
Beberapa orang staf yang kebetulan lewat menyaksikan kejadian ini. Merekam dua wanita yang berkelahi. Menyebar bagaikan api hingga satu kantor tau. Jam makan siang yang baru saja usai. Tapi hampir semua staf malah menonton pertarungan dua wanita dari luar ruangan wakil direktur.
"Bu Erlina! Semangat! Hajar! Walaupun tunangannya Micky! Berani-beraninya dia ingin merebut calon suami ibu!" Teriak sang sekretaris yang sebelumnya mendengar pertengkaran mereka dari luar ruangan.
Orang-orang mulai tersenyum tidak sedikit dari mereka yang merekam.
"Bukannya kekasih Bu Erlina pak Evan ya?"
"Kamu tidak dengar, pak Evan baru saja mengundurkan diri. Sudah pasti karena perselingkuhan."
"Jadi benar, yang murahan dari awal Erlina. Merebut calon suami sepupu sendiri."
"Dari luar cupu, tapi di ranjang suhu. Caranya merebut pak Evan sudah pasti pakai kecantikannya di ranjang. Kalau tidak mana mungkin Bu Claudia yang super sempurna sampai menganggur di altar."
Fitra (kekasih Erlina) menghela napas kasar. Jemari tangannya mengepal, kekasihnya yang katanya merahasiakan hubungan mereka karena ingin merebut warisan orang tua Claudia, kini malah bertengkar memperebutkan putra konglomerat.
"Erlina! Aku muak! Kita putus saja!" Bentak Fitra pada akhirnya.
Tapi tidak digubris, Erlina mendengarnya. Tapi dirinya memang tidak serius dengan Fitra selama ini. Hanya bersenang-senang saja, di sela hubungannya dengan Evan.
Brak!
Dua orang itu lebih beringas lagi. Mereka benar-benar acak-acakan, benar-benar bagaikan Mak Lampir dan Mak Erot sungguhan. Entah dimana citra dan penampilan wanita klasik dan bermartabat mereka.
Yang jelas mereka bagaikan saling bantai saat ini. Mencakar yang dapat dicakar, mengumpat yang dapat diumpat. Berbagai kata kebun binatang keluar dari mulut mereka.
Hingga, satu orang datang membawa security.
"Hentikan!" Suara Claudia yang memang datang hari ini karena Evan mengatakan akan mengundurkan diri terdengar.
Dua orang yang tetap bertengkar memperebutkan suami orang.
"Setan! Claudia bantu aku mengalahkannya!" Perintah Erlina.
"Kamu yang setan! Berani-beraninya merebut tunanganku yang baru kembali dari kematian." Geram Selfia.
__ADS_1
Kasak kusuk karyawan yang menyaksikan keributan semakin terdengar. Apalagi setelah Fitra mengakui akhir hubungannya dengan Erlina. Gosip? Mendengarkan gosip cukup menyenangkan bukan?
"Kalian semua keluar!" Perintah Claudia, karyawan yang memang lebih menghormati mantan atasan mereka pada akhirnya berjalan keluar, walaupun tidak rela.
"Security! Pisahkan mereka!" Lanjutnya.
"Apa yang sedang kalian perebutkan?" tanya Claudia memijit pelipisnya sendiri. Setelah kedua orang itu berhasil dipegangi.
*
Tiga cangkir teh terhidang. Suasana yang jauh lebih tenang. Dua orang itu duduk berdampingan sedangkan Claudia duduk di hadapan mereka.
"Jadi sekarang semuanya lebih tenang. Apa yang kalian pertengkarkan?" tanya Claudia, menghela napas berkali-kali. Setelah mengirim pesan pada Evan, untuk bertemu nanti saja di luar kantor.
"Dia datang kemudian menamparku! Ini dapat dikatakan sebagai tindak penyerangan kan?" Erlina mengenyitkan keningnya, menatap tidak suka pada wanita yang duduk di sampingnya.
"Dia wanita j*lang yang merebut tunanganku. Kenapa jadi aku yang bersalah?" Selvia menatap penuh hina pada Erlina.
"Tunggu dulu! Kalian bertengkar karena pria?" Claudia menghela napas berkali-kali.
"Jadi siapa playboy yang membuat dua wanita berkelahi seperti orang kesetanan?" tanyanya lagi, berusaha bersabar.
"Micky! Orang ini tiba-tiba datang mengaku sebagai tunangan Micky." Jawaban dari Erlina membuat Claudia tertegun. Tangannya gemetar akibat menahan kesal. Berapa banyak wanita yang sudah digoda oleh suaminya.
