
...Aku bahagia, kala sinar matahari menerangi rerumputan. Kesepian dalam kedamaian....
...Kala itulah peri hutan tercantik muncul. Mengucapkan ribuan kata-kata manis, tertawa memujiku....
...Indah... itulah gambaran dirinya. Jika bisa aku ingin memilikinya....
...Hari ini, peri hutan yang indah itu menangis. Benar-benar menangis, inginku balut lukanya. Menyimpan segala tangisannya dalam pelukku....
...Berharap dia tersenyum kembali....
Michael.
"Masih ingin menangis?" tanya sang pemuda. Sepasang pengantin yang kini berada di ruang ganti.
"Ha...harus kamu tau. Kalau aku tidak mencintainya lagi. Aku sudah melupakannya. Demi kamu yang manis dan lucu..." Gerutu Claudia, berdusta dirinya harus menebarkan berjuta rayuan pada pria ini. Agar terlihat natural di hadapan Santos.
"A ...aku juga mencintaimu. Sejujurnya itu untuk pertama kalinya aku berdebat dengan orang lain. A...aku tidak tau harus bagaimana, hanya saja jangan menangis lagi." Ucap Michael salah tingkah, menggaruk-garuk bagian kepalanya yang gatal.
Claudia mengenyitkan keningnya, matanya menatap ke arah luka-luka di wajah sang pemuda yang tidak kunjung mengering. Menghela napas kasar, mungkin saat detik-detik menjelang perceraian mereka nanti dirinya harus mencarikan dokter spesialis kulit untuk pria ini.
Wajahnya tersenyum, menemukan seseorang yang benar-benar membelanya tanpa memiliki maksud apapun.
Wanita itu tersenyum manja tiba-tiba. Dirinya ingin menggoda orang ini. Benar-benar menyenangkan menggodanya."Cintaku padamu sedalam palung Mariana. Sedalam apa cintamu?"
Pertanyaan yang membuat Michael gugup tersenyum dengan wajah merona, menghela napas kasar."Tidak tau, tapi jika kamu tidak ada bahkan ke neraka sekalipun aku akan mengikutimu."
Srak!
Bagaikan pedang yang menembus jantungnya. Wanita itu ingin tertawa, tapi juga bahagia. Namun, harus menetralkan dirinya. Karena ini hanya bermain-main hanya sekedar menggodanya tanpa menggunakan sentuhan fisik.
Dirinya tidak boleh kalah! Pemuda buruk rupa ini akan menjadi bulolnya, istilah lainnya bucin tolol miliknya sendiri.
__ADS_1
Tapi apa benar? Pemuda dengan tatapan yang terlihat tulus itu, mengambil cairan pembersih makeup. Menyapukan kapas menyejukkan pada wajah Claudia.
"Awalnya aku menyukaimu karena kamu cantik. Tapi sekarang tidak lagi, bahkan aku berfikir jika kamu keriput sekalipun, aku akan tetap menjagamu. Satu... satunya wanita yang mencintaiku..." Kalimat dari Michael, tetap membersikan riasan wajah Claudia.
"Ya... Tuhan! Kelebihannya adalah mulutnya yang lemas untuk merayu wanita!? Aku...aku... aku..." Claudia bagaikan kehilangan fikirannya sendiri sejenak. Entah kenapa wajah dipenuhi luka dan nanah itu tidak terlihat mengerikan lagi. Malah dirinya merasa nyaman menatap Michael dari jarak ini. Hanya beberapa centimeter dari wajahnya pria itu tersenyum.
"Tanpa riasan pun kamu sudah cantik. Jangan memakai sesuatu yang akan merusak kulitmu yang indah." Kata-kata menembus relung kalbu.
Siapa yang akan kalah dalam pertarungan ini? Apa Claudia akan tunduk dan menjadi bucin tolol dari pemuda yang berwajah rusak ini? Tentu saja tidak! Dengan segenap keyakinannya dan kekuatan dalam tubuhnya, Claudia berusaha untuk sadarkan diri. Dirinya yang akan menaklukkan Michael agar menjadi budak cintanya. Bukan sebaliknya.
"Kamu yang membuatku mengerti keindahan dunia ini..." Claudia tersenyum, menggenggam jemari tangan Michael menggerakkan agar menyentuh pipinya.
Wanita yang tidak tahu apa yang sejatinya dilakukannya. Merubah pria yang awalnya tulus, menjadi memiliki cinta yang lebih dalam lagi. Posesif? Obsesif? Inilah mungkin cikal bakal perubahan seorang pria baik hati nan polos.
