
...Dalam dekapan hujan yang menetes segalanya terasa hangat....
...Perasaanmu padaku bagaikan payung kokoh, sedangkan perasaanku padamu hanya bagaikan sehelai daun talas....
...Apa yang dapat kamu berikan padaku? Bagaikan payung kokoh yang melindungiku dengan kepastian. Mengulurkan tanganmu ketika semua menghindariku....
...Bagikan sehelai daun talas? Mungkin itulah perasaanku padamu. Tidak memiliki apapun untuk melindungimu. Hanya saja, ada rasa kasih yang tulus dalam tubuh yang dingin....
...Kenangan indah kala berlari menembus hujan, menggunakan sehelai daun talas....
Michael.
Embun membasahi jendela, hari yang begitu dingin. Dirinya berusaha bangkit, hari ini harus tetap bekerja pada Awan bukan?
Tapi tidak, Claudia mendekapnya erat. Menatap sinis ke arahnya."Mau kemana!?" tanyanya.
"Kerja," jawaban Michael apa adanya.
"Tidak boleh bekerja! Sama sekali tidak boleh! Ini masih masa bulan madu! Setelah kembali ke kota nanti, aku akan mencarikan pekerjaan untukmu!" Tegas Claudia pada suaminya.
"Baik ... terserah yang mulia istri saja." Kalimat dari Michael, menarik dirinya kemudian kembali memasukkan tubuh mereka ke dalam selimut. Begitu dingin udara di luar sana, perlahan hujan turun semakin lebat saja. Dua orang yang terlalu malas bangkit dari selimut, mengenakan piyama dengan motif garis-garis berwarna biru dongker yang senada.
"Nyaman, dia akan menjadi adik angkat yang baik." Batin Claudia dalam pelukan sang pemuda. Tidak mengetahui bagaimana jadinya jika seorang pria mengetahui dirinya selama ini hanya ditipu. Tidak ada perasaan sama sekali dari sang wanita. Obsesi? Protektif? Kita lihat saja bagaimana seorang Claudia merubah kepribadian pria bertipe green flag menjadi red flag.
"Aku mencintaimu..." Michael mengecup pucuk kepalanya.
"Aku juga, betapa lucu dan manisnya suamiku. Bagaimana aku bisa berpaling darinya." Ucap Claudia, menghangatkan dirinya semakin erat, bermanja-manja pada pemuda ini.
Rasa nyaman bagaikan memeluk boneka beruang besar di masa kecilnya? Tidak ini lebih menyenangkan dari itu, boneka beruang tidak dapat membalas pelukannya. Tapi pria ini bisa.
"Apa kita akan terus seperti ini, tanpa sarapan?" tanya Michael.
Claudia mengangguk."Terlalu dingin untuk keluar dari tempat tidur. Temani aku tidur sedikit lagi," pintanya dijawab dengan anggukan oleh sang pemuda.
__ADS_1
*
Segalanya memang akan terasa indah, saling mengenal dengan seseorang yang memiliki kecocokan dengannya. Perhatian? Kasih sayang? Semuanya didapatkannya pada diri Michael.
Pemuda yang tersenyum sambil menyuapinya. Sangat wajar bagi pengantin baru untuk sarapan pukul 10 bukan?
Benar-benar sangat dimaklumi, hingga Tara menipiskan bibir menahan tawanya. Kala membawakan beberapa surat yang baru datang.
"Berapa kali semalam?" Pertanyaan dari Tara, seketika membuat Claudia tersedak. Terbatuk-batuk, dengan sigap suaminya tersayang memberikan segelas air padanya.
"Sekali, kami berharap akan segera mempunyai anak..." Kalimat tanpa rasa bersalah dari Michael.
"Cuma sekali? Apa durasinya lama?" Tara semakin tertarik saja.
"Ka...kami tidak melakukan apapun!" Ucap Claudia jujur.
"Sepanjang malam hingga pagi..." Michael mencoba mengingat-ingat berapa lama dirinya tidur sambil berpegangan tangan dengan Claudia.
Michael mengangguk dengan cepat."Tidak lepas sama sekali. Mungkin dengan begitu kami dapat punya anak lebih awal."
"Jangan salah paham kami tidak melakukan apapun!" Claudia berusaha tersenyum menjelaskan. Tapi bagaimanapun dirinya menjelaskan, dirinya akan semakin terpojok.
"Aku sedang bertanya pada suamimu. Ternyata kalian cukup gila untuk tidak melepaskannya. Sayangnya aku hanya seorang perawan yang rajin membaca novel dua puluh satu tahun keatas." Keluh Tara menghela napas berkali-kali, sambil memberikan beberapa lembar surat yang baru datang."Ini surat untukmu."
Claudia membaca beberapa lembar surat yang memang ditujukan untuknya. Tidak banyak, mayoritas surat-surat berasal dari kantor tempatnya bekerja.
