Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 50. Hanya Milikku


__ADS_3

"Terimakasih, a...apa pun yang kamu inginkan, akan aku kabulkan?" Ucap seorang anak laki-laki tersenyum.


"Seperti putri dan pangeran. Aku ingin menikah dengan pangeran." Jawaban dari seorang anak berpenampilan lusuh. Seorang anak berusia sekitar lima tahun.


Dirinya tersenyum saat itu, bermain dan memberikan apapun yang anak perempuan itu inginkan.


"Micky, saat dewasa nanti, kamu harus menjadi seseorang yang bertanggung jawab. Anak berusia lima tahun sepertimu ingin menikah?" Sang ayah menghela napas kasar, memijit pelipisnya sendiri mendengarkan keinginan tidak masuk akal putranya.


"Aku tidak mau makan dan minum jika tidak menikah dengannya!" Jawaban dari sang anak pemberontak.


Argon menggeleng."Pernikahan bukan hal yang sederhana. Usiamu masih 5 tahun, tidak akan begitu mengerti. Manusia dapat menyembunyikan keburukannya di balik topeng."


"Dia menyelamatkan nyawaku!" Tegas anak laki-laki itu belum ngerti juga. Tapi menggenggam jemari tangan ayahnya hampir menangis."Dia yang menyelamatkanku. Seperti sayur, suka atau tidak aku harus tetap memakannya. Karena itu baik untukku."


Sang ayah menghela napas kasar, tidak dapat berkata-kata. Hati manusia adalah sesuatu yang sulit untuk ditebak.


Namun, tempat tiba-tiba menjadi gelap. Anak perempuan penyelamat nyawanya melarikan diri, menangis ketakutan meninggalkannya.


"Ini karenamu!" teriak anak perempuan itu pada Michael sembari berlari.


Tangan Michael kecil berlumuran darah, ini bukan darahnya.


"Micky, ayah sudah mengatakan. Hati manusia, sesuatu yang sulit ditebak." Kalimat terbata-bata dari sang ayah yang tersenyum, dengan puluhan luka gores dan benturan di bagian kepala."Jangan terlalu sedih dan menyalahkan dirimu."


"Ayah! Aku tidak akan minta apa-apa lagi! Ja...jangan berdarah..." Teriak anak itu berusaha menarik tubuh ayahnya, darah tetap mengalir deras. Membuat kesadaran pria itu menghilang perlahan, tubuhnya mendingin menjelang ajalnya.


Wajahnya tersenyum, setidaknya sebelum kematiannya, dirinya mengetahui sisi lain putranya. Sebuah hati yang hangat tanpa rasa arogan sama sekali.


"Ayah! Aku akan menjadi anak yang baik, ayah berkata anak pelayan bahkan bisa menyapu bukan? Aku bisa melakukan segalanya. A... ayah jangan mati, biar aku saja yang mati..." Pinta sang anak putus asa. Berusaha menyeret tubuh ayahnya guna mencari pertolongan.

__ADS_1


Hah...hah...hah...


Michael terbangun dari mimpinya. Mimpi? Ini bagaikan sebuah memori, matanya menelisik menatap ke arah sebuah foto keluarga yang telah tua.


Dirinya kala berusia lima tahun, ibunya, ayahnya, satu lagi anak kecil dalam mimpinya. Anak yang pergi tanpa berbalik sama sekali.


"Kamu sudah bangun?" tanya sang ibu memasuki kamar putranya.


Michael terlihat tertegun diam, kamar luas yang begitu asing baginya. Pemuda yang memakai piyama hitam hari ini. Benar! Ini bukan rumah Berta di desa atau apartemen Claudia. Dirinya memutuskan untuk mengikuti ibunya.


Bau teh yang benar-benar unik tercium. Ada aroma manis strawberry disana. Beberapa pelayan memasuki ruangan, memakai seragam hitam putih bagaikan staf hotel atau mungkin pelayan profesional.


Seorang pelayan wanita membuka tirai, sedangkan seorang pelayan pria yang memakai setelan jas lengkap dengan dasi kupu-kupu, mendorong troli yang dipenuhi dengan makanan.


Menata piring, cangkir dan meja kecil di tempat tersebut sedemikian rupa. Menuangkan teh, kemudian melangkah mundur, menunduk memberi hormat, kembali mendorong troli meninggalkan ruangan.


Michael tersenyum."Jadi karena ini ibu mengatakan rumah di desa adalah kandang ayam dan apartemen istriku kandang kambing?"


Yuki mengangguk, meminum teh yang terhidang."Satu lagi, ibu tidak bekerja sebagai TKI di Hongkong."


