Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 26. Yakin?


__ADS_3

Kembali menyetir mobil menuju rumahnya. Di tengah hujan gerimis yang sempat turun. Waktunya kini menunjukkan pukul 2 pagi.


Rumah yang begitu menyesakkan baginya, setelah pernikahan yang gagal dengan Claudia. Tapi selain Claudia... hanya itulah satu-satunya tempat untuknya pulang.


Rumah yang tidak begitu besar tapi juga tidak dapat dikatakan kecil. Kala mobilnya terparkir, kegaduhan terdengar. Adik laki-lakinya berlari membawakan payung padanya, sedangkan dirinya yang baru memasuki teras disambut dengan pelukan oleh sang ayah.


Apa yang terjadi? Bukankah keluarganya tidak mencintainya lagi? Selalu mengkritik setiap hal yang dilakukannya?


"Tunggu sebentar, ibu sedang membuatkan air hangat untuk mandi." Kalimat penuh senyuman dari ibunya yang telah renta.


Kala itulah dirinya mengerti, tidak ada yang membencinya di rumah ini. Hanya mungkin rasa kecewa pada dirinya.


"A...ada berita kecelakaan beruntun. A...aku sampai pergi ke kantor polisi, karena kakak tidak membalas pesanku. Aku lebih rela kakak tidur dengan wanita murahan itu (Erlina) dari pada harus mati. Maaf...aku sempat mengatakan, lebih baik kakak mati saja..." Ucap sang adik tertunduk, mengingat kalimat yang sempat diucapkannya karena emosi.


"Cuacanya dingin, kamu makan sekarang ya? Putra kebanggaan ayah." Kembali kalimat hangat diucapkan sang ayah.


Kesalahan yang begitu besar. Menyakiti hati mereka, membuat keluarganya tertunduk malu setiap melihat keberadaan Claudia yang begitu baik pada keluarganya. Dirinya hanya mengangguk, menyadari tidak ada lagi tempat terhangat dan teraman lagi selain tempat ini.


Mandi dengan air hangat, kemudian memakan mie instan yang dibuatkan ibunya. Tidak ada kalimat yang terucap menyadari mereka bahkan tidak tidak sama sekali karena mencemaskannya.


Asin? Itulah rasa air mata yang mengalir, tertelan tanpa disadarinya.


"Kenapa menangis?" tanya sang ibu cemas.


"Mienya terlalu enak..." dustanya.

__ADS_1


"Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Termasuk ayah yang dulu memiliki hutang judi, adikmu yang sempat salah pergaulan dan ibumu yang terkadang melirik pria lain. Maafkan kami yang mengacuhkanmu hanya karena pilihanmu. A... ayah akan berusaha mengembalikan uang pembelian rumah dari Claudia. Maaf kami tidak menceritakannya, i...ini bukan rumah warisan kakekmu." Kalimat demi kalimat yang diucapkan sang ayah. Sama persis dengan kalimat yang diucapkan sekretaris Claudia.


Tidak ada yang diucapkannya setelahnya. Dirinya hanya terdiam dalam kebisuan. Kemudian tersenyum."Aku akan mengembalikan uang Claudia. Sekaligus mengejarnya kembali..."


"Mengejarnya kembali? Claudia sudah menikah---" Kalimat sang adik dipotong.


"Aku memahami pemikirannya. Belasan tahun kami saling mengenal, tujuannya menikah untuk mendapatkan warisan kedua orang tuanya. Karena itu, pria desa yang tidak memiliki pendidikan atau latar belakang keluarga, berwajah rusak menjadi pilihannya. Ini adalah bidak catur yang dibuat Claudia untuk menyakinkan pengacara. Wa... walau aku tetap cemburu..." Evan tertunduk sejenak, menghela napas kasar.


Ketiga anggota keluarganya mengenyitkan kening mereka. Betapa ajaibnya orang ini, beberapa hari lalu setelah tiba-tiba tidak datang di acara pernikahannya sendiri. Dengan percaya dirinya Evan mengatakan akan mempertahankan cintanya pada Erlina.


Cinta sejati sehidup semati yang dapat bertahan walaupun badai menerjang. Tapi ini hanya hujan gerimis tanpa badai, Evan sudah berubah fikiran.


"A...apa yang merubah pendapat kakak?" tanya sang adik curiga.


"Jadi kenapa kakak bisa tau, orang itu gurita busuk?" sang adik kembali bertanya antusias. Pasalnya dirinya melihat sendiri tanda kemerahan dan cakaran di leher kakaknya. Serta curahan hati sang kakak mengatakan akan bertanggung jawab pada wanita yang sudah tidak perawan dari awal. Sang kakak yang dengan anehnya juga bercerita tentang pengaman yang sempat dibelikan Erlina.


