Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 32. Red Flag


__ADS_3

Menaiki lift untuk pertama kalinya. Tapi apa benar untuk pertama kalinya? Ada beberapa ingatannya yang kabur. Tapi sensasi menaiki lift? Cukup mengesankan baginya yang sudah pasti puluhan tahun hidup di desa.


Seorang pria dewasa berada satu lift dengan mereka. Seorang pria yang menatap Claudia dengan tatapan tidak biasa. Mungkin bagaikan harimau yang lapar akan daging. Hanya firasat? Insting? Itulah yang dilakukan Michael merangkul bahu istrinya.


"Sayang, aku mencintaimu..." ucapnya dengan sengaja.


"Aku mencintaimu juga..." Claudia berjinjit mengecup pipi Michael.


"Ekhm..." Pria dewasa itu terbatuk-batuk, kemudian menghela napas kasar."Saya penghuni unit 431 B, manager perusahaan properti. Salam kenal nona..."


Nona? Sapaan itu hanya tertuju pada Claudia. Tidak untuk dirinya, kesal? Itulah yang ada dalam benak Michael."Orang ini ingin aku habisi. Andai saja ibu bukan negara hukum," batinnya.


"Rendahan..." Claudia tersenyum simpul.


"Memang kekasihmu apa profesinya? Aku bisa memberimu lebih, tempat tinggal atau akomodasi mobil. Kita tidak usah munafik, ada seorang wanita yang cantiknya bagaikan bidadari. Tapi menggandeng seekor Dugong. Itu sudah pasti karena uang." Pria dewasa yang tersenyum menghela napas kasar.


"Maksudmu Sugar Daddy? Aku dan suamiku? Kamu salah paham, bukan Sugar Daddy tapi Sugar Mommy. Aku lebih tua lima tahun daripada suamiku. Aku juga cukup kaya, profesiku wakil direktur. Kesimpulannya aku lebih kaya darimu." Ucap Claudia bergelayut manja pada Michael, bahkan mengecup bibirnya singkat.


"Tapi..." Pria itu mengenyitkan keningnya.


"Ayo Michael..." Ucap Claudia masih bergelayut manja, keluar tepat di lantai yang mereka tuju.


Sebuah perasaan campur aduk kala pemuda itu tersenyum. Wajah buruk rupa yang sedikit melirik ke arahnya sebelum berlalu pergi. Firasat buruk? Itulah yang dirasakan sang pemuda. Menekan tombol lift dengan cepat, ada yang aneh dengan pemuda berwajah mengerikan itu. Entah apa...


*


Apartemen yang cukup luas, ini hari libur terakhir bagi Claudia. Dimana dirinya kini? Tentu saja ada dalam pelukan Michael. Hujan yang tiba-tiba turun membuat mereka enggan untuk keluar setelah memesan beberapa keperluan secara online.


Wanita yang hanya mengenai kemeja kebesaran berada di pangkuan Michael. Meminum teh hangat sembari membaca buku bersama. Memakai selimut tenunan sebagai penghangat.


"Pinokio pada akhirnya menjadi manusia dan hidup bahagia bersama kakek Gepeto selama-lamanya." Akhir cerita dari buku masa kanak-kanak yang mereka baca.

__ADS_1


"Kenapa malah membaca buku dongeng?" keluh Claudia dalam pelukan pemuda yang membuatnya benar-benar nyaman.


"Karena itu indah, akhir yang selalu bahagia. Berbeda dengan kenyataannya. Beauty and the beast, mereka tinggal di kastil yang indah setelah kutukan terangkat, menjadi pangeran dan putri pengusaha kastil. Tapi di kehidupan nyata, beauty menikahi Beast yang buruk rupa atas perintah kaisar. Seperti eksperimen, ingin melihat keturunan mereka seperti apa. Keturunan yang terlahir sebagian besar berbulu seperti beast. Dijadikan hewan peliharaan bagi para bangsawan. Sedangkan Beast tetap pria buruk rupa yang dipenuhi dengan rambut, bukan kutukan tapi kelainan genetik..." Michael menghela napas kasar. Menutup buku dongeng di hadapannya.


Claudia tertawa kecil."Jangan merusak imajinasiku seperti itu..."


"Kamu ingin aku menjadi pangeran?" tanya Michael.


Claudia menggeleng pasti."Aku menyukaimu yang sekarang," sebuah jawaban darinya.


Suami istri? Apa itu hubungan mereka? Kekasih? Teman? Semuanya tidak, tertutup oleh dusta. Apa salah jika dirinya serakah menginginkan wanita ini hanya menjadi miliknya.


