Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 43. Kebutuhan Biologis


__ADS_3

Seperti biasanya, wanita itu selalu bangun terlambat. Memakai pakaiannya dengan cepat, kala dirinya membuka pintu, bau masakan telah tercium.


Terhidang di atas meja, menelan ludahnya kasar."Kamu sudah sarapan!? Ayo kita berangkat!" Ucap Claudia mengingat hari ini dirinya ada pertemuan dengan beberapa klien penting.


"Sarapan dulu!" Michael menarik tangan Claudia, memakaikan sepatu pada istrinya yang mulai makan dengan ragu.


Satu persatu rol rambut wanita yang tengah sarapan itu dilepaskan oleh Michael."Kamu tidak makan?" tanya Claudia dengan mulut penuh.


"Aku sudah makan duluan," dustanya, berjalan mengambil tas dan laptop milik Claudia.


"Sudah! Perutku sudah terisi! Ayo kita berangkat!" Ucap Claudia meminum segelas susu, tangannya masih memegang roti isi. Berlalu pergi diikuti oleh Michael yang tersenyum padanya. Membawa tas dan perlengkapan milik Claudia.


Bahagia? Itulah perasaannya melihat Claudia begitu bersemangat. Mengikuti langkahnya hingga berada dalam mobil yang melaju.


"Claudia pria seperti apa yang kamu sukai?" Pertanyaan tiba-tiba dari Michael. Kala kedua orang itu tengah menunggu di traffic light.


"Baik hati, menyayangi dan mencintaiku sepenuh hati, seperti kamu..." Rayuan tingkat tinggi dari Claudia.


"Tipeku adalah kamu, aku menyukai wanita dengan rambut panjang, karena rambutmu panjang. Aku menyukai wanita karier, karena kamu seorang wanita karier, aku menyukai setiap satu sentimeter dari dirimu. Karena... itu adalah kamu..." Satu persatu kalimat yang diucapkan Michael membuat Claudia tertegun. Bagaimana bisa calon adik angkatnya dapat berkata semanis ini?


Dua menit? Itulah hitungan mundur yang terlihat pada traffic light di hadapan mereka. Kala itulah Michael meraih tengkuknya. Pada hitungan mundur ke 90 detik.


Ciuman kali ini terasa berbeda. Bergerak lebih intens, mungkin karena waktu di traffic light yang terlalu singkat. Sensasi yang aneh kala dalam keadaan yang terdesak dalam waktu yang singkat, entah mengapa darah mereka mengalir cepat dalam setiap urat nadi. Jemari tangan pemuda itu kini berada di area sensitif bagian atas Claudia. Menekan gundukan yang masih lengkap berbalut kain itu.


"Ugh..." Wanita yang melenguh di tengah ciuman. Sensasi yang semakin gila saja, tubuhnya bagaikan memanas. Entah kenapa dirinya membiarkan satu kancing kemejanya dibuka. Membiarkan tangan Michael membelai kulitnya. Merayap menyentuh area sensitif bagian atasnya tanpa penghalang, memainkannya pelan.


Ini gila! Namun semakin gila, terasa semakin menyenangkan. Otaknya terasa kelu untuk menghentikan tindakan Michael.

__ADS_1


Namun, kepalang tanggung, Michael menghentikan segalanya. Melepaskan ciuman mereka, kemudian menarik tangannya dari area dada Claudia, kembali mengancingkan kemeja istrinya.


Pemuda yang mengalihkan pandangannya ke tempat lain, tanpa mengatakan apapun. Tepat pada saat lampu berubah warna menjadi hijau.


Jantung Claudia berdegup cepat, tangannya gemetar kala mencoba untuk melajukan mobilnya. Sedikit melirik ke arah Michael, bagaimana bisa dirinya tidak marah saat Michael melecehkannya?


Menelan ludahnya kasar, detik demi detik itu terbayang lagi. Masa puber yang terlambat di usianya yang telah mencapai 33 tahun. Dirinya membiarkan tangan pemuda itu merayap di balik pakaian dalam bagian atasnya."A...apa yang terjadi? Kenapa aku ingin Michael melakukannya lagi!? Padahal itu adalah perbuatan tercela!" batin Claudia frustasi. Bahkan marah pun tidak bisa. Lebih dari marah, malahan dirinya ingin pria itu lebih nakal lagi padanya.


Bagaikan penasaran bagaimana jika pria ini terlihat lebih nakal lagi? Menelan ludah kasar, masih menginginkan sentuhan yang membuatnya terlalu terbiasa.


Tidak menyadari betapa brutalnya pemuda yang mengalami pubertas terlambat ini. Di usianya yang ke 28 tahun untuk pertama kalinya dirinya melakukan perbuatan buruk.