"Jangan bicara padaku! Otakku perlu mencerna penipuan yang ibu dan nenek lakukan." Michael kembali berbaring, tempat ini tidak nyaman baginya. Dirinya ingin tinggal di desa saja. Tidak perlu sakit hati melihat Claudia bersama pria lain. Pria lain? Sebenarnya Michael belum rela melepaskannya. Karena itu bukan, dirinya memutuskan mengikuti ibunya?


Mengikat Claudia di ranjang, mungkin itulah yang akan dilakukannya.


"Tuan muda, hari ini anda akan mulai secara langsung belajar tentang mengelola perusahaan. Khusus mengemudi juga akan dimulai pada hari ini. Malam harinya, putri dari keluarga Zang ingin berbincang dengan anda." Penjelasan panjang lebar dari seorang pemuda berkacamata.


"Ibu tidak berniat mengatur perjodohanku bukan?" tanya Michael menatap sinis ke arah ibunya.


"Kalau kamu suka bukannya akan bagus. Wanita yang sedikit lebih muda, setara dari segi status sosial. Istrimu tidak ada apa-apanya." Senyuman terukir di wajah Yuki yang tengah menikmati teh.

__ADS_1


"Tidak, aku pulang ke apartemen saja." Michael berusaha tersenyum menahan kekesalannya.


"Ibu hanya bercanda! Putri keluarga Zang sudah menikah, ibu hanya ingin menambah relasimu sedikit demi sedikit. Jika kamu mewarisi kemampuan ibu dan ayah, akan mudah bagimu untuk tersenyum, menipu lawan, membuatnya menjadi tidak waspada." Wanita itu meletakkan kembali cangkir tehnya.


"Terserah ibu saja..." Michael menghela napas kasar, bangkit dari tempat tidurnya. Segalanya dilayani, air hangat dengan aroma terapi yang menyebar.


Membersihkan dirinya, bahkan memakai pakaian dilayani. Jenis parfum dipilihkan, tidak ada yang tidak dilayani di tempat ini.


Menatap ke arah cermin penampilannya saat ini, mengenakan jam tangan bernilai tinggi yang dipilihkan pelayannya. Pemuda yang meraba cermin di hadapannya."Jika Claudia melihat ini, apa dia akan menyukainya?" gumam Michael masih merindukannya. Tapi apa gunanya menjadi suami di ujung tanduk. Dirinya hanya akan diceraikan setelah setahun.


Melangkah keluar dari ruangan diikuti seorang pria yang ditugaskan menjadi asistennya. Seorang pria berkacamata, sedikit sipit hingga hanya sedikit bagian matanya yang terlihat terbuka, wajahnya selalu tersenyum bagaikan seseorang yang ramah.


"Apa saja tugas dari ibu?" tanya Michael tanpa basa-basi.


"Akuisisi Fairy Hotel hanya itu untuk sementara ini. Saya akan membimbing anda, tapi tidak akan mengambil keputusan sendiri." Jawaban dari sang pemuda yang mengikutinya.


"Berapa lama aku harus belajar dan mengikuti perintah seperti ini?" Michael kembali bertanya.


"Semakin banyak prestasi yang anda dapatkan. Semakin kejam hal yang anda lakukan, nyonya besar akan segera mempercayakan segalanya pada anda." Pria itu kembali menjawab.


Hingga langkah Michael kembali terhenti, wajah pemuda itu tersenyum."Jadi sampai mana kepercayaan ibu akan jatuh padaku? Apa sampai tahap dimana aku dapat mengakuisisi perusahaan kelas menengah? Menculik pemiliknya?"


"Bukankah memang itu yang anda inginkan? Akan mudah jika menjatuhkan statusnya terlebih dahulu. Burung gereja kecil tidak akan dapat terbang jika anda mematahkan sayapnya." Sebuah jawaban lebih mengerikan dari sang asisten.


Michael kembali melangkah turun ke lantai satu.


Mematahkan sayap? Apa yang terjadi jika Claudia tidak memiliki kekuasaan untuk melarikan diri darinya lagi? Senyuman menyungging di wajahnya. Pria bertipe green flag, bagaikan pemuda yang rela berkorban, begitu menyayangi istrinya. Berubah perlahan menjadi tipe red flag, melakukan apa saja, memanipulasi kehidupan wanita yang dicintainya agar hanya dapat bergantung pada dirinya. Mengurung dan membatasinya, agar hanya berada dalam pelukannya.


Bukan cinta, itu lebih seperti obsesi? Siapa yang peduli, tipe red flag akan melakukan hal apapun hanya untuk memiliki wanita yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2