Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 62. Tidak Lucu


__ADS_3

Wendy menghela napas kasar, senyuman menyungging di wajahnya. Ini saatnya memasukkan Erlina ke dalam perusahaan. Dulu memang, Erlina sempat dimasukkannya sebagai staf. Namun, ego Erlina tidak ingin kalah dari Claudia yang menjadi atasannya. Karena itu dalam waktu 6 bulan Erlina mengundurkan diri dari perusahaan setelah berhasil memikat Evan.


Menjadi atasan lebih mudah, daripada menjadi staf yang hanya diperintah-perintah itulah alasan Erlina saat itu. Tapi kini putrinya dapat tersenyum bangga, dirinya telah menjabat sebagai direktur utama, tentu saja harus putrinya yang menjadi wakil direktur.


Claudia telah absen beberapa hari tanpa keterangan. Jikapun ada alasan kehamilan? Siapa yang akan percaya, keponakannya yang merupakan pecinta pria tampan dapat hamil dari suaminya yang wajahnya bagaikan terkena air keras.


Itu hanya alasan palsu untuk menghindarinya. Tapi itu bagus, dirinya memiliki alasan untuk mengosongkan posisi wakil direktur. Berjalan diikuti oleh Erlina setelah mengetahui kedatangan Claudia yang bahkan hampir melewati waktu makan siang.


Brak!


Pintu dibuka kasar olehnya. Terlihat Claudia tengah berbaring di atas sofa. Tidak seperti biasanya, keponakannya yang terlalu pintar dan rajin itu malah tidak bekerja.


"Paman! Erlina! Silahkan masuk! Fransiska hubungi office boy! Suruh mereka membuatkan minuman untuk direktur utama yang masuk ke ruanganku." Senyuman menyungging di wajah Claudia tapi anehnya wanita itu daripada duduk memutuskan untuk kembali berbaring.


Fransiska menghela napas kasar."Nona kemasukan dedemit!" itulah yang ada dalam fikirannya. Ingin menangis rasanya melihat majikannya sesantai ini.


Wendy dan Erlina mulai duduk di sofa panjang yang berhadapan langsung dengan sofa panjang lain tempat Claudia berbaring. Wanita yang bagaikan mengantuk itu, malah kembali memejamkan matanya tertidur.


"Ekhm..." Suara batuk yang dibuat-buat oleh sang paman."Claudia..." panggilnya.


"Apa?" Claudia kembali membuka matanya, terdengar malas.


"Kamu absen selama beberapa hari tanpa alasan. Sebagai wakil direktur kamu seharusnya menjadi panutan bagi karyawan. Karena itu, ini surat pemecatan untukmu." Wendy menghela napas kasar tersenyum penuh kemenangan.


"Mampus!" Batin Erlina.


Erlina tersenyum menghela napas kasar."Aku yang akan menggantikan posisimu nanti. Kamu tidak perlu cemas tentang perusahaan lagi."


Menunggu reaksi Claudia yang akan marah besar dengan wajah memerah. Kemudian memanggil security untuk menenangkannya. Maka sepupunya tercinta akan malu di depan semua orang setelah membuat keributan.

__ADS_1


Claudia mengenyitkan keningnya."Jangan-jangan setelah ini kalian akan membujukku untuk menjual saham orang tuaku pada Micky?"


"Kamu ternyata pengertian, aku memang tidak punya dana yang cukup untuk membeli saham milik almarhum kakakku, tapi calon menantuku berniat membeli saham perusahaan. Dengan begitu, setidaknya perusahaan keluarga akan diteruskan oleh garis keturunan keluarga kita. Kamu juga dapat hidup tenang tanpa terlibat dengan perusahaan." Wendy tersenyum di hadapan Claudia. Ini benar-benar menguntungkan baginya.


"Calon menantu? Micky?" Claudia menghela napas kasar. Bersamaan dengan seorang office boy memasuki ruangan, meletakkan tiga gelas lime tea di hadapan mereka.


"Erlina mengangguk membenarkan. Kami bahkan sering menghabiskan malam bersama. Sudah dipastikan aku akan menjadi menantu keluarga itu." Dusta Erlina, menyombong dengan tingkat percaya diri yang tinggi.


"Kapan terakhir melakukannya?" tanya Claudia berusaha tenang, meminum sedikit lime tea di hadapannya.


Erlina menyelipkan anak rambut pada telinganya sendiri, tersenyum, masih terlihat keangkuhan di sana."Kemarin, kenapa kamu iri aku mempunyai kekasih yang lebih baik dari suamimu?"


