
Posesif, obsesif, semuanya menyatu. Pria yang begitu baik, tersenyum hangat, tidak pernah membela diri atau menginginkan apapun. Bagaikan kucing putih yang manis, siapa yang menyangka kucing putih itu adalah anak harimau putih?
Wajah yang tersenyum picik, benar-benar bagaikan playboy profesional. Tidak ada ekspresi rasa bersalah sama sekali. Kala membuka mulutnya, mempertemukan lidahnya dengan lidah wanita di hadapannya.
Claudia mencoba mendorongnya tapi sayangnya tidak bisa. Hingga Evan yang hendak memukul pemuda tersebut.
Tapi apa bisa, Michael melepaskan ciumannya, beralih menghempaskan Evan dengan sekali pukulan.
"Marah karena aku menciumnya? Kamu bahkan bukan suaminya. Aku sudah mengatakan, wanita ini akan menjadi milikku. Cepat atau lambat akan berakhir di ranjangku." Kalimat penuh senyuman, namun bagaimana sebuah tekanan terdapat di sana.
"Evan?" Kalimat yang diucapkan Claudia terlihat cemas.
"Kamu berani khawatir padanya?" pertanyaan dari Michael, menarik tangan Claudia pergi.
Sementara Evan terdiam, dirinya tidak memiliki status untuk membela Claudia. Tindakannya tadi juga salah, hendak mencium bibir wanita yang telah memiliki suami. Andai saja dirinya adalah suami Claudia, dirinya akan dapat membelanya di hadapan pria itu. Penjahat yang berteriak pada penjahat, itulah dirinya yang sekarang jika membela Claudia.
*
Menarik tangan Claudia menuju area yang jauh lebih sepi. Area taman belakang rumah lebih tepatnya.
Plak!
Satu tamparan didapatkannya dari wanita di hadapannya. Senyuman menyungging di wajah Michael, apa akan lebih menyenangkan berciuman dengan Evan dibandingkan dengan dirinya? Entahlah, wanita ini benar-benar membuatnya tidak dapat berkata-kata.
"Apa bedanya?" Satu pertanyaan dari pria di hadapannya.
"Hah? Dasar tidak tahu malu! Br*ngsek!" Bentak Claudia.
"Aku tanya apa bedanya berciuman denganku atau pria tadi?" Pemuda yang tetap tersenyum tenang. Bagaikan tidak peduli dirinya baru saja ditampar.
Claudia tertunduk, sebenarnya tidak ada bedanya. Selingkuh tetap saja selingkuh, suaminya tersayang akan kecewa padanya. Tapi dirinya tidak dapat kehilangan harga diri di hadapan orang ini.
"Ada! Evan lebih tampan darimu! Dasar ubur-ubur!" Dustanya, wanita yang sejatinya menelan ludahnya. Pesona yang begitu menyengat, aroma yang samar-samar menyerupai Michael. Ini mungkin karena dirinya sedang mabuk, menganggap aroma mereka mirip.
__ADS_1
Tidak! Suaminya tercinta sedang menunggu di apartemen untuk memakan martabak bersama-sama dengannya.
"Lebih tampan? Apa kamu buta?" Bisik pemuda itu meremehkan.
"A...aku tidak buta!" Claudia gelagapan.
Pemuda yang tetap tersenyum, memberikan sebungkus permen padanya."Dengar! Setelah ini lebih baik kamu pergi ke kamar. Jika sampai aku melihatmu berkeliaran di pesta ini, maka aku pastikan besok pamanmu yang akan menempati posisi direktur utama."
Melangkah pergi, meninggalkan Claudia yang menunduk seorang diri. Mengepalkan tangannya, benar-benar tidak dapat membantah, benar-benar kesal.
Menghela napas berkali-kali, duduk di kursi taman seorang diri. Matanya menatap ke arah gelang di kakinya. Gelang dengan lonceng-lonceng kecil pemberian suaminya.
"Maaf...aku dipaksa..." gumamnya ingin menangis rasanya. Dirinya sudah mencium pria lain.
Gelang kaki bagaikan rantai yang akan menjeratnya. Apakah akan dapat melarikan diri dari pria obsesif yang baru saja pergi?
*
Entah bagaimana, dirinya terbangun dengan kepala yang berdenyut sakit di salah satu kamar tamu rumahnya. Tidak terbangun di apartemen.
Masih lengkap memakai gaunnya tidak ingat sama sekali bagaimana dirinya sampai di kamar ini. Berlari menuju kamar mandi, mencuci wajah kemudian berkumur berkali-kali. Michael tidak boleh tahu, dirinya mengkonsumsi alkohol kemarin.
