Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 24. Lelah


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain...


Berusaha konsentrasi mengerjakan segalanya. Berjalan menuju departemen lain membawa beberapa beberapa file dan sebuah flashdisk.


Hanya berjalan itulah yang dilakukannya, melewati ruangan tempat Claudia biasanya hadir. Matanya menelisik, hanya ruangan kosong yang ada di sana. Sekretaris Claudia terlihat sibuk bekerja.


"Claudia belum kembali?" tanyanya pada sang sekretaris.


"Belum, nona Claudia sedang menghabiskan bulan madunya. Jadi mungkin akan menghabiskan waktu yang lama. Mengingat usianya yang sudah 33 tahun, dia harus segera memiliki penerus. Kenapa menyesal?" tanya sang sekretaris, membenahi letak kacamatanya yang sedikit merosot.


"Tidak, hanya saja aku tidak yakin Claudia menikah karena mencintainya.." Jawaban dari Evan, bibirnya bergetar, jemari tangannya mengepal.


"Lalu memangnya kenapa jika menikah tapi tidak mencintainya. Banyak sebuah pernikahan yang berasal dari cinta menggebu-gebu tapi berkahir dengan perceraian. Ada juga pernikahan hanya karena perjodohan namun bertahan hingga maut memisahkan. Cinta hanya ilusi tentang sebuah keperluan. Kamu tidak membutuhkan wanita yang terlalu mendominasi hingga tega meninggalkan Claudia di altar sendirian." Kalimat acuh dari sang sekretaris, kembali mengetik tidak mempedulikan pria ini lagi.


"Kenapa dia tidak pergi, aku sudah mengirimkan pesan untuk---" Kalimat Evan disela.


"Karena dia mempercayai pria br*ngsek sepertimu hingga detik terakhir. Hanya sahabat? Apa yang sudah dilakukan nona untukmu? Kamu tidak mengetahuinya?" Tanpa sang sekretaris membuat Evan tertegun. Tidak mungkin kan? Jalan hidupnya yang terlalu mudah.


"Aku sudah bekerja sebagai sekretaris dari tuan besar (ayah Claudia) masih hidup. Jadi aku sempat melihatnya, merayu tuan besar agar memberikan beasiswa secara sembunyi-sembunyi padamu. Selain itu kamu fikir bagaimana bisa orang tuamu tiba-tiba mendapatkan warisan rumah? Itu berasal dari tabungan nona. Karena tidak tega melihatmu tinggal di rumah petakan. Orang tuamu sudah mengetahuinya. Karena itu mereka pasti kesal setengah mati melihat wanita yang terlalu baik padamu itu menunggu dengan sabar di altar. Ibu dan ayahmu meninggalkan gereja saat itu sambil menangis. Bahkan meminta maaf pada nona (Claudia) pun mereka merasa tidak memiliki muka." Kalimat demi kalimat yang diucapkan sang sekretaris penuh senyuman.


Evan terdiam sejenak, tertegun dengan air mata yang mengalir. Dirinya yang tidak mengetahui apapun, bagaimana bisa Claudia menyembunyikan segalanya.


"Terimakasih sudah menyadarkan nona sebelum dia menikah denganmu. Orang yang sudah menjadi budak cinta itu tuli dan buta. Kamu sudah membuka mata nona, bahwa sekeras apapun nona berusaha ada hal-hal yang tidak dapat diubah. Anj*ng tetaplah anj*ng bagaimanapun dipakaikan baju dan diberikan makanan." Senyuman mengejek, terlihat sinis. Orang ini tidak menghormatinya lagi, seperti dulu.


Tapi bukan itu masalahnya. Segala yang diucapkannya itu benar. Mengapa dirinya tidak pernah curiga pada jalan hidupnya yang begitu mudah.


Kala dirinya harus bekerja menjahit sepulang kuliah, mengambil kain dari garmen, mengerjakannya di tempat kontrakan yang sempit. Claudia selalu ada, memotong kain, melakukan sebisanya untuk membantunya tanpa menurunkan harga diri.

__ADS_1


Deg


Jantung yang berdetak untuknya, tidak ada kata lagi yang terucap untuk pembelaan menyadari segalanya. Orang tua yang selalu sungkan pada Claudia. Tapi wanita itu selalu ingin membantu, hanya dengan kata-kata yang disebut persahabatan. Bukan tipenya? Memang seperti apa tipenya? Dirinya tidak menyukai wanita yang terlalu mendominasi, lebih menyukai wanita yang membuatnya ingin melindungi.


"Kenapa!? Malu!?" tanya sang sekretaris lagi, mengenyitkan keningnya penuh senyuman."Hanya satu yang ingin aku katakan padamu. Aku tau bagaimana rupa suami nona saat ini. Tapi aku melihat sendiri melalui video call saat nona menghubungiku. Nona terlihat bahagia, itu sudah cukup. Saat tiga bulan menjalin hubungan kasih denganmu, nona tidak pernah bahagia."