Kakaknya yang tidak pernah memiliki teman, hanya bercerita pada adiknya. Apa yang terjadi saat itu? Tentu saja adiknya melempar kakaknya keluar kamar. Karena kakaknya lebih memilih menjadikan Erlina kekasih akibat one night stand.


Rasa lega ada setelah Evan dan Erlina putus. Kemudian Evan akan menikah dengan Claudia, kakak ipar impiannya. Tapi semua kandas kala kakak br*ngseknya meninggalkan Claudia berdiri seorang diri di altar selama berjam-jam.


Mengapa bulol (Bucin Tolol) ini berbuah? Apa karena terbentur batu? Atau mengalami time travel ke masa depan?


Evan menghela napas kasar, terdiam seorang diri di tepi jurang selama berjam-jam membuatnya banyak berfikir. Tidak ada rasa cinta sejatinya, hanya rasa penasaran, hasrat pria untuk memenuhi kebutuhan biologis. Ketagihan dengannya, merasa iba dan bertanggung jawab atas segalanya.


"Erlina dari awal tidak mencintaiku. Kamu benar! Dan aku salah! Bahkan wanita yang ada di pinggir jalan lebih terhormat karena terang-terangan meminta uang!" Evan tersenyum, mengacak-acak rambut adiknya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" sang ibu terlihat cemas.


"Dia menjalin hubungan dengan atasanku." Evan menghela napas kasar, terlihat berfikir sejenak."Atasan yang mengatakan sudah memiliki kekasih tapi identitasnya dirahasiakan. Itu mungkin karena mereka tidak ingin ketahuan olehku. Bertanggung jawab? A...aku masih gemetaran sampai sekarang." Pemuda itu menatap ke arah jemari tangannya sejenak.


"Ji...jika ibu waktu itu mengijinkan aku menikah. Jika dia hamil, aku belum siap untuk membesarkan anak orang lain. Cintaku padanya tidak sebesar itu, sampai-sampai membiarkannya menjalin hubungan bahkan setelah kami menikah. Berpakaian bagaikan malaikat di hadapanku. Tapi memakai pakaian menggoda di hadapan pria lain. Aku tidak mungkin sanggup menerimanya. Terimakasih..." Ucap Evan memegang jemari tangan ibunya.


Sang ibu hanya mengangguk, dirinya hanya menginginkan kebahagiaan putranya. Satu-satunya wanita yang mencintai Evan dalam keadaan susah maupun senang. Dialah Claudia, seseorang yang mereka sudah anggap sebagai bagian keluarga mereka sendiri.


"Kakak yakin Claudia tidak akan luluh? Aku berani bertaruh, Claudia mendapatkan perhatian sedikit saja dari Dugong (Michael) itu. Pasti sudah klepek-klepek, seperti ikan kehabisan napas. Apalagi jika dia perhatian dan pandai berkata-kata manis. Bayangkan sebelumnya kak Claudia menggarap lahan kering (Evan) yang sulit ditumbuhkan pohon. Tapi kali ini mendapatkan lahan subur (Michael) yang hanya ditancapkan ranting saja sudah menjadi pohon apel besar." Sang adik menghela napas kasar.


"Pemikiran wanita dewasa itu simpel, jika masih muda mereka akan terpaut dengan wajah tampan. Tapi semakin berusia mereka hanya akan takluk oleh rasa nyaman..." lanjutnya.


Membuat ayah, ibu dan kakaknya menatap tajam padanya. Anggota keluarga idaman mereka, Claudia akan jatuh hati pada pria yang dinikahinya hanya karena warisan? Apa mungkin? Tidak mungkin!


*


"Ha...ha...ha... Claudia hentikan!" Ucap Michael tertawa.


"Aku tidak akan berhenti sampai kamu mengatakan menyerah!" Ucap Claudia berada di atas tubuhnya. Menggelitik pria yang tengah didudukinya.


Brak!


Dua orang yang tengah berada di atas ilalang yang cukup tinggi itu kini berada dalam posisi terbalik. Tubuhnya ditahan oleh Michael, Claudia kini berbaring di bawahnya.


Tidak terlihat dari jauh akibat hamparan tanaman ilalang yang begitu tinggi. Tawa mereka terhenti."Istriku begitu cantik..." Ucap Michael, membelai bibir Claudia menggunakan jemari tangannya.

__ADS_1


__ADS_2