
"A...apa maksudmu?" tanyanya menghela napas kasar, berusaha terlihat senetral mungkin didepan pemuda ini.
"Nenek berkata, ayahku sudah meninggal. Ibu juga pulang setahun dua kali. Nenek bukan hanya nenekku, tapi segalanya bagiku. Jadi tolong kali ini pahami aku. Aku menyukainya." Kalimat tulus dari Michael, pemuda berambut hitam dengan mata yang jernih. Tidak ada satupun jerawat di kulitnya yang putih. Alis yang tegas, bentuk wajah sempurna, serta senyuman yang menawan. Memang! Tidak ada yang dapat mengalahkan pesona anak majikannya.
"Dia terlalu jelek untukmu." Alasan yang dibuat Berta.
"Aku tidak pernah bertemu wanita secantik dirinya." Tegas Michael.
"Tidak setara! Seperti pangeran dan gadis miskin!" Kalimat serius dari sang nenek membuat Michael terdiam mengenyitkan keningnya.
Matanya melirik ke arah sekitar ruang makan yang bagaikan gubuk. Mungkin hanya kamarnya dan Berta yang berkelas di tempat ini.
"Nenek mau tahu pendapatku? Simpleton dan Angsa Emas, karya Grimm bersaudara. Penebang kayu miskin, tidak tampan yang menemukan angsa emas. Dapat menikahi putri paling cantik, karena dapat membuatnya tertawa. Itulah keberuntunganku." Jawaban dari Michael membuat Berta tidak dapat membantah. Hanya dapat menelan ludahnya kasar.
Dirinya tidak dapat mengatakan tentang status pemuda ini sebenarnya. Sial! Seharusnya dirinya tidak menceritakan dongeng sialan itu! Bagaimana bisa seorang penebang kayu miskin menikah dengan putri yang tidak dapat tersenyum, hanya karena membuatnya tertawa.
"Michael sayang...itu hanya dongeng." Ucap sang nenek pelan.
"Itu memang dongeng. Tapi yang aku alami ini dunia nyata. Dia menyukaiku, katanya dia tidak suka pria tampan. Karena memiliki kenangan buruk, dia juga tertawa saat aku berucap serius. Ini seperti dalam dongeng bukan?" Michael menghela napasnya menghentikan kata-katanya sejenak. Pemuda itu tertunduk, bagaikan ingin mengatakan sesuatu yang selama ini dipendamnya."Nenek tau bukan, karena riasan ini tidak ada wanita yang mau mendekatiku. A...aku merasa di dunia ini hanya ada nenek. Tapi, aku juga ingin memilikinya keluarga. Bekerja, mempunyai wanita yang aku cintai, dan anak manis yang menungguku pulang dari ladang. Ta...tapi nenek menyuruhku belajar dari tumpukan buku yang tidak dapat menghasilkan uang! Tidak memperbolehkanku kuliah di kota, tapi juga tidak boleh bekerja di desa. Jika begitu bagaimana aku akan dapat memiliki keluarga."
"Kamu akan memilikinya, wanita yang lebih cantik dari keluarga terpandang. Pekerjaan yang tidak rendah sama sekali." Jawaban dari sang nenek, membuat Michael hanya dapat menghela napas kasar.
"Paling bagus aku hanya dapat menjadi tour leader karena lancar berbahasa asing. Tidak memiliki ijasah selain ijasah SMU. Sepintar apapun, jika tidak memiliki modal dan relasi, itu sama dengan nol besar. Itulah yang aku pelajari 28 tahun ini. Ta...tapi jika hanya menjadi tour leader atau cleaning service pun, tidak memiliki karier, setidaknya aku ingin memiliki anak dan istri. Menghidupi mereka dengan uangku yang tidak seberapa. A...aku tidak ingin menua sendiri..." Untuk pertama kalinya pemuda itu menitikkan air matanya. Mengemukakan pendapatnya di hadapan sang nenek. Menurut? Selama ini itulah yang dilakukannya. Tidak membantah sama sekali.
"Michael, percaya pada nenek. Kamu tidak pantas dengan wanita---" Kalimat Berta disela.
"Aku mengerti. Besok aku akan berkata semuanya batal." Hanya itulah jawaban Michael, memakan makanannya tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Michael... bagaimana jika kita ke taman hiburan di kota." Berta mencoba untuk menghiburnya.
"Aku tidak diperbolehkan ke kota, jika tanpa ijin ibu. Nenek lupa?" Kalimat terakhir yang diucapkan Michael sebelum bangkit dari kursinya. Menyisakan makan malam yang hanya habis setengah.
