Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 19. Ketagihan


__ADS_3

Rasa cemas yang benar-benar ada. Bahkan setelah bepergian sejenak pun fikirannya tetap tidak tenang. Kembali mengerjakan pekerjaannya hingga waktu menunjukkan pukul setengah enam sore.


Suara gerbang yang dibukakan security terdengar. Pemuda itu melangkah masuk dengan pasti, tanpa beban sama sekali. Membawa sekantong jajanan pasar.


Apa ini rayuannya setelah berselingkuh? Entahlah, namun Claudia yang melihat segalanya dari balkon hanya dapat menunjukkan raut wajah dinginnya.


"Aku tidak cemburu sama sekali, hanya saja tidak ingin ada yang terlalu dekat dengan Michael. Hingga dapat merusak rencananku, walaupun pengacara sialan itu sedang berlibur selama beberapa hari ke Bangkok." Gumamnya, dirinya harus tetap berhati-hati bukan?


Alasan! Ingin rasanya berteriak seperti itu melihat tingkah laku Claudia yang tidak normal saat ini.


Wanita itu berjalan dengan cepat, menatap ke arah Michael yang memasuki pintu utama.


"Sayang ini untukmu..." Ucap sang pemuda.


Dengan cepat Claudia menarik tangannya, mencium bebauan menyengat yang diyakininya sebagai parfum murahan yang terlalu menyengat."Clau... Claudia!"


Deg!


Jantung pemuda itu berdegup cepat kala Claudia memojokkannya ke dinding, mendekatkan wajahnya. Aroma napas wanita itu bagaikan buah melon kali ini.


Menghirup setiap aroma yang membuatnya ingin mencicipi bibir itu lagi.


Wanita yang begitu agresif, membuka kancing kemeja sang pemuda nan polos. Matanya menyelidik, mengamati tubuh putih mulus itu. Memastikan tidak ada tanda-tanda dari wanita lain sama sekali.


Tapi tanggapan Michael berbeda. Bibir pria itu bergetar untuk berucap."A...aku tidak bisa menyakitimu. La... lagipula ini tempat yang memalukan untuk melakukannya."


"Melakukannya?" Claudia mengenyitkan keningnya, baru sadar dirinya sudah hampir terlihat melecehkan seorang pria. Dengan cepat kembali memasang kancing pakaian Michael.


"A...aku harus bekerja! Kamu sebaiknya mandi dulu!" Ucapnya benar-benar malu.


Sementara Tara dan Dio yang tidak sengaja lewat menghentikan langkah mereka. Untuk pertama kalinya nona mereka seagresif ini. Bahkan pada Evan pun tidak pernah seperti ini. Ini benar-benar aneh sulit untuk dipercaya.


"Ke... kenapa berhenti!? Lanjutkan saja!" Tara menutup matanya salah tingkah.


"Fi ... fikirkan lah yang masih perjaka!" Teriak Dio.


*

__ADS_1


Kejadian yang memalukan malam ini Claudia berusaha mengunyah makanannya seperti biasanya. Makan malam berdua di kamar belakangan ini memang sering mereka lakukan.


Tubuh Michael bersih, belum tentu tidak melakukan hubungan dengan orang lain. Setidaknya itulah yang ada dalam pemikiran Claudia saat ini.


"Claudia, aku membelikan beberapa kue basah untukmu. Tidak mahal tapi ini dari hasil---" Kalimat Michael disela, wanita itu meminum airnya mengakhiri acara makan malam mereka.


Claudia semakin menjauh tiba-tiba? Itulah yang dirasakannya. Tapi keadaan tidak boleh terus seperti ini, pemuda yang bangkit memeluknya dari belakang dengan cepat.


"Ja... jangan mengacuhkanku. Karena aku tidak pernah mengetahui dimana kesalahanku. Jika aku punya kesalahan tolong katakan..." Pinta pemuda itu terdengar tulus.


Tertegun sesaat, fikirannya mulai sedikit jernih. Senyuman dipaksakan mengembang di wajahnya. Memangnya kenapa jika Michael memiliki kekasih? Dirinya malah akan terbebas dari rasa bersalah saat bercerai nanti bukan?


"Aku tidak marah..." Ucap Claudia tersenyum lembut, dirinya melepaskan pelukan Michael. Menatap ke arah belakang, tampak guratan kesedihan dalam wajah sang pemuda.


"Aku bilang aku tidak marah..." lagi-lagi Claudia mengulangi kata-katanya.


"Apa kamu akan meninggalkanku?" tanya Michael tiba-tiba.


"Tentu saja tidak...." dustanya penuh senyuman.


Suara jendela yang terbuka, menampakan tirai tipis terurai oleh angin.