Claudia hanya mengangguk paham. Jika Michael tidak berbohong sama sekali. Hal yang dikatakan Erlina hanya halu semata. Bagaimana caranya Michael yang semalaman membuatnya bergadang ada dalam dekapan Erlina.


Menghela napas kasar."Aku mendengar gosip, jika Micky sebenarnya sudah menikah."


Tidak! Claudia hanya ingin mengadu domba, memperkeruh hubungannya dengan Micky. Menghela napas berkali-kali berusaha untuk bersabar."Apa mungkin karena kamu iri? Jadi membuat isu tidak benar?" Spekulasinya.


"Hanya saja ...kamu pernah memikirkan di jari manisnya selalu ada cincin." Gumam Claudia yang mulai waras. Dulu dirinya tidak pernah begitu memperhatikan penampilan Micky yang bagaikan playboy dingin. Tapi semenjak dirinya menyadari suara mereka sama. Barulah dirinya memperhatikan bahkan setiap sudut kemiripan dengan Michael.


Cincin? Dirinya dan Michael memang memakai cincin pernikahan dengan desain unik. Terlihat tidak sama persis, tapi jika diperhatikan detail bagian dalamnya akan memiliki ukiran tempelan desain yang sama. Cincin pernikahan yang sejatinya merupakan hadiah dari Santos.


Erlina terdiam sejenak, menghela napas berkali-kali."Cincin di jari manis, belum tentu cincin pernikahan. Bisa saja hanya aksesoris."


Gila! Wanita ini memang keras kepala, tidak mau kalah sama sekali.


"Bulol (Bucin tolol), berimajinasi menjadi Cinderella." Batin Claudia merasa percuma memberi peringatan pada sepupunya.


"Yang jelas! Status! Semuanya aku lebih tinggi darimu! Sahammu cepat atau lambat lebih baik jual saja pada Micky! Jika tidak---" Kalimat ancaman dari Erlina diselanya.

__ADS_1


"Baik..." Hanya itulah jawaban dari wanita itu pada akhirnya. Tanpa perlawanan, penuh senyuman ikhlas."Kebetulan, aku juga ingin membuka bisnis travel kecil-kecilan. Mungkin bekerja di bidang pariwisata lebih baik untukku."


"Bagus! Akhirnya kamu sadar diri juga!" Senyuman menyungging di wajah Erlina.


"Tapi aku peringatkan padamu. Jangan terlalu dekat dengan Micky, atau mencoba menjeratnya agar dia mengandung anakmu. Karena jika itu terjadi aku akan mencari cara agar kandunganmu gugur, sebelum melahirkan." Jawaban luar biasa dari Claudia yang kembali berbaring. Michael akan bersama Erlina? Jangan bermimpi, suami yang penyayang tidak boleh direbut sama sekali.


"Apa maksudmu!" Teriak Erlina.


"Maksudnya, jika ingin status menikah dulu. Jangan ambil jalan curang." Fransiska yang baru masuk berusaha tersenyum.


"Kamu! Aku tidak perlu sekretaris sepertimu! Aku memecatmu!" Bentak Erlina pada Fransiska.


Wendy menghela napas kasar menatap ke arah Claudia."Claudia, kamu sudah diberhentikan, sebaiknya kemasi barang-barangmu."


"Beri aku waktu dua jam. Kalian tidak akan tahu betapa sulitnya menyelamatkan dunia dari kepunahan populasi manusia." Claudia malah kembali menutup matanya, berbaring di sofa.


"Setidaknya kamu tau!" Bentak Erlina dengan nada tinggi. Menyiram Claudia menggunakan minuman. Kemudian pergi meninggalkan ruangan bersama Wendy.


"Sial!" Geram Claudia kesal.


"Claudia aku dipecat..." Fransiska mulai menangis. Gaji besar yang selalu diberikan atasan sekaligus sahabatnya. Cicilan rumah yang belum lunas, apa dirinya harus kembali kost di kamar petak berukuran 3 kali 3 meter, mengkonsumsi mie instan setiap hari?


"Lalu?" Claudia mengenyitkan keningnya.


"A...aku harus membayar cicilan rumah dan mobil, belum lagi hutang gara-gara ikut-ikutan Afiliator kemarin. A...aku...aku..." Fransiska kembali menangis.


Claudia menghela napas."Kenapa kamu tidak membayar cicilan rumah satu berdua dengan Evan saja. Minta tolong padanya baik-baik, dia juga perlu rumah sewa yang dekat dengan kantor."


"Claudia!" Geram Fransiska, mengguncang-guncang tubuh sahabatnya kesal. Sungguh sebuah candaan yang tidak lucu.

__ADS_1


__ADS_2