Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 59. Tergoda


__ADS_3

Dirinya perlahan membuka mata, terdiam sesaat kemudian menonggakkan kepalanya. Menelan ludah kasar, pada akhirnya dirinya menjadi mangsa seorang Micky. Salah! Michael!


Apa suaminya memang selalu setampan ini? Operasi plastik? Tidak mungkin! Dirinya bertemu dengan Micky di pesta, tepat di saat Michael pergi. Tidak ada waktu untuk merubah wajah.


Wajah rupawan, benar-benar rupawan, tapi mengapa tiba-tiba Michael mendukung paman Wendy. Apa Michael dan Erlina perlahan menjalin hubungan khusus? Rasa cemburu itu tiba-tiba ada. Memeluk tubuh pria yang hanya berbalut selimut itu erat.


Perlahan sang pemuda tersenyum membuka matanya."Sudah bangun?" tanyanya mendekap erat tubuh Claudia.


"Ti... tidak pergi bekerja?" Tanya Claudia bingung harus mengatakan apa.


"Tidak, ibuku ingin aku tidak bekerja hari ini." Jawaban dari Michael, mendekap erat tubuh Claudia. Tempat yang begitu nyaman baginya.


"Kenapa?" Claudia mengenyitkan keningnya.


"Ibuku ingin aku melakukannya padamu. Jika tidak maka ibuku sendiri yang akan mengajukan perceraian kita. Menjodohkanku dengan wanita lain." Jawaban dari Michael, mengusap punggung Claudia pelan.


"Apa ibumu tidak menyukaiku?" tanya Claudia pada akhirnya.


Michael menggeleng, kemudian tersenyum."Katanya dia lega melihatku memiliki seseorang yang aku cintai."


"Kenapa?" Claudia kembali bertanya.


"Tidak tahu, tapi mungkin ada beberapa hal yang ibu sembunyikan. Beberapa hal menyakitkan tentang keegoisanku." Senyuman tetap menyungging di bibir Michael.


Sedikit tidaknya, dirinya pernah bertanya tentang masa kecilnya pada beberapa pelayan. Masa kecil dimana dirinya begitu menyayangi anak perempuan yang dibawanya dari panti asuhan, bahkan merengek ingin menikah.


Anak yang dimanjakan sang ayah? Itulah dirinya, hingga hanya untuk membujuknya yang tidak mau makan sang ayah mengatur pertunangannya.


Yang terjadi setelahnya, entahlah. Pelayan mengatakan dirinya dikabarkan menderita syok berat, sakit, kemudian meninggal di salah satu rumah sakit di Singapura. Hanya itulah kabar yang diberikan oleh Yuki. Pada keluarga dan para pelayan saat itu. Tidak ada yang mengetahui Michael yang tidak pernah dibuatkan sertifikat kematian masih hidup sampai saat ini.


"Apa?" Claudia mengenyitkan keningnya, kemudian tersenyum."Apa kamu akan tetap egois?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Tentu saja." Jawaban dari Michael, kembali menatap Claudia lekat. Seakan mengerti maksud keduanya, berawal dari saling mengecup. Hingga pada akhirnya mengulangi kejadian semalam.


*


Over dosis, kita anggap saja istilah itu yang dipakai. Wajah Claudia terlihat pucat pasi, kini Michael sedikit lebih berbaik hati, memberikan beberapa mini dress padanya.


Duduk menikmati sarapan mereka yang dapat dikatakan hampir menyerupai makan siang. Bagaimana tidak, ini sudah pukul setengah 12 siang.


"Cinta adalah penderitaan..." batin Claudia duduk di pangkuan Michael, setidaknya suaminya sudah sedikit kembali. Tidak seperti sebelumnya, setiap bertemu bagaikan kucing dan *njing.


Menyuapinya perlahan, senyuman menghiasi wajah rupawannya."Makan yang banyak, kamu bertambah kurus..." ucapnya menyuapi Claudia.


Wajah rupawan yang memikat wanita mana saja, ditambah dengan penampilannya saat ini yang telah memakai pakaian rapi. Menghela napas kasar, entah kenapa sebelumnya Micky terlihat seperti setan keji, predator wanita.


Tapi sekarang, ini ternyata suaminya, malaikat yang masih polos. Tapi menjadi jahat karena kata-katanya.


"Aku tidak tahan dengan pesonanya..." Batin Claudia ingin turun dari pangkuan suaminya.


"Mau kemana? Hanya hari ini aku libur, jadi kamu harus tetap ada disampingku." Senyuman yang sebelumnya bagaikan psikopat gila, tampan, tapi menyeramkan, saat ini melebihi artis idolanya. Mungkin karena Claudia sudah mengetahui pemuda ini tidak mungkin berniat buruk untuk menyakitinya.