Tidak seharusnya Claudia membiarkan Michael, tanpa memberikan peringatan. Bayangkan! Pria lebih muda dengan rasa ingin tahu dan stamina yang lebih prima. Wajah rupawan dengan bentuk tubuh yang bagus, apa yang akan terjadi pada malam pertama yang tertahan?


Entahlah, tapi hanya satu hal yang ada dalam fikiran pemuda itu sekarang. Apa Claudia membencinya? Dirinya benar-benar bergerak refleks mengikuti detak jantung dan aliran darahnya. Menginginkan aroma tubuh wanita yang dicintainya.


*


"Aku tidak sanggup lagi bertemu dengannya!" Teriak Claudia pada Tara yang kini berada di ruangan Claudia.


"Tidak sanggup? Kamu menghubungiku di tengah kesibukanku yang harus membaca laporan sialan dari rencana investasimu, hanya untuk mendengarkan omong kosong!?" Tara memijit pelipisnya sendiri.


"A...aku seharusnya melarangnya..." Claudia kini berusaha lebih tenang.


Wanita itu menghela napas kasar, berusaha untuk mendengarkan."Melarang apa? Siapa?"


"Michael...dia menyentuh ini saat berciuman. I...itu pelecehan tapi aku tidak memarahinya. Se... seharusnya---" Kalimat dari Claudia memegang dadanya.

__ADS_1


"Michaelku sayang sudah tumbuh dewasa!" Teriak Tara kegirangan.


"Michaelku sayang!?" tanya Claudia geram.


Dengan cepat Tara mengangguk."Mulai sekarang dia adalah kesayanganku. Setiap gerak geriknya sempurna, begitu manis, tidak ada yang mengalahkan pesonanya. Aku iri padamu! Seharusnya aku saja yang menikah dengannya. Taukah kamu semalam apa yang aku impikan? Dia mengajakku berkencan di Tokyo tower, memakaikan syal padaku, mengatakan kalimat romantis mematikan padaku. Lalu kami berciuman, mimpi yang indah! Andai saja itu nyata! Setelah dia bercerai denganmu, lalu menikah denganku. Aku akan membawanya honeymoon ke Tokyo, mewujudkan mimpiku berkencan dengan kesayanganku di Tokyo tower." Mulut itu berceloteh dengan lancar.


Adegan apa yang ada dalam imajinasi Tara? Tentu saja pangeran tampan idamannya. Pria menggoda di balik wajah buruk itu. Berkencan dengan dirinya di tengah udara dingin. Sungguh romantis.


"Tidak bisa!" Teriak Claudia murka.


"Kenapa? Jika aku menikah dengannya aku bisa memberinya kepuasan ranjang. Calon...kakak ipar..." Kalimat penuh penekanan dari Tara. Sengaja, wanita itu benar-benar sengaja. Tapi siapa yang tidak tertarik dengan pria tampan, walaupun persahabatan masih nomor satu baginya.


"Tetap tidak bisa! Michael tidak boleh menikah setelah bercerai denganku!" Tegas Claudia.


"Lalu apa yang akan terjadi padamu? Apa kamu akan menikah?" tanya Tara pada sahabatnya.


"Tentu saja! Aku akan mencari pria tampan, pintar dan mapan untuk menjadi suamiku." Jawaban refleks dari Claudia.


"Jika Michael pergi karena kurang perhatian darimu!?" Tara mengenyitkan keningnya.


"A...aku akan bercerai lagi, tidak menikah seumur hidupku. Hidup bahagia dengan adik angkatku." Jawaban dari Claudia membayangkan segalanya.


"Begini ada yang disebut dengan kebutuhan biologis bagi pria dan wanita. Apa kamu dapat memenuhinya?" Pertanyaan lebih bodoh lagi dari Tara. Dijawab dengan anggukan oleh Claudia.


"Sekarang aku ingin mengatakan hal ini padamu. Apa kamu sudah gila!? Kalian pasangan sudah menikah tapi kamu tidak mau berhubungan lebih lanjut! Kamu ingin bercerai, dan menikahi pria lain, baru mau memenuhi kebutuhan biologis Michael!?" Kesal, Tara menghela napas berkali-kali berusaha bersabar.


Claudia terduduk diam di kursinya mengambil satu kesimpulan."Apa hubungan kami seperti tante-tante dan brondongnya? Tidak ada cinta dan ikatan tapi ingin bersenang-senang di ranjang?"

__ADS_1


"Aku malas bicara denganmu yang mempunyai selera terlalu tinggi! Jika kamu tidak cinta! Aku bisa mencintai suamimu! Aku bisa tidur setiap malam setelah memenuhi kebutuhan biologis suamimu yang super manis!"


__ADS_2