"Ja...jadi kalian bertengkar karena seorang playboy?" tanya Claudia menghela napas berkali-kali, satunya mengaku tunangan, satunya lagi mengaku calon istri. Tinggal menunggu seorang wanita yang mengaku dihamili oleh Micky, maka lengkaplah sudah tensinya akan naik tidak terkendali.
"Dia bukan playboy! Dia mencintaiku, hanya mencintaiku dengan tulus. Kami terpisah 20 tahun lebih tapi aku masih hanya mencintainya. Begitupun dia hanya mencintaiku." Tegas Selfia.
"Jika begitu tolong jelaskan bagaimana tunangan yang katanya hanya mencintaimu itu, dapat ada di ranjangku semalaman. Aku istrinya! Statusku lebih tinggi dari kalian!" Batin Claudia berusaha keras untuk tetap tersenyum, menjaga kewarasannya. Walaupun dalam hati dirinya sudah mengamuk.
Claudia kembali menghela napas kasar, berfikir sejenak."Erlina apa yang membuatmu berfikir Micky hanya mencintaimu? Kalian belum menikah, belum bertunangan, bahkan Micky mungkin tidak pernah menyatakan cinta padamu." Senyuman licik terlihat di bibirnya. Apa untungnya mendamaikan dua orang wanita ini?
Erlina berfikir sejenak, dirinya otomatis mengucapkan kebohongan seperti sebelumnya pada Claudia. Lagipula alasannya logis, jika tidak cinta lalu kenapa Micky membantu ayahnya untuk menjadi direktur utama?
"Sudah pernah aku katakan bukan? Micky terang-terangan membantu ayahku, itu memerlukan dana yang tidak sedikit dan cukup banyak relasi. Jika tidak cinta lalu apa? Selain itu kami sering menghabiskan malam penuh gairah bersama. Terakhir kali, bahkan semalam dia melakukannya." Kalimat sombong dari Erlina.
__ADS_1
"Itu hanya perasaan sementara! Kami sudah bertunangan! Lalu kamu apa? Hanya wanita simpanan!" Selfia berucap sinis.
Claudia menghela napas kasar."Aku tidak tahu siapa yang benar dan salah. Aku disini hanya sebagai penengah. Tapi kesimpulan yang dapat aku ambil, Erlina secara tidak sadar menjadi orang kedua dalam hubunganmu dan Micky. Jadi dia tidak salah, dia hanya memperjuangkan pria yang dicintainya."
Dengan cepat raut wajah Erlina berubah ceria, sepupunya memang dapat diandalkan jika urusan bersilat lidah.
"Tapi, kamu (Selfia) juga tidak salah. Tunangan yang dikabarkan meninggal tiba-tiba hidup kembali. Kalian saling mencintai sepenuh hati. Jadi harus kembali bersama. Kesimpulannya...aku bingung..." Jawaban penuh senyuman dari Claudia. Tidak memberi solusi, malah membuat keadaan semakin rumit saja.
"Kamu hanya wanita dari masa lalu. Mungkin Micky sudah melupakanmu!" Erlina tersenyum berucap sinis.
"Cinta kami setulus air, hingga dia rela berbuat apapun demi aku. Sedangkan kamu hanya menggunakan tubuhmu. Seperti wanita bayaran..." Hinaan kwalitas tinggi dari Selfia.
Plak!
Tiba-tiba Erlina menampar wajah Selfia.
"Kurang ajar!" bentak Selfia, mempertahankan Michael. Yang bahkan menolak bertemu dengannya. Sudah pasti ini karena wanita j*lang ini.
Mulailah pertempuran Nyi Pelet melawan Nyi Blorong. Bagaikan pertempuran silat modern, dimana ada banyak benda yang melayang. Saling berpelukan dalam cakaran, berguling di atas lantai, bagaikan pasangan sesama jenis.
"Perempuan sial!"
"Pelakor!"
Dua orang security yang tadinya dibawa Claudia berusaha menghentikan. Tapi Claudia tidak mengijinkan mereka bertindak.
"Biarkan saja mereka menyelesaikannya sendiri. Ayo kita pergi," ucap Claudia menutup pintu ruangan diikuti oleh kedua security.
"Tapi Bu Claudia..." Kalimat salah satu security disela.
"Biarkan saja, mereka berdua ingin merebut suami orang lain. Kalau bertengkar sampai cacat malahan bagus." Claudia menghela napas kasar, berjalan menyelusuri lorong.
"Maksudnya?" Sang security mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Maksudnya, pria selingkuh harus mati. Karena itu, untuk menjaga kewarasanku, suamiku tidak boleh ketahuan selingkuh." Jawaban Claudia, membuat kedua security itu menghentikan langkah mereka.
__ADS_1
"Apa hubungannya dengan suami Bu Claudia?"