Tersenyum sembari mengangguk, menyadari dari awal dirinya memang sudah kalah. Sudah takluk, akan menjadi bagaikan ular yang melilit tubuh dan jiwa wanita ini untuk berada bersama selamanya.
*
Berta menghela napas kasar, menyakini kedua orang itu memang saling menyukai. Wanita patah hati, terobati oleh tuan mudanya yang memang super tampan, kaya, pintar dan manis.
"Semua yang ada di surat wasiat adalah kebohongan. Warisan akan tetap cair walaupun nona muda (Claudia) tidak menikah. Itu hanya bagian dari gertakan almarhum kedua orang tuanya. Surat wasiat palsu orang tuanya sendiri yang membuat. Bagaimana tidak, melihat anak mereka melewati usia menikah hanya demi mengejar seorang pria yang tidak mencintainya." Jelas Santos, meminum sedikit Vodka."Kadar alkoholnya terlalu tinggi!" keluhnya, meletakkan kembali di atas meja.
"Jadi seberapa kaya majikanmu?" lanjut pria yang sudah hampir menginjak usia pensiun itu.
"Belum saatnya, tapi tuan muda begitu tulus. Jika hatinya dipatahkan, Claudia tidak akan selamat dari obsesinya." Berta menipiskan bibir menahan tawanya.
Sedangkan Santos terdiam sejenak."Itu pilihan Claudia. Siapa suruh sembarangan memilih pasangan. Asalkan terlihat tidak berdaya." Gumamnya tertawa lepas.
Sungguh lega rasanya, Berta tidak perlu waspada pada wanita pilihan tuan mudanya. Tidak perlu berfikir wanita ini mata-mata atau memiliki niat tersembunyi, mengingat penjelasan Santos padanya. Hanya saja, sesuatu yang disukai oleh tuan mudanya harus benar-benar dimiliki.
Apa Claudia hanya mempermainkan Michael? Apa bisa hanya begitu?
__ADS_1
Matanya menelisik mengamati dua orang yang melangkah pergi diikuti satu orang lagi. Erlina, Evan dan Wendy (paman Claudia), bagaikan memiliki pandangan yang berbeda.
Erlina terpaku dendam dan rasa iri, sedangkan Wendy lebih seperti tidak menyukai situasi ini.
Evan? Pria itu terdiam sesaat, bagaikan kehilangan sesuatu. Merasa kehilangan? Akan bagus untuk memicu tuan mudanya agar lebih agresif dan dewasa nantinya.
Seperti hari ini, tatapan penuh tekanan yang terlihat dari wajah Michael. Hampir menyerupai almarhum tuan besarnya (ayah Michael). Mungkin jika diasah lagi, tuan mudanya yang lemah dan baik hati akan dapat diandalkan nanti.
*
Malam pertama.
Dua kata yang penuh dengan makna. Hamparan kelopak bunga mawar terlihat, sepasang handuk yang dibentuk menyerupai angsa ada di atas tempat tidur.
Harum aroma lavender menyeruak di seluruh ruangan.
Gelas wine, makan malam mewah ditemani cahaya remang dari lilin. Suasana yang romantis, jika dihabiskan dengan pasangan.
Ditambah dengan bathtub dipenuhi kelopak bunga mawar. Begitu indah rasanya... benar-benar indah.
Claudia terdiam sesaat melihat kegilaan yang merupakan hadiah dari Santos ini. Membuka lemari pakaian, dirinya ingin segera memakai piyama kemudian tidur.
Tapi apa ini? Pakaian tidak pantas, bagikan jaring nelayan, tipis transparan, merupakan seragam para petani untuk menanam jagung, demi menghasilkan susu berkwalitas. Atau setidaknya benih-benih akan tumbuh di lahan.
"Astaga..." Gumam Claudia tidak tahu harus bagaimana. Ingin menangis rasanya. Kala menyadari tidak satupun pakaiannya tergantung di lemari.
Hanya terdapat beberapa pakaian laknat saja. Matanya melirik ke arah Michael. Pemuda itu terdiam sesaat menghela napas kasar.
"Itu pakaianmu?" tanyanya dengan nada polos.
"Ti... tidak! Para orang gila itu yang menyiapkannya..." Geram Claudia berusaha tersenyum. Tidak mungkin dirinya tidur dengan gaun pengantin yang begitu tebal. Tapi tidak mungkin juga mengenakan pakaian ini di hadapannya Michael.
__ADS_1
"Kalau sudah disiapkan lebih baik gunakan..." Kalimat penuh senyuman dari pemuda itu. Membuat Claudia beringsut mundur, kucing ini sudah gila! Terang-terangan menyuruh seekor tikus untuk naik ke atas piring.
"Gunakan saja yang mereka siapkan..." lanjut pria baik hati nan polos.