
Awan hanya dapat menghela napasnya. Antara jengkel dan kesal pada orang ini. Tapi tetap saja benar-benar polos seperti anak kecil. Jika difikir-fikirkannya lagi, Michael yang sekelas dengannya sejak sekolah dasar memang jarang bergaul. Hanya berkutat pada buku dan sapi-sapi milik neneknya saja.
Dekat dengan wanita? Bahkan tidak pernah sekalipun. Wanita cendrung menghindarinya yang tidak memiliki masa depan, plus wajahnya yang membuat ingin muntah. Karena itu, merupakan keberuntungan gila-gilaan pria ini dapat memiliki Claudia.
"Begini! Kamu menyukai Claudia bukan? Tapi tidak dapat menikah jika tidak mendapatkan restu?" tanya pemuda itu dengan nada serius. Dijawab dengan anggukan oleh Michael.
"Karena itu! Robek! Maaf salah, lakukan proses perkembangbiakan seperti yang ada dalam buku. Karena pria dan wanita berpegangan tangan ketika tidur tidak akan menyebabkan kehamilan. Itu bohong!" Awan mulai meracuni fikirannya kali ini.
Michael mengenyitkan keningnya, mengambil flashdisk yang diberikan Awan. Menghela napas kasar, haruskah dirinya membohongi sang nenek? Tidak mungkin dirinya tega, melakukan hal yang buruk pada Claudia.
"Akan aku fikirkan..." Hanya itulah jawaban dari sang pria lugu. Menuntun sapinya menuju ladang.
"Aku jadi iba padanya. Teman tidak punya, pacar tidak punya, keluarganya miskin. Mungkin kelebihannya cuma mendapatkan pemilik villa." Awan hanya dapat menghela napas kasar, berjalan pergi menuju arah berlawanan. Dirinya akan mendekati Rani, Prita dan Zara janda kampung sebelah hari ini. Mengisi waktu luangnya dengan hal yang lebih berguna.
*
Hari masih begitu dingin. Sapi-sapi miliknya telah berada di lahan, berikut seekor kerbau kesayangannya. Michael mengepalkan tangannya, memberanikan diri berdiskusi dengan Claudia.
Dirinya tidak mungkin menikah tanpa restu dari neneknya. Melangkah lebih dalam memasuki villa, wanita itu terlihat di gazebo belakang tengah menikmati teh, sembari membaca beberapa dokumen.
Mata mereka bertemu dengan jarak ya begitu jauh pada akhirnya."Sayang!" teriak Claudia melambaikan tangannya.
Dengan cepat raut wajah pemuda itu yang cemas menjadi berseri bahagia. Bagaikan dunia ini adalah miliknya.
Hanya dengan satu kata sayang, sudah bagaikan diterbangkan di atas awan. Benar-benar indah rasanya memiliki wanita ini sebagai kekasihnya.
Melangkah dengan cepat, mendekati sang pujaan hati. Pada akhirnya dirinya duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Maaf, pernikahannya diundur besok. Karena ada beberapa orang yang harus hadir. Tapi gaun, tuxedo dan cincin, dekorasi sedang disiapkan, tidak apa-apa kan?" Tanya Claudia, menatap ramah ke arahnya.
"Se... sebenarnya nenekku tidak ingin aku menikah denganmu. Karena itu---" Kalimat sang pemuda disela.
"Kita kawin lari!" Dengan cepat wanita itu berucap.
"A...aku tidak ingin menikah tanpa restu dari nenek. Sebenarnya ada temanku yang mengusulkan untuk hamil di luar nikah. Dia mengatakan harus menggunakan teori biologi, dimana untuk pembentukan zigot, dalam tubuh wanita diperlukan berhubungan badan, skin to skin. Kemudian setelah hormon testosteron bekerja, maka wanita sudah siap untuk menerima---" Bagaikan Awan dan Claudia memiliki watak yang sama. Mulut laknat Michael ditutup menggunakan tangannya.
"Jangan lanjutkan!" Ucap Claudia cepat, melepaskan tangannya dari mulut Michael. Tidak menyangka pria ini dapat mengetahui betapa buas dan nikmatnya olahraga ranjang.
"Awan mengatakan berpegangan tangan ketika tidur tidak akan menyebabkan kehamilan. Sepertinya yang nenek katakan, semuanya bohong. Tapi aku harus lebih percaya nenek, dibandingkan Awan yang tidak begitu dekat denganku kan? Menurutmu bagaimana?" Tanya Michael terlihat tertunduk kebingungan. Seorang pemuda yang benar-benar kurang dalam pergaulan.