Martabak yang dibelinya dalam perjalanan ke tempat ini, apa sudah basi? Entahlah, yang jelas dirinya harus bergegas pulang. Memakai sepatu hak tinggi, membuka pintu hendak keluar.
Berlari dengan kecepatan tinggi, keajaiban sepatu kaca sudah menghilang, pangeran br*ngsek juga sudah pergi, kini hari sudah pagi. Suami tersayang sudah menunggunya di rumah lengkap dengan sarapan hangat.
Tak!
Tak!
Tak!
Suara sepatu hak tingginya, melintasi area ruang makan.
__ADS_1
"Tunggu!" Erlina tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Apa!? Aku harus pulang! Jika tidak martabaknya akan basi! Jam segini tidak ada penjual martabak yang masih buka!" Ucap Claudia hendak kembali berjalan. Tapi tetap saja Erlina menghalanginya.
"Apa!?" tanya Claudia lagi, berusaha untuk tetap waras, walaupun dirinya terburu-buru.
"Bagaimana caramu menggoda Micky?" satu pertanyaan dari Erlina, menatap sinis padanya.
"Apa maksudmu!? Aku tidak menggoda playboy rabies!" Geram Claudia, merasa membuang-buang waktu.
"Dia yang membawamu dari taman belakang. Kamu ketiduran dalam keadaan mabuk. Dia membawamu, mengangkat mu bagaikan pengantin baru ke kamar tamu. Bagaimana kamu menggodanya!?" Bentak Erlina emosi.
"Benarkah? Orang gila itu?" Claudia segera meraba-raba tubuhnya sendiri."Mungkin dia mencari kesempatan melecehkanku! Dengar! Dia bukan pria baik-baik!" lanjut Claudia menelan ludahnya kasar.
"Aku malas bicara denganmu. Pergi sana! Dan jangan coba-coba menggoda priaku! Lebih baik kamu membusuk bersama suamimu!" Erlina menghela napas berkali-kali pada akhirnya tidak menghalangi jalan Claudia lagi.
"Doakan agar aku segera punya anak. Aku juga akan mendoakanmu agar segera menikah dengan playboy brutal itu." Senyuman menyungging di wajah Claudia.
"Iya! Iya! Untuk sekali ini aku memaafkanmu! Karena ketulusanmu, berkata tidak akan menggangu Micky ku yang tampan." Erlina mengalihkan pandangannya. Pada akhirnya kembali duduk di kursi meja makan guna menikmati sarapannya.
Sedangkan Claudia mengenyitkan keningnya. Jika ini dirinya yang dulu, sudah dipastikan akan ikut-ikutan menjadi pemuja playboy itu. Pengemar pria tampan? Itulah Claudia sejatinya. Tapi rasa itu sudah hilang, seberapa pun tampannya, tidak akan dapat memberikannya kenyamanan, seperti bersama Michael.
Membayangkan hari minggu yang akan mereka lewati bersama. Sudah berjanji membawa Michael berjalan-jalan. Mungkin taman hiburan? Berkencan seperti anak SMU? Pergi ke bioskop?
Semua khayalan tingkat tinggi ada dalam benaknya. Malam yang akan diakhiri dengan makan malam romantis, lalu berpelukan dan berciuman di bawah cahaya bulan. Tentunya dirinya harus minta maaf dan jujur pada yang mulia suami. Jika kemarin hal memalukan itu terjadi.
Menghela napas berkali-kali, menyetir mobil sembari mendengarkan musik romantis di radio. Surga cinta, Yovie and Nuno, itulah yang didengarkan olehnya.
Bernyanyi-nyanyi bagaikan tengah mengikuti audisi bakat. Hingga ketika lampu merah, salah satu tukang ojek mendengar suara Claudia.
"Aku sih yes! Selamat mbak dapat golden tiket!" Candaan dari driver ojek yang kebetulan berhenti di sampingnya, bagaikan juri ajang pencarian bakat.
Dunia ini terasa indah bagi Claudia, dengan sebungkus martabak yang mungkin mulai basi, dirinya melompat-lompat menuju apartemen. Mungkin mengakui dirinya telah jatuh cinta itu lebih baik. Daripada hanya terpaku pada wajah, pendidikan, dan karier.
__ADS_1
Hingga kala dirinya menekan kode akses, barulah dirinya akan menyadari. Apartemennya sudah mengalami perampokan. Harta benda yang hilang berupa suami manis yang menunggunya.