
"Pu...putra anda?" tanya Wendy terbata-bata.
Yuki mengangguk."Karena itu aku sempat meminta data profil anak perempuan dari beberapa keluarga."
"Saya fikir ini gurauan atau sejenisnya. Lalu pemakaman 22 tahun yang lalu---" Kalimat dari Wendy disela.
"Suamiku baru saja meninggal, jadi aku harus melindungi putraku dengan baik. Lagipula hanya mengadakan pemakaman bukan? Tapi aku tidak pernah membuat surat kematiannya." Yuki menghela napas kasar berjalan masuk diikuti oleh putranya. Seorang pria yang bagaikan tidak tertarik dengan apapun, entah kenapa menebarkan aura permusuhan pada Wendy.
Senyuman menyungging di wajahnya Michael. Melangkah di samping ibunya.
*
Seperti apa rupanya? Wanita yang bagaikan melangkah dengan adiknya. Sang ibu yang telah hampir menginjak usia 50 tahun, namun lebih seperti baru berada di awal usia 30-an.
Bergabung dengan beberapa tamu undangan, pesta yang memang ditujukan untuk menyambut kedatangannya.
"Ini siapa? Apa kerabat anda?" tanya salah seorang tamu undangan.
"Micky! Perkenalkan dirimu." Perintah sang ibu pada putranya.
"Sudah aku bilang, lebih baik aku pulang dan---" Kalimat Michael terhenti, matanya menatap ke arah seseorang yang berada di sana.
Claudia ada di tempat ini, rumah Wendy mereka datang pada acara pesta yang sama.
"Cheers!"
Suara sekitar lima orang dari kalangan atas di meja tempat Claudia duduk saat ini. Wanita itu tersenyum, membicarakan beberapa hal, sesekali tertawa. Evan? Pria itu juga ada di meja tersebut.
Tidak ada kata yang diucapkan olehnya hanya melihat dari jauh segalanya. Mungkin ini alasan Claudia tidak membawanya. Bercerai setelah setahun? Memang itu tujuannya bukan?
Mata Yuki tertuju pada tempat yang sama dengan putranya. Wanita itu tersenyum sedikit berbisik."Micky, tidak semua wanita dapat dipercaya. Kamu ingin hidup tenang di desa jika bercerai? Wanita yang kamu sukai akan disentuh pria lain. Tidakkah kamu ingin memiliki dan menyimpannya untuk dirimu sendiri!?" Pertanyaan dari sang ibu, namun tanpa diduga Michael tersenyum.
__ADS_1
"Aku percaya padanya. Walaupun dia berkata akan menceraikanku. Aku tetap akan mengejarnya perlahan." Jawaban dari Michael, sejatinya menyakinkan dirinya sendiri.
"Baik, terserah padamu." Jawaban dari Yuki penuh senyuman, menanamkan bibit kecurigaan dalam hati putranya.
"Boleh aku minta nomor phonecellmu!? Namaku Widya, aku anak dari pemilik---"
"Minggir! Micky datang ke tempat ini hanya untukku! Micky mungkin kamu sudah mengenalku dari foto yang dikirimkan ayahku. Namaku Erlina...aku harap kita dapat mengenal dengan baik."
"Maaf, saya dari PT Lestari. Mungkin saya dapat mengundang anda makan malam, bersama keluarga kami. Kebetulan saya mempunyai anak perempuan yang baru mengambil dokter spesialis."
Waktu bicara yang terbatas, semuanya berucap terburu-buru. Namun pemuda yang mengenakan setelan jas bernilai tinggi itu hanya duduk. Meminum secangkir teh yang dipesankannya pada pelayan.
Sorot matanya tidak lepas dari tempat Claudia duduk dan bercengkrama.
Apa Claudia begitu bahagia dengan ketidak hadirannya? Itulah yang ada di fikirannya saat ini mencengkeram gelas yang dipenuhi dengan air dingin.
"Micky, bagaimana jika besok aku membawamu berkeliling?" Erlina menarik kursi duduk di sampingnya.
*
Tidak mudah mendekati Yuki apalagi dengan kerumunan yang terlihat. Matanya menelisik sesekali, ada seorang pemuda yang datang bersama dengan wanita yang katanya membeli 15% saham perusahaan.
Menghela napas kasar, sudah pasti itu yang dikatakan Erlina. Seseorang yang akan dijodohkan dengan sepupunya. Fitur wajah yang sempurna, bentuk alis, bibir, hidung, tatapan mata tajamnya. Tidak ada yang tidak indah, dapat dikatakan tanpa celah.
