Topeng Suami Buruk Rupa

Topeng Suami Buruk Rupa
Bab 20. Wonder Woman


__ADS_3

Tidak terbiasa, tempat dimana aroma rokok dan minuman keras tercium. Sesuatu yang bahkan tidak pernah di sentuhnya. Suara dentuman musik yang cukup kencang.


Ueeek!


Seorang pengunjung tiba-tiba saja muntah di lorong. Membawa pel hendak membersihkannya. Tidak ada pemikiran negatif atau apapun kala Mariana memberikan penawaran ini. Pekerjaan dengan gaji harian, itulah yang dibutuhkannya saat ini.


ATM, kartu kredit yang diberikan Claudia dan neneknya masih disimpannya hingga kini. Tidak tersentuh sama sekali, sebagai pria dirinya harus belajar memiliki tanggung jawab, itulah dasar dari pemikirannya saat ini.


Jijik? Lumayan, namun ini adalah bagian dari pekerjaan untuknya.


Derap langkah seseorang terdengar, wanita yang bahkan sudah menyiapkan sekotak alat pengaman untuk pria dalam tasnya."Hai Michael..." sapaannya pada objek utamanya. 50 juta semalam? Cukup menggiurkan bagi Mariana.


Tidak ada jawaban, pemuda itu tetap konsentrasi pada pekerjaannya.


"Michael, sebenarnya aku menyukaimu dari pandangan pertama." Ucap wanita itu, bergelayut manja.


"Alasannya?" Michael mengernyit keningnya.


"Kamu kalau dilihat-lihat begitu tampan. Jadi aku---" Kata-kata dustanya disela.


"Cermin harganya murah dapat ditemukan dimana saja. Aku bisa melihatnya setiap hari, bahkan bayanganku sendiri seakan mau bunuh diri menyadari betapa jeleknya dirinya. Dan kamu mengatakan aku tampan?" Ucap pria yang menghela napas kasar, sembari mendorong kepala Mariana.


"Michael..." Tangan wanita itu meraba kemana-mana.


Apa kata neneknya tentang wanita dengan spesies ini? Neneknya berkata, wanita yang meraba-raba dirinya tanpa status, mengatakan hal yang tidak masuk akal. Merupakan wanita yang memiliki alasan khusus, seperti penculik kala usianya lima tahun.


Mungkin juga dapat membunuhnya jika sudah berada di ranjang nantinya. Seperti belalang sembah yang akan membunuh pejantan, kala sudah selesai kawin.


"Aku impoten. Percuma merayuku." Kalimat dari Michael dengan raut wajah datar, membuat Mariana mengenyitkan keningnya. Menyadari pemuda itu memang tidak bereaksi sama sekali setelah dirinya meraba-raba bagian dada dan perut sembari memeluknya dari belakang.


"Impoten!? Sial!" Batinnya merutuki musuh utama wanita bayaran.


Tapi tidak menyerah juga, demi 50 juta."Bagaimana jika skin to skin saja, tidak perlu melakukan pertunjukan puncak." pintanya.

__ADS_1


"Tetap tidak..." Jawaban datar dari Michael, berusaha melepaskan pelukan wanita itu.


Hingga seorang pria setengah mabuk tiba."Mariana aku mencintaimu, kita check in ya?" pintanya. Menarik Mariana.


"Kamu punya uang berapa?" tanyanya mengenyitkan keningnya..


"Satu juta!" Jawaban pria yang membawa botol bir tersebut.


"Cuma satu juta!? Pulang sana! Besok atau lusa datang lagi!" Tegas Mariana, kembali menahan Michael yang hendak pergi setelah membersihkan sudut lorong.


"Sayang...malam ini kita tidur bersama ya?" pinta Mariana lagi pada Michael.


"Aku impoten dan tidak punya uang," dustanya, hendak kembali melangkah pergi dengan cepat.


Namun, Mariana terlihat tidak mau melepaskannya. Mengejar langkahnya sembari memanggil."Beb! Honey!"


"Aku muak!" Pria yang setengah mabuk di samping Mariana melangkah lebih cepat.


Prang!


Bug!


Tubuhnya jatuh ke lantai, satu pengalaman hidup yang harus selalu diingatnya. Club'malam adalah tempat yang berbahaya. Pemuda dengan kesadaran yang mulai menghilang.


Dirinya hanya terpaku akan satu hal. Menyesal mengapa pergi ke tempat ini, seharusnya hanya menemui Claudia malam ini. Dirinya merindukan Claudia.