Claudia mengenyitkan keningnya, wajahnya tersenyum. Inilah saatnya kembali membuat pria ini menjadi polos."Awan, temanmu berbohong. Selain cara di pelajaran biologi, berpegangan tangan ketika tidur juga bisa hamil."
"Aku setuju! Itu cara yang tidak menyakitkan bagi wanita. Karena selaput dara---" Mulut Michael kembali ditutup menggunakan tangan.
"Tidak boleh membicarakan itu ya? Intinya, tidak perlu berhubungan badan. Hanya dengan berpegangan tangan ketika tidur saja bisa hamil. Dengar! Aku mencintaimu, jika aku sudah siap untuk punya anak. Aku akan tidur sambil berpegangan tangan denganmu." Kalimat penuh senyuman dari Claudia membelai pipi Michael. Pemuda yang mengangguk, sembari tersenyum.
*
Malam mulai larut, besok adalah acara pernikahannya. Wanita yang membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menyambut mimpinya yang benar-benar lelap.
Sebuah mimpi yang dapat dikatakan sebagai pertanda buruk.
Seorang pria menatap surat gugatan cerai, suara petir disertai hujan terdengar dari luar sana. Pemuda berpakaian mewah, dengan wajah rupawan.
"Jadi ingin bercerai?" tanyanya pada Claudia. Bibirnya terasa kelu untuk menjawab, tertunduk ketakutan menelan ludah kasar.
__ADS_1
"Ibu! Nenek!" Panggil sang pemuda pada dua orang yang tiba-tiba datang, terlihat tidak senang."Dia membuat lelucon dengan ingin bercerai dariku. Apa yang harus aku lakukan?"
"Nikahi wanita lain, ibu akan mencarikan yang lebih cantik darinya." Ucap wanita paruh baya yang ada di samping sang pemuda.
"Jika aku tidak mau?" Pemuda itu masih terlihat murka walaupun wajahnya tersenyum saat ini.
"Tuan muda hanya perlu berpegangan tangan dengannya ketika tidur agar dia hamil..." Sang nenek tua, dengan pakaian yang terlihat rapi itu berucap.
"Hanya perlu berpegangan tangan ketika tidur? Jangan bercanda..." Pemuda itu tertawa, diiringi dengan kedua orang wanita yang mundur menghilang dalam kegelapan. Keluar dari ruangan berpenerangan minim itu.
"Ka...kamu siapa? A...apa maumu!?" tanya Claudia, menatap sang pemuda mulai melepaskan dasi dan kancing yang dipakainya.
"Mauku? Kamu tebak apa? Jika kamu hamil maka tidak akan perceraian." Kalimat dari sang pemuda dengan wajah berjarak beberapa centimeter darinya.
Benar-benar tampan, bahkan mengalahkan ketampanan Evan. Tapi bukan saatnya seperti ini, dirinya harus melarikan diri. Namun, apa bisa? Bibirnya dicium paksa.
Bruk!
Tubuhnya dijatuhkan di atas ranjang. Wajah pemuda itu tersenyum kala, mengikat kedua tangannya menggunakan dasi.
"Hanya berpegangan tangan? Bagaimana jika sepanjang malam ini aku menghukummu? Melakukan cara perkembangbiakan yang menyakitkan, sambil berpegangan tangan. Itukan yang kamu mau dari menipuku." Kalimat darinya mencium bahkan menjilati tubuh Claudia. Ini aneh? Tiba-tiba mereka tidak memakai sehelai benangpun. Tubuh pemuda itu berada di atasnya.
Sensasi geli menjalar di seluruh tubuhnya. Berteriak? Itu sempat dilakukannya, namun setiap sentuhan yang membuat dirinya gemetar. Sensasi yang tidak pernah dirasakan olehnya. Perlahan dirinya luluh, tangannya yang terikat naik mengalung pada leher pemuda yang tengah mengombang-ambing tubuhnya.
Ini indah... itulah yang ada dalam benaknya saat itu. Membiarkan setiap hal menjijikkan dilakukan olehnya, tubuhnya bagaikan dikendalikan hasrat hingga. Mereka berbalik beberapa kali.
"Aku mencintaimu. Akan melakukan segala cara untuk memilikimu..." Ucap pria itu dengan deru napas tidak teratur.
__ADS_1
Brug!
Claudia membuka matanya, pakaiannya masih lengkap. Dirinya terjatuh dari atas tempat tidur, masih dalam keadaan memeluk bantal."Aku bermimpi mesum! I...ini karena aku membohongi orang itu kan? Tidak... tidak akan terjadi apa-apa. Setelah setahun bercerai, dia tidak memiliki wajah ataupun kekuasaan untuk tidak tanda tangan surat perceraian satu tahun lagi..." gumam wanita itu tiba-tiba tertawa. Sungguh mimpi buruk yang dramatis.