Menelan ludahnya kasar."Pria tampan... benar-benar mirip dengan yang ada dalam mimpiku. Tidak! Tidak! Tidak! Michael sudah menungguku di rumah. Kami akan memakan martabak bersama-sama," batinnya meminum segelas Vodka lagi.
Pria yang tiba-tiba menatap ke arah mejanya. Terlihat sorot mata kebencian disana. Menelan ludah berkali-kali, pria ini mungkin benar-benar akan dijodohkan oleh pamannya dengan Erlina. Sehingga terlihat begitu membencinya.
Tangannya gemetar, kembali meminum Vodka, mencoba untuk bersabar benar-benar tidak mudah rasanya. Dirinya ketakutan saat ini, status keluarga Yuki jauh lebih tinggi daripada keluarganya. Membeli 15 % saham ditambah dengan suntikan dana? Mungkin itu hanya bagaikan jatah belanja bulanan mereka.
Kala pemuda itu duduk, sialnya bertambah tampan saja. Seperti malaikat, mungkin itulah yang membuatnya tertegun. Pria yang dikelilingi banyak wanita cantik. Termasuk Erlina salah satunya.
__ADS_1
Wajah sinis dan acuhnya bagaikan menbuat wanita semakin tertarik. Jujur saja, mata itu terus menatap ke arah meja mereka membuatnya salah tingkah.
"Claudia, aku dengar kamu sudah menikah. Orang seperti apa suamimu?" tanya seorang wanita bergaun merah, seorang direktur perusahaan lain.
"Suamiku? Dia orang yang baik, penuh kasih, dan---" Jawaban Claudia disela.
"Kamu menyukainya?" Satu pertanyaan dari Evan menggenggam jemari tangan Claudia tiba-tiba.
"Hei! Hei! Claudia sudah menikah! Apa ini perselingkuhan?" tanya pria berdasi krem.
"Tapi sejujurnya aku menyayangkan perpisahan kalian. Evan, apa bagusnya Erlina!?" tanya pria gemuk, sembari mengunyah.
Claudia menarik tangannya dari Evan."Tidak! Pernikahanku dan suamiku baik-baik saja. Ja---"
"Ini menang salahku, seharusnya tidak menyakiti Claudia." Senyuman menyungging di wajah Evan, melirik ke arah Claudia penuh kasih. Seakan mengarahkan opini.
"Tunggu! Kenapa ruangan jadi dingin ya? Apa ada yang menurunkan suhu AC?" Tanya sang wanita bergaun merah. Bahkan merasakan bulu kuduknya mulai merinding.
"Micky! Kenapa kamu disini! Aku baru saja mengambilkan minuman untukmu..." Suara cempreng Erlin terdengar. Entah dari kapan pemuda yang pada awalnya duduk di tempat yang cukup jauh kini ada tepat di belakang Claudia.
"Micky, ayo kita kembali ke tempat bibi dan ayahku. Kita---" Kalimat dari wanita yang bergelayut manja pada Michael ini disela. Kepala wanita itu didorong agar tidak menyandar pada lengannya.
"Sampah, memang seharusnya berkumpul." Kalimat penuh tekanan dari mulut pemuda itu, kembali berlalu pergi. Dikejar oleh Erlina.
Rasa cemburu ada pada pemuda itu mengepalkan tangannya tanpa ekspresi. Melihat dengan jelas, bagaimana Evan menggenggam tangan Claudia. Bahkan berkata seolah-olah mereka akan kembali bersama.
"Apa maksudnya dengan sampah!? Dasar arogan!" Bentak Claudia pada pemuda yang hendak berlalu pergi.
"Sampah ya sampah... istri yang berselingkuh dari suaminya. Dan pria yang merebut istri orang lain, memang apa lagi sebutan yang cocok?" Tanya Michael, masih menatap enteng tanpa ekspresi.
"Memangnya kamu tau apa!? Mulut sampah! Siapa yang berselingkuh! Dasar pria playboy yang mungkin sudah tidur dengan ratusan wanita! Tidak takut terkena penyakit menular!?" Benar-benar geram rasanya. Bagaimana jika Michael mendengar dari orang lain dan salah paham. Pria yang menyebalkan, berani-beraninya menuduhnya berselingkuh.
__ADS_1
"Penyakit menular!? Kamu tau apa! Jika aku terkena penyakit menular! Itu artinya kamu juga akan terkena penyakit menular!" Entah kenapa kata-kata lebih sampah lagi keluar dari mulut Michael. Tapi logikanya sudah benar bukan? Jika suaminya terkena penyakit menular, istrinya akan tertular.