Claudia menatap ke arahnya, udara di luar sana begitu dingin. Angin bertiup cukup kencang, kaca balkon kamar dipenuhi air hujan.


"Ini indah..." Itulah yang ada di batin Claudia kala lidahnya bertemu dengan lidah Michael. Siapa yang memulainya? Entahlah. Tapi merayap perlahan, tidak menemukan kepuasan. Sepasang mata yang terpejam.


Claudia mencengkeram lengan kemeja pemuda yang tengah memangkunya. Menginginkan lebih, sensasi bagaikan mabuk dirasakan olehnya. Tidak! Dirinya tidak boleh seperti ini.


"Claudia..." pintanya lirih, menjilati leher sang wanita.


Bug!


Buku dengan sampul Pinokio terjatuh di lantai. Jemari tangan Claudia mencari tumpuan, benar-benar tumpuan. Dirinya putus asa, menghirup aroma seorang pria. Pria pertama yang sedekat ini dengannya.


"Tidak boleh! Tapi aku ingin..." batin Claudia lagi, merasakan perasaan aneh di area bawah perutnya. Ini gila! Psikisnya bagaikan sepenuhnya dikendalikan oleh ciuman perlahan pemuda ini. Tanpa menuntut sama sekali. Menggigit pelan, kemudian menghisap bagian lehernya.


"Ah... Michael..." Gumamnya sudah tidak dapat menahan diri, memegang bagian otot-otot dada sang pemuda yang masih berbalut pakaian.


"Sudah! Jika ada ini kemungkinan tidak akan ada pria yang mengganggumu lagi." Kalimat aneh darinya setelah memastikan ada tanda cetakan ungu. Pemuda yang belakangan ini sudah belajar banyak tentang romansa pria dan wanita dewasa.


Menghela napas kasar, setidaknya tidak akan ada pria yang mendekati Claudia lagi.

__ADS_1


"Su...sudah!?" Claudia mengenyitkan keningnya.


Michael mengangguk, meraba bagian leher wanita itu perlahan."Jika mereka melihat tanda ini, maka akan mengetahui ada yang sudah memilikimu."


Kecewa!? Ingat! Pantang bagi Claudia untuk kecewa, dirinya tidak kecewa sama sekali, malah seharusnya bersyukur karena Michael tubuh membawanya ke ranjang. Hanya sayang saja, sudah dilambungkan setinggi langit, hingga fikiran kotor dan bisikan setan terngiang, malah dijatuhkan di dasar paling Mariana. Menggunakan pemikiran polos seorang Michael.


"Kenapa kamu berbuat begini?" tanya Claudia mengenyitkan keningnya.


"Untuk melindungimu. Aku tidak dapat memaksamu melakukannya. Tapi setidaknya dengan tanda ini ada ketegasan agar para pria itu menyingkir. Walaupun aku tidak mempunyai apa-apa. Tapi aku punya cinta..." Kalimat tulus darinya.


"A...aku bisa gila! Bagaimana bisa mempunyai adik seromantis ini!?" Batin Claudia ingin menjerit rasanya.


Tapi satu hal yang dilupakan olehnya. Jika bercerai nanti dan Michael menjadi adik angkatnya. Maka Michael suatu hari nanti dapat menikah kembali. Memberikan hatinya dan ribuan gombalan tulus pada wanita lain.


Benar-benar lupa. Karena dalam imajinasi Claudia, Michael selalu ada di sampingnya. Sedangkan dirinya menjadi CEO wanita sukses yang dikejar banyak pria tampan.


"Aku harus pergi..." Michael menghela napas kasar.


"Kemana?" Tanya Claudia mulai bangkit dari pangkuannya.


"Membeli minyak goreng..." Jawaban dari Michael. Meninggalkan Claudia seorang diri. Entah kenapa terlihat senyuman yang berbeda dari pria itu kala menutup pintu.


*


Senyuman yang berbeda? Suasana minimarket yang sedikit ramai. Dirinya membeli minyak goreng, satu kemasan besar yang masih tersegel, serta satu kotak alat kontrasepsi untuk pria.


Memakan ice cream jagung yang dibelinya masih menggunakan jas hujan, mengingat hujan gerimis yang turun.


Matanya menelisik tersenyum menatap sebuah toko kelontong yang menjual minyak goreng kemasan kecil.


Sebuah perangkap, mungkin tidak akan mati hanya cidera. Kasus penyerangan dengan alibi yang kuat akan dimulai.

__ADS_1


__ADS_2