Sedangkan Berta hanya dapat menghela napas kasar. Kembali menatap ke arah brosur sialan milik Michael. Bagaimana ini? Dirinya tidak menyangka situasi seperti ini akan terjadi. Tuan mudanya jatuh cinta, jika pada orang yang salah, dirinya mungkin akan dieksekusi mati oleh nyonya muda. Itulah yang ada dalam fikirannya saat ini.
*
Matahari belum terbit saat itu, namun dirinya sarapan dengan sereal dan susu lebih cepat. Benar! Sereal dan susu, ingat! Mereka orang desa rasa bangsawan, tapi rumah dari luar bagaikan gubuk.
Dirinya tidak bisa marah pada neneknya. Tidak juga dapat membantah. Berjalan membawa sapinya lebih awal, hingga seorang pemuda membuat langkahnya terhenti.
Awan, itulah namanya anak pemilik toko emas yang kalau dilihat-lihat tampangnya lumayan."Hai...udik ..." sapaannya.
Ekspresi wajah yang benar-benar datar, Michael kembali melangkah terlihat tidak peduli.
"Kamu yang terpilih menjadi calon suami Claudia kan? Kamu pakai dukun mana?" Tanyanya untuk yang kesekian kalinya.
"Tidak pakai dukun." Michael menghela napas enggan menjelaskan.
"Terserahlah! Mungkin wanita itu memang katarak. Tapi berarti kamu tetap akan menikahkan? Undangannya berapa?" tanya Awan penasaran.
"Tidak jadi. Nenekku tidak setuju. Katanya kami tidak setara. Bagaikan pangeran dengan rakyat jelata." Jawaban dari Michael.
Awan terdiam sejenak, otaknya berusaha mencerna. Benar-benar berusaha mencerna, satu detik, dua detik, hingga pada detik ke tiga.
"Ha...ha...ha..."
__ADS_1
Suara tawa yang benar-benar kencang, benar-benar luar biasa menggelegar. Membuat Michael memijit pelipisnya sendiri. Sudah diduga olehnya, Awan juga memiliki pemikiran yang sama dengannya.
"Nenekmu sudah pikun." Ucap Awan.
"Nenekku mengalami demensia."Kalimat yang diucapkan Michael bersamaan.
"Apa itu demensia?" tanya Awan mengenyitkan keningnya.
"Pikun... mungkin artinya sama." Michael pada akhirnya kembali menarik tali sapinya. Suara lonceng terdengar dari kalung penuh cinta yang pernah diberikannya pada para sapi dan seekor kerbau yang dirawatnya.
"Tunggu! Kamu mau tetap menikah bukan? Tapi mendapatkan restu dari nenek mu?" tanya Awan, memberikan pengaruh buruk padanya.
Dengan cepat Michael mengangguk, dirinya sudah terlanjur jatuh cinta pada Claudia.
"Aku punya cara! Hamili Claudia! Maka nenekmu tidak akan banyak bacot lagi." Sebuah pengaruh buruk dari pergaulan dapat membuat seorang anak baik-baik menjadi liar.
"Ta...tapi untuk menghamili, harus tidur sambil berpegangan tangan bukan?" tanya Michael, membuat Awan menepuk dahinya sendiri.
"Bukan begitu! Nanti siang aku akan memberikanmu sebuah flashdisk. Tentang pelajaran biologi bagaimana caranya manusia berkembang biak, kamu tinggal pergi ke warnet saja, membuka videonya!" Tegas Awan penuh percaya diri dengan koleksi video tutorial yang kerap membuatnya panas dingin.
"Pelajaran biologi? Itu artinya pembentukan zigot bukan? Dimana sel telur perlu dibuahi dengan jalan berhubungan badan. Terkadang saat pertama kali melakukannya wanita akan merasakan sakit, karena selaput dara mereka, dirobek oleh p----" Kalimat fulgar dari Michael langsung terhenti akibat Awan yang menutup mulutnya menggunakan tangan.
"Kamu sudah tau!? Lalu kenapa mengatakan wanita dapat hamil hanya dengan berpegangan tangan ketika tidur!?" Teriak Awan kala melepaskan mulut Michael.
"Nenek yang mengatakannya, karena itu aku percaya. Lagipula cara yang pernah aku baca, terdengar menyakitkan bagi wanita. Jika hanya dengan berpegangan tangan ketika tidur saja dapat hamil, kenapa harus menyakiti wanita dengan merobek selaput daranya?" Pertanyaan dari Michael, bagaikan pria baik hati. Membuat Awan benar-benar tidak habis fikir.
"Karena merobek selaput dara mereka, merupakan sebuah kepuasan tidak terbantahkan bagi pria!" teriak Awan murka.
__ADS_1
"Kepuasan? Aku tidak akan menyakiti Claudia hanya demi sebuah kepuasan."