Pada akhirnya Evan melangkah pergi, terdiam tanpa kata. Apa yang dicarinya? Jabatan manager yang dikantonginya saat ini, apa ini juga karena Claudia?


Tidak ada yang jelas, segalanya terasa samar bagaikan kabut tipis. Terdiam kala mencapai ujung lorong dimana dirinya dapat bebas melihat langit.


Kesepian, itulah perasaannya saat ini. Tangannya meraih phonecell, melekatkan berkas yang dibawanya sejenak. Hendak menghubungi Erlina, untuk memastikan. Apa yang perlu dipastikan olehnya? Memastikan hatinya tersimpan di tempat yang benar.


"Halo sayang..." Ucap seseorang di seberang sana.


"Aku ingin bertemu denganmu sore ini. Aku merindukanmu." Evan menghela napas kasar, tanpa senyuman dan ekspresi dirinya berucap. Hampa...satu kata yang terjadi dalam hidupnya.


Evan hanya terdiam, apa yang terjadi padanya selama ini? Tidak mengerti sama sekali. Menatap ke arah jemari tangannya yang gemetar. Mungkin ini perasaan bersalah, dirinya akan mengembalikan uang Claudia pelan-pelan.


*


Menunggu? Itulah yang dilakukannya dalam apartemen yang sepi. Semakin jarang dirinya bertemu Erlina kini.


Hingga pintu itu terbuka, wanita yang tersenyum membawakan beberapa kotak makanan restauran ternama. Serta samar terlihat satu kotak alat kontrasepsi.


Mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Kala wanita itu tersenyum sambil memeluknya, mengatakan."Aku mencintaimu..." kata itu diucapkan olehnya lagi.


Tapi tidak seperti sebelumnya. Dirinya akan senang mendengarnya. Kali ini hanya perasaan hambar yang ada di hatinya.

__ADS_1


Kapan segalanya mulai rusak? Ini dimulai saat Erlina menjatuhkan minuman pada pakaiannya. Meminta maaf padanya, hingga menangis penuh rasa bersalah. Saat itu dirinya hanya menatap betapa tidak berdayanya perempuan ini sesuai dengan tipenya.


Tapi kini?


Kala dirinya memakan makanan di hadapannya. Kalimat itu didengarkannya lagi. Isakan tangis yang pada awalnya membuat Erlina terlihat memerlukan perlindungan darinya. Tapi kali ini terlihat memuakan.


"A...aku memikirkan Claudia. Kamu sahabatnya apa tidak bersimpati padanya?" tanyanya dengan derai airmata mengalir.


"Tidak..." dusta Evan, ingin mengetahui ujung pembicaraan ini. Memakan chicken teriaki di hadapannya. Tersenyum bagaikan tidak ada yang terjadi.


"Dia menikah pasti karena paksaan atau mungkin guna-guna? Bagaimana bisa pria miskin, bodoh dan berwajah hancur itu cocok dengan sepupuku. Claudia sudah seperti kakakku! Belakangan ini aku selalu memikirkannya. A...aku---" Kalimat Erlina disela.


"Itu pilihannya, kita tidak berhak terlalu ikut campur tentang kehidupannya." Jawaban dari Michael, masih menahan segalanya dalam hati. Menunggu kemana pembicaraan ini akan bermuara.


"A...aku merasa bersalah, sudah membiarkannya menunggumu di depan altar. A...aku merasa bersalah, se... sebaiknya kita putus dan kamu kembali padanya..." Kalimat itu tercetus dari mulut Erlina.


Kalimat yang membuat Evan menghentikan aktivitas makannya. Apa bukan karena cinta? Apa benar yang dikatakan Claudia jika perasaan wanita ini hanya karena pertarungan perebutan warisan?


Pria yang berhati-hati tidak pernah gegabah sama sekali."Aku mencintaimu, tidak perlu merasa bersalah. Jika perlu aku akan menebus rasa bersalahku dengan membelikan Claudia hadiah pernikahan tiket bulan madu. Cinta atau tidak, perasaan itu perlahan akan tumbuh seiring waktu."


Mengepalkan tangannya yang gemetar."Kamu tidak pernah mencintaiku?" batinnya.


"Tidak bisa seperti itu... kembalilah padanya..." Ucap Erlina berurai air mata.


Air mata yang membuat Evan semakin lelah. Dirinya dapat menerima segala alasan Erlina selama ini. Tubuh wanita pertama yang dikenalnya. Tapi dirinya bukan yang pertama untuk wanita itu.


"Kembali? Baik kita hentikan hubungan kita sampai disini." Senyuman menyungging di wajah Evan. Wajah pemuda yang berurai airmata tidak menemukan tempat untuk bersandar.

__ADS_1


Dirinya merindukan Claudia ...


__ADS_2