Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 28. Pria Rahasia


__ADS_3

Mobil terhenti sejenak, wanita itu perlahan turun. Kemana tujuannya? Membeli ubi manis mentah yang dijual di pinggir jalan.


Satu persatu dipilih olehnya, sedangkan Michael berkeliling di area pasar yang tidak begitu luas ini seorang diri. Jujur saja, ini untuk pertama kalinya dirinya memasuki pasar tradisional. Mengingat makanan selalu sudah tersedia, berikut dengan makanan ringan.


Karena itu mungkin saatnya untuk berbelanja sedikit. Dirinya sudah bisa menggunakan phonecell, itupun atas bimbingan Claudia. Beberapa resep makanan akan dicari olehnya di internet.


Merencanakan membuat olahan makanan dari caviar. Matanya menelisik, mencari-cari bahan. Tapi entah kenapa di tempat ini tidak ada caviar sama sekali.


"Maaf, apa ada caviar (sejenis telur ikan)?" tanyanya ragu.


"Caviar? Anak mana? Atau mungkin bukan orang sini. Soalnya disini tidak ada yang namanya Caviar." Jawaban dari sang pedagang ikan.


Pemuda itu menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya sendiri yang tidak gatal. Menghela napas berkali-kali."Telur ikan Sturgeon..." jelasnya ragu, mengingat-ingat kemasan yang selalu ada di rumahnya.


"I...ikan apa? Nila? Kakap? Teri? Kepiting?" Ingin menangis rasanya menjelaskan. Dirinya juga tidak mengerti masalah ini sama sekali. Kenapa begitu sulit mencarinya, sedangkan di rumahnya selalu ada.


"Ka... kalau begitu saya beli ikan ini saja..." Dirinya menghela napas kasar pada akhirnya membeli ikan teri. Neneknya selalu berkata caviar biasa dimakan oleh tetangga mereka hingga bosan. Karena itu tetangga mereka lebih sering terlihat memakan tahu tempe. Tapi kenapa betapa sulit ditemukan?


Beralih ke penjual daging. Kali ini dengan yakin dan percaya diri dirinya mengatakan."Pak saya beli daging sapi Wagyu, 450 gram..."


Kalimat darinya membuat sang pedagang daging mengenyitkan keningnya."Pak Wagyu? Bukan suplayer daging peternakan di sini. Adanya juga pak Wahyu ...."


Astaga! Kabel konslet yang tidak tersambung dengan benar. Michael hanya dapat menghela napas kasar. Melirik ke arah tumpukan daging sapi, dirinya tidak napsu lagi."Sayap ayam setengah kilo..." pemuda itu menyerah.


Lebih mudah menemukan bahan makanan yang sering dilihatnya dimakan oleh tetangganya. Dirinya tidak mengerti sama sekali. Neneknya selalu bilang ini adalah makanan dengan harga yang paling murah. Lebih murah daripada tahu tempe.


Dengan rasa penasaran tingkat tinggi dirinya memberikan sesaji berupa kuota, melalui perantara jimat phonecell pintar miliknya, guna mengundang makhluk mistis yang paling sakti, Mbah Google.


Dirinya mengenyitkan keningnya, menatap ke arah phonecellnya dengan tangan gemetar. Satu kilogram tempe harganya kurang lebih 12 ribu rupiah. Sedangkan satu kilogram caviar diatas 300 juta rupiah.


Apa neneknya sudah gila!? Dimana neneknya mendapatkan uang sebanyak itu. Jemari tangannya gemetar, mulai meragukan apa yang diucapkan neneknya. Benar-benar ragu, terdiam menelan ludah kasar. Jika diingatnya lagi, memang selalu ada keanehan.

__ADS_1


Kamarnya berbeda dengan kamar orang desa pada umumnya. Tapi bagian luar rumahnya seperti gubuk. Jujur saja jika dibandingkan dengan kamar Awan yang hanya ada kamar mandi dalam yang lumayan sempit lengkap menggunakan bak mandi serta gayung.


Kamarnya cukup luas, ditambah dengan kamar mandi dilengkapi keran air hangat dan air dingin, menggunakan shower, di sisi kamar mandi lainnya. Karena itu dirinya tidak terlalu terkejut ketika tinggal di villa milik Claudia.


Tapi apa yang terjadi sebenarnya? Dapat darimana neneknya uang sebanyak itu? Dan jika memiliki uang dalam jumlah besar, mengapa neneknya tidak mengijinkannya kuliah di kota?


Meraba wajahnya sendiri. Kepalanya sedikit terasa sakit, beberapa memori samar kehidupan masa kecilnya terbayang.


Dirinya yang tenggelam dalam air danau berusaha keluar dari mobil. Berusaha untuk bertahan hidup walaupun sulit. Sedikit ingatan sebelum kejadian itu, ayahnya. Ayahnya menangis? Dirinya memiliki ayah? Sedikit mengingat bagaimana dirinya diangkat dan diberikan mainan.