"Jika aku mati, nenek mungkin akan memotong ketiga sapiku dan om kerbau." Batinnya dengan mata terpejam sempurna, cemas pada keempat teman curhatnya.


*


Tepat pada pukul lima sore, wanita itu masih menyetir mobilnya. Mendapatkan informasi dari pegawai toko emas milik Awan, jika Michael kini bekerja di laundry milik ayah pemuda itu.


Pewangi pakaian dari laundry, seharusnya dirinya menyadari ketika terlalu banyak warga sekitar yang memiliki aroma serupa. Wajahnya tiba-tiba tersenyum."Sudah aku duga! Dia tidak mungkin bisa mempunyai wanita lain... memang calon adik angkatku yang baik," gumamnya terkekeh tidak menyadari dirinya benar-benar marah beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Tapi kenapa Michael harus bekerja di laundry? Apa uang di ATM yang diberikannya tidak cukup?


"Apa dia diam-diam membiayai wanita lain!" Geram Claudia memukul setir mobilnya. Sekali lagi, hanya calon mantan suami, sekaligus calon adik angkatnya. Hanya itulah Michael dalam anggapannya. Dirinya hanya cemas, tidak cemburu sama sekali. Tidak mungkin jatuh cinta pada si buruk rupa.


Kala mobilnya terhenti, sang wanita cantik, memakai mini dress, rambutnya panjang tergerai anggun, mengenakan soft lens berwarna bening. Melangkah mengenakan sepatu olahraga berwarna putih.


Benar-benar cantik bagaikan mahasiswi masa kini yang trendy. Siapa sangka usia gadis cantik yang cukup tinggi ini sudah menginjak 33 tahun.


Melangkah dengan pasti, beberapa orang terpana padanya. Termasuk Awan yang masih ada di tempat itu, menelan ludah kasar, menatap ke arah pacar temannya.


"Apa Michael ada?" tanya Claudia matanya menelisik menyadari keberadaan seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan di tempat tersebut. Apa itu selingkuhan Michael yang dibiayainya?


"Michael? Dia sudah pulang seharusnya sudah sampai rumah. Mungkin kalian berselisih jalan," asumsinya menatap ke arah Claudia yang raut wajahnya semakin cemas saja.


"Mungkin..." Ucap Claudia ragu, mengambil phonecellnya mencoba menghubungi villa.


Namun, tidak ada hasil sama sekali, Michael belum kembali. Semakin cemas, itulah perasaannya.


"Apa kamu tau jika Michael mempunyai wanita simpanan, kekasih tersembunyi atau sejenisnya?" tanya Claudia mengenyitkan keningnya.


"Cemburu?" Awan menipiskan bibir menahan tawanya.


"Ti... tidak! Aku hanya penasaran. Jumlah saldo di rekeningnya hampir mencapai 80 juta. Untuk apa dia bekerja? Apa uangnya sudah habis? Pasti ada wanita lain kan? Aku tidak cemburu hanya cemas saja ..." Kalimat tidak masuk akal dari Claudia yang berusaha keras untuk tersenyum.


"Tidak cemburu...ya tidak cemburu..." Awan memegangi perutnya sembari tertawa kencang. Sejenak kemudian menghela napas kasar."Karena cintamu padanya terlihat terlalu dalam, maka aku akan jujur saja. Dia mengatakan akan bekerja di club'malam tempat wanita dengan body bagus bekerja."


"Wa... wanita dengan body bagus?" Claudia masih tersenyum, tapi aura membunuh yang kuat terasa. Dirinya bukan cemburu, sekali lagi. Benar-benar bukan cemburu, hanya saja membayangkan Michael yang notabene miliknya berciuman dengan wanita lain semesra berciuman dengannya terasa menyakiitkan. Masih bukan tahap cemburu. Ini hanya...hanya...hanya...


"Iya, dia mungkin bekerja menjadi cleaning service. Tapi karena aku kira dia langsung pulang, aku malah memberikannya jamu tahan lama." Awan terkekeh, menertawakan sesuatu yang begitu sesat.


Raut wajah Claudia seketika berubah. Menarik kerah kemeja Awan."Club'malam mana!? Bocah!?"


"Bocah?" Awan mengenyitkan keningnya tidak mengerti dengan wanita yang tadinya selembut angin.

__ADS_1


"Aku lebih tua lima tahun darimu. Jadi wajar saja aku memanggil anak kecil sepertimu bocah!" Senyuman menyungging di wajah Claudia. Masih terlihat cantik dan manis, tapi senyuman dipaksakan dipenuhi dendam kesumat sang istri.


"Mama...aku takut..." batin Awan, yang diancam kakak cantik.


__ADS_2