Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 60. Bintang


__ADS_3

Seorang wanita terdiam menatap lapisan es yang mulai mencair. Menghela napas kasar, menuang sake paa cawan kecil guna menghangatkan diri. Bukan tempat gemerlap, tapi hanya semacam kedai yang ada di pinggir jalan.


Menamatkan pendidikannya di bidang botani, di salah satu universitas terkemuka di Jepang. Dirinya berharap dapat disetujui menikah dengan Shin, kemudian menjadi pengelola perkebunan buah dan peternakan milik almarhum kakek kekasihnya.


Hidup makmur seperti dulu? Hanya itu tujuannya. Dirinya tersenyum lebih tepatnya tertawa kecil. Shin terlalu baik hati, benar-benar mengembalikan biaya pendidikannya pada Yuki. Dan yang paling mengesalkan hanya sedikit dari pembagian lahan yang didapatkannya.


Ditambah harus mengelola di desa yang sepi dan dingin seperti ini."Sial!" gumamnya dalam senyuman.


Kehidupannya bagaikan dijungkir balikkan. Masih teringat di benaknya kala dirinya menjadi anak berusia 5 tahun di panti asuhan. Seorang kakak tiba-tiba membawa pangeran tampan ke hadapannya.


Mengatakan jika pangeran ini memerlukan pertolongan, memintanya untuk memanggil orang dewasa. Sedangkan kakak yang telah memakai seragam sekolah dasar itu terburu-buru pergi.


Dirinya memang meminta pertolongan orang dewasa saat itu. Pangeran yang tidak sadarkan diri, itulah yang ada dalam benaknya saat itu. Bukankah jika menikah dengan pangeran akan menjadi seorang putri, itulah yang ada di benak Selvia.


Hingga ketika pangeran itu sadarkan diri, dia berkata ingin menikah dengannya. Sebuah pemikiran konyol anak berusia 5 tahun yang mengikuti cerita dongeng.


Tapi siapa sangka hal itu benar-benar dikabulkan. Anak yang dianggapnya bagaikan pangeran itu merupakan putra keluarga kaya. Mengabulkan keinginannya untuk bertunangan di usia dini.


Hal yang indah bagaikan negeri dongeng. Mengingat 11 bulan yang dilewatinya sebagai tunangan orang itu. Anak yang lebih protektif dan ambisius dari pada Shin, tunangan yang selalu mengutamakan kepentingannya, mengabulkan semua keinginannya.


Apa yang tidak dimilikinya saat itu? Segalanya sudah dimilikinya. Bahkan Michael selalu tersenyum menyuapinya dengan makanan. Sebuah mimpi yang indah, hingga segalanya bagaikan runtuh saat Yuki mengatakan Michael meninggal setelah mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit di Singapura, akibat trauma yang dialaminya.


Trauma akibat kematian Argon. Rasa bersalah membuat tubuh dan psikisnya lemah. Hingga meninggal dalam waktu kurang dari setahun setelah kematian Argon.


Andai saja saat itu dirinya tidak tertipu, andai saja saat itu dirinya cukup pintar, maka Argon tidak akan mati. Michael yang mencintainya juga tidak akan pergi menyusul.


Bagaimana jika anak itu tumbuh dan bertahan hidup? Akankah menjadi bagaikan pangeran tampan dalam imajinasinya? Dirinya mungkin sudah mabuk, namun rasa penyesalan itu masih ada.


Berimajinasi memiliki kekasih sempurna yang menyerupai tunangan kecilnya. Andaikan Michael masih hidup, mungkin dirinya akan menjadi wanita paling bahagia dan dimanjakan.

__ADS_1


"Sudah malam." Shin tersenyum menjemput kekasihnya, memakaikan syal pada Selvia.


"Aku ingin kembali ke Okinawa." Wanita itu meminum sakenya seteguk lagi.


"Kita hanya perlu bersabar, kakek memulai segalanya bahkan dari lahan yang sepuluh kali lebih kecil," Pemuda yang terasa benar-benar hangat menggenggam erat jemari tangannya.


Namun, Selvia menepisnya menatap pada pria di hadapannya."Kenapa kamu harus mengganti uang pendidikanku pada nyonya Yuki!?"


"Jika begitu akan terasa benar-benar tidak tahu malu. Nyonya Yuki, adalah ibu dari almarhum mantan tunanganmu yang meninggal pada usia 6 tahun. Kamu sudah tinggal dan dibiayai sekolah olehnya hingga menempuh pendidikan di negara ini. Aku memang tidak bisa mengembalikan biaya hidup yang dihabiskannya untukmu. Tapi setidaknya aku dapat mengembalikan biaya pendidikanmu. Aku tidak ingin kamu terpaku pada masa lalu." Kalimat yang diucapkan oleh Shin, berusaha untuk bersabar.


