
Rasa putus asa, terjebak dalam ketakutan, itulah yang dirasakan Claudia.
Sesuatu yang aneh bukan? Kalimat cinta yang hampir serupa, keramahan yang sama. Apa perbedaan si buruk rupa dan pangeran di hadapannya?
Pernahkah kalian menonton kisah cinta Shrek dan putri Viona? Mengapa Viona lebih memilih Shrek dibandingkan dengan prince Charming? Apa kurangnya prince Charming dibandingkan dengan seekor oger?
Rayuan? Kata-kata cinta? Sikap yang manis? Keduanya memiliki kwalifikasi yang sama. Tapi ada beberapa orang yang memiliki tipe lebih suka setara atau mendominasi. Viona merasa nyaman dengan Shrek yang tidak terlalu mendominasi. Sedangkan tidak merasa nyaman dan aman dengan prince Charming yang mencintainya tapi bagaikan playboy yang terobsesi padanya. Ini hanya sebuah pendapat.
Situasi itu juga kini dialami oleh Claudia. Bagaikan terperangkap dalam penjara mengerikan. Dirinya tetap berusaha makan. Setelah dua hari, dirinya pada akhirnya diberikan piyama berbentuk kimono, serta set pakaian dalam.
Pemuda itu tidak pernah datang untuk makan siang. Tapi selalu menginap di kamarnya, hanya sarapan dan makan malam yang mereka lakukan bersama.
Wajahnya yang rupawan masih menbuat Claudia ketakutan hingga saat ini. Terutama kala senyuman itu menyungging. Dirinya takut, nanti malam pemuda ini akan melecehkannya. Tangannya gemetar, kala pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya. Takut jika itu pisau atau borgol, mungkin tali baja untuk menghabisi nyawanya.
Tapi pemuda itu mengeluarkan kotak beludru biru yang cukup besar. Membukanya di hadapan Claudia."Aku mendapatkannya di pelelangan. Warnanya biru, aku fikir warna ini cocok untuk Claudiaku tersayang..."
Satu set perhiasan berlian dengan kualitas tinggi, tidak juga membuat Claudia tersenyum. Barang-barang di hadapannya bagaikan rantai yang digunakan untuk mengikat dirinya. Jujur! Dirinya merindukan Michael di saat-saat seperti ini.
Pemuda itu bangkit dari kursi tempat mereka menghabiskan makan malam. Anting dikenakannya pada telinga Claudia. Mengecup telinga itu pelan."Aku mencintaimu."
Kalung dikenakan pada lehernya, sama seperti sebelumnya. Bibirnya merayap pada leher Claudia, bagaikan mencari aromanya disana."Aku merindukanmu."
Hingga pada akhirnya, cincin dipakaikan orang Micky."Jangan pernah meninggalkan aku."
Claudia memalingkan wajahnya, air matanya kembali mengalir."Aku ingin pulang..." gumamnya.
"Jika pulang maka kamu akan bertemu lagi dengannya? Aku tidak dapat menerima itu." Setiap kalimat yang diucapkan Micky bagaikan obsesi dengan tingkat yang benar-benar tinggi.
Dirinya terisak ketakutan. Berbagai barang berharga ada di tempat ini, set perawatan wajah, make up, segalanya. Tapi pria ini terlalu mengerikan. Dirinya merindukan setiap detik hidupnya bersama Michael.
Apa Michael sudah kembali? Entahlah, sebaiknya tidak kembali. Jika kembali mungkin pria ini akan melakukan hal yang buruk padanya.
__ADS_1
"Jangan menangis, aku mohon..." pintanya, lagi-lagi memeluk Claudia.
Claudia terlalu takut untuk merasakan hatinya yang berdebar dalam nada yang sama, saat dengan Michael. Tidak mengetahui, lebih tepatnya sifat dan rupa mereka yang berbeda jauh penyebabnya.
*
Hujan lebat turun malam itu, Micky mungkin tidak akan dapat kembali tepat waktu, penjagaan yang cukup longgar baginya. Dirinya akan melarikan diri dari tempat ini.
Satu hal yang diingatnya. Micky selalu kembali membawa mobil. Itu artinya akan ada jalur untuk dilewati oleh mobil tersebut.
Menghela napas berkali-kali. Dirinya harus mencoba peruntungannya kali ini. Membawa beberapa perhiasan emas untuk menyogok warga sekitar yang akan ditemuinya nanti.
