
...Pinokio, dongeng indah tentang seonggok kayu yang ingin menjadi manusia....
...Ingin bergerak dan memiliki kulit, berharap dapat hidup bahagia bersama ayahnya....
...Dia beruntung... Pinokio lebih beruntung dariku. Memiliki kulit, memiliki daging, maupun darah, seperti manusia....
...Tapi hatiku hanya sebongkah kayu yang telah lapuk....
...Boneka kayu lebih beruntung daripada diriku. Dicintai, hingga hatinya selembut manusia....
...Sebaliknya, cinta hanya fatamorgana. Membekukan hatiku, perlahan lapuk hancur tidak bersisa. Aku hanyalah boneka kayu pada akhirnya....
...Akan dibuang olehnya......
Michael.
Perlahan matanya terbuka, harum aroma secangkir kopi tercium. Pemuda itu masih ada disini, tersenyum hangat padanya. Tidak ada amarah yang tersirat sedikitpun.
"Sayang..." Claudia bangkit memeluknya dari belakang.
Namun ada yang aneh, Michael tetap tersenyum melepaskan pelukan Claudia. Mengacak-acak rambutnya sembari tersenyum."Makanlah... untuk Claudiaku yang tercantik..."
Dirinya duduk di kursi dekat balkon. Mulai menikmati sarapannya."Suamiku tidak sarapan bersamaku?" tanyanya.
"Aku sudah sarapan..." Jawaban dari Michael.
"Aku harus terbiasa tanpamu. Atau lebih tepatnya membiasakan diri, agar tidak merasakan sakit saat dibuang nanti..." Itulah isi fikiran yang tersembunyi dalam senyumannya.
"Ayo! Temani aku!" Claudia menariknya untuk duduk berhadapan. Wajah cantiknya yang tersenyum anggun. Bagaimana dapat tidak mencintainya? Hanya dapat mencintai, tapi tidak dapat dicintai.
Menatap wanita itu makan dengan lahap. Ada kebahagiaan tersendiri dalam hati yang telah termakan rayap itu. Bibirnya kelu untuk bicara, namun ada yang tetap harus diucapkan olehnya.
"Aku ingin menghabiskan malam denganmu apa boleh?" tanyanya, telah mengetahui jawabannya.
__ADS_1
"Cukup berpegangan tangan saja..." batinnya telah menebak segalanya.
"Kamu kan tau, cukup berpegangan tangan ketika tidur saja, kita dapat memiliki anak." Claudia tertawa kecil, menyempurnakan dustanya.
Bodoh bukan? Hal yang konyol wanita ini juga mengikuti hal polos yang diucapkan olehnya. Bahkan Awan lebih peduli padanya.
Dirinya menghubungi Berta tadi pagi. Nenek tua yang bicara soal penerus, terlalu banyak mengoceh. Dan apa yang terjadi saat Michael mengatakan tidak ada yang terjadi selain berpegangan tangan?
Berta mengakui segalanya sembari tertawa. Itu hanyalah mitos yang diucapkan olehnya. Agar Michael melewati masa remajanya dengan memiliki batasan. Melakukan segalanya hanya dengan istrinya saja.
Tapi tidak menyadari apa yang diucapkan Claudia saat ini. Wanita itu kembali berdusta di hadapannya. Mungkin dalam bayangan Claudia dirinya hanya anak kecil yang polos.
"Michael, besok kita akan tinggal bersama di kota. Aku sudah mempersiapkan apartemen yang cukup bagus. Kamar dan perabotannya juga, kamu akan menyukainya." Claudia tersenyum padanya.
"Tidak ada pria yang mendekatimu di tempat ini. Apa disana akan ada banyak pria yang mendekatimu?" Satu pertanyaan dari Michael. Wajahnya tersenyum, lebih tepatnya berusaha untuk tersenyum.
"Aku menduduki posisi kedua tertinggi di perusahaan. Tentu saja mengenal banyak orang. Tapi tenang saja, aku hanya mencintaimu..." Kalimat darinya, tersenyum memakan sandwich di hadapannya.
"Saat di kota nanti, boleh aku meminta pekerjaan?" Pertanyaan dari Michael, mengepalkan tangannya. Dirinya sedikit gemetaran saat ini. Hanya memiliki Claudia saat di kota nanti."A...aku hanya tidak ingin ditinggalkan di rumah seorang diri."
Claudia menghela napas kasar. Sungguh berfikiran dewasa calon adik angkatnya ini. Mungkin itulah hal yang membuatnya mengangguk."Tapi harus sesuai dengan pendidikanmu! Berusaha profesional, tidak boleh hanya bergantung padaku di kantor."
Michael hanya mengangguk, cukup mengetahui posisi apa yang akan didapatkannya nanti. Jika sesuai pendidikannya, cleaning service. Itulah yang akan menjadi pekerjaannya nanti.