Selvia menatap sinis padanya."Kamu tau bagaimana Michael memperlakukanku? Dia memberikanku setiap hal yang indah. Pakaian, makanan, segalanya dilakukan bagaikan aku satu-satunya dalam hidupnya. Kamu tidak seperti dia."


"Dia sudah meninggal! Aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya! Kamu membandingkanku dengan seseorang yang bahkan hanya aku dengar dari ceritamu!" Shin kembali menghela napasnya."Sebaiknya kita pulang," ucapnya menarik jemari tangan Selvia.


Namun Selvia menghempaskan tangannya."Gajiku jika bekerja di perusahaan botani lebih besar, daripada mengelola pertanian dan peternakan yang tidak begitu besar. Aku fikir kamu akan memanjakanku tapi tidak bisa. Rumah di desa kecil seperti ini, menghidupkan pemanas di hari yang dingin. Kemudian menyalakan kipas di musim panas. Aku merindukan kehidupan saat kita bersama-sama di universitas. Kamu yang selalu memberikanku bunga, selalu memanjakanku!" Suara bentakan dengan nada yang tinggi.


"A...aku sendang berusaha, tidak mudah mengelola perkebunan secara langsung. Bunga? Aku sama seperti dulu, selalu membawakan bunga untukmu." Kalimat darinya tertunduk.


"Sebaiknya kita fikirkan tentang hubungan kita..." Lanjut Selvia kembali duduk.


"Sebulan lagi pernikahan kita, aku bahkan membujuk ibuku untuk menerimamu. Tapi kenapa malah---" Kalimat darinya terhenti, wanita itu bagaikan tidak peduli dengan hal yang diucapkan olehnya.


Mengepalkan tangannya, menghela napas berkali-kali."Pulanglah..." Hanya itulah yang pada akhirnya diucapkan Shin. Hubungan yang telah terjalin lebih dari lima tahun. Wanita yang pada awalnya terlihat begitu mencintainya.


Berjalan pergi, sesekali melirik ke arah belakang. Tidakkah Selvia dapat berfikir jika tunangannya yang sudah meninggal bagian dari masa lalunya. Sebuah mimpi bagikan masuk ke negeri dongeng, dimana ada pangeran sempurna yang mencintainya dengan gila.


Pria itu menonggakkan kepalanya, berjalan melewati jalan sepi dengan lahan pertanian di sekitarnya. Terdapat ribuan bintang disana, tempat ini benar-benar indah. Bahkan lebih indah dibandingkan dengan perkotaan. Mengapa Selvia tidak berfikir demikian?


Menghela napas berkali-kali, menyakinkan hatinya untuk mencintai satu orang saja. Memikirkan hubungan mereka? Apa Selvia ingin mengakhiri segalanya.

__ADS_1


"Ini menyakitkan..." Gumamnya dengan air mata yang mengalir, melewati lampu jalanan yang cukup terang.


*


Sedangkan di tempat lain, segala gangguan sudah diatasi. Segala gangguan tentang usaha Claudia yang terganggu bagaikan lenyap. Senyuman menyungging di wajah Tara.


Saat ini sudah dipastikan Claudia sedang diculik oleh Michael. Menghela napas kasar, kala membawa beberapa dokumen melewati Fransiska.


"Bu Claudia menghilang, apa tidak sebaiknya lapor pada kepolisian saja?" tanya Fransiska.


Tara menggeleng, memberikan selembar surat keterangan sakit palsu."Jika direktur utama (Wendy) menanyakan, katakan Claudia sedang sakit, pusing dan mual-mual. Dalam artian morning sickness."


"Bu Claudia hamil?" tanya Fransiska.


"Dalam proses." Tara terkekeh, mengetahui tempat tujuan sebelum Claudia menghilang merupakan perusahaan milik keluarga Michael.


"Tara! Aku ingin menjodohkanmu dengan sepupuku, dia seorang dokter spesialis jantung. Duda beranak satu..." Ucap Fransiska pada sahabatnya yang dapat dikatakan sudah kadaluarsa, belum laku-laku juga.


"Aku tidak mau! Itu bukan tipeku." Jawaban tegas dari Tara.


"Lalu tipemu seperti apa?" Fransiska mengenyitkan keningnya.


"Aku ingin..." Tara terdiam berfikir sejenak. Sosok Michael saat ini begitu mengerikan baginya. Tapi sosoknya yang dulu begitu manis. Mungkin tipenya...


"Aku menyukai pria sederhana."


...Aku menginginkan cinta, seperti bintang di langit. Selalu terlihat bersinar dalam kesederhanaan pegunungan....


...Semakin gelap, semakin sederhana maka cintanya semakin terlihat. Begitulah cinta yang aku cari....

__ADS_1


Shin.


__ADS_2