Wanita itu perlahan mengamati keadaan. Beberapa pengawal tidak menjaga di pintu gerbang. Lebih memilih berteduh di area gazebo berlindung dari hujan.
Ini merupakan kesempatan emas baginya. Merayap diantara beberapa tanaman hias villa yang tinggi. Suara petir terdengar, seluruh tubuhnya kini basah kuyup. Tidak ada satupun pengawal yang mengetahui dirinya keluar melalui jalur samping. Berjalan dengan cepat dalam kegelapan hutan. Tujuannya? Mencari jalur mobil yang biasa dilewati Micky.
Dingin, ketakutan, itulah perasaannya saat ini. Hanya memakai piyama berbentuk kimono dengan panjang diatas lutut. Pakaian yang begitu minim.
Kala itulah dirinya terjatuh sesaat. Tidak ada luka, kembali bangkit. Namun kala matanya melirik ke belakang, ada seekor kucing hutan. Tidak begitu besar, mungkin seukuran *njing kampung dewasa, namun bagaikan melihatnya sebagai mangsa.
Berlari? Dirinya kembali berlari. Ketakutan akan nyawanya yang akan melayang. Hingga dirinya membentuk sesuatu dalam kegelapan.
Seorang pemuda, wajahnya tidak terlihat."Kamu disini?" Ini suara Michael, apa Michael datang untuk menyelamatkannya?
Air matanya mengalir tiba-tiba."A...aku takut..." gumamnya merasakan tempat teraman baginya. Memeluk tubuh itu erat.
"Tenang, ada aku..." Ucap sang pemuda yang diyakininya sebagai suaminya.
Pemuda itu melepaskan pelukannya, mengacungkan senjata api yang diambilnya dari seseorang di belakangnya.
Dor!
__ADS_1
Suara tembakan terdengar, begitu juga dengan sang pemuda yang terjatuh terdorong akibat terkejut dengan letupan senjata yang dipegangnya.
"Anda tidak pernah mengikuti latihan menembak, tapi malah ingin berlagak di depan wanita." Keluh Praha menghela napas kasar. Melihat majikannya jatuh di atas tanah.
"Aku hanya terkejut..." Jawaban dari seseorang yang memiliki suara serupa dengan Michael.
Claudia tertegun sesaat, kala sekelebat cahaya kilat menunjukkan wajah pemuda itu. Ini bukan Michael tapi Micky.
Indra manusia biasanya lebih sensitif kala salah satu dari panca indra lainnya tertutup. Seperti kali ini Claudia kesulitan melihat, tapi kini dirinya menyadari keanehan. Bagaimana bisa dua orang yang berbeda memiliki suara sama?
*
Tertegun dapat pemikirannya, mereka saat ini telah berada di area dalam villa. Tubuhnya masih basah kuyup, benar-benar kedinginan, tapi sinar bulan perlahan telah terlihat.
Praha ada disana sedikit tersenyum pada Claudia."Saya akan kembali..."ucapnya tiba-tiba, meninggalkan area villa. Menaiki mobil miliknya.
Tidak banyak pelayan di tempat ini. Namun minuman hangat sudah ada di atas meja. Pandangan mata Claudia tidak terlepas dari orang ini. Mengamati fitur wajahnya baik-baik.
Menyerupai Michael, suaminya. Handuk itu digunakannya oleh sang pemuda, mengerikan rambut Claudia yang basah kuyup.
"Aku mencintaimu, kamu lebih indah dari hujan hari ini." Kalimat dari pemuda itu, dirinya tertegun, benar-benar tertegun. Bukan kalimat obsesi lagi yang terlintas, tapi kalimat tulus dari Michael.
"A...aku putus asa, ingin memilikimu. Bolehkah aku menghabiskan malam denganmu? Mereka mengatakan pasangan yang tidak menghabiskan malam bersama, tidak saling mencintai. Walaupun kamu tidak mencintaiku tapi, malam ini aku akan memilikimu dengan cara ini." Kalimat yang diucapkan Michael.
Melepaskan manset kemejanya. Ini menyebalkan baginya, tidak dapat melihat Claudia seperti ini lagi. Jika Claudia terluka karena melarikan diri...maka...
Ibu yang mendesaknya untuk segera membawa Claudia. Wanita yang tidak mencintainya.
"Si... siapa?" itulah pertanyaan Claudia saat ini.
"Aku? Suamimu... jangan fikir dapat melarikan diri dariku?" ucapnya, membuka dasi yang kini dipakainya. "Ini yang pertama untukmu dan untukku. Jadi rileks lah..."
__ADS_1