Hingga ada satu surat yang tersisa, kartu post dari pengacaranya. Beserta sebuah undangan untuk datang ke pesta ulang tahun sang putri pengacara.
Wanita itu mengenyitkan keningnya, mengingat segalanya. Putri Santos? Wanita itu musuh bebuyutan dengannya. Saking membenci dari dulu karena satu alasan. Evan, itulah alasan itu. Mereka menyukai orang yang sama.
"Aku bodoh..." batinnya menyesali segalanya. Mengapa mereka dapat bertarung seperti anj*ng pemburu hanya demi pria seperti Evan? Apa istimewanya Evan.
Tidak ini berasal Randianata atau biasa dipanggil Ata (putri Santos) yang egois. Jatuh cinta pada Evan yang notabene adalah sahabatnya. Dirinya yang membuka jalan untuk karier Evan, termasuk merengek-rengek pada ayahnya agar orang itu mendapatkan beasiswa. Dirinya yang membantu Evan diam-diam hingga dapat menjadi pria sempurna yang dapat diandalkan seperti sekarang.
__ADS_1
Ata yang baru bertemu dengannya jatuh cinta pada pandangan pertama. Saling berebut dan menggigit seperti anj*ng pemburu? Itulah yang terjadi.
Sungguh memalukan jika difikirkan kembali. Mereka bukanlah kekasih Evan tapi bertengkar di depan umum hanya demi seorang pria? Bahkan saat ini, kekasih Evan pada akhirnya adalah Erlina. Mereka berdua telah kalah, bodohnya masih bermusuhan hingga sekarang.
Pada akhirnya dirinya tersenyum, memutuskan akan bersikap lebih baik lagi. Menyusun persahabatan dengan Ata.
Nomor kontak dengan nama wanita bayaran, diganti olehnya menjadi Randianata. Mengirim pesan padanya.
'Terimakasih sudah mengundangku. Aku akan datang bersama suamiku. Aku harap kita dapat menyambung ikatan persahabatan.'
Itulah pesan yang dikirimkannya, sebelum pada akhirnya mendapatkan balasan.
'Aku dengar-dengar dari ayah katanya kamu sudah menikah. Baguslah kalau begitu, Evan pada akhirnya lepas dari penderitaan memiliki sahabat posesif sepertimu.'
Claudia mengepalkan tangannya menghela napas berkali-kali berusaha untuk bersabar. Benar-benar harus tahan banting menghadapi wanita ini. Jemari tangannya membalas dengan cepat, dirinya harus banyak-banyak mengalah sebagai orang yang waras.
'Aku menyadari satu hal. Evan yang terlalu sempurna memang cocok denganmu. Sama sekali tidak sesuai denganku yang penuh kelemahan ini. Karena itu, aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan pria biasa, yang dapat menyayangiku, hanya mencintaiku. Intinya aku sudah melupakan Evan, dan ingin menjadi sahabat terdekat bagimu...'
Pada akhirnya pesan yang baru diketiknya itu dikirimkan juga oleh Claudia. Memiliki sahabat seperti Ata? Tentu itu akan memiliki banyak manfaat baginya.
Wanita cantik lulusan salah satu universitas ternama di luar negeri. Mungkin karena terlalu ramah pada semua orang, memiliki wajah yang terlalu tampan, Evan dapat menarik perhatiannya. Walaupun Evan tidak begitu menyukainya. Karena... karena... karena...
Baik dirinya maupun Ata bukanlah tipenya. Evan lebih menyukai wanita lemah lembut tidak berdaya seperti Erlina. Wanita penuh drama, yang seakan-akan ditiup angin pun bisa sekarat, wanita dengan air mata yang mengalir deras bagaikan air terjun Niagara, wanita yang pandai memasak, tapi saat tangannya sedikit teriris pisau akan mengadu seperti sudah tertusuk pedang.
Tapi itulah pilihan, dirinya dan Ata yang sama-sama wanita karier tidak dapat meluluhkan Evan. Apa yang kurang dari dirinya dan Ata?
Ata bahkan sering menenangkan kompetisi memasak, memiliki beberapa restauran dan hotel. Mengurus semuanya seorang diri. Sedangkan dirinya walaupun tidak pandai memasak, tapi pemegang sabuk hitam bela diri judo, pewaris saham terbesar perusahaan ayahnya, wakil pimpinan perusahaan tempat Evan bekerja.
Awalnya dirinya menganggap Evan itu keren. Tapi sekarang, hanya pria bodoh yang menyukai wanita drama queen.
"Kamu mengirim pesan pada siapa? Apa pria?" tanya Michael tiba-tiba penuh senyuman.
"Apa ada pria yang kamu sukai selain aku. Aku akan menghabisinya..." batin Michael menyembunyikan segala sifat buruknya.
__ADS_1