Pemuda yang lebih banyak tersenyum sembari makan. Hanya melihat Claudia itulah keinginannya. Walaupun harus melewati udara kota yang cukup tercemar, atau menjadi seorang office boy.
*
Terkadang hari dapat berlangsung dengan cepat. Barang-barang ada dalam bagasi. Hari terakhir dirinya di villa mendapatkan sebuah tamparan? Hal yang masih membekas dalam benak Michael. Malam dimana dirinya menyadari Claudia tidak benar-benar mencintainya.
Lalu kenapa jika tidak mencintainya? Dirinya akan tinggal dalam apartemen yang sama dengan Claudia. Menarik perhatiannya perlahan, cinta dapat tumbuh pelan-pelan.
Matanya menelisik mengamati gedung-gedung yang menjulang tinggi. Dirinya dulu memang tinggal di kota, sebelum separuh memorinya menghilang akibat kecelakaan mobil. Sebuah mobil yang tenggelam di danau.
__ADS_1
Lalu lintas padat dengan pepohonan jarang terlihat. Tidak seperti di desa, jujur dirinya tidak nyaman dengan tempat ini. Tapi ini demi Claudia.
Suara klakson terdengar nyaring, seakan tidak sabar untuk melewati kemacetan. Beberapa anak bernyanyi, mengetuk kaca jendela mobilnya hanya untuk mendapatkan uang receh. Inilah kota tempat pengharapan dari orang-orang. Tempat yang diceritakan dengan angkuhnya bagaikan surga.
Beberapa cerita dari orang-orang kampung yang bekerja di kota selalu bercerita kala mereka pulang untuk menemui sanak kerabat. Kota dengan gedung-gedung pencakar langit yang indah, ada pula eskalator dan lift, dilengkapi jembatan penyebrangan. Tidak ada jalan setapak yang terlihat seperti di desa. Itulah kalimat dari mereka membandingkan.
Memang benar, gedung pencakar langit yang tinggi. Mungkin sesuatu yang disebut lift juga ada di dalamnya. Tapi tempat ini begitu rendah bagi yang rendah, anak-anak jalanan beraliran menggunakan sandal tipis. Mungkin juga begitu tinggi bagi yang tinggi, beberapa kendaraan pejabat melintas, dikawal mobil polisi.
Tempat yang menakutkan baginya dirinya bagaikan seekor semut yang menatap luasnya perkotaan. Rumput liar yang tumbuh di jalanan berbeton itulah dirinya.
Tangannya gemetar, ketakutan akan tempat ini. Tapi juga tidak mau menyerah akan seseorang yang tidak mencintainya."Claudia..." panggilnya, bersandar pada bahu istrinya.
"Ini baru pertama kalinya kamu ke kota kan? Kamu pasti akan kagum, ada arena boling, bioskop, bahkan ada salju buatan, jika ingin makanan manis yang lezat ada cafe dessert di dekat sini, dan ada juga club'malam yang begitu terkenal." Penjelasan Claudia penuh semangat. Mengira orang yang ada disampingnya ini mengagumi pesona perkotaan.
"Aku menyukainya...kota..." Ucap Michael pelan.
"Aku menyukaimu... tempat ini begitu asing bagiku," batinnya, menjadikan Claudia sebagai satu-satunya tumpuannya. Satu-satunya orang yang dikenalnya di tempat ini.
Tangannya mengepal, sekaligus wanita yang menjadikannya suami, tapi tidak pernah ada cinta yang sesungguhnya.
"Baguslah jika begitu. Aku berjanji akan membawamu berjalan-jalan keliling kota begitu aku libur nanti." Apa sebuah janji yang akan ditempati? Pergaulan kelas atas, bekerja, semuanya. Setelah ini Claudia akan begitu sibuk.
Pemuda yang tertidur membiarkan setengah jendela mobil terbuka. Rambutnya tertiup angin perlahan, bagaikan akan meringankan rasa sakit yang dirasakannya nanti.
"Michael... Michael... Michael..." Claudia membangunkannya setelah beberapa menit dirinya tertidur.
"Em?" Gumamnya tanpa membuka mata.
"Dari kemarin kamu tidak mencium bibirku. Bisa aku minta sekarang?" Tanya Claudia canggung. Pemuda yang tiba-tiba membuka matanya, menatap ke arah Claudia.
"Aku sudah bilang! Hal terberat adalah menyetir mobil untuk pengantin baru. Susunya masih kental dan berkualitas, jadi membuat ketagihan. Jadi ingin makan Oreo kan? Putar! Jilat! Celup!" Batin sang supir.
"Tuan, nyonya, apa tidak sebaiknya kita berhenti di hotel saja?"
__ADS_1