"Selama beberapa bulan ini aku selalu berfikiran buruk tentangmu. Takut jika hatimu dimiliki orang lain. Aku ingin menjagamu tetap di sampingku." Kalimat rayuan, ditambah senyuman, ditambah dengan wajah rupawan, penampilan mapan, hanya mampus! Itulah yang tersisa saat ini.


Gila! Bagaikan serangan jantung rasanya. Michael yang dulunya berpenampilan buruk saja dapat membuat Claudia tersenyum-senyum sendiri. Apalagi yang sekarang, tidak ada kalimat yang terucap. Dirinya bahkan terlalu kelu untuk membalas rayuan tingkat tinggi suaminya.


"Sayang, tetap disini ya?" pintanya sulit untuk dibantah oleh Claudia."Bahkan jika kamu matipun aku ingin satu peti mati denganmu."


"Astaga! Astaga! Astaga! Pria posesif ini sudah gila! Tapi sialnya aku semakin suka!" Batin Claudia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Benar-benar salah tingkah rasanya berhadapan dengan brondong satu ini.


Hingga Claudia mulai mengalihkan pembicaraan."Michael, lalu kenapa kamu mendukung paman Wendy?"


"Untuk memilikimu, itu opsi kedua." Jawaban darinya, kembali menyuapi Claudia dengan potongan buah melon.

__ADS_1


"Opsi kedua?" Claudia mengenyitkan keningnya.


"Jika tidak bisa memilikimu, rencananya aku akan menghancurkan perusahaan keluargamu, membuat usaha-usahamu mengalami kebangkrutan. Saat kamu terjatuh tidak berdaya, saat itu juga aku akan datang, memilikimu tanpa mendapatkan perlawanan berarti darimu. Tapi aku janji, setelahnya akan menjadikanmu ratu di hidupku." Kalimat demi kalimat tidak normal dari seorang red flag.


Claudia menelan ludahnya kasar, dirinya sudah menikahi monster. Benar-benar monster, bukan dari segi rupanya, karena sekarang wajah itu bagaikan malaikat. Tapi dari segi kepribadiannya, apa dirinya salah menikah?


"Aku mencintaimu..." Michael tersenyum tenang.


"Aku juga..." Claudia menghela napas kasar pada akhirnya.


Hingga satu pertanyaan lagi ada dalam benaknya."Kalau itu rencanamu, kenapa kamu menculikku kemari?"


"Bukan menculik sayang...tapi berbulan madu." Kalimat yang benar-benar halus, tutur kata lembut seperti Michael sebelumnya."Awalnya aku berniat mengundangmu. Tapi di akhir pertemuan kita di kantorku, kamu terang-terangan mengatakan menyukai Evan. Jadi aku harus membuatmu melupakannya dengan bulan madu yang indah seperti kata Praha."


"Kapan aku bilang menyukai Evan? Aku bilang saat itu aku menyukaimu." Claudia mengenyitkan keningnya.


"Benarkan?" Michael terkekeh, mencium bibir Claudia.


Masih muda, rajin berolahraga, bentuk tubuh yang bagus, Claudia seharusnya berhati-hati pada makhluk buas ini.


Hanya ciuman? Bukankah Michael mengatakan ini bulan madu? Kurang dari 15 menit, pakaian yang baru 30 menit mereka kenakan tergeletak di lantai begitu saja.


Tubuh mereka yang baru saja bersih, tercium bau sabun, shampo dan parfum, kini tidak lagi. Aroma hormon Oksitosin, dan endorfin bagaikan tercium. Saling menenangkan, namun juga membuat resah.


Kala itulah kamar yang baru dibersihkan digunakan dua orang gila itu. Menggunakan ranjang hingga lelah, hormon prolaktin mungkin telah terlepas hingga pada akhirnya mereka lebih rileks. Kala saling mengecup menyadari rahim itu telah kembali dibuahi. Menutup mata dalam selimut yang hangat.


"Benarkan! Aku tergoda lagi!" Ingin rasanya Claudia menangis, dirinya besok harus membujuk Michael agar diijinkan bekerja. Namun, jika terus dikuras seperti ini, jangankan bekerja, mungkin dirinya akan kesulitan turun dari ranjang.


"Ayo tidur..." bisik Michael, memeluknya erat.


"Aku tidak ingin lagi! Nanti tidak lagi! Aku sudah lelah! Berjanjilah tidak akan memintaku melakukannya lagi!" Tegas Claudia sebelum mereka tidur.

__ADS_1


"Aku janji tidak akan memintamu melakukannya. Hanya memegang beberapa tubuhmu tanpa kata..." Senyuman menyungging di wajah pemuda yang baru semalam melepaskan keperjakaannya.


"Itu sama saja! Wanita mana yang akan tahan! Aku akan mati kering kalau begini!" batin Claudia, ingin rasanya berteriak pada orang ini.


__ADS_2