ada dalam fikiran mereka kini. Serakah! Ingin lagi dan lagi untuk memilikinya.
Srak!
Tak!
Ikat pinggang pria terjatuh di lantai. Diiringi dengan pakaian dalam bagian atas wanita. Sedikit demi sedikit, semakin serakah saja dengan rasa ini. Celana panjang pria pada akhirnya luruh terjatuh di lantai.
Perasaan berdebar nyaman yang terasa. Sensasi gila yang mematikan akal sehat mereka.
Bug!
Sepasang tubuh terjatuh di atas tempat tidur pada akhirnya. Profesional? Tidak ada kata itu dalam diri mereka. Hanya mengikuti naluri saja. Pemuda yang menatap ke arahnya.
"Benar, ini Michael..." Gumam Claudia merindukannya.
Michael hanya mengangguk."Bahkan jika ini kebohongan. Aku akan menjadi cukup bodoh untuk mempercayainya."
Orang yang dicintainya? Itulah Michael. Menyerahkan tubuhnya pada orang ini. Kalau demi kalimat yang tertahan, menikmati betapa serakah bibir pemuda ini.
Secara naluriah, menurunkan ciumannya. Ke arah tulang selangka, merambat berlabuh, bersamaan dengan Claudia yang mencengangkan sprei tempat tidur.
Malu? Perasaan itu ada, untuk pertama kalinya ada pria yang melihat setiap jengkal tubuhnya. Ini gila! Mengapa dirinya membiarkan Michael melakukan ini?
Pemuda yang bagaikan kehausan, mata Claudia yang sayu melihat segalanya. Pemuda itu menikmati tubuhnya bagaikan menggila. Tapi dirinya lebih gila lagi menjambak rambut Michael, menekan kepalanya, seakan tidak ingin pemuda itu mengakhirinya.
Dirinya bagaikan menginginkan lebih. Seluruh tubuhnya bergetar. Ada perasaan yang lebih aneh lagi. Entah sejak kapan boxer sang pemuda dan kain terakhir yang menutupi tubuhnya telah tanggal.
Jantungnya berdegup semakin cepat, pemuda itu kembali menikmati bibirnya.
Michael sudah gila! Bahkan dirinya lebih gila lagi. Tidak ada batasan sama sekali, seluruh tubuh pemuda itu terasa bergesekan dengan tubuhnya. Awam dengan segalanya.
Napas Claudia terdengar terputus-putus. Bagaikan tengah berlari, ini sulit. Semakin lama terasa semakin indah.
__ADS_1
Jika difikirkan menjijikkan, namun kala mengalaminya, ini indah.
"Claudia, setelah ini kamu tidak akan dapat pergi dari hidupku." Bisik Michael seakan meminta ijin padanya.
Wanita itu mengangguk."Temani aku hingga aku tua. Bahkan jika matipun, aku ingin kita tetap bersama." Kalimat yang diucapkan Claudia, mengecup bibir Michael.
Mereka adalah dua orang dewasa, sepasang manusia yang juga memiliki keinginan. Lidah yang saling menyapa, semakin nikmat kala dirinya menyadari, pemuda itu begitu berhati-hati menggoda kewarasannya.
Membuatnya gila, hanya dengan bergesekan semakin lama tanpa ada niatan untuk menyatukan tubuh mereka.
"Michael?" Satu pertanyaan seakan Claudia sendiri yang meminta.
"Sttt..." Michael tersenyum, memberikan pertanda agar Claudia diam.
Apa maunya pemuda ini? Entahlah! Dua otak yang sudah tercemar napsu. Pemuda yang kembali mencium bibir Claudia agresif.
Ini sulit bukan? Cakaran terasa di punggungnya, bersamaan dengan jeritan lirih Claudia yang tertahan. Dirinya menyesal dengan rasa sakit ini? Tidak! Jika ini dapat mengikat Michael ini sepadan.
Napasnya tersengal-sengal, bukan dalam waktu singkat. Cukup sulit untuk melakukannya. Terdiam dalam air mata yang mengalir. Suasana terasa hening sejenak.
"Ugh..." Lenguh Michael. Diiringi dengan jeritan Claudia yang kembali terdengar. Rasa sakit perlahan menghilang, ini menyakitkan? Tentu saja. Namun, pemuda ini telah memilikinya. Apa yang harus dilakukannya?
Pria yang mengatakan saat wawancara hanya bermodalkan cinta. Pangeran menunggang kerbau, siapa yang sangka?
Dulu dirinya selalu berimajinasi memiliki anak dari Evan. Hidup bahagia dengannya. Tapi bagaikan frame foto yang retak, hal itu telah berlalu. Berganti sebuah foto yang baru, dirinya ingin memiliki anak dari pria ini.
Ugh!
Lenguh mereka bersamaan, sekujur tubuh yang menegang merasakan rileks. Hormon endorfin bagaikan terlepas. Mengantar seluruh syaraf mereka dalam ketenangan dan kebahagiaan.
Mendekap tubuh Claudia erat, segalanya telah berlalu.
Dua orang yang terdiam beberapa saat. Hingga.
"Aku ingin lagi!"
"Aku ingin lagi!"
__ADS_1
Ucap dua orang itu bersamaan, kemudian tertawa kecil. Kembali berciuman.