Dirinya bagaikan lumpuh kali ini. Pemuda yang tiba-tiba saja meraih tengkuknya. Apa sebenarnya yang terjadi? Seseorang yang benar-benar rapuh takut akan kehilangannya.


Tapi ini benar-benar manis. Kala jemari tangan itu menyentuh punggungnya. Gerakan lidah dan mulut yang menggodanya untuk membalas.


"Ini tidak boleh!" batin Claudia.


Tapi apa bisa? Tubuh pemuda ini benar-benar hangat. Kala memejamkan matanya, segalanya bahkan terasa lebih indah.


Rayuan malaikat bagaikan berbisik di telinganya."Tidak apa-apa jika hanya berciuman sekali. Kalian sudah menikah, setidaknya berikan kenang-kenangan pada pria malang ini."


Bagaikan mendengarkan kalimat yang tercetus di kepalanya. Sungguh ujaran saran yang luar biasa.


Dirinya perlahan membuka mulut. Lidahnya bergerak memasuki mulut Michael. Sepasang lidah yang terhubung saling terulur. Bagaikan menggambarkan rasa rindu dan kecemasan sang pemilik tubuh.


Ini indah! Sulit untuk ditolak, mendorong pun rasanya enggan. Manakala napas menipis, maka gerakan akan diperlambat untuk mendapatkan pasokan oksigen.

__ADS_1


Sungguh sensasi yang gila baginya. Menghabiskan hidupnya hanya untuk menunggu Evan mencintainya. Apa ini rasanya berciuman dengan seorang pria? Bagaimana dengan bercinta? Apa akan lebih mengagumkan?


Jika dengan pria lain apa rasanya akan sama saja? Tentu tidak untuk pertanyaan yang terakhir, dirinya tidak dapat membayangkan melakukan hal ini dengan pria lain. Mungkin akan menjijikkan, tapi entah kenapa dengan pemuda buruk rupa ini dirinya ingin melanjutkan.


Tangan Michael bergerak gelisah di tubuhnya. Merayap bagaikan laba-laba yang menggelitik. Ini sulit? Apa dirinya sudah gila, berfikiran agar pria ini melanjutkannya saja?


Bagaimana rasanya bersentuhan tanpa penghalang sama sekali? Tidak! Semakin lama fikirannya semakin kotor, seiring dengan darah dalam tubuhnya yang mengalir lebih cepat.


Namun.


"Claudia, maaf sudah menciunmu tanpa ijin. A...aku tidak mengerti dengan diriku. Tolong, jangan pernah meninggalkanku..." Kalimat yang terucap dari bibir Michael, memeluknya erat.


Claudia hanya dapat tersenyum, sembari menghela napas kasar. Apa pria yang bucinnya setengah mati seperti ini dapat mempunyai kekasih lain? Perlahan dirinya membalas pelukan Michael.


Pria yang terlihat benar-benar rapuh.


*


"Tentu saja dapat! Pria br*ngsek itu dapat mempunyai banyak kekasih di luar sana walaupun wajahnya rusak..." Geram Claudia, setelah kepergian Michael beberapa jam lalu yang mengatakan akan pulang terlambat.


Tidak bisa seperti ini dirinya harus mendisiplinkan suaminya, eh salah maksudnya calon mantan suami yang akan menjadi adiknya. Tapi bagaimana caranya?


Claudia berfikir sejenak, seperti ada badai dalam dirinya.


Ini hanya karena dirinya peduli. Bagaimana jika kekasih Michael adalah wanita bersuami? Tidak bisa saja seorang janda genit.


Claudia tidak cemburu sama sekali, tapi tetap harus mengambil kunci mobilnya. Duduk di kursi pengemudi, menginjak pedal gasnya dalam-dalam.


Jajanan pasar yang belum basi itu dimakan olehnya yang sejatinya lebih terbiasa mengkonsumsi keju, brownies, dan tiramisu. Tapi kali ini jajanan pasar?


Tunggu dulu, dirinya mengenal toko tempat menjual jajanan pasar selengkap ini. Menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, hendak memergoki Michael yang berada di bawah satu selimut dengan wanita lain.


*


Waktu telah menunjukkan pukul lima sore, hanya seorang pegawai laundry lain yang akan bekerja malam ini. Pemuda yang tersenyum, mungkin profesi di malam harinya sebagai cleaning service club, dirinya dapat mengumpulkan uang dengan cepat sebelum pergi ke kota bersama Claudia.


"Ini gaji harianmu! Dan ini jamu untuk nanti malam dengan Claudia. Masukkan dan keluarkan, jangan hanya berpegangan tangan!" tegas Awan, memberikan uang dan satu sachet jamu, bergambarkan pria berotot tanpa atasan dipeluk seorang wanita.

__ADS_1


__ADS_2