Air matanya mengalir tidak terkendali, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Dalam gelapnya air danau, apa yang sebenarnya terjadi?


"Michael! Kamu kenapa?" tanya Claudia membawa beberapa benda yang dibelinya.


"Bu...bukan apa-apa. Aku hanya berfikir terlalu keras." Dustanya, bangkit dari tempat duduknya di emperan kios yang tutup.


"Michael, aku sudah memikirkannya. Bagaimana jika kamu mendatangi dokter kulit." Pinta Claudia sedikit ragu.


"Tidak perlu, aku ingin tetap menjadi Michael yang seperti ini. Kamu menyukaiku yang seperti ini kan? Jika aku tampan maka kamu akan meninggalkanku," ucapnya penuh senyuman.


Tunggu dulu! Menemukan pasangan!? Tidak! Michael akan menjadi adiknya, tidak boleh menikah atau dekat dengan wanita lain. Itulah isi dari fikiran Claudia yang super egois ini.


Dirinya tidak cinta maupun cemburu. Tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu pada orang ini.


*


Malam menjelang kala dirinya kembali menuju villa. Membawa beberapa bahan ke tempat kemudian memberikannya pada pelayan guna disusun pada lemari es. Terlalu lelah, akibat perjalanan jauh. Namun, kala memasuki ruang tamu seseorang terlihat.


Senyuman ramah memakai kacamata, itulah pamannya Wendy, ayah Erlina. Pria yang hanya tersenyum membawa seorang pemuda.


"Selamat malam..." Sapa Michael menyadari orang ini adalah anggota keluarga Claudia.

__ADS_1


"Tidak perlu menyapa setan ini!" Tegas yang mulia istri.


"Jangan kasar begitu Claud..." Wendy masih tersenyum menghela napas kasar.


"Claud? Kamu fikir aku awan! Panggil dengan nama lengkap! Claudia!" Tegas sang keponakan pada pamannya tercinta. Wanita yang mulai duduk di sofa ruang tamu berdampingan dengan suaminya.


"Baik! Claudia! Paman terus terang saja! Kita lebih baik mengadakan perjanjian perdamaian. Paman hanya meminta 10% dari saham ayahmu. Kamu tidak perlu akting seperti ini. Evan atau pria ini semua dapat paman buat bertekuk lutut di kakimu." Kalimat yang diucapkan sang paman penuh senyuman tanpa rasa bersalah. Membawa seorang pemuda yang merupakan artis idola keponakannya.


Pemuda yang hanya menunduk sembari menghela napasnya. Parasnya begitu sempurna, pria yang sering terlihat mempromosikan berbagai produk di televisi.


Titan, itulah namanya.


"Senang berkenalan dengan anda..." ucapnya penuh senyuman pada Claudia.


"Titan!" Ingin rasanya Claudia berteriak dalam hatinya. Bagaimana tidak, penampilan bad boy yang selalu stylish. Senyuman dingin memukau kala di panggung, terkadang mengikuti syuting film sebagai second male lead.


Tapi tidak! 10%? Dengan 10% saham dirinya dapat membuat management artis. Dapat bertemu lebih banyak pria tampan lagi.


Sedangkan Michael tertunduk sambil mengepalkan tangannya. Apa benar dirinya akan ditinggalkan? Lebih dari itu apa benar Claudia mencintai pria berwajah gurita ini?


"Aku tetap akan bersama dengan Michael. Cinta kami adalah cinta sejati bahkan maut tidak dapat memisahkan..." Tegas Claudia bergelayut manja pada lengan Michael.


"Omong kosong..." Wendy tertawa kecil.


"Jika saya menikah dengan anda saya akan bersikap baik. Nama anda Claudia bukan? Bagaimana jika kita memulainya pelan-pelan." Ucap Titan meraih jemari tangan Claudia dengan cepat kemudian mengecupnya.


Benar-benar cari mati dua orang ini.


Tidak menyadari segalanya. Michael telah bangkit, mengambil pedang samurai yang dijadikan pajangan. Mengarahkan pedang itu tepat di hadapan mereka.


"Gurita! Dengan wajah seperti ini kamu ingin menggantikanku? Aku bahkan pernah bertemu pria yang lebih tampan darimu. Tapi dia tidak pernah menginginkan milik orang lain. Mau aku kirim ke akhirat!?" tanyanya dengan nada dingin, membuat semua orang menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


Sebenarnya dimana Michael pernah melihat wajah yang lebih tampan daripada Titan? Tentu saja kala melihat cermin. Pria yang selalu bergaya di hadapan cermin, saat melepaskan lapisan gelatin dan makeup efek khususnya, itulah dirinya.


Tapi dia tidak bisa bilang, karena Claudia tidak menyukai pria tampan.


__ADS_2